PRISON

PRISON
0:06 Terheran


__ADS_3

Sinar matahari masuk melalui celah jendela yang berada di sebuah kamar bercatkan putih itu. Di sana di dalam kamar tersebut di atas ranjang besar nan elegan itu terlihat dua insan Adam dan hawa yang masih bergelung dengan nyaman pada selimut tebalnya, alvendra pria itu agaknya masih mengantuk hingga cahaya matahari yang sudah terbit tak membangunkan dirinya sama sekali. Justru sebaliknya reisya, ia membuka kedua kelopak mata sembabnya yang bengkak akibat tangisan yang ia keluarkan semalam. Di lihatnya pria yang tidur di sampingnya alvendra istri saudarinya rayya, kembali air mata lolos seketika ia langsung berdiri dari tidurnya namun langsung dikagetkan dengan tubuhnya yang terasa begitu remuk akibat semalam penuh alvendra menggagahinya hingga dia hampir saja pingsan tak kuasa mengimbangi permainan nya.


Kembali air mata lolos dari pipi reisya kala bayangan hitam itu menghampirinya ia melirik jam sudah jam 7 pagi dia harus segera pergi dari dalam sana sebelum alvendra bangun. Dengan sisa tenaganya ia menahan mati-matian rasa ngilu pada miliknya dan segera berlari menuju ke dalam kamar mandi di sana memakai kembali pakaiannya semalam dan segera pergi dari dalam kamar alvendra. Sesampainya di dalam kamar, reisya langsung terduduk di lantainya menangis dengan tersedu karena harus kehilangan sesuatu yang berharga baginya. Di saat ia tengah menangis suara ponselnya berdering membuat reisya segera berdiri dan berjalan tertatih mengambil ponsel miliknya.


"Halo?" Sapanya pada seseorang di seberang sana.


"Rei apakah kau sudah memberitahukan nya pada alvendra semalam?" ah iya itu adalah suara rayya saudarinya, seketika ia kembali menangis namun berusaha ia tahan sebisa mungkin agar sang kakak tidak khawatir.


"Ya aku sudah memberitahu nya, lebih baik kakak segera pulang sekarang sebelum sesuatu yang tidak di inginkan terjadi !!"


"Baiklah aku akan pulang, terima kasih rei!!"


Dan telepon tadi berhenti, reiya menjatuhkan ponselnya dan jatuh terduduk lemas. Rasanya ia sudah tak memiliki muka lagi untuk menghadapi wajah sang kakak, ia tidak kuat sungguh. Air mata kembali turun dengan derasnya disertai dengan isakan yang reisya coba tahan takut kalau nanti ada yang mendengar nya. Sementara di dalam kamar yang lain alvendra perlahan membuka kedua iris matanya, dia terduduk di sana mengumpulkan nyawanya yang masih di ambang-ambang. Pandangannya menyesuaikan cahaya pagi ini, hingga ia melirik ke samping dimana bekas rayya tidur. Sejenak ia diam menatap bekas kepergian sang istri kemudian berdalih pada bekas noda darah yang begitu mencolok di sana, ah iya dia ingat semalam adalah malam pertamanya, itu sungguh diluar dugaan bagi alvendra.


Senyuman terukir namun bukan senyuman biasa, melainkan senyuman lain yang begitu mengerikan. Tangannya terulur meraba tempat rayya tidur, aroma citrus itu masih ada di sana dan juga menempel pada tubuh alvendra sendiri. Alvendra tak ingat kapan terakhir kali ia bisa langsung terangsang hanya karena aroma tubuh seorang wanita, biasanya ia akan jijik dan mual tapi bau ini sungguh berbeda. Citrus ini sungguh menyegarkan dan menggairahkan secara bersamaan, membayangkan aromanya saja tubuh alvendra semakin meremang apalagi jeritan yang rayya keluarkan. Sial ia semakin ingin merengkuh rayya lagi, untuk percintaan semalam alvendra benar-benar tidak tahu jika yang semalam ia gauli adalah reisya bukan rayya untuk itulah mengapa ia membatin jika percintaan semalam sungguh luar biasa.


Lain halnya di ruang tamu, rayya telah kembali dari acara kaburnya semalam. Ia mengendap-endap takut jika nanti disana ada alvendra, namun dikala melihat isi apartemen itu yang kosong rayya menghembuskan nafasnya lega lalu segera berhambur pergi menuju ke kamar sang adik. Di kamar reisya, ia tengah mandi, mengguyur sekujur tubuhnya dengan air dingin sambil menggosokkan sabun dengan kasar demi menghilangkan aroma maskulin yang menempel di tubuhnya.


