PRISON

PRISON
0:36 This night


__ADS_3

Sebuah mobil berjenis sedan berwarna hitam terparkir dengan rapi di salah satu perusahaan besar yang sangat terkenal sore itu. Sepasang sepatu pantofel hitam keluar di iringi dengan salam hormat dari penjaga pintu di depan gedung pencakar langit tersebut. Sean, pria manis namun sayangnya selalu berekpresi cuek itu tengah berjalan memasuki gedung hendak menuju ke salah satu ruangan paling atas di perusahaan ini. Setibanya di ruangan yang ia tuju itu, saat dirinya hendak mengetuk pintu tersebut ia sedikit ragu ketika pikiran lain tiba-tiba menyelip saja di pikirannya.


"Haruskah aku memberitahu tuan?? jika aku memberitahunya, akankah tuan marah?" Gumamnya di depan pintu tersebut, sejenak ia masih terdiam di tempatnya sekarang ini. Pikirannya tengah berperang akan masalah yang ia hadapi, haruskah ia memberitahukan hal ini ataukah tidak namun jiwanya sebagai bawahan yang setia pun menguasai dirinya hingga ia pun memutuskan untuk memberitahukannya kepada alvendra.


Diketuk nya pintu tersebut dan setelah mendapatkan izin dari dalam sean pun memasuki pintu berwarna hitam itu dengan sekali dorong. Sesampainya di dalam ruangan tersebut sean melihat jika alvendra tengah berdiri menghadap kepada pantulan dari jendela besar di depannya dengan membawa segelas sampanye yang ia yakini berharga mahal.


"Kemarilah Sean dan ambil minuman yang ada di meja itu". Suruh alvendra yang mana membuat tubuh sean serasa membatu ditempat. Entah kenapa kali ini perasaannya tidak enak, ia seakan takut jika dirinya memberitahukan kejadian yang terjadi antara nona muda alterio dan juga laki-laki yang membawanya untuk diantarkan pulang itu akan memicu amarah sang atasan. Jujur Sean bingung dengan temannya itu, ia merasa aneh dengan obsesi yang dimilikinya dan juga ia merasa kasihan terhadap nona reisya yang mungkin akan terganggu pikiran nya karena ulah sahabatnya itu.


Alvendra melirik Sean kembali yang masih terdiam di tempat, "Apa yang kau pikirkan?"


Ucapan itu langsung menyadarkan Sean, ia menatap alvendra dan menunduk meminta maaf. "Maaf tuan saya sedang mengingat sesuatu !"


"Tak perlu formal, hari ini kau tak perlu menjadi bawahan ku. Kita teman saat ini, jadi bicara lah selayaknya antar teman !!" Ucap alvendra yang diangguki Sean.


Alvendra menatap Sean dan menunjuk kearah minuman yang berada di meja mengisyaratkan agar sean mengambil segelas sampanye yang tersedia itu. Mengerti akan hal tersebut Sean pun segera mengambil segelas sampanye dan ikut berdiri di sebelah alvendra.


"Mungkin setelah ini aku akan sangat sibuk untuk mengurus perusahaan jadi aku akan meminta kau untuk menggantikan diriku selama aku sibuk nanti." Ucap alvendra membuka perbincangan tersebut yang kemudian diangguki oleh Sean.


"apa ada sesuatu yang ingin kau kerjakan?"


"Ya, untuk membuat pria tua itu tak mencium masalah yang kubuat" Tutur alvendra yang mendapat gestur bertanya dari Sean.


"Masalah apa memang yang coba kau tutupi?" Tanya Sean setelah ia menenggak sedikit sampanye itu. Alvendra tak langsung menjawab, pria itu berbalik menuju ke arah sofa untuk menuang lagi sampanye yang habis du gelasnya.


"Ayolah Sean, tak mungkin kau tidak tahu masalah yang sudah aku buat bukan?" Ujarnya sambil menatap nakal kepada sahabatnya, mengerti dengan tatapan itu sean pun hanya membuang nafasnya saja.


"Aku mengerti !! Jadi kau hendak melakukan apa untuk menutupinya?"


"Entahlah aku tinggal menyesuaikan bagaimana pak tua itu bertindak". Ucapnya enteng sambil menenggak minuman tadi di tangannya yang juga di ikuti oleh sean.


Selesai meminum habis alvendra melihat kearah Sean, "Bagaimana dengan rayya?"

