
"Apa yang lo maksud?" Tanya reisya dengan menatap terkejut kepada arsen yang masih diam ditempat. Perlahan reisya berjalan mundur ketika arsen berjalan mendekat kearahnya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.
"Gue tau rei apa yang ngebuat lo berubah kaya gini, gue tau siapa. Tanpa lo mau cerita gue tau dan gue khawatir banget sama lo" Cecar arsen yang kini sudah berada tepat di depan wajah gadis itu.
Reisya masih diam membisu menunggu apa yang akan arsen katakan kepadanya.
"Rei, lo jujur sama gue itu perbuatan kakak ipar lo kan?" Ucapnya begitu saja yang membuat kedua bola mata reisya melebar.
Arsen yang semula menatap datar pun kini berubah menjadi sendu dan memegang kedua tangan gadis itu sambil mengusapnya secara perlahan berusaha untuk menenangkan perasaannya.
"Lo, lo jangan asal nuduh ar. Ya....yakali kakak ipar gue bikin gue badmood kan gak wajar itu gimana sih lo." Ucap reisya berusaha setenang mungkin.
"Terus lo badmood kenapa?" Tanya arsen yang semakin membuat reisya terpojok, ia menggulirkan bola matanya ke samping kanan dan kiri guna mencari alasan yang tepat untuk membohongi pria dihadapannya walau sebenarnya itu mungkin akan sia-sia.
"Gue....gue badmood karena...."
"Karena emang kakak ipar lo kan?" Sela arsen yang semakin membuat reisya gelisah.
"Enggak ar !! lo jangan asal nuduh kaya gitu dong" Amuk reisya sambil melepaskan pegangan tangan arsen darinya. Melihat reaksi reisya yang seperti itu membuat arsen pun kini menaruh tangannya di dalam saku celananya dan menatap lurus wajah gadis itu.
"Terus kenapa lo marah?" Ucap arsen yang dipandang reisya tajam.
"Karena lo nuduh yang engga-engga !!"
"Gue bisa buktiin kok" Ucapnya santai yang semakin membuat reisya terkejut dengan apa yang baru saja pria tadi ucapkan.
"Gue harap saat nanti gue bener lo mau jelasin semuanya ke gue rei, karena gue emang bener-bener khawatir banget sama lo". Tukasnya setelah memegang bahu gadis tadi kemudian berlalu meninggalkan reisya sendirian disana dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Gimana gue ngasih tau lo ar, gue juga ingin tapi gue ga bisa...." Ujarnya dengan isak tangis yang mengiringi. Ia tentu ingat dengan betul apa wejangan yang alvendra berikan padannya dan itu benar-benar membuat reisya semakin dilanda ketakutan yang tak akan pernah bisa lepas darinya.
*Flashback on : *
"Jika kau berani bahagia di luar sana maka bersiaplah. Hukumanku mungkin jauh lebih buruk dari yang sebelumnya, bahkan bisa saja perkataan ku beberapa menit yang lalu akan menjadi kenyataan. Jadi bersikaplah yang baik dan jangan mencoba untuk bahagia karena jauh dariku, jangan mencoba untuk dekat dengan orang lain atau kau akan tau akibatnya. Ketahuilah aku tak akan bermain-main dengan perkataan ku ini, semakin kau mengujiku maka semakin kejam pula diriku akan menghukum mu !!" Ucapnya dengan nada serak yang membuat reisya terdiam seketika.
Setelah berkata demikian alvendra melirik sang wanita miliknya yang kini terdiam pasrah dengan mata yang berpendar kesedihan dan itu membuat alvendra puas dengan mimik wajah tersebut. Ia tersenyum miring dan mencekal dagu reisya agar mereka saling bertatap muka satu sama lain.
"Aku bahkan sanggup membunuh siapa saja yang berani mendekati mu termasuk pria yang tertarik padamu itu." Setelah berkata itu reisya membelalakkan kedua matanya terkejut dengan apa yang alvendra katakan.
__ADS_1
Alvendra tersenyum miring melihat nya, "Terkejut sayang?? aku bisa saja menggila lebih dari itu. Jadi apa kau masih ingin membahayakan dirinya??"
"Kenapa harus dia alvendra? kenapa?" Tanya reisya pasrah.
Alvendra memiringkan kepalanya bingung, "Kenapa aku memilih nya ya?? menurut mu kenapa sayang?" Tanyanya balik kepada reisya yang tak dijawab oleh sang empu.
