PRISON

PRISON
0:34 He knows?


__ADS_3

Suasana hening tercipta begitu lama, baik rayya dan wanita tua tadi masih saling berkontak mata hingga saat wanita tua tadi memutuskan kontak matanya ia kembali berjongkok kembali untuk memungut beberapa sisa barang dagangan nya yang terjatuh.


"Sudah satu tahun berlalu bagaimana dengan adikmu??" Tanyanya dengan senyuman khas orang tua.


Rayya sepenuhnya berbalik badan menatap wanita tua tadi, "Sebenarnya siapa anda?"


"Astaga....kau sangat tidak ramah sekali ya seperti saudarimu. Aku sangat merindukan nya padahal, aku ingin bertanya bagaimana keadaannya" ucapnya sambil memikirkan wajah adik rayya.


"Tolong jawab saya siapa anda sebenarnya !!" Tanya rayya sedikit geram karena ia sungguh tidak suka dengan ucapan wanita tua tadi yang seperti sok akrab dengan keluarga nya.


Wanita tadi menoleh dengan malas menatap wajah rayya dan kembali berdiri sambil mengangkat barang dagangan miliknya.


"Aku?? kau lihat aku apa?? hanya seorang wanita tua bukan?"


"Jika ingin uang maka katakan saja jangan pernah berbicara seakan-akan anda akrab dengan saya ataupun adik saya itu sungguh menganggu !!" Sentaknya marah karena memang benar adanya rayya tidak suka dengan wanita tua itu.


Wanita tadi kembali menatap wajah rayya dengan serius. "Aku tidak membutuhkan uangmu nona muda, aku hanya melihat apa yang aku lihat saja darimu !!"


Rayya menyelak rambut kebelakang ia sudah sangat frustasi dengan ucapan tak masuk akal wanita tua di depannya ini.


"Jika anda adalah seorang peramal maka bukan disini tempat anda dan bukan dengan menjual barang-barang antik secara keliling semua ada tempatnya".


Wanita tadi memiringkan kepalanya. "Mau peramal atau bukan itu tergantung dari cara orang yang memandang, ada seorang peramal yang berpakaian ala peramal dan bekerja di tempat mewah dan mahal tapi aslinya dia bukanlah seorang peramal mengerti maksud ku nak??"


Rayya sepenuhnya mengerti dan menatap tajam wanita tua itu lagi. "Niat membantu tak perlu ditunjukkan meski caranya sedikit membuat seseorang tak nyaman tapi ketahuilah nak untuk beberapa hal kedepan hidupmu akan berubah dan juga membuat mu kehilangan arah, di saat itu kau harus bisa memilih antara memafkan atau mengabaikan." Ujarnya dan setelah itu wanita itu berjalan pergi meninggalkan rayya dengan sejuta pemikiran yang memenuhi isi kepalanya saat ini, apa yang di ucapkan wanita itu sungguh tidak terduga. Orang itu terlalu misterius untuk nya tiba-tiba datang dan meramalnya memberikan peringatan dan juga saran sekaligus membuat anestesi dalam dirinya bergejolak.


Di tengah gejolak itu rayya tersadar ketika ponselnya berbunyi, ia segera mengambil benda kotak tersebut dan langsung mengangkat panggilan itu ketika Sean menelfon nya.


"Aku akan segera pulang Sean !!" Ucapnya kemudian mematikan telfon tersebut dan bergegas untuk pulang.


.


.


.


.


Di dalam apartemen alvendra saat ini, Sean duduk dengan tenang sambil membaca buku di ruang kerja sang majikan. Ini hal biasa mengingat posisi Sean bukan? beberapa menit berlalu rayya pun tiba di apartemen tersebut, rayya pun segera berjalan masuk mencari keberadaan pria dingin tadi hingga menemukan keberadaan nya. Ia duduk di depan Sean dengan gugup karena jujur pria di depannya ini seperti tidak memiliki emosi di wajahnya selalu datar saja, sementara Sean yang mendapati nyonya sampai pun menaruh bukunya di meja.


"Jadi, alvendra mengirim mu kemari untuk membantuku berbenah?" Tanya rayya begitu sampai di ruang kerja milik suaminya.


"Tidak nyonya melainkan memberikan anda ini" Ujar Sean sambil memberikan kartu nama dari dalam sakunya.


"Apa....ini?" Tanya rayya sambil menerima kartu tersebut.


"Itu adalah salah satu tempat kepercayaan tuan ketika tuan bersiap-siap menemui tamu penting." Ucapnya datar yang membuat rayya sedikit terkejut dibuat nya.


"Maksud mu aku disuruh untuk bersiap-siap?"

__ADS_1


"Benar nyonya"


"Aku bisa bersiap sendiri di rumah tidak perlu melakukan persiapan khusus seperti ini" Tolak nya sedikit tersinggung.


"Tolong jangan menolak permintaan tuan nyonya ini perintah langsung darinya."


Rayya diam sejenak mencerna keinginan alvendra ini.


"Baiklah, kapan ia akan menjemput ku nanti?"


"Pukul 18:09 tepat nanti !!"


"Dan kau tak akan menemaniku?" Tanya rayya ragu.


"Mohon maaf karena saya ada urusan lain, kalau begitu......" Alvendra berdiri kemudian membungkuk kepada rayya.


"Saya harus pergi nyonya selamat menikmati waktu anda" Ujar Sean yang kemudian berlalu pergi meninggalkan rayya dengan ekspresi tidak percaya, ia tersenyum getir sambil menggenggam kartu itu kuat-kuat.


