PRISON

PRISON
0:27 Living with fear


__ADS_3

Tubuh reisya bergetar takut ketika alvendra berujar demikian, ia hanya mampu menatap kearah bawah tak berani untuk beradu pandang dengan tatapan hitam milik alvendra.


"Cepatlah bersiap sayang aku akan menunggu dirimu sarapan di bawah" Pintanya yang kemudian mencium pucuk kepala reisya.


Setelahnya alvendra pun pergi dari dalam kamar tersebut. Sementara reisya hanya mampu terdiam, ia tidak bisa melawan sedikitpun karena tubuhnya yang membeku. Air mata turun sebagai penutup akan kelinglu gan nya saat ini, sementara di restoran di hotel tersebut alvendra duduk dengan tenang sembari menyeruput teh hangat miliknya. Di saat ia menaruh cangkir teh tersebut ia tersenyum ketika mendapati wanitanya sudah tiba dan sedang menuju ke arahnya.


"Kau sangat cantik pagi ini" Katanya yang membuat reisya merinding, sikap dan cara bicara alvendra benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat kepadanya.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?" Tanyanya to the point yang membuat alvendra kemudian segera menatap serius kepada reisya.


"Kau !!" Jelasnya yang membuat kerutan di dahi reisya.


"Apa?" Tanyanya memastikan maksudnya.


"Kau mungkin lupa atau mungkin bertanya-tanya tentang maksud ku semalam."


"Kumohon jangan berteka-teki lagi !!"


"Aku tahu kau pintar reisya, kau ingin mengetahui alasanku kenapa selalu meniduri mu bukan? Dan bahkan memaksamu untuk menjadi milikku!! Maka aku akan berterus terang saja. Sepertinya kau lupa jika kau meninggalkan sesuatu yang seharusnya tak kau tinggalkan padaku rei." Ujarnya yang semakin membuat reisya berpikir keras untuk menebak apa yang alvendra maksudkan.


"Apa maksud mu?"


"Bisa dibilang kau meninggalkan bekas trauma kecil pada diriku setelah malam percintaan itu" Katanya lagi yang membuat kelopak mata reisya membulat sempurna, alvendra terkejut ketika mengetahui raut wajah yang reisya tunjukkan.


"Kau terkejut rupanya. Jadi kau ingat sekarang? Baguslah jika kau ingat. Karena asal kau tahu saja, karena kesalahan mu itulah aku kini tak bisa meniduri wanita lain bahkan rayya saudarimu sekalipun."


"Jadi....jadi maksudmu....."


"Benar. Aku hanya bisa tidur denganmu, hanya kau yang bisa menyentuh diriku dan hanya denganmu lah aku dapat melakukan hubungan intim." Jelasnya yang membuat reisya tak dapat lagi berkata-kata, ia tertawa bodoh dengan mengingat betapa dirinya begitu ceroboh sehingga menciptakan masalah yang lebih besar.


".....ini....tidak masuk akal..." Gumamnya dengan menertawakan dirinya, bahkan tak lupa juga air matanya juga ikut menetes.


"Kau...haha. Gila, ini tidak mungkin." Ucapnya lagi.


"Sekarang kau mengerti letak kesalahan mu reisya?" Cecar alvendra yang membuat reisya diam seribu bahasa.


"Lalu apa maumu dariku?" Tanyanya


"Cukup sederhana." Katanya yang membuat reisya menatap penuh khawatir akan ucapan yang dikatakan oleh alvendra.


"Jadilah wanitaku, jangan dekati pria manapun atau menjalin hubungan dengan orang lain baik itu sekedar teman. Jauhi pria yang bersamamu semalam dan selalu ingatlah bahwa kau adalah milik seseorang, dan juga jauhi rayya". Terangnya di akhir yang membuat reisya marah pertanda bahwa ia tidak setuju dengan permintaan terakhir alvendra.


"Mengapa aku harus menjauhi saudariku?? Kau tahu aku dan dia tidak pernah terpisah bukan?" Teriaknya tidak terima.

__ADS_1


"Itu terserah pada dirimu aku tidak akan menghalanginya. Akan tetapi jika ia tahu yang sebenarnya bahwa adiknya mengkhianati dirinya atas apa yang sebenarnya terjadi.... Bisakah kau membayangkan bagaimana kecewanya rayya nanti?". Jelasnya yang membuat reisya kembali terdiam, ia yakin bahwa dirinya sudah tidak memiliki jalan keluar sehingga hal terakhir yang bisa ia lakukan hanyalah menangis.


"Kumohon jangan sakiti saudariku...." Ucapnya diakhir yang membuat alvendra kemudian tersenyum.


.


.


.


.


.


Pagi itu rayya sedang membereskan seluruh rumahnya dengan membersihkan beberapa meja ruang tamu dan juga kamarnya. Di saat ia tengah ingin menaruh vas bunga di meja ruang tamu, dirinya di kejutkan dengan kedatangan seseorang lewat pintu rumahnya yang terbuka. Ia melirik kemudian berdiri hendak menuju kesana untuk mengecek sebelum ia bingung dengan kedatangan alvendra dan juga reisya.


"Kalian....??" Tanyanya bingung kepada keduanya karena alvendra datang dengan menggendong tubuh reisya seperti seorang kekasih.


"Aku ditelfon pihak sekolahnya bahwa dia sakit". Ujar alvendra yang mana membuat rayya membulatkan kedua matanya, ia segera mendekat kepada reisya yang tidur terpejam di pelukan alvendra.


