
Pagi harinya reisya berangkat menuju ke sekolah seperti biasanya, dia berjalan dengan pelan menuju ke dalam kelasnya. Namun sebelum dirinya benar-benar bisa memasuki ruangan kelas tersebut langkah kakinya berhenti ketika dari kejauhan ada seseorang yang memanggil namanya membuat dirinya segera berbalik badan. Dari kejauhan terlihat jika arsen berlari tergopoh menuju kearah nya berdiri saat ini, dari sorot mata reisya tidak terbesit senang ataupun rindu melainkan ketakutan yang mendera yang membuat dirinya seketika langsung menoleh ke setiap sisinya memastikan sesuatu yang saat ini menjadi waspada nya.
"Hai rei, lama sekali kita nggak ketemu gimana kabar mu?" Tanya arsen begitu sampai di depan gadis kesukaannya.
Dengan takut reisya menatap arsen, "Hai arsen, gue baik-baik aja. Gue masuk duluan ya mau nanya sama ailin kalau nanti ada tugas, soalnya beberapa hari ini gue gak masuk !!" Ucapnya tergesa yang langsung berlari masuk kedalam kelas meninggalkan arsen dengan begitu gamblangnya membuat pria itu curiga dengan tingkah reisya yang berbeda.
"Lo kenapa Rei??" Gumam arsen sebelum bel sekolah berbunyi dan terpaksa pria tersebut pergi dari depan kelas IPS 3.
.
.
.
Sesi pembelajaran di kelas reisya berjalan dengan santai berbeda dengan kelas IPA 1 dimana saat ini pria yang duduk di pojok dekat jendela saat ini hanya menatap keluar melihat beberapa dahan pohon yang bergoyang terkena hembusan angin. Menghiraukan ucapan guru yang tengah menjelaskan materi di depan sana, pikiran arsen terasa penuh dengan reisya apalagi dengan sikapnya barusan yang benar-benar meningkatkan kecurigaan arsen akan sesuatu. Di depan papan tulis, atensi arsen menggelitik perut sang guru yang tak sengaja melihat murid kebanggaan sekolah tengah melamun membuat guru tadi berdehem dengan kencang yang mana menotice semua siswa yang mana juga ikut mengikuti arah pandang sang guru kepada arsen.
Sejenak hembusan lelah keluar dari mulut arsen membuat sang guru mengangkat alisnya pertanda tertarik dengan isi kepala bocah kebanggan tersebut. Bahkan sekarang ini arsen tak menyadari sama sekali jika seluruh teman-temannya tengah menatap dirinya, bahkan teman sebangku arsen sengaja menyenderkan tubuhnya memberikan ruang agar semua siswi di kelas dapat melihat teman tampannya itu. Sang guru yang tadi berada di depan pun kini berdalih mendekati meja arsen dengan perlahan sembari menyilangkan kedua tangannya di dada dan menatap kepo wajah murid teladan satu ini.
"Sepertinya masalah mu berat sekali ya ??" Tanya sang guru yang dibalas anggukan lemah arsen.
"Oh.... aku tidak tahu jika kau punya masalah seberat itu. Memangnya ada masalah apa hingga kau tidak fokus seperti ini?"
"Aku curiga dengan sikapnya pagi tadi" Jelas arsen tanpa sadar yang membuat semua teman-teman nya tertawa geli.
"Siapa??" Tanya sang guru mencoba memancing anak didiknya ini. Helaan nafas kembali terdengar, kali ini arsen sedikit gemas dengan pertanyaan itu sehingga dirinya yang semula menyangga dagunya kini berdalih menyilangkan kedua tangannya di atas meja.
"Kau tentu tahu dengan apa yang aku maksud bukan, yaitu cruh....." Ucapan arsen terhenti ketika disaat ia menoleh malah mendapati wajah marah sang guru yang sudah melotot kepadanya.
"Eh, bu...bu indah !!!" Kagetnya yang mana mengundang gelak tawa seisi kelas.
"Ibu ngapain di sini ??" kekehnya berusaha mengajak kompromi guru killer terkenal anak IPA itu.
"DASAR BANDEL CRUSH SIAPA? INI PELAJARAN FISIKA BUKAN PELAJARAN TENTANG CRUSHMU. MEMANGNYA APA ITU CRUSH HAH !!" teriak sang guru yang membuat arsen bersikap memohon maaf ribuan kali sambil menyikut sang teman sebangku karena kesal tidak diberi tau.
"Farhan apa itu crush hah ?!!" Tanya sang guru kepada teman sebangku arsen.
"Plis jangan, gue traktir bakso deh nanti oke ??" Pinta arsen kepada Farhan yang mana kembali melirik kepada sang guru yang melotot marah kepada arsen.
"Anu Bu, crush itu......" Ucapnya perlahan sambil kembali lirik arsen yang memohon agar jangan memberitahukan kepada guru killer tersebut.
"Crush itu ibarat pacar Bu, orang yang dikagumi gitu" Jelas Farhan tanpa dosa yang membuat arsen segera memukul kepala sahabatnya.
