PRISON

PRISON
0:29 Mengibarkan bendera perang


__ADS_3

Tubuh reisya membeku ketika mendapati bahwa arsen berada di rumah alvendra. Deru napasnya berpacu seiring dengan debaran jantung nya yang meningkat. Ia ketakutan, sangat takut sehingga ia begitu khawatir ketika melihat kedatangan arsen kemari.


"Hai rei..." Sapa arsen yang membuat reisya tersadar dan tersenyum Kik kuk.


"Ha...hai ar" Balasnya yang kemudian berjalan dengan sedikit ragu ke arah sofa.


"Aku langsung datang kemari begitu bel pulang sekolah berbunyi karena kudengar kau sakit". Ujarnya yang dibalas senyuman kecil dari reisya.


"Ini minumannya akan aku tinggalkan kalian berdua, mengobrollah sesuka hati dan juga anggap seperti rumah sendiri". Ujar rayya yang kemudian pergi dari sana meninggalkan mereka berdua.


"Terimakasih kak rayya" Ucapnya yang dibalas anggukan oleh si pemilik nama.


"Terimakasih karena sudah menjengukku tapi aku sudah sedikit membaik sekarang" Ujarnya yang mana membuat arsen menatap ragu kepada reisya.


"Maaf karena ku kau kembali jatuh sakit ".


"Tidak !! itu bukan salahmu. Hanya saja waktu itu aku belum sepenuhnya pulih dan terlalu berenergik ketika bersamamu" Tegasnya dengan gugup berharap bahwa arsen tidak akan melihat ketakutan di matanya.


Sementara itu di ruangan pribadi alvendra, ia tengah mengerjakan beberapa laporan sambil meninjau kembali catatan kecil yang berada di atas mejanya. Suara pintu berbunyi dari luar ketika alvendra mendongak untuk melihat siapa yang datang, pintu itu terbuka dan menampilkan rayya yang datang dengan membawa seteko penuh es air lemon dengan daun mint di dalamnya yang bisa menghilangkan dahaga dalam sekali teguk. Alvendra hanya menatapnya kemudian tersenyum kecil sebentar sebelum melanjutkan kembali aktivitasnya. Rayya menuangkan segelas air tersebut kedalam gelas yang berada di meja tamu di ruangan kerja itu, kemudian mengambil segelas penuh tadi untuk diberikannya kepada alvendra.


"Reisya sudah membaik?" Tanyanya ketika menerima uluran gelas tadi.


"Suhunya sudah turun, kurasa besok dia bisa berangkat ke sekolah" Ujar rayya yang kemudian kembali duduk di kursi tamu tadi.


"Kau memaksanya untuk bersekolah?" Tanyanya tidak suka kepada rayya.


"Dia sudah mendingan maka sebaiknya dia bersekolah" Ujar rayya yang mana tanpa dia ketahui alvendra tengah menahan kekesalannya saat ini.


Bunyi suara gelas yang begitu nyaring membuat rayya segera menatap wajah sang suami.


"Kenapa?" Tanyanya ketika melihat tatapan tajam alvendra padanya.


"Dia adikmu dan dia juga baru sembuh dari demam nya dan kau memaksakan dia untuk bersekolah?? Bagaimana jika dia kambuh lagi? Alangkah baiknya dia bed rest terlebih dahulu sehari atau dua hari sebelum memulai aktivitasnya sebagai pelajar !" Terang alvendra yang mana mendapatkan tatapan terkejut dari rayya.


"Mengapa kau semarah itu al??" Ucap rayya yang mana seketika langsung menyadarkan alvendra saat itu.


Alvendra segera merubah raut wajahnya, ia menyeka wajahnya kasar dan menyenderkan kepalanya pada tumpuan kursi yang didudukinya. Ia berdiri dan berjalan menuju ke sofa tamu tersebut untuk duduk menatap rayya sang istri.


"Maaf aku hanya terbawa suasana saja, aku rasa aku butuh istirahat karena terlalu lelah memegang laporan itu sejak tadi" Jelasnya yang membuat rayya menatap khawatir pada sang suami.


"Butuh sesuatu?" Tawar rayya yang dibalas gelengan oleh alvendra.


"Mengapa kau di sini?" Tanyanya yang membuat rayya tersenyum kemudian menuangkan segelas air lemon tadi untuk dia minum.

__ADS_1


"Aku sedang tidak ingin menganggu reisya dan temannya" Ujar rayya yang membuat alvendra kembali menatap tajam sang istri.


"Apa?" Tanyanya sekali lagi demi memastikan pendengaran miliknya.


"Reisya dikunjungi oleh sahabatnya, ah bukan sahabat tapi kekasihnya kurasa." Ujarnya sambil tersenyum geli namun tidak dengan alvendra yang menatap marah.


Ia mengepalkan kedua tangannya sehingga membentuk buku jari hingga memutih, ia sudah memperingatkan wanitanya tapi sepertinya dilanggar lagi oleh reisya sehingga membuat alvendra marah sekarang.


"Siapa pria itu?" Tanya alvendra kepada rayya.


"Entahlah aku tidak tahu namanya tapi mereka ada di bawah sedang mengobrol" Kata rayya yang mana membuat alvendra semakin tidak kuasa menahan amarahnya.


"Biarkan saja mereka, lagipula aku jarang sekali melihat reisya bisa bercengkrama dengan pria. Ah dan juga aku ingin menyampaikan ini padamu !!" Ujar rayya yang mana mendapatkan delikan tajam dari alvendra tanpa disadari olehnya.


"Rayya bisakah kau siapkan pakaian untukku dan airnya?? aku ingin mandi setelah kau menyiapkannya" Pinta alvendra yang diangguki oleh rayya.


