
Siang di sekolah SMA BAKTI arsen tengah melakukan jam pembelajaran olahraga lari dengan jarak seribu enam ratus meter dengan lari empat putaran. Dirinya dengan teman-temannya satu kelas dan juga beberapa dari kelas lain pun ikut berbaris berjejer dengan alvendra di posisi pertama sebagai yang memimpin, ketika peluit pertama di tiup alvendra pun segera berlari di ikuti dengan beberapa anak siswa yang juga ikut berlari di belakangnya. Ketika berlari banyak sekali siswi-siswi yang menyoraki alvendra, bahkan ketika mengelilingi lapangan waktu itu alvendra jauh memimpin daripada barisan anak lain yang berlari di belakangnya. Di putaran pertama alvendra berhasil melaluinya sebagai orang pertama juga dan itu menambah sorak sorai dari para siswi wanita yang terus menyorakinya. Di putaran kedua pun alvendra memimpin dengan sangat bagus meninggalkan seluruh peserta lain yang sudah ngos-ngosan karena jauh tertinggal olehnya hingga ke putaran ketiga.
"Ada apa dengan arsen??" Tanya seorang guru olahraga wanita kepada guru pria di sebelahnya yang memegang stop watch tersebut.
"Entahlah sepertinya dia sedang termotivasi akan sesuatu?"
"Dia tidak akan berlari dengan seserius itu jika terjadi sesuatu."
"Entahlah tapi itu bagus untuk tetap mempertahankan staminanya dan terus memotivasi dirinya". Ujar sang guru pria tersebut yang kembali melirik stop watch miliknya.
Namun di sisi lain arsen, dirinya masih terbayang akan pesan yang reisya kirimkan. Pagi itu setelah ia bersiap dirinya membuka ponselku untuk memberikan kabar kepada reisya namun sepertinya ia ketiduran karena reisya membalas pesannya pukul 00:02 dini hari. Arsen tentu tahu reisya tidak akan begadang ataupun terbangun dari tidurnya di jam-jam seperti itu, namun hal lain yang membuatnya curiga adalah isi pesannya yang benar-benar beda sekali.
'Tak usah menjemputku besok aku sakit'
Reisya tak mungkin menggunakan pesan dengan sesingkat itu, ia mengenal reisya dengan baik dan sering berbalas pesan dengannya. Mana mungkin reisya akan tiba-tiba saja mengacuhkan dirinya dan membalas pesannya dengan singkat seperti itu, seperti itu bukan dirinya. Namun di tengah ia hanyut dalam pikirannya ia tidak sadar jika dirinya sudah lari melebihi putaran yang di tentukan dan itu sukses membuat kedua gurunya bahkan semua siswa yang berkumpul di lapangan sepak bola itu menatapnya.
"Jika kau ingin lari dua puluh putaran aku akan menyuruh mu arsen !!" Tegur sang guru ketika arsen sadar dia sudah berlari sendirian tadi.
"Tapi kenapa tidak ada yang mengingatkan diriku??"
"Kami semua memanggilmu !!" Ujar seorang siswa laki-laki dari kelas lain.
"Ah maaf, kurasa saya..."
"Sudah tidak apa-apa lagipula begitu juga bagus. Sekarang beristirahatlah, ayo gantian siswi putri silahkan bersiap untuk berbaris !!" Teriak sang guru yang membuat seluruh siswi tadi mengerang kesal.
Saat semua siswi tadi berlari arsen mencari tempat teduh dan duduk di bawah pohon yang rindang sambil meneguk air yang ia bawa. Dio sahabat arsen yang melihatnya pun berpamitan dengan temannya sekelas dan berjalan menuju kearah sahabat OSIS nya itu. Perlu kalian ketahui jika Dio dan arsen adalah sama-sama anak MIPA namun beda kelas, jika Dio adalah MIPA dua maka arsen adalah MIPA satu. Dio ikut duduk di atas tanah dengan tikar rerumputan hijau yang rapi sambil ikut memandang orang-orang yang terlihat kecil dari kejauhan ini dan melihat para siswi perempuan yang berlari, benar-benar suasana yang begitu biasa.
"Lo ada masalah??" Tanya Dio yang hanya didengar bagai angin lalu oleh arsen.
"Kayanya hari ini lo bakal buat sejarah baru". Sindirnya yang membuat arsen menoleh menatap malas sahabatnya itu dan kemudian tertawa.
"Gue curiga !" Ujar arsen tiba-tiba yang membuat dio menoleh menatap sahabat tampannya yang sayangnya kadang bikin kesel.