"OH JADI INI TINGKAH MURID TELADAN DI SEKOLAH HAH !!"
"eng...engga Bu, arsen bisa jelasin kok !!"
"KAMU SUDAH MEMBOLOS PELAJARAN SAYA JADI KAMU DI HUKUM ARSEN, KELUAR DARI DALAM KELAS DAN TULIS ULANG RUMUS YANG BARU SAJA IBU JELASKAN DI SELEMBAR KERTAS."
__ADS_1
"buku tulis kan Bu??" Tawar arsen yang semakin membuat mata besar sang guru tadi melebar.
"FOLIO ARSEN" Finalnya yang membuat arsen mendesah pelan, ia segera bersiap untuk keluar dari dalam kelas sambil menyumpah serapahi teman laknatnya itu.
"Hah, Farhan sialan gini kan gue harus nyelesein nya ampe malem." Ucapnya dengan kesal sambil mengacak-acak rambutnya.
.
.
.
.
Di gedung utama ALV di ruangan pribadi CEO alvendra duduk dengan tenang sambil mengayunkan kursinya seirama ketukan di dalam hatinya. Kini ia sudah bisa mengendalikan sepenuhnya gadis unik itu, kini yang menjadi masalah utamanya hanyalah sang kakek yang menjadi penghalang nya selama ini. Ia harus bergerak dengan hati-hati agar elang tua itu tak mencium hal mencurigakan yang alvendra sengaja sembunyikan, ia harus bisa bersikap normal meski rasanya itu mustahil dilakukan jika elang itu masih mengawasinya membuat nya mengerutkan dahinya memikirkan sebuah rencana. Hanyut didalam pikirannya sendiri alvendra tak mengetahui jika Sean sudah berada di dalam ruangan yang sama dengannya dan juga tengah memperhatikan sang tuannya itu.
"Kau sudah memastikan dia dalam pengawasan bukan?"
"Sudah tuan."
"Bagus, aku ingin kau bisa mengawasi nya. Laporkan padaku setiap gerakannya, bersama dengan siapa, kegiatannya di sekolah ataupun diluar dan juga pastikan agar ia tetap merasa diawasi." Ucap alvendra yang mendapat tatapan datar dari pria dingin tersebut.
"Dan bagaimana kondisinya?" Tanya alvendra yang dipahami langsung oleh Sean.
"Beliau dalam kondisi stabil, ia juga langsung mendapatkan terapi untuk merilekskan pikiran nya yang sempat terguncang".
"Syukurlah, setelah ini aku akan menjenguknya dan mungkin akan mengganti kediamannya agar pria tua itu tak menganggu nya lagi". Ujar alvendra dengan wajah sendu sehingga ruangan yang semula terasa mati suasananya kini hening yang diselimuti dengan suasana yang berbeda.
"Apakah anda yakin tuan akan pindah ke mansion?"
Alvendra masih diam tak bergeming menatap bangunan besar di depan sana. "Ya !!"
"Perlukah saya mencari apartemen terdekat agar saya dapat memantau anda juga tuan?" Tawarnya dengan cepat.
"Tak usah. Tugasmu adalah mengawasi reisya, tak perlu mengkhawatirkan diriku aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagipula pria tua itu tak akan berani lagi untuk mengusikku setelah aku membawa rayya kesana."
"Tapi...."
"Ini perintah Sean, dan juga....(alvendra memberikan secarik kartu nama kepadanya) tolong berikan ini kepda rayya". Final alvendra yang mendapat anggukan kepala oleh Sean.
Alvendra masih menatap dengan seksama gedung pencakar langit tersebut dengan salah satu jemarinya yang saling menggosok satu sama lain. Mungkin kalian akan mengira jika posisi ini terlihat begitu gagah dengan bagaimana alvendra menyilangkan satu kakinya dan satu tangan yang menumpu di dagu dan tangan lain yang ia sandarkan di pegangan kursi, namun jika ditelisik di wajah tampan itu seperti tersirat akan sesuatu. Sesuatu yang membebani pikirannya yang tak kunjung mereda dan mungkin akan sulit untuk redakan. Sementara itu di fakultas milik rayya, wanita itu tersenyum dengan gembira karena akhirnya kini ia bisa wisuda setelah tugas revisinya selesai. Saat ini rayya dan teman-temannya sedang menikmati waktu bersantai di cafe depan fakultasnya untuk sekedar melepas rasa lelah dan stress selama beberapa bulan terakhir. Mereka tertawa sambil bercerita mengenai keluh kesah masing-masing dalam menyelesaikan skripsinya, ada yang sampai jatuh sakit, menangis tidak jelas dan banyak curhatan yang terlontar siang itu.
"Eh lo kok bisa ray ngerjain skripsian sambil memangku tugas rumah tangga" Kepo sang sahabat yang duduk di depan rayya saat ini.
"Nah bener...bener, spill dong gimana ceritanya??" Timpal yang lain
"Pasti tingkat stres lo tinggi banget karena harus ladenin suami sama tugas lo itu" Tambah temannya yang lain.
