
Di sekolah reisya saat ini gadis itu nampaknya tengah malas untuk mengikuti kegiatan belajar karena jam pelajaran pertama yang harus dia hadapi adalah matematika dan itu membuat dirinya seakan dilanda badmood. Selama jam pelajaran itu ia sama sekali tidak mendengarkan penjelasan dari sang guru, yang ia lakukan hanyalah menidurkan kepalanya di atas meja mencoba untuk merilekskan rasa sakit di area vitalnya yang kadangkala terasa ngilu jika reisya bergerak. Ailin sahabat sebangku reisya yang meliriknya tengah badmood itu pun segera menaruh bolpoin yang ia pegang dan menopang sebelah kepalanya menatap reisya.
"Ke toilet?" Ucapnya tiba-tiba yang membuat reisya tersenyum.
Keduanya pun berjalan keluar dari kelas dengan santai sambil menatap pemandangan sekolah yang cukup sepi, memang sepi karena ini masihlah jam pembelajaran. Dan untuk alasan ke toilet itu hanyalah bualan ailin saja, nyatanya mereka menuju ke arah kantin. Ailin sengaja mengatakan toilet kepada reisya karena itu adalah kode mereka untuk membolos pelajaran di kelas, selama perjalanan menuju ke kantin ailin terus menatap sahabatnya yang berjalan pincang dan kadang mendesis seperti menahan sesuatu membuatnya segera menyentil bahu reisya.
"Kaki lo sakit?" Tanyanya.
"Iya !!"
"Jatuh dari mana?"
"Kamar mandi" bohong nya, ia juga sadar penuh bahwa tak mungkin ia akan mengatakan darimana asal sakit itu big trouble nantinya.
"Udah di obatin belum?"
"Udah kok"
"Dikejar apaan sampe jatuh gitu di kamar mandi?"
"Lo percaya sama mimpi buruk gak?" Tanya reisya secara random.
"Sedikit, kenapa? lo abis mimpi buruk ya sampe jatuh kaya gitu?"
"Ya, dan sayangnya mimpi itu bukan sekedar mimpi aja".
"Terus apaan?" Tanya ailin lagi namun reisya enggan menjawabnya dan hanya menggeleng saja membuat ailin mendengus lantaran sahabatnya hanya diam saja sampai tiba di kantin.
.
.
.
.
.
.
.
ALV CORPORATION
Sehabis rapat bulanan dengan para pegawainya, alvendra pun berjalan menuju ke ruangan pribadinya. Tentu saja ketika ia melewati lobby banyak orang langsung membungkuk ketika melihat kedatangan alvendra, mereka semua membungkuk hingga alvendra hilang dihadapan mereka. Ketibaan nya tadi juga tidak lepas dari mata binar para wanita yang melihat kepergian atasan mereka itu, ya wajar saja karena alvendra itu adalah pria idaman yang pasti banyak dari bawahannya mengidolakan dirinya selayaknya bintang papan atas. Sesampainya di dalam ruangan pribadi miliknya itu ia langsung duduk memutar kursi nyamannya menghadap kaca besar yang ada di depannya yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit yang juga merupakan salah satu kepunyaan perusahaan miliknya itu.
Alvendra menerawang jauh dari sana seolah tengah meninjau ulang sebuah memori dari dalam otak nya, sesuatu yang membuatnya selama beberapa akhir ini selalu dibayangi akan kejanggalan yang terus merayap di dalam pikirannya. Ia tidak terbiasa dengan ini karena sebelumnya ia tak pernah mengalami hal yang membuatnya terus berpikir, Sean sang sekertaris yang menatap atasannya seperti tengah berpikir keras itupun lantas membuka suara demi menanyakan keadaan sang tuan yang terlihat begitu terganggu dengan isi kepalanya.
"Apa ada sesuatu tuan?" Tanya Sean yang mana membuat alvendra tersentak dari lamunannya.
"Apa kau percaya pada feeling mu Sean?" tanya alvendra ambigu membuat Sean sedikit kesulitan memahami maksud sebenarnya dari alvendra.
"Ya....itu tergantung" Jawabnya agak ragu.
"Dari apa?" Kini nada alvendra bertanya seolah tertarik dengan jawaban yang Sean berikan. Ia memutar kursi menghadap kepada sang sekertaris yang nampak berpikir ulang akan jawabannya tadi.
"Semua tergantung akan kondisi yang kita alami dan juga hal-hal yang juga kita lihat secara langsung."
