
Selama di perjalanan reisya sama sekali tidak berucap sepatah kata begitupun dengan alvendra yang sepertinya memang sengaja diam atau mungkin tidak peduli setelah apa yang tadi ia lakukan seolah hal itu bukanlah masalah besar baginya. Mobil mereka tidak menuju kearah apartemen seperti biasanya dan itu membuat reisya bertanya-tanya kemana alvendra akan membawanya pergi.
"Kau membawaku kemana?" Tanyanya karena tiba-tiba saja rasa takut menyergapnya.
"Ke kantor cabang milikku !"
"Untuk apa aku kesana? lebih baik kau antarkan aku pulang!!"
"Tidak bisa"
"Kenapa tidak bisa?"
"Karena aku harus berbalik memutar dan lagi itu akan memotong waktu untukku. Bahkan bisa dikatakan aku terlambat gara-gara dirimu!"
"Maaf? karena ku? kau yang tiba-tiba datang dan menyeret ku dan membawa ku !"
"Oh dan membiarkan mu bersama pria asing itu?"
"Dia bukan pria asing dia sahabat ku !"
"Apakah ada sahabat yang sampai berpegangan tangan?" Sentaknya yang langsung membuat reisya terdiam seketika.
Suasana didalam sana langsung hening, hanya sean saja yang mengamati keduanya dari balik kaca mobilnya itu. Reisya membuang muka kesamping lantaran begitu kesal dengan alvendra, ia perlu menjernihkan pikirannya sebentar dengan melihat beberapa bangunan sepanjang jalan yang tengah ia lewati itu.
__ADS_1
"Apa urusanmu di kehidupan pribadiku !" Gumamnya yang masih di dengar oleh alvendra, ia hanya mendengar nya saja namun kalimat itu berhasil membuat tangannya terkepal dengan kuat.
.
.
.
.
.
.
Dengan berbekal jas seragamnya yang sedikit basah itu ia selimutkan pada tubuhnya yang kemudian ia pun memutuskan untuk tidur di sana, beristirahat karena terlalu lelah menunggu alvendra selesai. Setengah jam berlalu dan rapat pun selesai, alvendra menyenderkan punggungnya yang pegal karena duduk di dalam ruangan sana selama kurang lebih dua jam. Ia memejamkan matanya berusaha untuk beristirahat sebentar, sementara sean yang membereskan semua peralatan tuannya pun dengan ragu melirik alvendra.
"Bila ada yang ingin kau katakan maka katakanlah sean jangan memendamnya!" Ucapnya yang mengetahui jika Sean sedari tadi ingin membicarakan sesuatu dengan alvendra.
"Maaf tuan karena mengganggu tapi di mobil ada nona reisya yang menunggu !!" Jawabnya yang membuat alvendra kembali membuka kedua matanya, ia ingat bahwa ia membawa adik iparnya.
Alvendra pun membenahi duduknya dan memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri.
"Anda baik-baik saja tuan?"
__ADS_1
"Ya aku baik-baik saja, apakah kau sudah membelikan apa yang aku suruh?"
"Sudah tuan"
"Kalau begitu kita pulang, kurasa rayya sudah tiba di rumah." Katanya yang kemudian langsung berdiri dari kursinya dan berjalan meninggalkan sean yang mengekor dibelakang nya.
Sesampainya di sana alvendra yang tengah membuka pintunya pun dikejutkan dengan keberadaan reisya yang sudah tergeletak di kursi penumpang. Matanya terpejam dengan damai, sepertinya ia sedang tidur, terbukti dengan kedua matanya yang terganggu ketika alvendra membuka pintunya tadi.
"Haruskah saya membangunkan nona tuan?" Tanya sean kepada alvendra.
"Tak perlu lebih baik kau bersiap untuk menyetir saja." Perintahnya yang mendapat anggukan dari sean sendiri.