"Apakah kau marah kepadaku alvendra karena aku belum siap untukmu ??" Gumamnya sambil tertawa hambar.


.


.


.


Arsen yang sebelumnya fokus dengan pena dan juga kertas yang ia pegang mendadak berhenti ketika ia tidak memahami salah satu materi yang tengah ia tulis dari buku paketnya. Ia meneliti rak buku yang berada tak jauh darinya kemudian berdiri hendak mencari tambahan dari buku ensiklopedia lain, ia mencari rak khusus untuk edisi buku terlengkap itu sehingga tak sengaja waktu akan mencarinya ia malah bertabrakan dengan seseorang di sebelahnya.


"Duh, maaf !!" Spontan arsen.


"Auch, iya kok" Balas gadis itu.


"Rei ??" Sapa arsen yang membuat si pemilik nama langsung menoleh.


"Arsen ?!" Keduanya saling menatap sejenak sebelum arsen tersenyum manis kepadanya.


"Tumben banget ketemu disini. Lo lagi cari apa?" Tanyanya yang dibalas senyum kecil oleh reisya.


"Gue lagi nyari buku edisi lengkap tentang geografi, lo sendiri?"


"Gue juga sama tapi beda dikit dari lo" Ujarnya yang diangguki oleh reisya, sejenak gadis itu menatap kearah meja di sana namun sepi tak ada orang hanya ada jejak satu orang dan tak lain adalah arsen sendiri.


"Lo bolos pelajaran?" Tanyanya kepada pemuda tinggi di sebelahnya.


"Bukan bolos sih sebenernya, lebih tepatnya gue ambil dispen buat ngerjain tugas".


"Emangnya lo kelupaan ?"


"Engga kok. Gue dihukum sama guru fisika gue jadi gue mutusin buat ngerjain sekarang aja biar santai-santai nantinya ".

__ADS_1


"Kok bisa lo dihukum?? emangnya lo ngapain?" Tanyanya sedikit terkejut namun yang ditanya menatap reisya dan tersenyum aneh membuat reisya sedikit canggung dibuatnya.


"Lo....lo kenapa ar?" Tanya reisya dengan sedikit ketakutan melihat senyum arsen.


"Akhirnya setelah sekian purnama gue dikhawatirin sama elo rei. Berasa mimpi gue, aduh mau terbang gue ihiw......" Ucapnya setelah itu yang mana mendapat tamparan keras dari reisya.


"Ish, gue ini tanyanya serius tau"


"Aduh...duh...iya deh maaf."


"Lo kenapa bisa sampai dihukum?"


"Gue tadi ga merhatiin pelajaran nya bu indah, makannya dihukum suruh nulis ulang materinya tadi, mana di kertas folio juga". Jelasnya yang membuat reisya tertawa dan itu sukses menjadi perhatian arsen.


"Lo?? kenapa liat gue kaya gitu?" Tanya reisya ketika melihat arsen yang menatap wajahnya dalam.


"Gue seneng lo baik-baik aja, gue sempet khawatir lo kenapa-napa karena tadi pagi tingkah lo aneh banget" Dan seketika ucapan arsen langsung membuat reisya tersadar dan kembali diam membisu.


Ia pun kembali mencoba memfokuskan dirinya untuk mencari buku yang sempat ia lupakan dan perubahan yang reisya tunjukkan membuat arsen bingung.


"Rei, lo kenapa?" Tanya arsen sambil memegang pundak gadis itu.


"Gue, nggak papa kok gue duluan ya !!" Ujarnya yang hendak pergi sebelum arsen mencekal pergelangan tangannya.


"Arsen !!" Pekik reisya terkejut.


"Ada yang aneh sama lo rei dan gue mau tau, sekarang !!" Ucapnya yang kemudian langsung membawa reisya keluar dari area perpustakaan.


.


.


Di sinilah tempatnya dimana arsen membawa reisya ke lapangan basket yang kosong, membawa gadis itu untuk duduk di salah satu bangku beton yang ada di pinggiran lapangan tersebut.


"Ar, lo ngapain bawa gue kesini?? gue mau balik ke kelas" Pinta reisya yang hendak berdiri namun kembali dicekal oleh arsen.


"Rei, plis gue mohon tunggu bentar. Gue khawatir sama elo tolong jelasin dulu rei pliss" Pinta arsen yang masih memegang pergelangan tangannya.


"Gue nggak papa ar sumpah !!" Ujarnya mencoba menutupinya sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggaman arsen.


"Oke gue lepasin, sorry udah ganggu waktu lo" Finalnya sambil melepaskan genggamannya, melihat itu reisya pun hendak berjalan kembali menuju kedalam kelasnya namun berhenti ketika mendengar suara arsen.


"Gue tau semuanya rei......." Ucapnya dengan tegas dan itu membuat reisya berhenti mematung di tempatnya. Ia menoleh menatap arsen dengan tatapan terkejut sekaligus takut, apa yang arsen tau??


"Apa yang lo maksud?" Tanyanya dengan tatapan terkejut.


Arsen menatap datar reisya kemudian berjalan menuju kearahnya sambil berujar, "Gue tau rei apa yang ngebuat lo berubah kaya gini, gue tau siapa".


Dan setelahnya hanya keheningan yang melanda keduanya dimana reisya menatap takut dengan arsen dan arsen yang menatap datar kepada gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2