__ADS_1


"Dia menuruti permintaan mu" Jelasnya singkat yang diangguki alvendra. "Lalu dengan wanita ku?" Ujarnya diakhir yang membuat bulu kuduk sean merinding terlebih terdapat penekanan di kalimat terakhir.


Sean terdiam sejenak, ia kembali menenggak minuman nya sambil menatap keluar jendela berusaha untuk tak membuat kontak mata dengan alvendra. "Dia... baik-baik saja"


Alvendra terkekeh sinis kemudian berjalan menuju ke sofa untuk mendudukkan tubuhnya. "Heh, rupanya dia mendengarkan kata-kata ku. Sean selama aku tak ada di perusahaan kau tak perlu lagi memantaunya"


Sean terkejut dengan ucapan barusan, ia pun segera berbalik menatap sahabatnya yang kini bertindak diluar prediksi nya. "Kenapa tiba-tiba begitu?"


alvendra menatap Sean sejenak, "Kenapa kau terkejut Sean?? aku tak mau membebani mu dengan urusan perusahaan. Selama aku beristirahat sebentar tugas yang sebelumnya kau jalankan akan kuambil alih, aku tak ingin membebani dirimu dengan dua pekerjaan sekaligus. Biarkan aku yang mengurus masalah lainnya yang biasa kau urus, dan juga akan kubantu beberapa pekerjaan di sini dari rumah."


"Bahkan termasuk dengan beliau??"


"Tentu saja, bagaimana pun caranya aku harus menjauhkannya dari pria tua itu agar tak selamanya aku terjebak dengannya!!" Ucap alvendra yang hanya dibalas tatapan dalam mata Sean.


Alvendra menenggak dengan habis sisa sampanye di gelasnya lalu melirik kearah jam tangannya. Ia menaikkan sebelah alisnya kemudian berdiri sambil merapihkan jas yang ia kenakan. "Aku tinggal dulu, aku titipkan perusahaan ini padamu teman oke !!" Ujarnya yang kemudian berlalu pergi dari sana. Sean hendak menghentikan sang sahabat namun melihat alvendra sudah hilang di balik pintu membuat apa yang hendak ia katakan pun terpaksa dia urungkan.


"Mungkin membangkang sekali tak apa" Gumamnya di akhir kalimat, Sean pun berbalik menatap gedung pencakar langit yang ada di hadapannya. Ia meminum segelas sampanye yang masih tersisa itu sambil melepas pikiran beratnya, mungkin ini saatnya dia menikmati waktu luang nya tanpa bayang-bayang perintah dari alvendra.


.


.


"Ah, tuan alvendra !!" Sapa sang pemilik dengan senyuman lebar di kedua pipinya. Sementara alvendra hanya mengangguk saja sambil melihat kearah sang istri yang tampil anggun dengan balutan gaun berwarna hitam berlengan panjang dimana di sisi kirinya terdapat ikatan berbentuk pita yang juga terdapat sedikit belahan kecil dimana belahan tersebut memperlihatkan sedikit bahunya yang putih.


Rayya tersenyum menatap sang suami yang juga menatapnya dengan biasa tentu saja. "Apakah semuanya sudah selesai?" Tanya alvendra kepada sang pemilik tempat busana.


"Semuanya sudah selesai tuan, hanya saja nyonya alvarez begitu sesuai dengan semua pakaian yang ada di sini sehingga sulit untuk memilih mana yang tepat ." Ujarnya dengan senyuman kagum kepada rayya yang dibalas rayya dengan senyuman juga.


"Aku rasa ini cocok untuk nanti" Ujar rayya kepada alvendra yang mendapat tatapan menilai dari atas kepala hingga ujung kakinya, pria itu mengangguk kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya sambil berujar kepada sang pemilik toko.


"Aku ambil semua pakaian yang ia kenakan !" Begitulah kalimat yang keluar dari mulutnya disertai kepergian dirinya dengan sang pemilik toko, membuat semua bawahan yang bekerja terkejut bukan main ketika mendengar kalimat tadi. Namun sepertinya rayya hanya diam saja sambil mengamati kepergian sang suami, ia masih diam di tempatnya dengan masih di rias rambutnya oleh beberapa pekerja di sana.

__ADS_1


"Kurasa ini sudah cukup", Kata rayya sambil tersenyum kemudian bergegas pergi menyusul sang suami. "Kita pergi sekarang !!" Ajak alvendra yang berjalan mendahului rayya, membuat wanita itu hanya mengambil nafas dalam kemudian tersenyum sabar sambil menyusul kepergian sang suami.


.


.


.


