PRISON

PRISON
0:26 sayang


__ADS_3

Usai kepergian mobil arsen reisya berjalan masuk melewati pagar tadi, namun sebelum dirinya memasuki rumah ia dikejutkan dengan cahaya terang dari lampu mobil yang tiba-tiba menyorot dengan tepat kearahnya. Di lihatnya mobil yang terparkir tepat di samping ia berdiri sekarang ini, ia berusaha untuk melihat siapa yang melakukannya namun kaca mobil itu terlalu gelap untuk dilihat secara seksama. Sementara itu alvendra yang berada di dalam mobil itu menatap dingin gadisnya yang berani keluar seharian ini hingga pulang larut malam dengan pria asing. Belum lagi hal yang dia lihat dimana dia mencium pria tadi benar-benar membuatnya hilang kendali, apalagi amarah yang di percikkan kakeknya masih belum padam benar-benar membuat reisya berada dalam bahaya.


Dengan tenang alvendra turun dari dalam mobil dan berjalan keluar menuju kearah gadisnya. Sementara itu reisya yang melihat sosok tadi turun pun berusaha untuk menajamkan indra penglihatannya demi melihat siapakah gerangan orang gila yang malam-malam seperti ini malah menyalakan lampu kendaraan dan menuju kearahnya. Ia hendak memprotes orang tersebut sebelum dirinya dikejutkan dengan orang tersebut.


"Al... alvendra" Gumamnya yang masih di dengar oleh si pemilik nama.


"Baru pulang?" Ucapnya dengan nada sedingin es yang membuat tubuh reisya meremang. Ia hendak pergi dari sana sebelum tangannya dicekal olehnya.


"LEPASKAN !! LEPASKAN AKU APA YANG KAU LAKUKAN !!" Teriaknya sambil mencoba melepaskan genggaman tangan pria tadi.


"Melepasmu? kau seharusnya dihukum !" Ucapnya dengan penuh penekanan yang mana membuat reisya segera membulatkan netra hitamnya.


"Tidak... LEPASKAN AKU ALVENDRA!! LEPASKAN !!" teriaknya sambil meronta namun tenaga yang reisya keluarkan tidak sebanding dengan tenaga alvendra.


Dengan sekali gendong alvendra langsung membawa reisya menjauh dari area rumahnya, ia membawa tubuh reisya ala koala dan langsung menaruhnya kedalam mobil tidak lupa sebelum ia menaruhnya di dalam mobil ia merogoh mencari ponsel miliknya.


"TURUNKAN AKU ALVENDRA!!! KAU TIDAK PUNYA HAK UNTUK MENGHUKUM KU !!" Teriaknya namun alvendra hanya menulikan pendengarannya saja, ia langsung memasukkan reisya ke dalam mobil di bagian kursi penumpang. Setelahnya alvendra juga ikut masuk kedalam dan langsung mengunci pintu tersebut sehingga reisya tidak sempat untuk membukanya.


"Apa yang kau lakukan sekarang hah !! keluarkan aku sekarang!!" Teriaknya pada alvendra dengan sesekali mencoba membuka pintu tersebut yang sengaja dikunci olehnya.


"Teruslah berteriak sesukamu, malam ini kau akan dihukum sampai kau tidak bisa tidur seperti seharian ini !" Katanya dingin sambil menunjukkan ponselnya yang sudah berisikan pesan terhadap rayya.


Kedua bola mata reisya membola seketika, ia tidak percaya dengan alvendra yang dengan cepat menemukan ponselnya dan menuliskan pesan terhadap rayya sewaktu ia menggendongnya tadi. Melihat bahwa reisya sudah tidak bertingkah alvendra pun segera menjalankan mobilnya keluar dari sana, sementara itu rayya yang tengah menunggu sang adik pun dikejutkan dengan isi pesan yang baru terkirim.


'aku pulang kerumah untuk menginap di sana tidak apa kan?'


Rayya menghembuskan nafasnya lega kemudian berbalik membalas pesan tersebut yang dibaca langsung oleh alvendra.


'baiklah kabari aku jika sampai di rumah'


Dan setelahnya alvendra langsung membuang ponsel reisya kebelakang, reisya hanya terdiam menahan isak tangisnya.


"Kau brengsek !!" Satu kalimat itu langsung menghentikan alvendra dari mengemudikan mobilnya.


"Apa?" Tanyanya untuk memastikan pendengaran nya.


"Kau tidak tuli berandal !!" Ucap reisya tiba-tiba yang mana mengingatkan alvendra akan ucapan sang kakek beberapa jam yang lalu.


"Kau? mengatakan aku apa?" Cecarnya sekali lagi yang mana membuat reisya menoleh menatapnya dengan marah.


