PRISON

PRISON
0:25 kidnapped?


__ADS_3

Rayya sudah menyiapkan sarapan dengan berbagai macam lauk, ia mengelap kedua tangannya kemudian melirik keatas. Dengan perlahan ia menaruh lap yang tadi ia pegang dan berjalan menaiki tangga hingga dirinya sampai di depan pintu bercat coklat di sebelah kirinya.


Suara ketukan terdengar ketika rayya mengetuknya secara perlahan


"Rei sarapan sudah siap kau tidak ingin turun?" Tawar rayya sambil kembali mengetuk pintu tersebut.


Tak ada jawaban dari dalam membuat rayya kembali mengetuk pintu itu


"Rei...?" Panggilnya lagi sebelum hendak mengetuknya kembali namun terhenti ketika pintu tersebut sudah terbuka.


"Maaf aku tidak mendengar mu aku tadi sedang berganti pakaian." Jelasnya kepada rayya. Reisya segera keluar dari dalam kamar dan menutup pintu tersebut, ia berbalik menatap wajah sang saudari.


"Ayo kita sarapan, aku sudah lapar." katanya yang kemudian segera berjalan meninggalkan rayya, namun ia kaget ketika pergelangan tangannya dicekal oleh rayya.


"Kau kurang sehat rei kau sakit lagi?" Ucap rayya khawatir dan melihat wajah reisya yang bisa dikatakan sedikit berbeda, kantung mata tercetak begitu jelas dengan warna hitam di sekitar wajahnya serta mata merah di area lensa kornea miliknya.


"Ah itu semalam aku tidak bisa tidur, aku terbangun tengah malam dan setelahnya aku begadang." Jelasnya yang tentu saja sebagian benar dan sebagian salah, rayya menatap ala keibuan terhadap reisya.


"Baiklah kalau begitu ayo sarapan kakak buatkan makanan kesukaan mu" Katanya yang kemudian mengajak yang kemudian berjalan beriringan menuju ke meja makan.


Sesampainya di meja makan, reisya duduk dengan perlahan. Di tatapnya sang saudari yang menuju ke dapur untuk mengambil sesuatu sebelum dirinya juga ikut untuk duduk di meja makan tersebut.


"Bukankah ini terlalu banyak untuk sarapan?" Ucapnya tiba-tiba ketika melihat banyak sekali makanan yang ada disana. Sejenak rayya terdiam dan menatap sendu ke meja tersebut.


"Alvendra..." Katanya yang mendapat tatapan dari reisya.


"Dia tidak ikut sarapan, pagi pagi sekali tadi dia sudah pergi untuk urusan pekerjaan nya dan kemungkinan ia akan kembali malam nanti." Ujarnya yang membuat wajah reisya tampak sedikit berbinar ketika mendengarnya.


"Baiklah ayo sarapan sebelum semuanya dingin." Ajak rayya yang ditanggapi senyuman oleh reisya.


"Ah ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu Rei". Ucapnya yang ditanggapi reisya dengan tatapan serius.


.


.


.


.


.


Usai sarapan tadi reisya ikut membantu membereskan semua peralatan makan tadi dan menatanya dengan rapi, ia hendak kembali kedalam kamar sebelum ponselnya berdering dan membuat niatnya urung. Di lihatnya ponsel tersebut jika arsen tengah menelponnya, dengan cepat ia menjawab panggilan tersebut.


"Halo ar ada apa?" Tanyanya.


"Kau ada waktu?" Tanya arsen dari ujung telepon tersebut.


"Saat ini?"


"Seharian ini jika bisa !"


"Entahlah aku sedang tidak enak badan tapi jika untukmu aku ada" Ucapnya yang tersenyum setelahnya.


"Baiklah aku akan menjemputmu" Dan sambungan telepon pun terputus, reisya segera berjalan menuju kedalam kamarnya untuk bersiap.