"Apa demamnya kambuh lagi??" Tanya rayya kepada alvendra.


"Sepertinya, lebih baik kau siapkan air untuk mengompres dirinya akan aku taruh dia di dalam kamarnya". Terangnya yang mana diangguki oleh rayya. Alvendra pun membawa tubuh reisya untuk menaiki tangga menuju kedalam kamarnya.


"Turunkan aku di sini !!" Pinta reisya ketika mereka sampai di depan pintu kamarnya.


"Kau tidak bisa berjalan ingat?"


"Jangan berlebihan kumohon, aku sudah tidak sanggup tadi ketika membohongi rayya" Jelas reisya yang mana membuat alvendra menatap tidak suka.


"Bukankah sebelumnya kau juga membohongi nya dengan mengatakan kau tidak enak badan padahal kau tidak sakit??" Ucapnya menyudutkan reisya yang membuat gadis itu terdiam pasrah membiarkan alvendra membawanya masuk hingga ke dalam.


Sesampainya di dalam kamar alvendra menaruh tubuh reisya dan menyelimuti tubuh wanitanya. Ia duduk di ranjang reisya dan menatap wanitanya dengan lekat dan itu membuat reisya tidak nyaman dibuatnya.


"Apa yang kau lakukan pergilah sebelum dia datang !!" Pintanya yang mana mendapati senyum devil dari alvendra.


"Kenapa?? Apa kau takut sayang?" Ujar alvendra yang semakin membuat reisya merinding.


"Ayolah kumohon jangan disini !! Bukankah kau seharusnya pergi bekerja??" Tanyanya yang hanya mendapati kekehan dari alvendra.


"Aku mengosongkan semua jadwalku dan mengerjakan beberapa pekerjaan yang bisa ku kerjakan di rumah". Ujarnya yang semakin membuat reisya gelisah.


Kalian ingin tahu mengapa dia gelisah? tentu saja karena kehadiran alvendra yang membuat reisya bagaikan di sebuah alam mimpi. Dan itu alam mimpi buruk yang nyata, bahkan ketakutannya masih belum hilang dan kini kembali terasa ketika alvendra tiba-tiba mendekat kearahnya yang membuatnya berusaha untuk menghindari tatapan tajam yang mengarah padanya.

__ADS_1


"Alvendra...." Pekiknya sebelum bibir mereka bertabrakan, alvendra menciumnya ah bukan mencium tapi ********** dan itu sukses membuat reisya ketakutan setengah mati. Sesekali ia melirik kearah pintu kamarnya yang masih terbuka itu. Ia takut jika rayya tiba-tiba datang dan melihat hal ini, akan seburuk apa masalah yang akang timbul.


Dengan keberanian yang ada reisya pun mengepalkan kedua tangannya untuk mendorong tubuh alvendra namun reflek alvendra sangat bagus sehingga ia dapat membaca pergerakan yang reisya lakukan. Bahkan ketika menangkap kedua tangan tersebut bukannya ia tahan melainkan alvendra mengarahkannya untuk memeluk lehernya yang membuat reisya semakin panik akan ketakutan. Ia memejamkan mata berharap bahwa rayya tidak akan melihat ini dan saat itu alvendra tersenyum senang dalam batinnya ketika melihat wanitanya ketakutan karena ulahnya sehingga ia pun menyudahi ciuman tersebut meski ia tidak rela.


"Jadilah patuh maka aku akan ada dalam batasku". Ujarnya yang kemudian hendak beranjak dari tempat tidurnya, namun sebelum ia benar-benar pergi dari sana ia menyempatkan untuk mencium singkat bibir merah milik reisya yang menggoda baginya itu. Saat alvendra keluar dari dalam kamar reisya ia berpapasan dengan rayya yang juga baru sampai.


"Kau akan kembali ke kantor?" Tanyanya.


"Tidak, Sean pasti sudah menangani rapat yang seharusnya kuhadiri".


"Jadi kau akan bekerjasama dari sini?"


"Hanya menyelesaikan beberapa berkas" Jelasnya yang kemudian segera pergi untuk menuju kedalam ruangan pribadinya.


Rayya menatap dalam diam punggung alvendra yang sudah pergi menjauh dan menghilang. Setelah itu ia pun berjalan untuk memasuki kamar sang adik yang saat ini tengah berbaring di atas ranjang.


"Rei....?" Panggilnya yang mana disambut dengan tatapan sendu dari sang adik.


"Sudah aku bilang jika kau mulai tidak enak badan seharusnya kau pulang !!" Ujar rayya yang mana membuat reisya pun segera berdiri dari tidurnya.


"Maafkan aku..." Hanya kalimat itu yang keluar dan dibalas senyuman oleh rayya. Ia pun memeluk sang adik dan mengelus punggungnya.


Namun bagi reisya kalimat itu tertuju akan maksud lain. Maksud dari dirinya yang sudah melakukan hubungan terlarang dengan suami rayya yang membuatnya semakin bersalah dan juga takut karena rahasianya yang alvendra pegang benar-benar menghantuinya akan rasa bersalah.


"Akankah suatu hari kau mengampuni ku kak?? Dan akankah suatu hari kau akan memberiku pelukan seperti ini? Kuharap semuanya akan baik-baik saja dan kau akan mengerti mengapa kulakukan hal ini...." Batinnya ketika memikirkan jika suatu hari rahasia mereka terbongkar, hidup dalam ketakutan memang benar-benar menyeramkan namun juga mendebarkan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2