PRISON

PRISON
0:31 Sayap yang terikat


__ADS_3

"Rei............"


Iris hitam reisya membesar, tubuhnya tiba-tiba saja terasa bergidik ketika hawa dingin langsung menyelimuti dirinya. Debaran jantungnya bekerja abnormal ketika tepat di jendela itu ia melihat bahwa rayya berdiri di depan kamarnya, ia meneguk ludah gugup wajahnya memucat.


Suara pintu yang diketuk kembali terdengar bagaikan alarm bahaya.


Tiga ketukan itu semakin meningkatkan debaran jantungnya membuat reisya tidak bisa melakukan apapun, otaknya tiba-tiba saja tidak bekerja sementara itu alvendra dengan santai tanpa rasa bersalah apapun masih setia menggerakkan miliknya di kewanitaan reisya. Ia menjadi gila dengan kejadian ini, perasaannya campur aduk antara takut dan gugup yang bercampur menjadi satu ditambah alvendra yang benar-benar tidak mengerti akan kegelisahan yang ia rasakan sekarang ini.


Sedikit beruntung reisya dapat rasakan karena jendela kamar di apartemen ini tidak dapat dilihat dari luar atau memang sengaja alvendra mendesign seperti itu? yang pasti saat ini yang ia khawatirkan adalah bagaimana jika rayya mendengar suara yang mereka lakukan. Namun di tengah kekalutannya saat ini dengan gesit alvendra langsung menjambak rambut reisya yang tergerai sehingga gadis itu mendongak.


"Cepat jawablah !" Suruh alvendra di sebelah telinga sang wanita sambil ikut melirik istrinya dari arah jendela.


"Rei....." Panggil rayya sekali lagi


"Ya?....ad-ada apa?" Jawab balik reisya dari dalam kamar dengan susah payah.


"Kau baik-baik saja?"


"Tentu saja, memangnya aku kenapa?"


"Entahlah tadi aku mendengar suara teriakan dan kegaduhan di dalam kamarmu jadi aku ingin mengetahui apakah terjadi sesuatu??"


"Aku baik-baik saja, hanya saja tadi ada binatang yang masuk lewat jendela makanya aku berteriak !!" Jelasnya.


"Oh begitukah??"


"Iya, untuk itulah aku mengunci pintunya"


"Baiklah kalau begitu !! apa kau sudah selesai berkemas?"


"Tinggal sedikit ada apa?"


"Tidak ada, kau lanjutkan saja aku akan kembali besok untuk menemui mu !" Ucapnya yang kemudian segera pergi meninggalkan area kamar tersebut.


Tubuh reisya langsung limbung hendak jatuh kelantai sebelum kedua tangan kekar alvendra menahannya. Jangan kalian kira selama reisya dan rayya berbincang tadi alvendra diam saja, tentu saja tidak. Pria itu tidak meninggalkan kesempatan, justru malah mempersulit kesempatan yang reisya inginkan. Pria itu terkekeh setelah kepergian istrinya, ia melirik kearah wanitanya yang tertunduk dalam.


"Kau memang penuh kejutan sayang...ha..ha..ha..." Ucapnya dengan kekehan yang mana membuat reisya langsung mengepalkan kedua tangannya yang ia jadikan tumpuan di jendela tadi.


Alvendra terduduk dengan tenang di atas ranjang bersama dengan reisya yang saat ini sudah tertidur pulas di sampingnya. Ia mengelus puncuk kepala sang wanita dengan sayang sambil sesekali menatapnya dengan penuh damba, ia tersenyum ketika dirinya berhasil mendapatkan gadis kecil ini. Ia sangat puas bisa membuat reisya menjadi miliknya setelah melihat bagaimana reisya yang begitu berbeda dari pandangannya selama ini, targetnya untuk menjadikan reisya miliknya memang tidak salah. Di tengah-tengah saat alvendra menikmati wajah ayu sang wanita ponsel yang berada di saku bajunya bergema di kamar tersebut membuat alvendra dengan jengah turun dari ranjang untuk mengambil benda tersebut.


Ia melirik nama yang tertera di ponsel tersebut kemudian berkerut bingung.


"Tidak biasanya dia menelpon selarut ini ??" Ujarnya yang kemudian segera menjawab panggilan sean.

__ADS_1


"Ya katakan?"


"Maaf karena menganggu waktu beristirahat tuan tapi saya tidak bisa menundanya sampai pagi." Kata Sean dengan begitu paniknya yang membuat alvendra sedikit bingung.


"Memangnya ada apa?"


"Ini tentang...... tentang...."


"Tentang siapa Sean ???"


"Ini tentang 'beliau' sepertinya tuan besar sedang ingin membuat masalah dengan anda." Jelasnya yang mana raut wajah alvendra segera memerah menahan amarah.


"Amankan kondisinya aku akan segera menyusul kesana !" Ucapnya dengan tegas yang mana segera keluar dari dalam kamar reisya.


Ia berjalan dengan tergesa menuju kedalam kamarnya untuk mengambil mantel miliknya, mendengar suara sedikit kegaduhan rayya segera terbangun dan mendapati alvendra yang nampak tergesa-gesa dalam mencari mantel miliknya.


"Kau sedang mencari apa?" Tanya rayya sambil menghidupkan lampu kamarnya.


"Dimana kau taruh mantelku?"


"Kau ingin pergi kemana larut malam begini?"


"AKU BILANG MANA MANTELKU !!!" Teriak alvendra dengan marah yang membuat rayya terkejut.


"Ada di lemari bagian sana" Tunjuknya yang mana alvendra langsung berjalan menuju ke arah bagian yang lain.


