PRISON

PRISON
0:05 menggantikan


__ADS_3

Setelah acara pernikahan tadi selesai, mereka bertiga memutuskan untuk bermalam di sebuah apartemen milik alvendra karena terlalu lelah jika harus meneruskan perjalanan ke mansion pribadi miliknya. Sesampainya di apartemen itu alvendra segera berjalan mendahului keduanya meninggalkan rayya dan reisya di ruang tamu, keduanya masih terdiam menatap kepergian alvendra sementara itu rayya segera berbalik menatap sang adik yang berdiri di samping nya.


"Kau segeralah beristirahat rei hmm !!" Pinta sang kakak yang mana mendapatkan anggukan dari reisya.


Setelah kepergian sang adik rayya segera menyusul ke tempat dimana alvendra berada, di depan pintu bercatkan putih itu rayya terdiam sejenak. Ia mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya dan memantapkan hati untuk


membuka pintu tersebut dan langsung mendapati alvendra yang sudah berdiri membelakanginya.


"Pakai yang ada di dalam paper bag itu kuberi waktu kau mempersiapkan diri selama satu jam !!"


Ucapnya langsung yang mana setelahnya pergi berlalu meninggalkan rayya seorang diri di dalam kamar, ia melirik kearah paper bag yang tersedia di atas ranjang. Di tatapnya lamat sebelum air mata kembali jatuh, ia tertawa mengejek dirinya sendiri kemudian diiringi tangisan pilunya. Tubuhnya langsung terjatuh di lantai menangis sejadi-jadinya, itu artinya malam ini ia harus melayani alvendra yang rasanya semuanya tidak mungkin. Ia tertawa memaki dirinya, hingga di saat ia kembali menatap paper bag tadi dia langsung menyeka air matanya dan beranjak dari kesedihannya.


Sementara itu di kamar reisya, ia duduk di ranjangnya sambil mengeringkan rambutnya tadi. Di saat aktivitas nya hampir selesai sebuah nada dering ponsel masuk membuatnya lekas berhenti dan berdalih kepada ponsel yang ada di atas meja. Di bukannya ponsel tersebut terdapat pesan di sana yang mana matanya langsung membola ketika membaca isi pesan tersebut dan segera menjatuhkan ponsel itu dan berlari keluar dari dalam kamarnya. Di lain sisi alvendra duduk dengan santai menggunakan piyama tidurnya, rambutnya terlihat basah menandakan jika ia juga baru saja mandi tadi, meskipun begitu aura ketampanan miliknya tidak hilang sama sekali.


Ia duduk menikmati segelas Vodka sambil menatap arah jarum jam yang sudah menunjukkan jam sepuluh tepat, sudah satu jam ia menunggu rayya bersiap. Ia menaruh gelas tadi dan berjalan menuju ke dalam kamarnya dengan santai, sesampainya di depan pintu tanpa ragu di bukannya pintu putih tadi namun hal yang pertama menyapa indera penglihatannya adalah gelap. Ia berjalan masuk, menutup pintu dan merambat mencari sakelar lampu namun saat akan menghidupkan lampunya sepasang tangan lentik menghentikan aksinya. Seketika tubuh alvendra meremang ketika mencium aroma citrus yang menyegarkan dari rayya, tiba-tiba saja gairahnya langsung bangkit kala aroma harum itu menguar menyapu indera penciuman miliknya.


"Kau..." ucapan alvendra terpotong ketika tiba-tiba saja rayya mencium dirinya, meskipun ciuman itu sedikit ambigu alvendra memakluminya.


