PRISON

PRISON
0:24 Gadis unik


__ADS_3

*Alvendra POV :


Setelah mencapai puncakku, ku putuskan untuk mengistirahatkan tubuhku ini sebelum pergi kembali kedalam kamar ku. Aku memejamkan mata berusaha untuk mengatur nafasku yang rasanya tersenggal ini, memang melelahkan namun aku menyukai rasa ini. Kulihat kearah jam di dinding tersebut, pukul dua belas tepat. Aku tersenyum ini adalah percintaan yang sungguh luar biasa bagiku, mungkin ini adalah yang paling luar biasa. Rasanya benar-benar selalu sama seperti di malam itu, dan aku menyukainya. Ku pejamkan kedua mataku sejenak untuk beristirahat namun sepertinya rasa lelah sudah mulai merayapi tubuhku ini, rasanya terlalu nyaman ketika berbaring di sini bersama dengan seseorang yang memiliki sejuta kejutan. Cukup lama aku berbaring di sana sebelum aku mendengar suara seseorang tengah berbicara, ku buka kembali kedua mataku dan segera menoleh ke samping.


Reisya tidak ada, aku pun duduk di atas ranjang dan menajamkan pendengaranku ketika samar aku mendengar seseorang di dalam kamar mandi tengah berbicara. Ku pastikan bahwa itu adalah reisya, maka ku putuskan untuk mengambil jubah tidurku dan turun dari ranjang itu dan berjalan dengan perlahan menuju ke arah kamar mandi. Semakin mendekati pintu itu aku semakin mendengar suara jelas reisya tengah berbicara dengan seseorang yang tiba-tiba muncul di pikiranku, mataku tiba-tiba memanas, tanganku terkepal begitu saja hingga dengan sisa kesabaran yang ada aku pun membuka pintu itu dengan perlahan. Di sana ia berdiri, amarahku semakin terpancing ketika bagaimana gadis milikku itu tersenyum mendengar suara seseorang lewat ponselnya.


Dengan sengaja dan perlahan aku mendekati gadis itu sengaja mencuri dengar apa yang mereka bicarakan, hingga di saat aku tiba tak jauh di belakangnya kutatap dengan dingin pantulan wajah reisya dari cermin. Tak lama kemudian reisya menyadari keberadaan ku dan menatap terkejut, ia menjauhkan ponselnya dari telinganya dan segera saat itu aku berjalan mendekat kepadanya dan meraih paksa ponsel tersebut. Kulihat nama yang ada di sana, ternyata benar seorang pria. Pikiran ku semakin terbayang oleh sosok nama pria tersebut dan bertanya siapa dia, setelah kudapatkan ponselnya aku pun gantian untuk mendengarkan apa yang ia katakan.


"Kurasa kau harus menjauh dari kakak iparmu Rei, aku sedikit khawatir ketika memikirkannya !"


Dan seketika aku marah, ucapan itu seakan ancaman bagiku bahwa gadis di depanku ini akan diambil olehnya. Karena itu aku langsung menutup paksa sambungan telfon tersebut dan melempar ponsel milik reisya sembarangan, ku tatap matanya dengan tajam. Sepertinya aku harus menjadikan dia milikku selamanya, aku harus membuatnya menyadari bahwa dia adalah milik seseorang. Maka dari itu aku segera menarik pergelangan tangannya dan membawanya pergi dari sana, aku marah sepertinya aku harus membuatnya selamanya menjadi milikku.


*Alvendra POV end.


Alvendra langsung menarik pergelangan tangan reisya menyeretnya dengan paksa membuat sang empu merintih kesakitan dengan cengkraman kuat yang alvendra berikan.


"Argh apa yang kau lakukan?? lepaskan !!" Teriaknya sambil mencoba melepaskan genggaman tangannya.


"Akh !!" Pekik reisya ketika alvendra melemparnya di atas ranjang.


"Sepertinya kau lupa bahwa kau adalah milikku !!" Ucapnya penuh penekanan. Seketika reisya teringat akan kejadian tadi.


*Flashback


Alvendra mencium paksa bibir reisya dengan tidak lupa tangannya ikut menggerayangi tubuhnya. Reisya mengepalkan kedua tangannya merasa marah atas perlakuan yang alvendra berikan hingga kemudian dengan sekuat tenaga menyentak tubuh alvendra darinya hingga ciuman tersebut terlepas.


"Apa yang kau lakukan !" Teriaknya kepada alvendra yang hanya diam memandang datar wajahnya.