"Jadi artinya itu bukan hanya sekedar feeling tapi memang sebuah kecurigaan !!" Ucap alvendra serius yang membuat Sean sang sekertaris merasa bingung.
"Anda curiga dengan siapa tuan?" Tanyanya pelan.
"Rayya....." Jawab alvendra pelan namun masih di dengar jelas oleh sean.
"Apa?" Tanyanya lagi memastikan bahwa ia memang tak salah dengar dari apa yang alvendra ucapkan tadi.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Di Sekolah ah lebih tepatnya di kantin yang sudah mulai ramai itu.
"Mau balik ke kelas?" Tanya ailin ketika mereka sudah menghabiskan semangkok bakso di kantin tadi.
"Nggak, gue mau tidur aja di UKS" Jawab reisya dengan tidak moodnya.
"Lo kalau sakit pulang aja rei jangan di paksa !!"
"Gue ga sakit lin tapi lagi males aja sama hari ini." Jawab reisya dengan nada lemah.
"Emang lo kenapa sih sebenernya rei. Kalau ada masalah coba cerita gue bakal dengerin kok !!" Ucap ailin yang mana membuat reisya yang semula menidurkan kepalanya di meja pun lantas mendongak menatap sahabatnya.
"Lo tau kalau gue lagi ada masalah?" tanyanya dengan bodoh.
"Lo kalau badmood pasti gitu, sekarang cerita lo kenapa si hah? bukannya happy karena rayya kakak lo udah nikah sama orang terkenal?" Seketika ucapan yang baru saja ailin katakan membuat reisya membeku. Raut wajahnya langsung berubah seketika, ia sungguh benci jika harus melakukan percakapan yang berbau alvendra sungguh!
"Lo tau siapa suami kakak gue?"
"Alvendra alvarez siapa yang enggak kenal sama investor muda itu? gue kaget banget begitu berita pernikahannya kesebar. Yang lebih bikin gue kaget adalah karena dia nikahnya sama saudari elo big news emang, lo tau gitu kenapa diem aja sih engga cerita ke besti sendiri?" Cecar ailin kepada reisya yang mana hanya di diamkan oleh Reisya, dirinya sungguh tidak menyukai topik apapun soal alvendra...ia sangat tidak menyukainya.
"Gue juga masih engga percaya kakak gue nikah sama dia !!" Tutur reisya yang membuat ailin terkejut.
"Wait !! jadi maksud lo mereka dijodohin gitu?"
So big trouble, reisya langsung panik. Gawat ailin tidak boleh sampai tahu jika rahasia pernikahan antara keluarganya dengan alvendra terjadi karena hubungan sepihak yang dibuat oleh alvendra sendiri, itu bisa menjadi masalah yang lebih besar lagi nantinya.
"LO GILA!! YA ENGGALAH." Jawab spontan reisya yang membuat ailin ciut.
"Ya lo abis ngomong nya kaya gitu"
"Maksud gue itu gue nggak nyangka kalau kakak gue itu bisa kenal sama dia !!" Jelasnya dengan hati-hati takut jika ailin akan curiga lagi.
"Oh !!"
"Ya udah yuk masuk kelas !" Ajak reisya yang sudah mulai berdiri dari meja hendak meninggalkan meja tadi.
"NGGAK !!" Teriaknya.
.
.
.
.
.
Di kelas reisya mencoba memfokuskan pikirannya ke dalam materi pembelajaran, dia agak bosan sebenarnya dengan pelajaran geografi namun sepertinya tangannya tak berhenti untuk menulis dikala sang guru menerangkan. Sebenarnya ia sangat sensitif lantaran kejadian waktu itu, berulang kali ia mencoba mengalihkannya kepada hal yang sangat penting seperti saat ini namun masih tetap saja rasanya ia masih saja malas dengan hal tersebut. Mungkin saat ini ia terlihat begitu rajin dengan mencatat materi yang tengah guru tadi terang kan namun di dalam isi kepalanya sungguh rumit, di satu sisi ia masih memikirkan kejadian itu dan di sisi lain ia mencoba untuk memasukkan materi pembelajaran dari sang guru ke dalam otaknya.
