PRISON

PRISON
0:18 amarah yang meletup


__ADS_3

Di tengah perjalanan menuju ke rumah reisya arsen harus menghentikan motor nya ketika tiba-tiba saja hujan turun dengan deras membuat nya menepikan kendaraan tersebut dan mencari tempat untuk berteduh.


"Astaga kenapa hujannya harus turun sekarang, padahal sebentar lagi akan sampai di apartemen milik kakakmu." Ucap arsen merasa bersalah kepada reisya yang hanya menatapnya, ia tersenyum.


"Tidak apa ar lagipun ini juga menyenangkan karena aku bisa merasakan bagaimana rasanya hujan-hujanan." Ucapnya sambil menyentuh butiran air hujan yang turun.


"Senang mendengarnya rei" Balas arsen dengan senyuman.


Keduanya berdiri di tempat etalase toko yang sudah tutup menunggu hujan tadi mereda namun sepertinya tuhan tidak mengizinkannya hingga saat hari sudah mulai gelap pun reisya dan arsen masih terjebak di tempat yang sama dengan hujan yang tambah kencang disertai dengan deru angin yang kencang membuat hembsuan hujan menyapu keduanya. Melihat bagaimana reisya basah dengan inisiatif nya arsen segera melepas jaket yang ia kenakan dan langsung memasangkan nya ke tubuh reisya agar ia tidak kedinginan, merasa mendapatkan sesuatu reisya langsung menoleh ketika ia mendapat jaket pemberian arsen.


"Kenapa kau melepas nya?" Tanya reisya kepada arsen.


"Aku tidak ingin kau kedinginan jadi pakai lah jaket ku ini." Jawabnya yang membuat reisya menghangat dibuat nya.


"Sepertinya hujannya tidak akan mereda begitu saja" Ucap arsen yang memasukkan tangan nya kedalam saku.


"Sepertinya....." Balas reisya.


"Kau tau rei biasanya jika aku terjebak dengan anak-anak OSIS maka seluruh anak siswi akan berkumpul dan menggunjingkan seseorang. Ada juga yang selfi dan bermain media sosial untuk membagikan keadaan mereka saat itu." Ujarnya berusaha untuk menciptakan suasana agar tidak sepi.


"Wah kau pasti mengamati mereka semua bukan?"


"Apa maksud mu?? tentu saja tidak, hanya saja mereka berbicara dengan lantang."


"Hahaha lalu kau pasti mengamati yang beberapa orang Selfi kan?"


"Kupikir awalnya ada kilat tapi ternyata itu adalah ulah mereka yang ingin terlihat lebih putih di kamera dan itu sungguh membuatku terkejut." Jelasnya yang mana dibalas oleh kekehan keras reisya dikala mendengar nya.

__ADS_1


"Hahahaha aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan mu saat itu".


"Aku membiarkan mereka hanya saja kadang kelakuan mereka benar-benar menarik perhatian orang-orang disekitar."


"Hahahaha" Tawa reisya yang hanya dilihat oleh arsen dengan tatapan lembut. Sementara itu reisya yang merasa di tatap pun segera menoleh dan mendapati arsen yang melihatnya dengan lembut.


"Kenapa? apa ada sesuatu yang salah?" Tanya reisya tiba-tiba namun masih hening tidak ada jawaban dari arsen sama sekali.


"Lo cantik rei" Ucap arsen tiba-tiba yang membuat semburat merah di wajah reisya terlihat.


"Ap-apa sih Ar" Ujarnya salah tingkah sembari mencoba mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Gue serius rei, kadang gue itu heran kok bisa ya ada cewe semanis lo" Katanya lagi yang membuat reisya benar-benar tersipu malu akan ucapan yang baru saja arsen katakan.


"Lo ada-ada aja"


Seketika suasana saat itu berubah menjadi serius, baik reisya maupun arsen sama-sama saling menatap seolah menyalurkan apa yang sedang mereka pikirkan melalui tatapan mata mereka bersama. Tangan arsen pun perlahan memegang tangan reisya, ia menatap lembut wajah pujaan hatinya. Sesekali mengelus permukaan tangan reisya arsen mengambil nafas dalam sebelum dirinya hendak berbicara, sedangkan reisya menatap arsen dengan hati berdebar kuat. Ia merasa jantung nya bekerja dua kali lipat, ada perasaan gugup dan senang yang berkumpul di satu titik saraf miliknya dan ia masih setia menunggu arsen yang bersiap hendak mengatakan sesuatu.


"Rei lo pasti tau semua yang gue lakuin ke lo, sikap gue, cara bicara gue dan cara ngomong gue. Gue yakin lo pasti tau, gue juga ingat betul gimana waktu gue nyatain prasaan gue ke elo pertama kali dan gue nggak nyerah sama jawaban yang lo kasih jadi saat ini gue..." Jelasnya yang masih ditunggu dengan setia oleh reisya.