"Yang kulakukan? tentu saja menginginkan mu". Ucapnya santai


"Apa?" Tanyanya tidak percaya.


"Ingatlah ini kau adalah milikku !" Katanya yang membuat reisya menatap tak percaya kearahnya.


"Kau sudah gila ! Benar-benar gila !!" Teriaknya namun hanya dibalas senyuman miring alvendra.


"Ya aku gila dan itu karena dirimu". Dan setelahnya percintaan terlarang tersebut terjadi.


*Flashback end


"Kenapa kau lakukan ini? ini tidak benar. Kuakui aku memang salah tapi jangan lakukan ini kumohon!" Mohon ya dengan nada ketakutan.


"Persetan dengan hal tabu itu aku tidak membutuhkannya !!" Ucapnya final yang langsung saja mencium kembali bibir reisya. Sementara itu reisya segera membulatkan kedua matanya, ia merasa sangat sakit ketika mendengar hal tersebut. Ini berarti bahwa dirinya dianggap sebagai ****** untuk penghangat ranjangnya saja, benar-benar membuat dirinya merasa hancur sehancur-hancurnya.


.

__ADS_1


.


.


.


Rayya terbangun dari tidurnya, dilihatnya jam melalui ponselnya. Pukul 04:15 dia terbangun karena tenggorokannya terasa kering, ia merasa haus. Ia berdiri mendudukkan dirinya dan menghidupkan lampu yang berada di atas nakas di samping tempat tidurnya. Ia menoleh melirik kearah seberang tempat tidurnya mendapati jika di sebelahnya masih rapi.


"Apa dia tidur di ruang kerjanya?" Gumamnya, ia pun segera turun dengan membawa wadah air minum.


Di bukannya pintu tersebut kemudian lantas turun untuk mengambil air minum yang berada di bawah. Di isinya wadah tadi kemudian segera kembali naik kedalam kamarnya, namun sebelum dirinya memasuki kedalam kamarnya ia melirik kearah ruangan kerja pribadi alvendra. Di tatapnya ruangan tersebut kemudian memutuskan untuk memeriksanya, sesampainya di depan pintu ia diam sejenak dan melirik kearah jendela yang ada di sana.


"Dia tidak ada di dalam?" Gumamnya ketika melihat kearah jendela. Rayya pun memutuskan untuk mencoba mengetuk pintu tersebut namun sebelum menyentuh pintu dihadapannya pintu besar tersebut sudah terlebih dahulu terbuka.


"Alvendra !!" Panggilnya ketika alvendra membuka pintunya dengan tiba-tiba.


"Rayya? apa yang kau lakukan di sini? Tanyanya ketika mendapati sang istri yang sudah berdiri di depan pintunya.


"Aku hanya ingin memeriksa saja apakah kau semalam tidur di sini". Ucapnya yang mana hanya ditatap datar oleh alvendra.


"Maaf karena aku tidak memberitahu mu, ada beberapa berkas yang harus aku selesaikan dan kurasa semalam aku memutuskan untuk sekalian tidur di sini". Jelasnya yang hanya mendapat anggukan paham dari rayya.


"Kau ingin berangkat ke kantor sekarang?" Tanyanya ketika melihat alvendra yang sehabis mandi sepertinya karena rambutnya yang terlihat basah.


"Ingin kubantu siapkan pakaianmu ?" Tawarnya yang dibalas anggukan oleh alvendra.


Rayya tersenyum kemudian segera berbalik menuju kedalam kamar, sementara itu alvendra yang masih berdiri di ambang pintu ruangan kerjanya hanya menatap datar kepergian sang istri. Untung saja ia tadi menyudahi hubungan percintaannya dengan reisya dan segera pergi dari sana ketika mengetahui sudah hampir fajar. Ia kembali masuk kedalam ruangannya, berjalan menuju ke arah meja di sana. Dirinya terdiam sejenak di tempat tersebut kemudian mengambil ponsel yang tergeletak di sana.


"Sean aku ingin kau melakukan sesuatu yang penting!" Titahnya melalui ponsel tersebut, ia menaruh ponsel tadi di atas meja kemudian terdiam dengan sejuta pemikiran yang ada.


.


.


.


.


.