Sesampainya di dalam kamar ia segera membuka lemarinya, di tatapnya seluruh baju yang ada di sana. Jemarinya terulur untuk memilah beberapa baju yang ada di sana hingga tangannya berhenti pada baju yang dirasa pas untuk segala hal. Ia mengambilnya dan segera berjalan menuju kearah cermin untuk berkaca, ia tersenyum ketika pilihannya pas namun sedetik berikutnya senyuman tersebut luntur. Ia teringat akan sesuatu sehingga ia pun memutuskan untuk menaruh bajunya di atas ranjang, ia segera menggeledah seluruh pakaiannya untuk mencari sesuatu. Setelah mendapatkan benda yang ia cari, ia pun segera mengeluarkannya namun sebelum melakukan hal yang dia inginkan ponselnya terlebih dahulu berbunyi membuatnya mengurungkan sebentar kegiatannya.


"Halo arsen kau sudah sampai?" Tanyanya secara langsung.


"Bahkan sudah bertemu dengan saudarimu".


Reisya sedikit terkejut, "Aku akan siap dalam tiga menit" Ucapnya yang segera meninggalkan hal yang ia ingat tadi.


Arsen tersenyum dan mengakhiri panggilan tersebut ketika rayya tiba dengan secangkir teh hangat untuknya.


"Anda tidak perlu repot-repot seperti ini kakaknya reisya"


"Kau terlalu sopan untuk seorang kekasih adikku" Godanya yang ditanggapi kekehan dari arsen.


"Hei.. mana mungkin saya tidak sopan pada calon kakak iparku." Ucapnya yang mendapatkan kekehan dari rayya.


"Aku hampir tidak percaya tadi ketika kau datang dan berkata jika kau adalah kekasih adikku. Kau tau reisya itu selalu jarang berteman dengan pria. Aku hampir berpikir jika dia tidak akan pernah mendapatkan kekasih" Jelasnya kepada arsen.


"Dan sekarang anda tidak perlu khawatir lagi karena kekasihnya sudah di sini" Ucapnya yang dibalas tawaan oleh rayya.


Ketika mereka sedang asyik tertawa bersama reisya sudah tiba di bawah dan memandang keduanya heran.


"Maaf karena lama" Ucapnya yang memecah suasana di sana.


"Lihat kekasih mu sudah tiba" Ucap rayya yang ditatap bingung oleh reisya sendiri.


"Kalau begitu boleh jika saya membawa reisya pergi untuk seharian ini?" Tanyanya pada rayya.


"Baiklah hati-hati dan rei jika kau merasa tidak enak badan kembali pulang saja hm?" Pinta sang kakak yang dibalas anggukan oleh reisya.


"Kalau begitu aku berangkat dulu kak" Pamit reisya yang dibalas anggukan oleh rayya.


.


.

__ADS_1


.


.


Sesampainya di luar reisya dibuat terkejut dengan arsen yang sudah terlebih dahulu membukakan pintu mobil untuknya.


"Kau sudah legal?" Tanya reisya terkejut.


"Aku sudah 18 tahun kau ingat? dan mendengar jika kau sedang tidak enak badan maka ku putuskan untuk membawa kendaraan ini" Ujarnya yang dibalas senyuman oleh reisya sendiri, lantas ia masuk kedalam.


Begitu reisya masuk arsen pun juga ikut masuk untuk mengemudikan kendaraannya untuk keluar dari area apartemen tersebut tanpa keduanya ketahui jika ada mobil lain yang juga berjalan di belakang mereka.


"Jadi kemana kita akan pergi?" Tanya reisya kepada arsen yang menatap lurus jalanan.


"Tentu saja ke tempat yang sangat menyenangkan" Ucap arsen penuh misteri yang membuat reisya bertanya-tanya.


.


.


.


.


.


Di perusahaan cabang, alvendra tengah melihat berkas yang ada di tangannya. Dilihatnya dengan teliti sambil melirik kearah mall tersebut. Bisa dikatakan jika pekerjaan alvendra tak terbatas hanya pada kebutuhan proyek dan sebagainya melainkan seperti industri mall atau agensi film lainnya semuanya adalah miliknya ketika ia berpeluang untuk menanam investasi atau bahkan membeli sahamnya. Kedatangannya di mall tersebut tentu menyita perhatian semua orang di sana termasuk para wanita, apalagi melihat bagaimana alvendra terlihat bagaikan pria idaman.