__ADS_1
"Kalian gak akan percaya dengan apa yang gue lakuin demi nyelesein itu tugas deh" Jawab rayya yang mengundang tanda tanya dari para sahabatnya.
"Emangnya kenapa?"
"Ga papa sih, gue cuman bersyukur aja karena suami gue respect banget ke gue. Dia ngerti kalau ini merupakan hal paling penting dalam hidup gue, dia open minded banget sih haha" Jelasnya dengan senyuman lebar, itu memang benar jika kalian ingat. Sewaktu dimana rayya bercerita soal kuliahnya yang tinggal sebentar lagi, alvendra memberikan ia kebebasan seratus persen. Dan perlu kalian tahu juga bahwa alvendra juga menghormati rayya dan juga impiannya meski sebenarnya alvendra sedikit mengambil keuntungan dari kebebasan yang ia berikan kepada sang istri.
Mendengar hal tersebut semua teman-teman rayya pun sedikit terkejut, bahkan cenderung hampir iri ketika mendengarnya.
"Lo enak banget ay lah gue punya pacar posesif banget."
"Emang dia gak lo kasih tau??" Tanya sahabat nya yang lain.
Sambil mengaduk kopi di depannya yang diberi pertanyaan mendesah pelan, "Udah tapi lo tau kan kalau sikap orang baru dewasa itu kaya gimana?? jiwa inner child nya itu masih ada".
Seluruh meja tertawa termasuk rayya, kemudian wanita yang duduk di depan rayya menyilangkan tangan di meja. "Itulah akibat macarin berondong yang engga seusia haha".
Dan semuanya tertawa di sana, rayya melirik jam tangan dan terkejut sebentar sebelum dirinya menghabiskan satu gelas ice coffee di sana dan bersiap untuk merapihkan tas miliknya yang mengundang perhatian seluruh teman-temannya.
"Lo mau kemana ray" Tanya wanita yang duduk di depan rayya tadi.
"Gue mau balik duluan ya !!"
"Lah tapi kan kita rencana abis ini mau pergi lagi" Halang yang lain.
"Eh berondong dia tuh udah punya laki' ya dia harus pulang buat nyiapin keperluannya lah" Sewot seseorang yang tadi duduk di sebelah yang diejek.
Rayya hanya tersenyum saja menghiraukan semua pertanyaan dari para sahabatnya, "Yaudah gue duluan ya, lain kali aja kita perginya". Ucap rayya sebelum ia meninggal kan caffe tadi.
Dari luar caffe sepasang sepatu tua berjalan dengan tenang di iringi siulan lagu yang nyaman senyaman siulan sosok wanita tua yang membawa barang-barang besar di balik punggung ringkihnya. Daru arah yang sama dimana rayya keluar dari pintu caffe dan hendak berjalan menuju ke arah parkiran mobilnya, dirinya yang tak sengaja berjalan itu bertabrakan dengan sosok wanita tua yang membuat wanita tadi merintih dan menjatuhkan semua barang-barang yang ia bawa. Reflek melihat hal itu rayya pun langsung berjongkok untuk membantu wanita tadi dalam mengambil barang-barang antik yang wanita tua tadi bawa.
"Maaf ibu, saya tidak sengaja ini barang anda." Ujar rayya memberikan barang yang tadi ia pungut.
"Terima kasih nak" Ujar wanita tua tersebut yang kemudian saling bersitatap satu sama lain.
Sejenak hening baik rayya dan wanita tua itu saling mengerutkan keningnya ketika melihat wajah diantara masingmasing. Hingga......"Kau ?!"
"Ibu... peramal?!" Ucap di salah satu keduanya yang sama-sama terkejut.
"Apa yang ibu lakukan di sini??" Tanya rayya terkejut ketika bertemu dengan wanita tua yang pernah meramalnya dulu.
"Tentu saja aku ingin berjualan, memang nya apa yang akan aku lakukan??"
"Tapi anda tidak berjualan di area ini??" Tanyanya sedikit kebingungan karena pasalnya wanita itu selalu berdagang di tempat yang tenang.
"Area manapun cocok untuk diriku berjualan. Jangan pernah terpaku akan satu tempat saja karena jika seperti itu lambat laun tempat yang sama juga akan mati, ikuti saja nalurimu dan rasakan kemana angin segar akan membawamu maka disitu kau akan menemukan hal-hal baru yang tak terduga". Ucap wanita tua tadi yang membuat rayya benar-benar bingung dan tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan nya.
"Saya izin pergi dulu kalau begitu, saya minta maaf untuk yang sebelumnya!!" Ujar rayya yang hendak pergi sebelum suara wanita tua tadi menginterupsinya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan pernikahan mu??" Tanya wanita tadi secara tiba-tiba yang membuat rayya berbalik menatap terkejut kepada wanita tua tadi yang hanya tersenyum.
Selalu saja rayya dibuat tidak mengerti dengan sosok wanita tua itu, wanita itu penuh misteri dan sialnya rayya selalu dibuat bingung dan juga khawatir secara bersamaan dengan apa yang ia ucapkan.