Di kediaman alterio, tepatnya di sebuah kamar bernuansa krem yang aesthetic itu. Seorang gadis tengah duduk di depan meja rias yang menampilkan pantulan dirinya, ia terus menatap dalam di kedua iris hitam yang berpendar redup cahayanya. Wajah yang begitu lesu tak ada semangat untuk melakukan hal-hal yang biasa ia sukai, kira-kira sejak kapan kegembiraan yang sempat terpasang di wajahnya kini menghilang dan digantikan dengan mimik lesu dan sedih namun ia tutupi dengan tatapan tajam sarat akan penuh kecurigaan dan tekanan batin yang saat ini ia alami. Begitulah kiranya kalimat yang saat ini reisya pikirkan belum lagi dengan kejadian tadi sore yang menambah ketakutan akan kehilangan akibat dirinya lagi.


Di tengah lamunanya handphone reisya bergetar membuatnya seketika memutus kontak mata dengan sang bayangan yang agaknya akan marah ketika diputuskan secara tiba-tiba oleh sang pemilik, ia masih senang bermain-main dengan sang pemilik, berusaha mencemoohnya dengan gestur wajah yang asing dari biasanya itu. Di lihatnya ponsel tadi, tertera sebuah pesan belum terbaca dari arsen yang semakin menambah getaran jantungnya. Bukan debaran asmara asal kalian tahu, tapi debaran yang membuat siapa saja akan merasa parno. Bak sebuah pacuan kuda yang tengah berlari melintasi sebuah rintangan di gelanggang, seperti itulah kiranya saat ini yang reisya rasakan ketika jantungnya berdetak dengan cepat. Membuat desiran pembuluh darah nya terasa aneh ketika rasanya datang bersamaan dengan hawa dingin yang tiba-tiba saja menusuk kulitnya.


Satu pesan yang belum terbaca kini bertambah menjadi dua, tiga, empat dan seterusnya hingga berakhir dengan panggilan masuk yang semakin membuat reisya tak kuasa menahan rasa takutnya. Iris matanya langsung berpendar ke segala arah, dalam takut ia melirik ke setiap benda-benda dan tempat-tempat di sudut terpencil guna was-was akan sesuatu dimana bisa saja terdapat jump square dadakan yang dapat menimbulkan serangan jantung secara tiba-tiba. Masih dengan rasa takutnya ketika melihat ke segala penjuru kamarnya, dobrakan pintu terdengar begitu kuat sehingga membuat reisya langsung terlonjak kaget menatap ke arah pintu kamarnya.


"IBU ?!!" Teriaknya saat itu juga ketika menatap kehadiran sang bunda di ambang pintu yang menatap anaknya dengan tatapan bingung.


"Rei kau tak apa? kenapa berteriak seperti melihat hantu??" Tanyanya dengan gamblang kepada sang anak, reisya langsung memejamkan matanya mengambil nafas dalam lau mengeluarkannya. Ia benci pikirannya yang tadi lantas menoleh menatap sang ibu yang masih berdiri di tempat.


"Tadi aku melihat film horor jadinya terkejut ketika ibu tiba-tiba membuka pintu kamarku". Jelasnya sambil meneguk ludah demi menetralkan debaran jantung nya yang masih terpompa dengan kencang.


"Kau ini ada-ada saja". Timpal sang ibu yang disambut senyuman indah sang anak, reisya menyibak rambutnya kebelakang guna memberikan sedikit angin untuk menerpa wajahnya yang berkeringat dingin tadi lalu kembali menatap sang ibunda tercinta.


"Ada apa ibu kemari?" Tanyanya yang benar-benar membuat ia penasaran. Sang bunda yang ingat pun segera menyilangkan kedua tangannya untuk menghangatkan tubuhnya diantara sweater yang dikenakan.


"Arsen datang, dia sudah menunggu mu dibawah cepat temui dia !!" Ujarnya santai namun membuat reaksi reisya tidak biasa.


"Siapa ???"


.


.

__ADS_1


Di mansion megah saat itu rayya hanya menatap daun pintu masuk yang ada di depan sana kemudian menatap kearah sang suami yang kini berada disampingnya guna mendampingi nya seperti selayaknya suami gentle pada umumnya, namun malam itu yang rayya rasakan hanyalah sebuah perasaan dimanfaatkan. Ia hanya bisa menatap sendu tanah yang ia pijaki sebelum dirinya mendongak dan tersenyum cantik guna menutupi semua perasaan yang saat ini tengah bergemuruh di dadannya.


__ADS_2