Hal yang rayya lakukan langsung saja membangkitkan gairah vendra, ia langsung menarik tengkuk rayya untuk menciumnya. Di gigit nya bibir itu hingga rayya mendesis, tanpa lama alvendra langsung melesakkan lidahnya ke dalam mulut rayya. Mencecap segala yang ada di sana, ia memutar balik rayya dan mengukungnya di dinding. Ciuman itu semakin brutal bahkan tangan alvendra juga tak tinggal diam mulai menjamah setiap jengkal tubuh rayya, sementara itu rayya hanya mencengkram kuat piyama bagian depan vendra. Di sela-sela ciuman tersebut dapat alvendra rasakan, rasa asin akibat air mata yang rayya keluarkan namun ia tidak peduli, karena aroma citrus itu sungguh memabukkan baginya.


Aroma itu begitu candu baginya begitu menghipnotis akal pikirannya, hingga tanpa lama-lama alvendra langsung menanggalkan baju ah tidak lebih tepatnya lingerie yang dipakai rayya dan membawanya menuju ke arah rajang. Jiwa liarnya telah bangkit, akalnya sudah hilang ketika aroma citrus yang menyegarkan itu telah memenuhi isi kepalanya hingga membangkitkan gairahnya. Di sambarnya bibir rayya kembali sambil salah satu tangannya meraba kaki sang istri yang terus naik hingga menuju kepahanya, di tengah kegiatan itu saat alvendra berfokus menciumi leher untuk meninggalkan bekas kepemilikan disana secercah cahaya bulan memasuki jendela kamar itu.

__ADS_1


Cahayanya langsung mengenai wajah cantik seseorang yang tengah memejamkan matanya yang berlinang air mata. Reisya, ya wajah itu adalah reisya yang saat ini tengah alvendra akan gagahi. Kalian memang tidak salah membaca, reisya gadis itu yang saat ini tengah menggantikan posisi kakaknya. Lantas bagaimana mungkin rayya tertukar dengan reisya?


*Flashback on :


Setelah mandi itu reisya duduk santai di atas ranjang kamarnya sambil mengeringkan rambutnya yang basah itu. Ia hendak tidur namun sepertinya niatnya itu harus ia urungkan karena ponselnya mengeluarkan notif ponsel itu. Ia berdiri, mengambil ponselnya dan membukanya ah ternyata pesan dari kakaknya. Ia membaca isi pesan tersebut, seketika matanya membulat sempurna ia terkejut sungguh.


Ia tidak percaya jika sang kakak pergi karena tidak siap memenuhi kebutuhan biologis suaminya, ia menjatuhkan ponselnya segera berlari keluar kamar melirik ke arah luar jendela kemudian bergegas menuju ke kamar sang kakak. Ia berharap jika sang kakak akan bercanda saja namun sesampainya di dalam ketakutan segera menyergap dirinya, rayya benar-benar tidak ada di dalam. ia sudah mencarinya kesemua penjuru kamar namun hasilnya nihil. Pikirannya berkecamuk, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya di tengah kekalutannya itu dari arah luar terdengar langkah kaki yang ia yakini itu pasti adalah alvendra, suami kakaknya.


Dirinya di landa kebingungan, ia tidak mungkin memberitahu kan kepada alvendra jika saudarinya pergi, karena itu bisa menambah masalah nanti. Maka dengan sisa akalnya ia segera mematikan lampu kamar tersebut dan menutup pintu kamar, di lihatnya sekeliling kamar hingga matanya menangkap paper bag di atas ranjang. Segera di sambarnya paper bag tersebut kemudian berlari menuju ke dalam kamar mandi, sesampainya di dalam ia langsung terduduk di lantai. Di tatapnya isi paper bag itu, seketika air mata langsung lolos turun begitu saja.


"Maaf kak jika aku merebut posisimu malam ini, aku terpaksa melakukannya untuk menyelamatkan mu hiks !!" Itulah kalimat nya sebelum ia benar-benar mengganti pakaiannya dengan baju yang ada di paper bag tersebut.


