PRISON

PRISON
0:38 Perang dingin


__ADS_3

Reisya terkejut ketika arsen mencium dirinya apalagi dengan kalimat yang baru saja di ucapkan oleh pria itu. Dengan cepat ia menepis tangan arsen dari pipinya dan memberi jarak diantara keduanya.


"Sejak kapan lo dapet mutusin hal kaya gini ar?? lo tau kan kalau pacaran itu bukan mainan !!"


Arsen pun kembali memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaketnya, "Siapa yang anggep hal kaya gitu mainan rei? gua gak pernah sekalipun anggep cinta gua ini cinta monyet. Elo sendiri juga tau perasaan gue kaya apa kan? jadi darimana nya Lo bisa sebut mainan?" Cecar arsen yang membuat reisya mengigit bibir dalamnya frustasi.


"Gue ga bisa dengan hubungan yang mendadak kaya gini ar, gue belum siap !"


"Jangan bohong rei, lo bakalan siap dan selalu siap. Gue gak bakalan putusin elo ataupun nyerah hanya karena elo ga bisa, jika saat ini kita date yaudah berarti date" Ujar arsen enteng.


Reisya pun tersenyum getir mendengarnya sambil menatap arsen, "Lo gak tau ya ini tuh termasuk dalam pemaksaan?"


Arsen yang semula hendak pergi menuju kedalam kendaraan nya pun berhenti dan berbalik menatap wajah reisya. "Dan lo juga gak tau kalau perasaan kakak ipar lo itu juga termasuk pemaksaan rei?"


Seketika wajah reisya langsung berubah pucat, ia tidak tahu jika arsen akan berkata demikian. 'Apa ini?? apakah arsen tau sesuatu?' batin reisya.


Arsen yang melihat keterdiaman reisya pun lantas berbalik dan berjalan mendekat kearah gadis itu. "Kenapa diam aja rei ??"


Reisya mendongak menatap kembali wajah arsen. "Jangan pernah ngebuat tuduhan kaya gitu ar, lo tau kalau dia itu juga suami saudari gue. Saudari yang gue sayangi dan ngenuduh suami dia sama aja lo nuduh kakak gue dan hal gitu ga bakal gue maafin !!". Jelasnya berusaha setenang mungkin.


"....Lo pernah tanya soal bukti ke gue kan? jadi mulai saat ini bakalan gue buktiin kok dan kita bisa liat hasilnya nanti" Jelas arsen enteng yang semakin membuat reisya dibuat bingung karenanya.


'Dia nggak tau apa-apa tapi kenapa dia bisa yakin banget kalau gue ada apa-apa sama alvendra?? apakah terjadi sesuatu waktu mereka nggak sengaja ketemu?? tapi apa?' . Batin reisya ketika menatap wajah arsen dengan tajam. Melihat bagaimana cara reisya menatap dirinya arsen pun tersenyum dengan manis sambil menunjuk kearah mobilnya.


"Jadi kita pergi kencan sekarang?" Pintanya yang kemudian membuat reisya sedikit melirik kearah sekitarnya.


'Haruskah gue terima tawaran arsen?' Batin reisya yang masih ragu akan tawaran tersebut, ia kembali menatap wajah tampan pria tersebut yang masih setia tersenyum dengan sesekali mengangkat kedua alisnya dengan santai.

__ADS_1


"Udahlah ga usah kelamaan mikir nanti keburu jam sepuluh malem rei lo tuh !!" Kata arsen yang langsung menarik tangan reisya untuk masuk kedalam mobilnya.


'Gue harap alvendra ga akan tau, arsen apa yang lo tau sebenernya??' batin reisya berkata kala ia sudah berada di dalam mobil pria itu.


.


.


Jauh dari kediaman utama alvarez, alvendra berjalan dengan lebar menuju kesalah satu ruangan milik seseorang yang saat ini tengah berada di dalam pikirannya. Jika kalian bertanya dimana letak geografis kediaman kedua alvarez maka jawabannya adalah berada di sebelah barat kediaman utama dengan jarak empat ratus lima puluh meter dari kediaman utama di Utara. Lantas pertanyaan alvendra apakah pria itu berjalan kaki? tentu saja tidak. Pria itu mengendarai sebuah kendaraan kecil khusus untuk pulang pergi ke area kediaman utama dan kedua. Di lorong yang begitu panjang itu alvendra sesekali mengendurkan dasinya yang terasa mencekik lehernya apalagi dengan keringat sebiji jagung yang tercetak jelas dari ujung kepalanya hingga ke leher atletis tersebut.


Kediaman itu cukup besar namun lebih besar kediaman utama, hanya saja yang membedakan adalah arsitektur di dalamnya. Jika yang utama adalah arsitektur bergaya eropa klasik dengan sentuhan modernisasi di beberapa tempat maka arsitektur di sini sangatlah kental dengan nuansa Eropa seperti zaman era kolonial. Sesampainya alvendra di ruang tamu yang sepi itu ia diam sejenak melirik ruangan yang ada di sana hingga atensinya tertuju pada sebuah tangga di sebelah kirinya dimana dengan seteguk ludah ia telan, dibawanya kaki panjang itu untuk menaiki anakan tangga yang berderit kayu itu seolah menambah suasana aneh begitu terasa. Lewat tangga tadi alvendra disuguhkan dengan lorong panjang yang dimana di ujung sana terdapat pintu besar berwarna cokelat kehitaman dengan beberapa ukiran di sudut pintunya.