Tak terasa hari itu berlalu begitu cepat, hari sudah menunjukkan pukul tiga sore. Waktu bagi reisya untuk pulang setelah pembelajaran di sekolah usai, ia berjalan dengan lesu menuju keluar sekolah. Sebenarnya ia malas untuk pulang ke apartemen milik sang kakak, namun apa daya ia sudah dimintai tinggal oleh rayya disana sampai rayya benar-benar merasa nyaman di situ. Gila memang tapi itulah keputusan yang tak bisa reisya tolak, ia sangat kasihan melihat rayya merasa tersiksa dengan pernikahan tersebut namun juga reisya tak bisa menampik bahwa kesialan yang dialami oleh keluarga nya juga karenanya. Di tengah-tengah ia melamunkan nasibnya, dari arah belakang terdapat seorang gadis yang bisa kita ketahui dengan nametag yang terpasang di seragam miliknya.
Ailin, gadis itu mendorong pelan pundak reisya yang tengah berjalan dengan tatapan kosong seolah tak memiliki jiwa itu.
"Ninggalin mulu si" Gerutunya kepada reisya.
"Gue engga ninggal, lonya aja yang lambat waktu beres-beres tadi."
"Hehe sorry, btw...." belum selesai mengucapkan kalimat nya terdapat motor ninja berwarna hitam dengan seorang pria yang mengendarai nya di sana.
Sejenak reisya dan ailin melihat pria itu hingga mata ailin menajam kala melihat nametag yang ada di jas orang itu.
"Rei...bukannya dia?" Ucap ailin terpotong ketika pria tadi langsung mengeluarkan kata-katanya.
"Rei lo ada waktu nggak?" tanya pria tadi yang barusan membuka kaca helmnya.
"Arsen?" Ucap reisya membuat pria yang dipanggil tadi tersenyum.
"Lo senggang kan hari ini?" tanyanya pada reisya yang membuatnya segera menatap wajah ailin sahabat nya.
__ADS_1
"Ada kok, reisya selalu luang waktunya !!" Kata ailin dengan cepat dan menggebu membuat reisya menyikut perut sahabatnya dengan keras.
"Lo gila ya !!" Bisiknya di samping telinga ailin.
"Udahlah terima aja, lo tau kan arsen itu naksir sama lo !!"
"Tapi engga gitu juga kali Lin !!"
"Udah engga papa sih, lagipula dia termasuk cowok populer loh disekolah ini."
Ya, Arsena Andrew argantara adalah cowok paling populer di sekolah SMA bakti. Selain cool dan ramah Arsena atau kerap dipanggil arsen adalah ketua OSIS, kapten basket, voli dan juga futsal di sekolahnya. Ia begitu aktif dalam dunia tersebut bahkan di setiap tim itu dia selalu membawa pulang piala emas berjuarakan satu. Arsen juga tak hanya pintar dalam non akademik, buktinya dia juga pernah ikut lomba di bidang akademis di sekolahnya hingga internasional dan membawa medali kebanggaan. Arsen adalah pria idaman di sekolah, semua mengidolakan dirinya tapi sepertinya pusat arsen hanya tertuju pada reisya. Gadis yang pendiam dan kalem dari jurusan IPS itu telah menarik perhatian dirinya yang dari anak IPA, ia sudah mencoba mendekat reisya namun selalu berujung jika reisya terus menghindari nya.
Menyerah? tentu saja tidak, arsen justru semakin tertarik pada reisya. Menurutnya reisya itu beda dari gadis SMA lain, dia begitu kalem tidak ingin menonjol tapi bagi arsen dialah yang paling menonjol diantara lainnya. Kembali kepada cerita, arsen menatap penuh harap kearah reisya yang nampaknya masih memikirkan tawaran darinya. Sementara reisya, ia sebenarnya canggung kepada arsen, ia tahu bahwa sebenarnya arsen menyukainya hanya saja ia takut akan siswi lain yang nanti akan membencinya. Oh siapa yang tidak akan takut jika hampir seisi sekolah menyukai arsen, ia tak ingin dipanggang hidup-hidup oleh para siswi lain jika ia juga menyukai arsen.
"Rei......" Panggil kembali arsen untuk menyadarkan reisya dari lamunanya.
"Ah ya sorry ar !!"
"Jadi gimana pendapat mu?" tanyanya lagi.
"Emmm itu......" Jawab rei masih ambigu membuat arsen semakin gugup. Reisya hendak menjawab sebelum ponselnya berdering, dilihatnya ada pesa masuk di sana membuat ia memejamkan matanya dalam sebelum menatap arsen kembali dan tersenyum kearahnya.
"Gue luang kok !!" Jawabnya yang mana membuat secercah senyuman tampan terukir di wajah arsen.
"Yuk naik !!" Ajaknya kepada reisya. Sang empu langsung menoleh ke arah ailin yang hanya tersenyum riang sambil mengangguk cepat seolah senang bila dia bisa berduaan dengan arsen.