"Soal lo yang hari ini nggak berangkat bareng sama reisya?" Ucapnya asal yang mana langsung membuat arsen menoleh.
__ADS_1
"Tau dari mana lo?"
"Tebakan jitu??" Katanya dengan gestur sombong yang mendapat jitakan dari arsen.
"Kaga..kah becanda ah. Tapi kayanya bener ya??"
"Hmm, darimana lo bisa nebak bener kaya gitu?"
"Ya karena elo lah !"
"Hah?"
"Hoh !!" Ledek dio yang membuat arsen seketika menyikut perut sang sahabat namun berhasil di tangkis.
"Yang bener dong." Kukuh arsen kepada Dio.
"Iya..iya."
"Jadi?"
"Sikap lo yang muram kek tadi dan juga kelakuan lo yang terlalu larut dalam mikirin hal tersebut ".
"Iya bego !!"
"Gue emang curiga sih sama reisya ".
"Kenapa? dia selingkuh? punya cowok lain atau udah punya pacar??"
"Bukan gitu sih cuman nih lo liat sendiri" Pintanya yang kemudian segera memberikan ponselnya kepada Dio.
Dio yang menerima ponsel sang sahabat pun dengan ragu menerimanya dan membaca isi pesan terakhir tersebut.
"Terus anehnya dimana?" Tanyanya yang tak menemukan apapun yang membuat arsen ingin menampar satu-satunya sang sahabat.
"Nih lo liat beberapa chat di atasnya. Bahasanya beda kan?? Gue kenal akrab sama reisya tuh dah lama. Sering chatting bersama dan yang aneh adalah dia itu nggak pernah kebangun atau sekedar main ponsel di jam segitu." Jelasnya yang mana dio pun menuruti sang sahabat untuk melihat isi pesan-pesan sebelumnya.
__ADS_1
"Emang sedikit aneh sih..."
"Bener kan !!! Lo setuju kan sama pikiran gue !"
"Tapi pertanyaannya kalau bukan reisya yang ngetik lalu siapa?"
"Itu yang jadi teka-teki nya. Kalaupun saudarinya kayanya juga nggak mungkin, pasti ada basa-basi nya dan kalo memungkinkan dia sendiri yang chat ke gua".
"Jika bukan rei sama saudarinya lalu siapa?" Tanya dio yang juga sama-sama bingung akan misteri pelik tersebut.
Namun bagi arsen ada sesuatu yang mengganjal yang saat ini tengah bersarang di dalam pikirannya, ia sudah lama mencurigainya namun belum sempat dalam membuktikannya.
"Nggak mungkin dia !!!" Gumam arsen yang mana membuat dio bertanya-tanya ketika sang sahabat tadi sudah menemukan orang anonim tersebut.
"Siapa...siapa ??" Tanya dio berulang kali namun tak digubris sama sekali oleh arsen.
"Hei kalian berdua kemari !! Waktunya pengumuman durasi dan kedatangan setelah itu kita kembali ke sekolah !!" Panggil sang guru dari kejauhan dengan berteriak yang membuat dio segera menyahut.
"Baik pak !!" Balas dio berteriak kemudian menepuk pundak arsen sehingga menyadarkan pria tadi dari lamunannya.
.
.
.
.
Sore itu setelah mandi reisya duduk di depan cermin nya hendak menyisir rambutnya sehabis keramas, namun sebelum menyelesaikan dengan tuntas kegiatannya pintunya terbuka membuat reisya segera menoleh ke belakang.
"Kakak ? oh kau mengejutkan diriku !!" Katanya ketika rayya datang.
"Maaf, ada temanmu yang datang menjenguk". Ujar rayya yang membuat reisya berpikir.
"Cepatlah ia sudah di bawah menunggu"
__ADS_1
"Ah oke, tolong katakan padanya bahwa aku akan segera turun" Ujarnya yang kemudian melanjutkan acara menyisir rambutnya.
Dalam benaknya ia bertanya-tanya siapakah temannya tersebut, mungkinkah ailin? tapi ailin tidak tahu jika dia tinggal dengan sang kakak. Setelah selesai ia pun menaruh sisir tersebut kemudian segera turun untuk melihat siapa temannya, sesampainya di ruang tamu ketika ia hendak menyapa reisya terkejut bukan main karena yang datang adalah arsen. Pria itu tersenyum begitu melihat kedatangan reisya, namun tidak bagi reisya sendiri. Ia takut, sungguh takut karena alvendra juga berada di sini dan juga takut jika pria itu melihat arsen berada di sini, sepertinya tuhan sedang menguji reisya untuk membuat pilihan yang sulit.