"kenapa kau marah? kau memang berandal ! Kau juga brengsek yang berani meniduri adik iparmu sendiri dan berulang kali menidurinya bahkan mengkalim diriku sebagai milikmu seharusnya kata berandal memang cocok untukmu !!" Teriaknya di depan wajah alvendra.


Dengan sisa amarah yang tak dapat di timbun, alvendra langsung menjambak rambut reisya yang membuat gadis itu berteriak dan menatap tajam alvendra.


"Kau mengatakan aku berandal??"


"Kenapa? kau marah?? KAU MEMANG BERANDAL YANG BRENGSEK!! AARRGGH" Teriak reisya ketika alvendra semakin kuat menjambak rambutnya sehingga kepalanya semakin mendongak.


"Kau bilang aku meniduri dirimu? lalu siapa duluan yang meniduri kakak iparnya hah !! Dan kau masih berani berkata sombong meski kau tidak tahu apa kesalahan mu??"

__ADS_1


"Yang kulakukan hanya mencoba melindungi saudariku dari dirimu yang bisa saja seperti ini padanya !!" Teriaknya yang membuat alvendra tersenyum miring.


"Rupanya kau perlu ku displinkan dengan cara lain agar kau patuh. Kau sepertinya lupa jika kau memang milikku sehingga berani berciuman dengan bajingan tengik tadi hah !!"


"Heh... setidaknya bajingan itu tidak pernah berperilaku sebajingan dirimu !!" Makinya yang membuat alvendra tertawa keras di hadapannya.


"Kupikir ini saatnya memperlakukan dirimu seperti wanitaku!! Kau terlalu banyak berkata tidak sopan pada priamu. Kukira aku akan menghukum dirimu dengan cara baik dengan menyetubuhi dirimu malam ini di hotel akan tetapi aku salah, kau sudah bermain terlalu jauh sayang jadi aku harus kembali mendisiplinkan dirimu."


"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanyanya dengan menatap tajam alvendra.


"Hahahaha tentu saja menghukum mu. Sepertinya bercinta di sini akan sangat menggairahkan !!" Ucapnya dengan nada berat dan tatapan penuh kilat nafsu.


"Apa?" Tanyanya tidak percaya.


"Hmm...bersiaplah untuk tidak tidur rei karena seperti kataku tadi. Aku tidak akan membuat mu tertidur malam ini seperti kau yang bersenang-senang sepanjang hari ini !!" Ucapnya sengaja di sebelah telinga reisya.


Tubuh reisya langsung terdiam begitu saja, rasa berani yang tadi menempel pada dirinya lenyap tak bersisa digantikan dengan ketakutan yang luar biasa. Alvendra langsung meraup paksa bibir reisya, menciumnya dengan ganas seolah bibir tersebut adalah candu baginya. Ia berusaha untuk menjauhkan tubuh alvendra namun karena posisinya yang tidak menguntungkan ia terpaksa hanya bisa mencakar kursi yang ia duduki, kedua air matanya lolos ketika alvendra mulai menelanjangi dirinya. Ternyata apa yang dikatakan alvendra memang sungguh ia lakukan saat ini. Setelah puas dengan bibir miliknya alvendra segera keluar dari dalam mobilnya kemudian lantas berjalan menuju ke arah dimana reisya duduk.


"Lepaskan !!! lepaskan aku !!!" Teriaknya yang meronta ketika alvendra berdalih menuju ke kursi belakang penumpang.


Dibukanya pintu mobil tadi dan langsung mendorong tubuh reisya sehingga gadis tersebut jatuh tertidur. Ia menengadah menatap pantulan wajahnya di kaca mobil itu, menatap wajahnya yang asing tanpa memperdulikan bahwa alvendra sudah menelanjangi seluruh pakaiannya.


.


.


.


.


"Bereskan kekacauan yang kubuat !!" Pintanya yang kemudian menutup sambungan ponselnya.


Ia langsung membuang ponsel miliknya kemudian menyenderkan kepalanya dan memejamkan mata. Dua puluh menit kemudian mobil sedan lain datang di samping mobil alvendra, pria itu yang mengetahui jika ada mobil yang datang pun segera membuka mobilnya dan keluar untuk bertemu dengan orang tersebut.


"Kau sudah membawa apa yang ku maksud bukan?" Tanyanya pada Sean yang mengangguk.


"Suruh petugas hotel untuk menaruh pakaiannya di kamar. Aku sudah check in begitu sampai di sini, dan bereskan pakaiannya yang berserakan."


"Baik tuan !!"


Alvendra pun segera membuka kursi penumpang dan saat itu Sean terkejut melihat bagaimana reisya tertidur hanya dengan terselemuti oleh jas kerja milik alvendra.


"Kau bisa menjaga pandangan mu sean !!" Katanya yang mengetahui jika bawahan itu menatap gadisnya.


"Apa anda serius jika anda sudah....."