Mendapatkan apa yang ia cari alvendra segera pergi meninggalkan rayya yang bingung dengan kelakuan sang suami barusan. Di luar rumah alvendra langsung menyetir mobilnya keluar dari sana dengan kecepatan penuh untuk menuju ke suatu tempat, di malam yang dingin itu kedua mata alvendra berlinang kegugupan yang melanda. Bahkan alvendra sendiri mengigit jarinya seperti ketakutan akan sesuatu, sesuatu yang bisa pergi dengan cepat.


Beberapa jam mengemudi akhirnya alvendra sampai di sebuah rumah yang cukup besar di daerah perbukitan. Dengan cepat ia turun dari dalam mobilnya dan berlari memasuki kedalam rumah tersebut, seperti sudah mengenal dengan baik tempat itu alvendra langsung menuju ke tempat yang saat ini membuat debaran jantungnya berpacu abnormal.


"Bagaimana keadaannya Sean ??" Tanyanya begitu tiba di sebuah ruangan yang sedikit remang-remang.


"Saya memberinya obat penenang...."


Bogem mentah mendarat dengan sempurna ketika layangan pukulan alvendra tepat di wajah sang sekretaris.


"KAU GILA !! BERANINYA KAU MEMBERIKAN NYA OBAT SEPERTI ITU. KAU LUPA JIKA IA TAK BOLEH TERLALU BANYAK DIBERIKAN OBAT PENENANG !" Teriaknya di depan wajah sean yang saat ini hanya diam dengan raut wajah biasanya.


"Maafkan saya tuan. Saya terpaksa memberikannya karena tuan terlalu lama di perjalanan dan juga beliau sepertinya tidak begitu tahan dengan beberapa hal yang baru saja terjadi, berulang kali saya mencoba menenangkannya dengan memberitahukan jika tuan akan datang namun....."


"Cukup !" Hentinya yang kemudian duduk di dekat ranjang di depannya.


Ia menatap sendu seseorang yang terbaring disana, tangannya terulur untuk memegang tangan lemah dan pucat orang yang terbaring di sana.

__ADS_1


"Apa yang dia lakukan kemari?"Tanyanya yang mana Sean pun berjalan mendekat kepada sang tuan muda untuk memberikan sesuatu di tablet yang diserahkan nya.


Kedua mata alvendra memerah ia langsung membanting tablet tersebut kemudian hendak pergi dari dalam sana sebelum telfonnya kembali berdering. Dengan perasaan tidak suka ia mengeluarkan ponselnya yang berbunyi disaat tidak tepat, ia sedikit terkejut namun kemudian marah ketika kakeknya menelfon.


"KAU INGIN MATI PAK TUA?" Bentaknya dengan penuh emosi di ujung telfon tersebut. Sementara di mansion mewah di kamar yang indah pria tua yang disebut kakek itu menatap santai pemandangan taman di rumahnya.


"Kau mengerti juga peringatan kecilku berandal " Ujar sang kakek santai sambil meminum segelas anggur merah.


"Jika kau berani menyentuh sehelai rambutnya lagi kupastikan tangan itu yang pertama kali putus dari lenganmu !" Ancamnya yang hanya ditanggapi kekehan dari sebrang sana.


"Kau bisa melakukannya jika kau punya nyali untuk itu".


"Apa yang kau inginkan?"


"Bawa menantu alvarez untuk tinggal di kediaman besar ini bocah. Jangan menyembunyikan dia di apartemen milikmu, mulailah untuk tinggal di kediaman alvarez yang sebenarnya !"


"Seakan kau tidak tahu jawaban ku!" Tantangannya dengan angkuh.


"Maka aku tidak punya pilihan selain melakukannya melalui dirinya...."


"Kuperingatkan jika kau berani mendatanginya lagi maka....."


"Maka apa? kau akan membunuhku? kau hanyalah bocah ingusan yang tak seharusnya bersikap sombong! aku bisa membunuhmu sesuka hatiku tapi kau adalah satu-satunya pewaris alvarez untuk itulah aku tetap diam dan menerima dirimu, jadi jika kau membangkang sekali lagi maka kupastikan kedua sayapmu akan menghilang darimu !" Jelasnya yang mana membuat tubuh alvendra terdiam di tempat.


Sambungan ponsel terputus ketika sang kakek memutuskannya secara sepihak membuat alvendra benar-benar diam membatu di tempat.


"Tuan...?" Panggil sean ketika melihat tuannya tiba-tiba saja terdiam.


"Sean, panggil orang yang sama untuk mengawasi reisya setiap harinya, aktivitasnya apapun dan laporkan kejadiannya padaku !!" Pinta alvendra yang mana membuat sean sedikit terkejut dan bingung secara bersamaan.


"Memangnya ada apa tuan? tidak biasanya anda menyuruh suruhan tersebut melaporkannya melalui saya? biasanya anda menyuruh nya secara langsung untuk mengabarinya kepada anda"


"Karena pria tua itu ingin menguasai diriku ke rumah sialan tersebut." Jelasnya yang membuat sean sedikit kasihan kepada tuannya.


"Jadi tuan besar...."


"Ya, dia merantai kedua sayapku untuk bebas tapi sepertinya dia tidak tahu akan sesuatu dan kuharap dia tak pernah tahu akan sesuatu tersebut." Jelas alvendra yang kemudian segera pergi dari sana.


"Telfon aku jika dokter sudah sampai dan tambah keamanan di rumah ini" Pintanya sebelum dirinya benar-benar pergi dari sana meninggalkan kamar tersebut.


Sean yang tetap disana pun hanya mampu diam dengan menatap kepergian tuannya dari area rumah tersebut. Dengan pandangan kasihan ia menghembuskan nafasnya............


"Tuan muda yang malang......."

__ADS_1


__ADS_2