"Gue.....reisya Lo...."


"Lo mau nggak jadi ke...." Ucapan arsen terpotong ketika sebuah intonasi berat menyapu pendengaran mereka berdua hingga membuat arsen dan reisya segera menoleh kearah sumber suara.


Disana berdiri seorang pria berjas hitam formal dengan payung hitam senada dengan aura intimidasi yang dipancarkan olehnya menatap tajam mereka berdua layaknya dua ekor kucing yang tertangkap basah habis mencuri. Alvendra, pria itu berdiri dengan menatap dingin kepada reisya membuat bulu kuduk reisya berdiri karena terkejut mendapati alvendra yang berdiri di hadapannya dengan tatapan yang menyeramkan itu seolah tertuju kepadanya.


Sementara alvendra, pria itu menatap heran kepada alvendra yang masih setia diam di tempatnya.

__ADS_1


"Permisi anda siapa nya reisya?" Tanya arsen sopan, sementara alvendra hanya diam dengan masih menatap dingin reisya.


"Ar dia..."


"Saya keluarga nya!" Potong alvendra yang membuat reisya langsung memejamkan kedua matanya, arsen mendelik bingung setaunya reisya tak memiliki saudara laki-laki kecuali jika itu adalah pamannya!!


"Tapi setahu saya reisya tak mempunyai keluarga laki-laki ??!" Ucap arsen penuh selidik yang membuat alvendra segera menatap tidak suka kepada arsen.


"Saya....."


"Dia kakak iparku, dia suami kakakku rayya." Jelas reisya yang membuat arsen terkejut seketika.


"Kak rayya sudah menikah?"


"Ya akan aku ceritakan nanti !!" Jelasnya kepada arsen yang kemudian reisya segera menatap kearah alvendra yang masih menatap tak suka kepada arsen.


"Jadi, kak apakah kak rayya menyuruhmu untuk menjemput ku??" Ucap reisya mencoba untuk mengalihkan ketegangan yang membuat reisya sedikit sesak dibuatnya.


Alvendra menaikkan sebelah alisnya mendengar kebohongan yang jelas, disuruh rayya katanya? alvendra ingin tertawa sekarang karena semua itu jelas kebohongan reisya demi membuat alasan karena arsen begitu curiga kepadanya. Sebenarnya alvendra memergoki mereka berdua ketika ia tidak sengaja ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan di perusahaan cabang, kebetulan saja perusahaan cabang itu sejalur dengan apartemen miliknya namun ditengah jalan ia ditemukan dengan keberadaan reisya bersama seorang pria yang membuat ia penasaran sehingga menyuruh Sean untuk menghentikan mobilnya.


Semula alvendra merasa geram dengan senyuman yang reisya berikan namun ia sadar ia tidak ada hak sama sekali untuk mencampuri kehidupan adik iparnya, ia berniat menyuruh sean untuk melanjutkan perjalanan nya namun sebelum itu ia tidak sengaja melihat dengan jelas bagaimana arsen memegang tangan reisya dengan sesekali mengelusnya. Amarah alvendra langsung tersulut saat itu juga, ia tidak rela jika ada yang menyentuh reisya dan alvendra sendiri tak tahu kenapa itu bisa terjadi hingga puncaknya dimana mereka saling bertatapan mesra sehingga kesabaran alvendra yang setipis tisu itu pun meledak hingga akhirnya ia memutuskan untuk turun dari mobilnya dan berjalan menuju kerah keduanya.


Tatapannya berdalih kepada reisya, tatapan sama dengan penuh kedinginan seolah merasa murka atas kesalahan yang dilakukan oleh reisya.


"Pulanglah sebelum membuat nya semakin khawatir !!" Jelasnya penuh penekanan yang mana langsung menyeret pergelangan tangan reisya dan menyeretnya untuk segera pergi dari sana.


Namun ditengah perjalanan menuju kedalam mobilnya alvendra berhenti, ia berbalik menatap reisya yang menunduk takut kepadanya. Tangan nya terangkat dan langsung melepaskan jaket arsen dan melemparnya begitu saja hingga membuat reisya terdiam, ia menatap arsen yang hanya mengisyaratkan bahwa tidak masalah namun reisya masih merasa tidak nyaman dengan perilaku alvendra tadi.

__ADS_1


"Reisya tidak membutuhkan semua milikmu !" Jelasnya diakhir yang kemudian melenggang pergi dari sana sementara reisya menatap arsen dan berujar maaf sampai ia masuk kedalam mobil tersebut.


__ADS_2