"Hiks.... hilanglah !!!! kumohon hilanglah !!" Begitulah ucapnya sambil menangis pilu dibawah air shower itu.


Suara pintu kamar mandi terdengar membuat tubuh reisya membeku, seketika ia langsung mematikan airnya.


"siapa?"


"Rei...ini aku rayya, kau di dalam?"


Tubuh reisya kembali membeku, ia panik sungguh. Matanya menatap takut kearah pintu yang berjarak sekitar sepuluh langkah itu. Kembali suara pintu terdengar membuat pikiran reisya semakin dilanda kekalutan apalagi dengan suara sang kakak yang kembali bertanya kepadanya.


"Rei kau baik-baik saja?"


"Y...ya, aku baik-baik saja kakak tunggu saja disana aku akan segera keluar!!" Jawabnya guna membuat rayya mengerti.


"Baiklah aku akan menunggumu !!" Saut rayya, sementara itu reisya segera menyelesaikan acara bermandinya kemudian segera memakai pakaiannya dan menatap kearah cermin disana.

__ADS_1


Kedua bola mata reisya kembali membola dikala menatap bekas kissmark yang alvendra tinggalkan begitu banyak disana. Gawat! reisya tak membawa baju yang menutupi lehernya membuatnya semakin menggila. Ia memegang bekas kissmark tersebut mencoba mencari cara untuk menutupi bekas itu hingga handuk wajahnya menjadi alat untuk menutupi bekas ciuman yang alvendra tinggalkan itu. Dengan nafas panjang reisya menormalkan detak jantung nya yang berpacu abnormal kemudian berjalan menuju pintu hendak keluar dari sana menemui rayya yang sudah menunggu nya.


"Maaf membuat kakak menunggu lama" Ucap reisya sebaik mungkin demi menutupi rasa kegugupannya, ia memegang handuk yang ia kalungkan di lehernya dengan kuat berharap semoga rayya tidak menyadarinya.


Rayya menoleh dikala mendengar suara adiknya, "Tak apa rei !!"


Reisya tersenyum kemudian segera berjalan menghampiri saudarinya yang duduk di atas ranjangnya. Dengan tertatih ia berjalan mendekat kepada rayya yang sepertinya ingin membicarakan tentang kepergiannya secara tiba-tiba semalam.


"Jadi bisa kakak jelaskan mengapa semalam kakak pergi?" Tanya reisya langsung.


Sejenak tak ada jawaban dari rayya membuat reisya memegang bahu saudarinya. Rayya menoleh dengan liquide bening yang sudah basah di salah satu pipinya itu membuat reisya terkejut.


"Kakak?"


"Maaf rei...." Lirihnya


"Maaf karena kesalahan kakak kamu harus menghadapi amarah vendra !!"


"Aku bukannya terkena amarah suamimu kak, melainkan aku melakukan kesalahan fatal dengannya !! " Batin reisya tersiksa sambil menahan isak tangisnya.


"Apakah alvendra melakukan sesuatu kala kau memberitahu nya rei?" Tanya rayya kepada reisya yang mana membuat reisya kembali tersadar dari pikiran nya itu.


"Tidak !!" Jawab reisya dengan cepat dan nada tinggi membuat rayya sedikit kaget.


"Kau yakin?" Tanya rayya memastikan.


Panas dingin itulah yang reisya alami saat ini, ia tidak tahu harus mengatakan alasan apalagi demi membuat sang kakak percaya. Ia bingung harus memberitahukan alasan apalagi kepada rayya, ia tak tahu lagi. Matanya menatap takut kepada rayya, ia ragu harus memberi alasan apa kepada saudarinya itu ia sungguh tidak tahu. Bagaikan di ujung jurang itulah yang saat ini reisya alami, nafasnya tercekik hingga membuat nya kesulitan untuk bernapas. Pikirannya buntu tak tahu harus mencari alasan lain, ia takut alasan yang ia berikan tak akan membuat sang saudari percaya dengan mudahnya itulah definisi yang saat ini tengah reisya alami.


"Rei ??" Tanya rayya sekali lagi sambil mengguncang pelan bahu sang adik hingga tersadar.


"Iya kak, semalam dia hanya marah saja. Mungkin sekarang ini dia sudah melupakannya, aku juga sudah memberitahu nya alasan mengapa kakak kabur dan kurasa suamimu memahaminya. Jadi, lebih baik agar kakak tak menimbulkan masalah lagi dengannya sebaiknya kakak pergi menyiapkan sarapan untuknya, aku takut jika saja dia bisa marah karena kakak tidak melaksanakan tanggung jawab kakak sebagai seorang alvarez!!" Jelas reisya menyakinkan.