Dengan langkah yang cukup berat alvendra berjalan dengan perlahan menuju ke ujung pintu yang ada disana, sesampainya di depan pintu ia kembali meneguk ludahnya sendiri hingga saat dirinya hendak mengetuknya ia pun tersadar akan sesuatu. Suara pintu terbuka membuat mata elang yang telah sayu itu menatap malas sosok manusia tampan berjas hitam lengkap di depannya, dengan santai ia menyemburkan asap dari opium yang dirinya hirup. Sambil menggerakkan kursi nyamannya ke kanan dan ke kiri, bahkan kedua kakinya ia taruh diatas meja dengan santainya seperti menunjukkan bahwa tata krama pun bisa lenyap jika hanya ada urusan pribadi yang menyangkut pautkan tentang harga diri.


"Ku kira kau tak akan datang berandal !!" Ucapnya santai sambil kembali menyemburkan kepulan asap putih dari opium yang ia hirup tadi.


Pria tadi menghirup opium miliknya sebentar sebelum menghembuskan kembali asapnya dengan desisan nikmat dari rasa ya g tertinggal di lidah nya itu, "Kenapa begitu terburu-buru berandal? bahkan opium milikku masih belum habis" Ujarnya santai sambil melirik kearah opium miliknya yang masih utuh itu.


Alvendra, pria itu tertawa remeh. "Makin sering kau hirup maka semakin pula usiamu semakin menyusut pak tua, kurasa kau masih belum bisa melepaskan opium itu. Kau sudah kecanduan dengan berat rupanya, perlu aku sediakan stok yang lebih banyak agar itu dapat memperpendek usiamu ?!" Ujar alvendra tenang yang membuat kakeknya itu hanya terkekeh geli mendengarnya lalu menatap kearah cucunya sambil mengisap opium miliknya dengan santai yang membuat alvendra semakin dibuat kesal oleh ekspresi itu.


"Kau ingin sekali aku mati rupanya!!" Ujarnya dengan selingan tawa remeh. "Yah, boleh saja jika kau memang bisa melakukannya dengan tanganmu sendiri".


"Katakan saja apa maumu pak tua, aku tak ada waktu untuk meladeni dirimu ada istriku yang menunggu diriku di rumah !!" Ujar alvendra dengan kesabaran yang masih ia pertahankan namun malah mengundang gelak tawa yang amat kencang dari sang kakek yang kini menurunkan kedua kakinya lalu mematikan opium miliknya.


Pria tua itu berdiri namun kali ini tanpa bantuan tongkat jalan yang sempat ia bawa tadi, ia berjalan menuju kearah alvendra yang membuat pria itu waspada. "Benar ada menantu di rumah yang menunggu tapi ada sebuah kabar burung yang sangat mengganggu telingaku saat ini".


Alvendra menatap curiga kepada sang kakek yang menatapnya sama. "Apa maksud mu?"

__ADS_1


"Entahlah aku tidak tau, mungkin seperti ini 'tentang adik ipar' !!" Ujar sang kakek yang membuat alvendra terkejut sejenak namun tak ia perlihatkan ekspresi tersebut.


"Lalu?" Tanya alvendra enteng, sang kakek tersenyum miring lantas memegang bahu sang cucu. "Kau yakin tak ada sesuatu yang kau sembunyikan?" Tanyanya dengan ekspresi penuh selidik yang membuat alvendra sedikit emosi dibuatnya namun ia redam mengingat target nya yang benar-benar menyembunyikan tentang reisya dari siapapun itu.


"Aku tidak tahu jika kau masih tetap suka mengusik kehidupan ku bahkan sampai saat ini" Katanya santai yang membuat sang kakek hanya mengangkat alisnya tak tahu lalu melepaskan tangannya dari pundak sang cucu yang hanya dilihat dengan dingin.


Sang kakek berjalan dengan pelan menuju ke arah meja di sofa tersebut, menuang secangkir anggur merah mahal kedalam gelas langsing yang ada di sebelah teko kaca tersebut. "Kadang rasa khawatir masih ada diantara keluarga"


"Ha! keluarga? sejak kapan kau menanggap hubungan kita keluarga?" Amuk alvendra yang sudah tak dapat mengontrolnya.


Sang kakek menoleh menatap alvendra, "Kau pikir aku dungu? ingat ini berandal darah akan selalu kental daripada air. Jadi sekeras apapun kau berusaha untuk mengaburkannya maka ingatlah ini aku tetap akan mengawasi dirimu meski ajal sudah menjemput ku" Ujarnya diakhiri dengan meminum segelas anggur tadi. Alvendra tersenyum miring kemudian berjalan mendekat kearah sang kakek, "Baiklah lakukan semaumu tak ada bukti dari kabar burung yang kau sebutkan tadi, dan soal mengaburkan hubungan tadi? ketahuilah hubungan itu memang benar-benar sudah kabur sejak masa itu."


Tukas alvendra di akhir yang kemudian pergi meninggalkan sang kakek di ruangannya sendirian, ia tersenyum miring lalu meminum sisa anggur di gelasnya namun di detik berikutnya ia langsung melempar gelas tersebut kearah dinding di sana seolah meluapkan emosi yang saat ini tengah menyala di dalam dirinya.


 "Rupanya kau memang anak yang tidak tau diuntung !!" Jelasnya diakhir.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2