PRISON

PRISON
0:21 Lost control


__ADS_3

"Semuanya terasa aneh, tubuhku terasa ringan namun kedua mataku terasa berat. Mengapa aku merasa mengantuk padahal ini masih siang belum terlalu malam??"


"Tidurlah....."


"Suara siapa itu??, apa ada orang di sana?"


.


.


.


.


Kedua bola mata reisya segera saja terbuka, degup jantungnya berdebar cepat. Sejenak matanya menangkap pancaran sinar matahari yang membuat matanya seketika langsung menyipit. Ia memejamkan mata sejenak sebelum beranjak untuk mendudukkan dirinya di atas ranjang.


"Dimana aku?" Gumamnya yang kemudian memandang seluruh isi kamar yang terasa asing baginya namun juga menyeramkan secara bersamaan.


Reisya menegang, hawa dingin menusuk kulitnya ketika dirinya berada di dalam kamar yang ia sangat kenali. Seketika pikirannya berkecamuk hingga saat itu ia sadar bahwa dirinya tak memakai sehelai benangpun sehingga dengan cepat ia menyelimuti seluruh tubuh polosnya dengan sprei yang sudah membalut tubuhnya?.


"Ini....???" Tuturnya ketika melihat sprei yang ia pegang, sprei sama dimana di malam itu menjadi saksi bisu yang menjadi rahasia kelam reisya.


"Sudah bangun rupanya..." Suara berat seseorang di sebelah kiri reisya menyita perhatian nya sehingga ia pun menoleh ke sumber suara.


Di sana di sebuah sofa duduklah dengan agung seorang alvendra yang memegang segelas whiskey di tangannya sambil menatap dingin reisya yang duduk di atas ranjang besar itu. Reisya terdiam membeku, ia sudah takut namun ketakutan yang ia rasakan berkali-kali lipat ketika ia menatap alvendra, bukan karena tatapan yang alvendra layangkan namun mengenai pakaian yang ia kenakan. Sebuah piyama yang sama yang waktu itu ia kenakan, membangkitkan kembali kenangan distopia reisya yang bagaikan nightmare setiap malamnya kini begitu nyata terpampang begitu jelas di hadapannya. Keringat dingin mulai bermunculan ketika matanya tak dapat mengalihkan atensinya, lidahnya kelu tak dapat ia gerakkan hanya menelan ludahlah yang sanggup reisya lakukan.


"Apa maksudnya ini !!" Teriaknya dimana ucapan itu terlontar setelah reisya mengumpulkan secuil keberaniannya.


"Apa maksudnya? tentu saja membuktikan kebenaran nya. Kebenaran di malam pertama ku dengan mu !!" Tegas alvendra dengan menekankan kalimat terakhir, kedua iris mata reisya membulat sempurna tak kala ucapan alvendra begitu tepat mengenai sasaran.


Ia tersenyum miring dikala tebakannya begitu pas sehingga membuat reisya terdiam membatu di atas ranjangnya.


"Aku benar ternyata."


Reisya kembali menoleh menatap alvendra, "Lelucon ini tidak lucu sama sekali !" elaknya yang mana membuat alvendra menatap datar reisya.


"Lelucon katamu??" Ucapnya yang kemudian tertawa membuat tubuh reisya merinding seketika.


"Tidak ada lelucon yang begitu nyata seperti kau tidak berpakaian di dalam kamar ku !!" Ucapnya lantang yang langsung membuat reisya menciut seketika.


"Lebih baik kau jujur saja, di malam itu kau yang tidur denganku bukan?" Tanyanya penuh intimidasi kepada reisya.


"Apa yang kau bicarakan !!" Sentaknya yang mana hanya dibalas acuh oleh alvendra.


"Lalu bagaimana kau menjelaskan kau bisa berada di sini ?"


"Ba-bagaimana aku bisa ada di sini !! terakhir kali aku sedang makan bersama mu dan aku tiba-tiba mengantuk......" ucapnya yang semakin lama ia semakin berpikir sesuatu.


"Aku mengantuk setelah makan malam itu dan tiba-tiba aku bangun disini..." Sejenak reisya diam dan kemudian menatap alvendra yang masih sibuk meminum segelas whiskey nya.

__ADS_1


"Itu ulahmu !! kau memberiku obat tidur !!"


"Rupanya otakmu benar-benar pintar, bahkan sampai berhasil mengelabui diriku". Jelasnya dengan wajah santai.


"Aku tidak paham maksud mu." Alibinya yang mana membuat alvendra menatap tidak suka kepada reisya.


"Kau tahu betul apa maksud ku reisya atanazwa " Tekannya yang membuat reisya semakin pelik dirundung kegelisahan.


"Aku mohon aku tidak paham dengan apa yang kau maksud aku bersumpah !! aku tidak menger....."


Suara gelas pecah yang begitu memekakan telinga ketika alvendra mencengkram terlalu kuat gelas kaca tersebut. Reisya menatap tidak percaya dengan kejadian tadi, sepertinya ia membuat suatu kesalahan dan itu terlihat ketika alvendra menatap marah penuh tak suka dengan jawaban yang dirinya berikan. Alvendra pun lantas berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat kearah reisya yang mana reflek membuat gadis itu beringsut mundur lantaran begitu ketakutan.


"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanyanya bergemetar takut.


"Membuktikan tentu saja !!" Ucapnya sambil terus berjalan mendekat ke ranjang.


"Aku sudah bilang aku tidak tahu menahu soal itu. Lagipula bagaimana kau bisa berpikir aku tidur di malam pertama mu dengan saudariku? itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi." Ucapnya sambil melirik kearah sekitarnya.