"Baiklah akan ku panggil ketika siap" Ujarnya yang segera berjalan meninggalkan alvendra sendirian di dalam ruangan tersebut.


Begitu pintu itu tertutup alvendra langsung membanting teko kaca berisi air tadi dan segera berjalan meninggalkan ruangan tersebut untuk memeriksa sendiri apa yang dikatakan oleh rayya tadi. Dengan terburu alvendra menuruni setiap anakan tangga hingga saat dirinya sampai di ruang tamu, kedua matanya seketika langsung memanas begitu melihat bagaimana mereka berdua berinteraksi. Meski tidak terjadi apapun hal itu tetap saja membuat alvendra marah maka dengan perlahan ia melangkahkan tungkai kakinya untuk mendekat sehingga setelah ia sampai di belakang sang wanita di saat itu juga arsen mengetahui kedatangan alvendra.


Kedua pria tersebut saling menatap datar dan dingin satu sama lain seolah tengah mengibarkan bendera perang di masing-masing kubu diantara mereka. Bahkan disaat mereka berdua tengah mengibarkan bendera perang reisya sama sekali belum sadar jika alvendra sudah berdiri di belakangnya.


"Rei ada apa di rambutmu !!" Ujar arsen tiba-tiba yang mana membuat reisya menatapnya bingung begitu juga dengan alvendra.


Ia tersenyum menatap reisya, "Jangan bergerak akan aku ambilkan !!" Pekiknya ketika reisya akan berbalik untuk memeriksa rambutnya.


"Aku tahu itu ulahmu !!" Bisik arsen kepada alvendra di depan wajah pria tersebut yang masih diam menatap dingin kepadanya.


"Arsen apakah ada sesuatu di rambut ku??" Tanya reisya yang merasa aneh karena arsen begitu lama dalam membantu dirinya.


"Ah ya sebentar jangan bergerak, ada laba-laba di sini !!" Bohongnya yang mana masih tetap tenang dan menatap dingin kepada alvendra.


"Apa maksud mu bocah?" Kini balas alvendra bertanya kepada arsen.


"Kau pasti tahu maksudku tuan !" Tutur nya yang kemudian segera melepaskan diri dari reisya.


"Apakah sudah kau buang?" Tanya reisya begitu arsen selesai dengan membantunya.


"Tentu saja" Jawabnya yang tersenyum kemudian segera duduk sambil melirik alvendra penuh kemenangan. Sementara itu alvendra menatap tidak percaya kepada arsen yang bisa berubah wajah dalam hitungan detik.


"Sepertinya kalian menikmati waktunya" Ucap alvendra tiba-tiba yang mana membuat reisya segera berdiri dan berbalik menatapnya.


"Al...alven" Ucap reisya kecolongan yang kemudian melirik sebentar kearah arsen.

__ADS_1


"Kak alvendra ?!! Sejak....sejak kapan kau ada di sini". Tanyanya panik.


"Baru saja tiba" Jawabnya yang kemudian berjalan mendekati reisya yang membuat gadis itu menunduk ketakutan.


"Saatnya mandi dan bersiap untuk makan malam, kau tidak keberatan bukan? Ini juga sudah sore jadi..."


"Saya juga mau pulang hanya menunggu kak rayya untuk berpamitan". Ujar arsen yang langsung berdiri ketika alvendra menatap matanya.


"Akan ku sampaikan" Balas alvendra dengan cepat.


"Aku pulang rei, akan aku kabari nanti setelah pulang" Ujar arsen yang dibalas anggukan oleh reisya.


"Akan kuantar kau sampai di luar" Pekik reisya yang mana langsung berjalan terlebih dahulu meninggalkan arsen dengan alvendra yang menatap dengan tajam satu sama lain.


Setelahnya arsen pun segera undur diri dari apartemen tersebut meninggalkan alvendra dengan sejuta kekesalan yang ada, ia hendak menyusul wanitanya dan menyeretnya sebelum rayya datang memanggil.


"Kau disini rupanya? aku mencarimu tadi di ruang kerja dan juga kenapa minumannya bisa tumpah? Dimana arsen?"


"Maaf karena tadi aku tidak sengaja menjatuhkannya" Ujar alvendra yang kemudian segera pergi dari sana meninggalkan rayya dengan kebingungan yang ada.


.


.


.


Setelah mengantar arsen sampai di luar, reisya kembali menuju kedalam dan mendapati rayya tengah menata kembali bekas minuman tersebut.


"Biar aku saja" Sela reisya yang kemudian mengambil alih nampan yang rayya bawa.


"Tidak perlu. Dimana arsen?? apakah dia sudah pulang?" Tanyanya


"Emm, dia meminta diriku untuk menyampaikan salamnya padamu" Jelasnya yang dibalas rayya dengan senyuman. Ia mengelus sebelah kepala sang adik dan kembali mengambil alih nampan tadi yang sempat di minta reisya.


"Biar kakak saja yang membereskannya, kau pergilah ke kamar mu untuk menyiapkan barang-barang mu." Suruhnya yang mana membuat senyuman reisya sedikit terbit.


.


.


.


Reisya berjalan dengan penuh semangat kedalam kamarnya, sesampainya di dalam kamar ia segera menaruh koper yang kemarin sempat tertunda dan membukanya. Ia berdalih hendak mengambil barang-barangnya yang berada di dalam lemari sebelum ia dikejutkan dengan keberadaan alvendra yang sudah menunggunya.

__ADS_1


"Al.... alvendra !!" Ucapnya ketakutan.


"Rupanya kau senang sekali karena bisa pergi dari sini hmm?" Ujarnya yang semakin membuat reisya terdiam akan ketakutan yang menderanya.


__ADS_2