Matahari datang menampakkan sinarnya, kedua kelopak mata reisya terbuka ketika cahaya tersebut menerpa kedua matanya. Sejenak ia menyamakan cahaya tersebut sebelum kenyataan pahit menghantam tubuhnya. Sejuta rasa sakit langsung terasa di sekujur tubuhnya ketika teringat bagaimana semalam alvendra menggaulinya lagi untuk kedua kalinya. Ia sudah seperti ****** atau memang benar, dengan perlahan ia mencoba untuk mendudukkan dirinya meski rasa nyeri dan perih di kewanitaannya terasa. Ia berjalan turun dari ranjang, memungut jubah mandinya dan berjalan tertatih menuju kedalam kamar mandi. Sesampainya di dalam ia membasuh seluruh wajahnya dengan deraian air dingin, di tatapnya pantulan wajah dirinya yang begitu menyedihkan apalagi dengan banyaknya bercak merah keunguan di area leher sampai menuju ke dadanya.


Ia muak yang kemudian lekas berjalan kedalam kamar mandi, menyalakan shower dan menggosok seluruh permukaan kulitnya dengan kasar. Sementara itu usai bersiap alvendra turun dari dalam kamarnya, berjalan menuju ke meja makan sebelum dirinya berhenti ketika pintu berwarna coklat di sebelah kanannya tampak menarik perhatian nya. Di tatapnya lama pintu tersebut sebelum akhirnya memutuskan untuk turun menuju ke bawah karena pagi ini dia harus pergi ke luar kota sebentar untuk meninjau perusahaan cabang kepunyaannya. Sesampainya di dapur ia menoleh melihat bagaimana istrinya masih sibuk dengan peralatan yang ada di sana, perlahan ia langkahkan kedua kakinya untuk mendekati rayya.


"Aku tidak bisa ikut sarapan karena aku harus pergi sekarang !" Katanya yang membuat rayya langsung menoleh kearah alvendra.

__ADS_1


"Sekarang?" Tanyanya lagi sambil melihat kearah jam yang ada di ponselnya.


"Perusahaan itu ada di luar kota, mungkin nanti malam aku akan pulang. Tak usah menunggu ku untuk makan malam karena mungkin aku akan makan malam diluar." Ujarnya yang kemudian segera melenggang pergi dari dapur.


"Ah, baiklah kalau begitu hati-hati" Teriaknya namun tak di gubris oleh alvendra, ia menatap sendu ruangan tersebut.


.


.


.


.


.


Di luar apartemen alvendra sudah ditunggu oleh Sean sang sekretaris pribadinya, langsung saja pria jangkung tersebut membukakan pintu itu yang mana alvendra langsung saja masuk kedalamnya. Mereka berdua segera pergi meninggalkan area apartemen tersebut.


"Ini adalah hari Minggu kemungkinan besar sebagian karyawan akan libur." Jelas Sean kepada alvendra yang membaca kuartal di tablet yang ia genggam.


"Tak masalah asalkan pemiliknya ada karyawan atau pegawai lain aku tidak peduli".


"Dan untuk jam sore nanti anda akan ada jadwal bermain golf dengan direktur utama JP construction."


"Cih bajingan gila, dia ingin mengajakku bermain golf di sore hari?" Ucapnya tidak tertarik.


"Lalu jam malam? Katamu aku akan sibuk sampai malam."


"Untuk jam malamnya anda memiliki janji makan malam bersama dengan tuan besar " Katanya yang membuat alvendra segera menatap Sean dari pantulan kaca di mobil tersebut.


"Tiba-tiba ??" Kagetnya.


"Benar tuan". Alvendra menatap kearah luar dimana banyak sekali kendaraan yang ia lalui.


"Apa maumu pak tua?" Gumamnya yang hanya dilirik sekilas oleh sean dari kaca.


"Ah, soal yang kusuruh tadi pagi sudah kau lakukan?"


"Sudah tuan, mulai hari ini dia akan mengawasi segala hal tentang nona reisya." Jelasnya yang membuat alvendra mengangguk.


"Suruh dia melapor padaku langsung, aku tak ingin menambah bebanmu lagi." Pintanya yang diangguki setuju oleh Sean.


"Baik !!"


Dan alvendra pun hanya menatap keluar yang mana menampilkan pemandangan jalanan di pagi hari dan sibuknya beberapa orang yang ingin menikmati waktu weekend mereka. Sepertinya keinginan alvendra sudah mantap untuk menjadikan reisya miliknya terlepas dari bagaimana pria itu tengah memikirkan banyak sekali cara, hanya dialah yang tahu mengapa ia harus seperti ini dan semua alasan itu adalah karena reisya. Gadis yang selalu memberikan kejutan di setiap hal yang ia lakukan terlepas itu sengaja ataupun tidak, gadis yang unik adalah cara alvendra untuk mendeskripsikan seorang reisya atanazwa.

__ADS_1


__ADS_2