"Ya. Dan ini bukan pertama kalinya aku meniduri dirinya, sekarang pergilah antar bajunya ke dalam kamar !" Suruhnya yang kemudian segera dikerjakan oleh Sean.


Alvendra segera mengangkat tubuh reisya dan membawa gadis itu untuk segera masuk kedalam hotel. Untung saja ini sudah larut malam jadi tidak banyak petugas ataupun tamu lain yang berkeliaran melihat bagaimana alvendra membawa seorang gadis dengan keadaan yang bisa dibilang memprihatinkan. Sesampainya di dalam kamar yang sudah alvendra pesan ia pun menidurkan reisya dan menyelimuti gadis tersebut, sementara dirinya hanya duduk di kursi dan menatap lurus dalam diam wajah reisya.

__ADS_1


.


.


.


Sementara itu Sean yang membereskan sisa potongan baju milik nonanya hanya bisa mengasihinya dalam diam. Ia sedikit bingung dan heran akan tuannya yang bahkan bisa dikatakan melakukan **** yang begitu kasar untuk gadis seusia nonanya. Melihat bagaimana baju reisya yang sobek serta darah di area kursi itu menunjukkan pasti alvendra marah besar sehingga melampiaskan nya pada **** yang amat kasar kepada reisya. Namun kembali lagi dia hanya bawahan yang setia yang harus menutup mata dan telinga seolah hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya.


Pagi datang dengan menampilkan cahaya terbaiknya untuk membangunkan seluruh umat manusia agar mengerjakan aktivitas paginya hari ini. Perlahan kedua mata reisya terbuka, ia diam sejenak sambil mengumpulkan seluruh nyawanya sebelum ia sadar jika ia berada di ruangan yang sangat asing. Ia pun segera bangun dan menatap seluruh isi kamar tersebut, dia masih bingung mengapa dirinya ada di dalam kamar yang aneh ini sebelum pintu lain terbuka dan membuat reisya tak terkejut sama sekali. Batinnya mengapa ia begitu bodoh sampai lupa jika semalam dia dan alvendra sudah mengulangi lagi malam yang tak seharusnya terjadi.


"Pergilah mandi setelah itu makanlah kita akan pulang setelah kau selesai". Katanya tanpa beban sama sekali yang hanya di tanggapi acuh oleh reisya.


"Aku harus pergi ke sekolah sekarang!" Ujarnya dengan nada dingin.


"Kau sudah aku izinkan" Jelasnya yang membuat kedua mata reisya membulat.


"Apa !!" Teriaknya kala mendengar apa yang baru saja alvendra katakan.


Alvendra pun lekas berbalik dan menatap datar kepada gadisnya atau lebih tepatnya sudah menjadi wanitanya.


"Kenapa terkejut? apakah kau memiliki janji akan di jemput oleh bajingan itu?"


"Kau membaca isi pesanku !!!"


"Lantas mengapa? kau adalah milikku dan juga kau sudah aku izinkan ke sekolah mu. Lagipula apakah kau bisa berjalan?" Katanya yang mana membuat emosi reisya segera terpancing seketika lantas ia membuka selimut yang membungkus tubuhnya hendak berdiri namun rasa nyeri tiba-tiba saja langsung menghantam kewanitaannya sehingga ia terjatuh kembali di atas ranjang.


"Apa?....apa yang semalam kau lakukan padaku hah !!" Teriaknya sambil memandang alvendra yang memakai pakaian kerjanya.


"Bercinta kau tau itu" Ucapnya dengan enteng yang membuat hati reisya kembali terluka.


Alvendra berbalik dan seketika reisya langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tadi. Pria itu berjalan mendekat kearahnya dan berhenti ketika melihat sikap reisya yang konyol baginya, ia menaikkan sebelah alisnya ketika melihat wanitanya menatap benci padanya.


"Tak perlu lakukan hal itu aku sudah berulang kali melihatnya bahkan mencicipinya." Katanya yang mana langsung membuat tangan reisya terkepal.


Suara nyaring terdengar begitu keras ketika satu tamparan berhasil mengenai pipi kanan alvendra, pria itu terkejut sejenak kemudian tersenyum. Ia menatap wanitanya kemudian segera kembali berdiri dengan tak lupa menaruh handuk yang tadi ia bawa ke samping tempat reisya kemudian berjalan menjauh untuk mendudukkan dirinya di sofa di depannya yang sengaja menghadap kearah tempat tidur.


"Aku tidak akan marah karena tamparan mu kali ini karena aku sedang memaklumi keadaan dirimu yang sedang sakit. Aku akan lebih lembut padamu dan....." Katanya yang kemudian kembali berdiri untuk berjalan mendekati reisya.


"Aku ingin minta maaf untuk yang semalam, sayang......" Ucapnya yang membuat reisya ketakutan seketika.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2