Alvendra semakin menempelkan wajahnya di wajah reisya hingga hidung nya menyentuh hidung reisya.
"Karena aku membenci setiap kali kau menunjukkan cinta kepadanya melalui matamu itu. Jangan kau pikir aku tidak tau jika kau juga tertarik dengan nya bukan? ingat lagi sayang kau milik siapa. Dan juga jika kau ingin pria kesayangan mu itu selamat maka turuti perkataan ku, aku akan selalu melihat mu. Ketahuilah reisya sayangku mataku ada dimana-mana jadi lebih baik kau tidak membuat kesalahan atau kau akan melihat sendiri bagaimana pria yang kau sukai itu akan tiada di depan matamu !!" Ujarnya yang kemudian diakhiri kecupan singkat sebelum ia melepaskan genggaman nya dari tangan reisya.
*Flashback off *
Reisya terduduk disana dengan tangis pecah yang terdengar memilukan, ia sangat frustasi dengan ucapan alvendra kala itu. Itu sungguh membuat reisya semakin dilanda ketakutan bahkan saat ini ia memeluk tubuhnya dengan melirik ke sekitar takut jika alvendra ada disekitarnya saat ini.
.
.
.
.
"Pulang bareng rei?" Tawar arsen ketika pria itu membuka kaca helm nya.
"Arsen ?!" Ucap reisya terkejut, ia langsung memendarkan matanya mencari sesuatu namun digagalkan karena arsen yang kini sudah turun dari atas motornya dan menarik reisya untuk naik dengannya.
"Udah ga usah nunggu jemputan ayah lo bareng gue aja yuk !!"
"Tunggu dulu arsen, ar....." Pekik reisya yang tak digubris oleh arsen sehingga dengan pasrah gadis itu mau tak mau kini harus membonceng dengan arsen dan meninggalkan area sekolah tersebut.
Kepergian arsen itu tentu saja tak luput dari pandangan seseorang yang kini menatap tajam sepeda motor tersebut.
"Tuan apakah kita harus mengejar nya?" Ucap seseorang yang duduk di kemudi mobil.
"Tak perlu kita kembali saja ke perusahaan". Ujar seorang pria berdasi yang kini membuang muka kesamping ketika mobilnya sudah berjalan.
.
__ADS_1
.
.
Sesampainya di rumah alterio, arsen pun melepaskan helm nya sementara reisya berjalan kearah pria itu.
"Arsen, lo nggak perlu nganterin gue lagi. Gue udah diantar jemput sama sopir ayah gue, jadi lo nggak usah kek gini lagi." Ucapnya sedih namun ditatap arsen biasa.
"Nggak mau, pokoknya mulai detik ini gue bakalan antar jemput lo dan gak ada penolakan sama sekali". Ucap arsen tiba-tiba yang membuat reisya khawatir sama sekali.
"Arsen dengerin gue dul...."
"Nggak ada alasan lagi rei, ini udah tugas gue sebagai calon pacar lo titik. Sampein salam gue ke nyokap bokap lo ya, gue pamit dulu see you tomorrow rei !!" Ujarnya yang kemudian memakai helmnya tak lupa sambil mengerlingkan sebelah matanya kemudian menyalakan motor nya untuk melaju meninggalkan rumah alterio tersebut.
Reisya memandang kepergian arsen dengan dalam, sorot matanya tersirat akan ketakutan dan rasa rindu yang mendalam.
"Gue takut lo kenapa-napa ar...." Gumamnya sebelum gerbang rumahnya terbuka membuat reisya segera berbalik dan juga membuat sopir pribadinya terkejut.
"Loh ?!! non reisya udah balik? mau aja kang min jemput" Ujar sang sopir ketika melihat nona mudanya sudah berada di depan rumah.
Reisya tersenyum dan berjalan mendekati sopirnya itu, "Maaf ya pak udah bikin pak min repot" Ucapnya dengan senyuman.
"Aduh neng geulis ga apa atuh, yaudah neng masuk aja kalau begitu. Akang bakal parkiran balik ini mobilnya !!" Ucap sopir pribadinya yang diangguki reisya. Sopir tadi pun menutup kembali kediaman alterio tersebut.
.
.
.
.
.
.
"Akankah tuan alvendra akan marah mendengar hal ini??" Ucap Sean begitu sampai di perusahaan besar milik atasannya itu.
__ADS_1