"Bagaimana dengan pendapatannya selama tujuh tahun terakhir?" Tanyanya kepada direktur mall tersebut dan menyerahkan catatannya kepada sang sekretaris.


"Untuk pendapatan kita memiliki angka yang memuaskan tapi untuk angka kepuasan terhadap produk yang ada di sini sedikit turun tujuh persen". Jelas sang direktur tadi.


Alvendra mengangguk sebentar, "Tingkatkan untuk bagian kepuasan pelanggan karena kunci utamanya adalah mereka. Jika mereka semakin tertarik dengan barang baru maka banyak yang akan kemari."


Alvendra pun segera berjalan mengelilingi mall tersebut untuk melihat-lihat diikuti dengan beberapa bawahan yang ada di sana.


"Apa yang membuat mereka sedikit kekurangan minat pada produk yang ada di sini? bukankah ini mall paling lengkap di kota ini?"


"Menurut apa yang saya pelajari beberapa dari mereka sedang tertarik dengan beberapa brand ternama" Ujar Sean sambil melihat isi tabletnya, alvendra pun berhenti berjalan dan itu sukses membuat semua pegawai yang mengikutinya lantas berhenti karena terkejut.


"Brand?"


"Benar tuan"


"Bukankah di sini ada beberapa brand ternama seperti Gucci, Louis Vuitton dan brand lainnya?" Ujarnya terheran.


"Hanya tiga puluh persen dari tujuh puluh orang yang membeli brand tersebut". Jelas Sean yang mendapati tatapan alvendra.


Sesudahnya ia menginspeksi mall tadi alvendra segera meneruskan perjalanan nya untuk membereskan seluruh schedule nya hari ini. Sementara itu reisya dan arsen sudah sampai di tempat tujuan, reisya tersenyum ketika mereka tiba.


"Kau mengajakku menonton?" Tanyanya yang membuat arsen tersenyum.


"Kau suka?" Tanyanya yang mendapat anggukan antusias dari reisya.


"Cukup sulit untuk mendapatkan tiket ini jadi aku merasa senang jika kau juga senang"


"Terimakasih ar, aku sangat senang sekali, kalau begitu ayo kita segera masuk sebelum filmnya dimulai" Ajaknya yang segera berjalan meninggalkan arsen yang hanya menatap lucu kepada reisya.


"Lucunya...." Tuturnya yang juga menyusul reisya.


Mereka berdua menghabiskan waktunya untuk menonton film terbaru dari Avatar the way of the water. Sebuah film yang dinanti masyarakat di seluruh dunia, reisya tak berhenti menatap kagum dengan sesekali tertawa bahkan ikut menangis di kejadian terakhir film tersebut. Arsen yang meliriknya hanya tersenyum simpul sambil menggenggam tangannya tanpa ada kata lelah, ia hanya suka sekali memegang tangan mungil itu seperti memiliki kesan nyaman baginya.


"Kenapa kau masih menangis? kau lihat Jake dan neytiri masih bisa menemui anaknya lagi bukan?" Ucapnya sambil mengelus pergelangan tangannya.


"Hiks, tetap saja itu hanya sebuah kenangan. Neteyam tidak seharusnya meninggal seperti itu dan hanya meninggalkan kenangan saja, itu terlalu tidak adil baginya yang selalu melindungi seluruh keluarganya". Jelasnya yang masih sesenggukan.


"Mungkin tugas itu terlalu berat untuknya sebagai tanggung jawab anak tertua, maka sebab itu ia melepas tanggung jawab itu terhadap adiknya untuk menjaga seluruh keluarganya. Neteyam mungkin anak yang cerdas kebanggaan ayahnya namun dia terlalu menaati aturan sehingga ia lalai dalam menjaga dirinya sendiri dan juga gagal dalam memahami saudara-saudara nya, sementara lo'ak? dia mungkin biang onar dan suka sekali melanggar aturan ayahnya. Namun dari itu semua bisa menjadikan lo'ak pribadi yang pemberani dan berpikiran lebar ia juga lebih mengerti sesama dan itu menunjukkan kedewasaannya sehingga ia dapat menunjukkan jati dirinya dengan caranya sendiri meski ia selalu dikecewakan dan dipandang remeh oleh orang di sekitarnya." Jelas arsen panjang lebar yang seketika membuat reisya berhenti mengeluarkan air matanya.