Pria tadi pun segera berjalan menuju ke kursi kemudi, sementara alvendra pun membenahi posisi tidur reisya dan membiarkan kepalanya menumpu pada paha alvendra. Dari jarak ini alvendra bisa melihat secara dekat bagaimana kecantikan alami reisya, selama ini ia tidak memperhatikan jika adik iparnya itu begitu cantik. Jemarinya terulur untuk merapikan helaian anakan rambut yang menutupi kedua mata reisya, di sentuhnya helaian rambut itu dan dibawanya untuk alvendra cium aroma wangi segar yang menyatu disana. Sejenak mata alvendra memejam, aroma nya begitu menenangkan hingga mampu membuat nya déjà vu walau sejenak.
Sekitar dua puluh menit perjalanan akhirnya mereka semua sampai di dalam kediaman alvendra, Sean langsung membukakan pintu sang tuan. Ia hendak mengambil tubuh reisya untuk ia bawa naik kedalam kamarnya namun ditolak oleh alvendra, ia pun lantas me ngangkat tubuh mungil reisya dan membawanya menuju kedalam rumah. Namun saat memakaikan jas seragamnya ia dikejutkan dengan kehadiran bekas samar keunguan di salah satu leher reisya, meski sedikit remang alvendra dapat melihat bahwa warna itu begitu kontras dengan kulit putih bersih yang reisya miliki. Dengan penasaran alvendra menghidupkan lampu di dalam mobilnya, untung saja posisi tidur reisya meringkuk sehingga alvendra dapat melihat dengan jelas bekas ruam itu.
Tangannya perlahan menyentuh bekas tersebut kemudian berpikir sejenak sebelum ia kembali mengintip lebih dalam lagi bekas-bekas yang alvendra yakini adalah kissmark. Amarahnya kembali meletup, ia memandang kissmark tersebut dengan datar dan tajam seolah tidak terima dengan bekas-bekas yang berada di leher reisya.
"Brengsek !!" Umpatnya, ia pun segera membopong tubuh reisya dan membawanya keluar dari sana untuk diantarnya menuju kedalam kamar dengan langkah kaki lebar masuk kedalam rumah.
Sesampainya di dalam alvendra hanya berjalan lurus menuju ke salah satu kamar berpintukan warna putih, yaitu kamar milik reisya yang tak jauh dari tangga. Ia membukanya dengan mendorong kencang pintu tersebut dan langsung menurunkan tubuh reisya di atas ranjang. Ia menatap dalam diam reisya seolah tengah memiliki banyak sekali pertanyaan yang terlontar disana, perlahan ia mengecek kembali leher reisya namun kali ini ia menulusuri semuanya. Tidak sampai membuka seluruh pakaiannya tidak, hanya saja ia mengecek di setiap sisi kanan dan kiri lehernya. Awalnya alvendra pikir hanya terdapat satu bekas kissmark saja namun ketika ia hendak menarik jarinya yang memegang leher reisya tidak sengaja bekas kissmark yang sama terlihat.
Alvendra mengerut heran, ia melirik jarinya. Rasa licin dan warna senda dengan kulit itu membuat alvendra terdiam sebelum ia mengambil serbet kecil dari dalam saku jasnya. Dengan perlahan ia mengusap setiap sisi leher reisya dan di saat itulah alvendra benar-benar dibuat marah namun sekaligus heran, karena bekas kissmark itu masih ada banyak disekitar lehernya. Meskipun hampir hilang namun tidak dapat dipungkiri pasti yang meninggalkan jejak itu ingin agar bekasnya tetap bertahan lama disana seolah menandainya. Sejenak alvendra terdiam dan berpikir ia merasa bahwa itu seperti dirinya yang ingin menandai wanitanya namun ia tak pernah meninggalkan kissmark di tubuh ****** lain kecuali rayya istrinya.
__ADS_1
"Tunggu...." Batinnya, pikirannya langsung tertuju kepada rayya seketika hingga di saat itu juga alvendra pun lekas pergi dari sana meninggalkan reisya yang tertidur lelap tanpa tahu sesuatu yang besar akan datang padanya.