"Aku tidak percaya alvendra akan melupakannya dengan mudah" Gusar rayya membuat reisya semakin panik. Dengan tenang reisya mengambil tangan sang saudari dan mengelusnya perlahan.

__ADS_1


"Kakak tak percaya padaku?" Tanyanya.


"Tentu saja aku percaya padamu. Kau mampu menyakinkan seseorang dengan alasan kuatmu, hanya saja dengan seorang alvendra aku rasa itu sesuatu yang mustahil rei !!"


"Tidak perlu khawatir, dia memahami betul alasan kakak pergi malam tadi. Sekarang daripada membuatnya semakin marah lebih baik kakak bersikap wajar saja dengan mulai menyiapkan sarapan paginya hm?"


"Kau benar, terima kasih rei!!" Rayya berujar sambil memeluk reisya, diterimanya pelukan itu dengan ramah hati. Sejujurnya reisya ingin menangis dikala memeluk saudari nya, namun setelah itu ia menghilangkan kesedihannya dengan senyuman ramahnya seperti biasa.


"Cepatlah aku akan membantu kakak nanti !!"


"Baiklah !!"


Rayya segera pergi dari dalam kamar reisya, meninggalkan sang pemilik dengan suasana hampa. Kepergian rayya langsung membuat reisya menangis sejadinya, ia berulang kali mengucap kalimat maaf kepada rayya karena kesalahannya. Sementara itu di dalam kamar alvendra, pria itu sudah rapi dengan setelan jas kantornya. Jika kalian tanya mengapa ia tidak libur tentu saja jawabannya tidak karena ia tidak akan pernah melakukan itu, baginya bisnis itu lebih penting daripada pernikahan nya.


Ia segera turun dari dalam kamarnya, berjalan menuruni anakan tangga yang berkelok itu sambil membenahi jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Langkah kaki alvendra terhenti di depan meja makan, ia menoleh dikala melihat rayya sang istri yang mondar-mandir menyiapkan acara sarapan itu. Tatapan matanya terheran kepada rayya, ia melirik dari atas hingga ke bawah. Kedua alisnya berkerut hingga saat rayya tersadar jika alvendra di depannya pun segera ia menaruh mangkuk besar yang tadi berada di tangannya kini sudah berdalih di meja makan.


"Kau sudah turun? ingin sarapan sebentar?" Tawar rayya yang masih ditatap dingin alvendra.


"Tidak aku sedang terbu...." Jawab Alvendra sebelum suara lain memotong ucapannya.


"Ikutlah sarapan dengan kami, kakakku sudah menyiapkan semuanya k-kak !!" Itu adalah suara reisya yang mana langsung mendapat tatapan dari rayya dan alvendra.


"Sarapan lah sebentar !!" Pinta rayya yang mana membuat alvendra menghembuskan nafasnya perlahan sebelum ia memutuskan untuk menyerah dan ikut sarapan bersama dengan rayya dan reisya.


Di sudut sana reisya menatap horor alvendra, bulu kuduknya terasa merinding akibat kejadian semalam. Reisya masih ingat dengan jelas bagaimana kejadian semalam waktu itu sehingga alvendra menjadi agoni tersendiri bagi reisya ia juga beruntung karena alvendra tidak mengenalinya, untuk bekas kissmark yang ditinggal kan kakak iparnya itu reisya sudah menutupinya dengan make up yang ia punya. Beruntung foundation miliknya mampu menutupi bekas merah keunguan itu sehingga ia dapat bernafas dengan sangat lega.


"Ayo rei kemari sarapan bersama !!" Itu adalah suara tawaran rayya yang menyadarkan reisya dari pikirannya.


Reisya mengangguk kemudian berjalan dengan terseok menuju meja makan, disaat semuanya sudah duduk menunggu reisya yang akan bergabung seketika pandangan alvendra bingung dengan cara berjalan adik iparnya itu yang seperti menahan sesuatu yang sakit.


"Kau.......sakit?" Tanya alvendra datar dan seketika sekujur tubuh reisya dibuat menggigil dengan pertanyaan alvendra. Bahkan saat ini semua tatapan tertuju padanya, dengan ragu ia melirik rayya yang juga sepertinya menatap terkejut kepada reisya.


Keringat dingin mulai mengucur di dahi reisya, tatapan alvendra dan rayya membuatnya tersudut. Ia melirik keduanya bergantian, ia benar-benar dalam masalah sekarang yang hanya reisya lakukan ialah meneguk salivannya gugup dan kejadian pagi itu benar-benar terasa sangat lambat bagi reisya.

__ADS_1


__ADS_2