"Gue duluan ya Lin !!" Ucap reisya kepada ailin.
"Hati-hati dan selamat bersenang-senang ya rei!!" Katanya menelan di samping telinga reisya sebelum arsen menancapkan gasnya dan membawa reisya pulang dari halaman sekolah.
.
.
.
.
.
Di apartemen milik alvendra, rayya tengah menyajikan makan malam di meja. Sesekali ia melihat kearah ponselnya, sudah jam tujuh lebih seperempat namun mengapa sang adik belum kembali? ia dilanda kalut. Sementara itu alvendra juga tiba di sana, ia berjalan dengan agung menuju kedalam rumahnya hendak mandi sebelum rayya yang mendengar akan kepulangan nya menghentikan langkah alvendra.
"Kau sudah pulang?" Sapanya.
"Hm !!"
"Lekaslah mandi dan turunlah untuk makan malam !!" Jelasnya yang hanya dibalas anggukan kepala oleh alvendra saja.
Setelahnya alvendra memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya, berniat mandi demi melepaskan rasa penatnya. Ia melepas jas mahalnya, kemudian di susul kemeja dan dasinya. Disiramnya tubuh atletis itu dengan air dingin membuat rasa lelah yang semula melekat di sana pun hilang ikut terbawa aliran air tadi. Setelah lima menit ia melakukan acara bermandinya, alvendra pun segera turun untuk makan malam dengan istrinya. Sesampainya di dapur ia mendelik bingung, ia tak mendapati kehadiran rayya sang istri membuatnya memutuskan untuk pergi ke meja tamu. Di sana terlihat bahwa rayya tengah mondar-mandir sambil sesekali menelfon seseorang lewat ponselnya membuat alvendra menaikkan sebelah alisnya heran.
"Kau menelfon siapa?" Tanya alvendra yang membuat rayya terlonjak kaget.
"Ah...aku hanya menelfon adikku." Jelasnya yang membuat alvendra hanya memberikan gestur paham.
"Dia belum pulang?" Tanyanya lagi yang mana membuat rayya gelisah, ia hanya mengangguk membenarkan pertanyaan yang alvendra ucapkan.
"Tunggulah sambil kita makan malam, aku yakin tidak lama lagi dia pulang." Sarannya yang mana membuat rayya hanya membuang nafas lesu sambil berjalan mengekor dibelakang suaminya.
Suara pintu terdengar, baik alvendra dan rayya segera menoleh ke sumber suara berasal. Di ujung sana reisya baru saja masuk dengan jaket tebal yang ia pakai, sejenak alvendra menatap tajam kearah jaket yang reisya kenakan. Ia ingat dengan jelas bahwa tadi adik iparnya itu saat berangkat tadi tak memakai jaket atau sweater apapun tapi mengapa saat pulang ia membawa jaket?.
"Reisya !!" Sentak rayya membuat gadis itu segera membeku di tempat.
Reisya menatap di depannya sudah ada rayya dan juga alvendra yang melihatnya. Rayya pun segera menghampiri reisya dan memegang kedua bahu adiknya itu.
"Ini sudah jam berapa?? darimana saja kau?" Tanyanya yang membuat reisya sedikit terguncang lantaran di guncang sang kakak.
"Maaf kak tadi aku pergi sama teman hingga lupa waktu !!" Katanya yang membuat rayya memejamkan matanya.
"Ingat rei, kau boleh pergi main tapi tidak boleh sampai larut hm!! dan juga kau harus mengurangi waktu bermain mu itu. Kau sudah kelas tiga SMA dan sebentar lagi kau akan lulus jadi kau harus mengurangi waktu bermain mu itu hm !!"
"Iya kak iya, aku minta maaf soal itu !!"
"Cepat ganti pakaian mu lalu turun dan makan malam bersama kami." Suruh rayya yang mendapat anggukan mantap dari reisya.
__ADS_1
Segera saja gadis itu berjalan melewati rayya dan juga alvendra. Saat melewati alvendra reisya hanya menunduk sambil meremas tasnya, ia tidak suka jika alvendra menatapnya tajam. Ya sedari tadi reisya tidak suka dengan tatapan intimidasi yang alvendra tujukan padanya, baginya itu menganggu. Di saat melewati alvendra seketika alvendra langsung menatap kepergian sang adik iparnya itu dengan pandangan menajam seolah tersirat akan sesuatu di sana namun hanya alvendra sajalah yang tahu.