Suara pintu terbuka dari arah luar membuyarkan lamunan reisya, ia panik bukan main. Segeralah ia mematikan lampu dari dalam kamar mandi dan keluar dari sana diam-diam tanpa alvendra ketahui, ia meneguk ludah gugup takut jika saj vendra akan mengetahui dirinya saat ia hendak menghidupkan saklar lampu. Dengan cepat ia mencegah tangan alvendra, ia tahu kegiatannya ini pasti akan menimbulkan kecurigaan pada alvendra, hingga pada saat alvendra bertanya langsung saja tanpa pikir panjang reisya mencium bibir sang kakak iparnya itu.


Reisya mengigit bibirnya tak ingin mengeluarkan suara apapun, kedua tangannya ia gunakan untuk meremas seprai atau sesekali ia gigit demi meredam suara laknat yang tidak ingin reisya keluakan. Ia tidak suka, sungguh ia tidak suka dengan sentuhan itu. Ia takut, sangat takut ketika tangan alvendra sudah melepaskan satu-satunya penghalang tubuhnya. Bahkan ciuman alvendra pun semakin turun menuju kearah dada membuat reisya semakin membekap mulutnya erat.


Dengan gesit alvendra sudah membuang penghalang satu-satunya yang reisya kenakan, air mata semakin turun dengan deras. Reisya tak sanggup untuk lebih lagi, sementara itu alvendra sama sekali tidak sadar bahwa yang akan ia tiduri bukanlah rayya melainkan reisya. Alvendra berdiri menatap rayya dalam kegelapan dengan mata berkilat nafsu, sementara itu reisya yang melihat alvendra hanya diam saja pun lantas semakin dilanda ketakutan karena alvendra mulai melepaskan piyama miliknya dengan kesetanan lalu menyambar bibir milik reisya untuk ia ***** kembali.


Tangan alvendra langsung bermain di area sensitif reisya menggoda nya agar segera basah, dan hal itu direspon baik oleh tubuh reisya. Tubuhnya memang setuju akan hal yang alvendra lakukan namun bagi jiwa reisya ia ingin berteriak berhenti sekarang juga namun ia tak bisa, setelah bermain cukup lama dalam menggoda benda sensitif reisya tak terasa milik alvendra juga berdiri. Segera saja ia membuka lebar kedua kaki rayya memposisikan diri dan dibawah sana reisya semakin gelisah melihat silhuet alvendra yang menurutnya sangat mengerikan, ia kalut pikirannya berkecamuk sebelum hentakan kuat membuat reisya langsung memekik secara reflek, ia mencengkram semakin kuat sprei dibawahnya merasakan sakit luar biasa.


"****...." Umpat alvendra karena merasakan sesuatu yang amat sempit di dalam sana. Ia tidak tahu jika rayya masihlah segel, ia bahkan sampai ikut memejamkan matanya dengan rahang mengeras hingga urat di sekitar wajahnya terlihat, ia mencoba menahan mati-matian sifat binatangnya.

__ADS_1


Ia tahu jika rayya pastilah kesakitan untuk itulah ia lebih memilih untuk diam sejenak sambil merasakan bagaimana milik sang istri itu sudah menenggelamkan miliknya dan juga memberikan sensasi baru bagi dirinya. Malam itu adalah malam terpanjang bagi reisya, digagahi oleh alvendra kakak iparnya sendiri. Ia terpaksa melakukan itu untuk melindungi rayya yang mungkin saja akan menjadi masalah lebih besar jika sampai alvendra tau bahwa rayya pergi entah kemana, tangisan pilu reisya hanya bisa ia tahan selayaknya hujan yang tiba-tiba mengguyur di malam kelam itu mengubur tangisan pilu seorang reisya atanazwa.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


...Hola reader's ku tercinta, hehe maaf ya jika ceritanya sedikit agak keluar konsep haha. Soalnya sedikit bingung juga mau di buat gimana, ingin dibuat agar runtut tapi kayanya nanti inti ceritanya kelamaan jadinya langsung gas aja hehe. Thanks yang udah baca and support ya, vote kalian amat membantušŸ¤...


__ADS_2