Ia tersenyum kemudian menyeka bekas air mata tersebut, ia kembali menggenggam tangan arsen yang semula memegangnya.


"Baiklah tuan pintar, bagaimana kalau sekarang kita pergi dari sini karena ruangan ini sudah mulai sepi?" Ajak reisya yang mana arsen pun segera melirik ke sekitarnya.


"Kau benar bisa-bisa kita akan digrebek oleh satpol PP!!" Celetuk arsen yang mengundang tawa dari reisya.


Di luar dekat dengan area loby terdapat seorang pria tengah berjalan mondar mandir sambil berjalan dengan menenteng majalah di dekat wajahnya yang terlihat sedang menunggu seseorang.


"Kau tahu? satpol PP tidak akan menggrebek tempat seperti ini ! Lagipula ini adalah bioskop bukan tempat judi" Ujar reisya begitu keluar dari ruangannya, seketika orang tadu langsung mengambil posisi dan berpura-pura tidak terjadi apapun.


"Haha baiklah-baiklah aku mengaku kalah" Kini giliran arsen yang menjawab dan itu sukses membuat keduanya tertawa terbahak sepanjang jalan mereka keluar dari bioskop tadi.


Pria dengan jaket hitam tersebut pun lantas menaruh kembali majalah yang tadi dirinya pegang untuk kemudian menyusul mereka berdua. Sementara itu kini arsen dan reisya sudah berada di dalam mobil hendak menuju ke perjalanan berikutnya.


"Jadi selanjutnya?" Tanya reisya yang mendapatkan tatapan bingung dari arsen.


"Katanya lo mau ajak gue seharian lalu selanjutnya kemana?" Tanyanya lagi yang membuat raut wajah arsen segera teringat.


"Ah ya hampir lupa gue, tempat selanjutnya adalah kita isi perut dulu habis itu tempat yang pengen lo datengin banget !" Katanya dengan nada senang namun membuat reisya bertanya-tanya dalam benaknya.


Arsen pun menjalankan mobilnya untuk mencari tempat beristirahat sebentar demi mengisi perut mereka yang berbunyi, ini sudah siang asalkan kalian tahu. Tentu saja perut mereka meronta berteriak meminta untuk di isi makanan, apalagi tadi reisya terus menangis ketika film sudah mencapai bagian akhir. Selama beberapa menit perjalan akhirnya mereka berdua tiba di sebuah cafe mini yang sangat ramai oleh pengunjung, arsen pun segera keluar dengan tidak lupa juga membukakan pintu reisya.


"Arsen apa-apaan ini?" Tanyanya setengah terkejut.

__ADS_1


"Hehe kau terkejut ya? gue tau kok lo pengen banget ke sini sama ailin. But karena gak sempet jadi gantian gue yang ngajak" Terangnya yang mana langsung membuat senyum terbit terpancar dari bibir reisya.


"Yuk masuk keburu kita nggak kebagian tempat !!" Ajaknya yang langsung menggandeng tangan reisya untuk masuk kedalam tanpa tahu jika ada seseorang yang sedari tadi mengikuti dan memotret mereka.


Sementara itu dilain tempat yang cukup jauh alvendra masih sibuk dengan urusan bisnisnya terutama dalam menghadapi beberapa rapat kecil di siang ini sebelum melanjutkan perjalanan lainnya dengan beberapa direktur dan CEO besar perusahaan lain. Sesekali ia melirik kearah Sean yang tenga menjelaskan beberapa hal yang sudah di sampaikan oleh alvendra, sementara pria itu hanya diam dengan menatap ponsel yang tergeletak di atas mejanya. Ia berdalih memalingkan muka menatap pantulan dirinya melalui jendela di sebelah kirinya, di tatapnya tajam netra elang miliknya yang dapat menghancurkan kaca tersebut kapan saja.