"Oh, hal yang tidak mungkin bisa saja mungkin seperti jelaskan mengenai lingerie di bawah ini yang meninggalkan bekas aroma citrus yang sama seperti aroma favorit mu !!" Ucap alvendra santai sambil menunjukkan bekas baju tersebut yang membuat reisya semakin terpojok. Ia ingat sekarang, setelah malam itu reisya tak langsung membereskan bekas baju tersebut.


"Awalnya kukira malam itu aku benar tidur dengan rayya namun setelah itu aku tidak sengaja melihat barang-barang nya, dia tidak memiliki parfum ataupun barang dengan aroma citrus dan dari situ aku menyadari ada sesuatu yang aneh. Dan kemudian aku tak sengaja mencium aroma citrus itu dari tubuhmu pada saat makan malam tempo hari, dari situ aku berpikir bahwa itu tidak mungkin dan ternyata aku benar ketika itu aku tak sengaja melihatmu memakai parfum aroma lavender. Namun praduga ku salah kembali, botol itu adalah parfum Citrus hanya saja kau menggantinya dengan label botol lavender untuk mengelabui diriku, kau sadar bahwa lambat laun pasti hal ini akan terbuka bukan? kau lumayan brilian reisya sungguh !!"


Tutur alvendra yang mana membuat reisya semakin dilandasi ketakutan, yang dikatakan oleh alvendra memang benar. Reisya memang benar mengganti wadah botol parfumnya dengan botol lavender karena pada saat malam itu setelah sesi percintaan selesai. Alvendra mungkin saat itu berada di bawah alam sadarnya dan menyadari jika yang ia tiduri adalah reisya dan disaat itu pula reisya tahu betul tindakan apa yang harus ia lakukan.


"Hanya itu saja tak membuktikan diriku yang tidur denganmu !!" sanggahnya.


Dengan persiapan yang ia siapkan ketika alvendra sedikit lengah tadi ia pun langsung melempar bantal yang sudah berada di tangannya dan melemparnya tepat kearah alvendra dan segera turun dari atas ranjang hendak berlari pergi menuju kearah pintu. Namun semua perkiraan reisya salah, alvendra mempunyai reflek bagus dan juga tingkat kewaspadaan tinggi sehingga dengan tenang ia berjalan mendekat kearah reisya yang saat itu tengah mencoba untuk membuka pintu kamar tersebut yang ternyata sudah terkunci.


"Terkejut rubah kecil?" Suara berat alvendra menginterupsi tubuh reisya yang langsung diam membeku.


"arrrghhh" Teriak reisya ketika alvendra menarik tangannya dan mengukungnya di dinding pintu tersebut.


"Aku masih memiliki secuil kesabaran dan sebaiknya kau ucapkan kebenarannya sebelum sesuatu yang tidak kau inginkan terjadi !!" Ancamnya yang mana membuat reisya ketakutan seketika.


"Kenapa kau takut? kenapa gemetar? bukankah jika kau tidak bersalah kau tidak akan ketakutan seperti ini??" Sarkasnya yang membuat reisya semakin dilanda ketakutan, alvendra benar-benar menyeramkan.


"Aku...mohon lepaskan" cicitnya.


"Dan membiarkan kebenaran itu tertutupi selamanya?"


"Aku sudah mengatakannya aku tidak tahu, malam itu aku berada di dalam kamar dan..."


"CUKUP ! WAKTUMU HABIS DI SINI REISYA ATANAZWA. KAU TELAH MENYIA-NYIAKAN KESEMPATAN MU UNTUK BERKATA DENGAN JUJUR. MAKA TERIMALAH AKIBATNYA KARENA KAU TIDAK MAU BERKATA YANG SEBENARNYA !!" Teriaknya yang mana langsung mencium bibir reisya dengan ganas.


Reisya membulat kan kedua matanya, ia takut sungguh. Apa yang alvendra lakukan saat ini begitu sama dengan yang ia lakukan di malam itu hanya saja diwaktu itu reisya yang memulai terlebih dahulu sementara saat ini alvendralah yang melakukannya. Merasa ciuman itu tidak dibalas alvendra langsung mengigit bibir bawah reisya dengan keras sehingga menyebabkan reisya membuka mulutnya lantaran kesakitan, dan pada saat itu alvendra langsung melesakkan lidahnya kedalam mencecap semua rasa yang ia inginkan sedari lama. Cukup lama ciuman panas nan sepihak itu terjadi, merasa pasokan udaranya habis reisya memukul dada alvendra dan dengan begitu terpaksa ia menyudahi ciuman tersebut.


"Hiks...hiks..." Desakan air mata terdengar setelahnya dan alvendra? pria itu menjilat ibu jarinya yang ia gunakan untuk menyeka ludah yang bercampur itu.


"Kau ingat rubah kecil?" Tanyanya santai.

__ADS_1


"Hiks....tolong lepaskan aku !!" Lirih reisya sambil memegang erat selimut yang masih membungkus tubuhnya.


Alvendra marah, ia menggeratakkan giginya merasa tidak diterima oleh reisya dan itu sukses membuat kesabarannya yang setipis tisu itu hancur lebur.


"Jadi kau masih ingin mempertahankan nya !! baiklah kita lihat seberapa kuat kau mampu mempertahankannya." Desisnya yang kemudian langsung mengangkat tubuh reisya ala koala dan langsung membawanya ke atas ranjang.


"Aakkh" Teriak reisya ketika tubuhnya terpental di atas ranjang.


"MUNGKIN DENGAN INI KAU AKAN BERBICARA !!" Teriaknya yang langsung melepaskan piyama miliknya, ia juga menarik kuat selimut yang membungkus tubuh reisya dan membuangnya asal.


"Tidak... berhenti di situ alvendra, jangan lakukan !!!" Teriak reisya pada saat itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2