Saat ini pikirannya tiba-tiba kalut, ia merasa tidak tenang entah mengapa. Seperti ada yang mencoba untuk menyentuh miliknya yang berharga, ia sedikit khawatir dan itu sungguh menganggu pikirannya. Tanpa alvendra belum ketahui saat ini reisya dan arsen bagaikan pasangan kekasih dengan makan satu porsi mie untuk berdua, mereka berdua saling suap menyuapi makanan panjang tersebut dengan sesekali tertawa karena tingkah konyol yang tidak sengaja terjadi di antara mereka. Dan hal tersebut tidak luput dari seseorang yang memotret mereka sedari tadi.


.


.


.


.


.


Malam tiba, sebuah mobil hitam berhenti terparkir di depan restoran termahal yang ada disana. Pria yang mengemudikan kendaraan tadi segera turun untuk membukakan pintu penumpang tersebut sehingga sepatu hitam mengkilap itu keluar dari dalam sana. Alvendra, pria itu membenahi jas yang ia pakai sejenak kemudian segera berjalan dengan tegas diikuti oleh sean yang berada di belakangnya. Dia berjalan melewati koridor restoran untuk menuju ke ruangan pribadi yang telah dipesan, sesampainya di ruangan yang dituju ia tidak langsung masuk kedalam. Ditatapnya sejenak pintu tersebut dalam diam seperti sedang memikirkan sesuatu sebelum dirinya berucap untuk memberikan titah kepada Sean.


"Pulanglah, aku akan pulang dengan mengendarai kendaraannya !!" Begitulah isi perintahnya yang kemudian mendapati anggukan badan oleh sean.


Alvendra lekas masuk kedalam ruangan tersebut, setelah pintu tadi tertutup ia menatap tajam seseorang yang sudah menunggu dirinya yang juga menatap dingin kepadanya. Seorang pria tua kisaran berumur tujuh puluhan duduk dengan agung penuh aura intimidasi yang kuat namun tak menggentarkan kedua kaki alvendra, ia dengan berani dan penuh percaya diri berjalan mendekati sosok pria itu. Dengan tenang ia duduk menghadap kepada orang tersebut yang juga menatap dingin kepadanya.


"Sudah lama tidak berjumpa....kakek !" Ucapnya ringan yang hanya dibalas tawaan kencang oleh sosok tua yang dipanggil kakek tersebut.


"Dasar bocah sombong! kau pikir kau akan tetap bebas melakukan keinginan mu dan menjadi berandal ??" Ucapnya sambil meminum segelas anggur.


"Rupanya burung elang rumah ini sudah terbang terlalu jauh hingga lupa akan sangkarnya." Ucapnya dengan penuh penekanan yang membuat kedua tangan alvendra terkepal.


"Apa maksud kakek memanggil ku? Apa ada hal yang ingin kakek sampaikan? Jika ada maka bergegaslah aku tidak akan berada lama di sini hanya untuk menunggu kakek ejakulasi."


"HAHAHAHAHAHA, rupanya kau pandai mengasah lidahmu" Katanya yang kemudian menaruh kembali gelas anggur tadi.


"Baiklah aku akan berterus terang kepadamu berandal !". Katanya yang kemudian merubah raut wajahnya menjadi serius seketika.


"Apa kau mencoba untuk menciptakan rumor bagi keluarga alvarez?" Tuduhnya yang hanya ditanggapi alvendra dengan acuh.


"Apa maksud kakek?"


Suara keras terdengar ketika pria tua tadi menggebrak meja dengan kuat namun alvendra masih tetap tenang.


"Jangan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ini berandal !! Apa kau sudah gila dengan membiarkan adik iparmu ikut tinggal denganmu !" Ujarnya yang hanya ditanggapi acuh oleh alvendra.


"Lantas mengapa? istriku sendiri yang memintanya untuk tinggal di sana".


"Bocah aku tahu watakmu seperti apa jadi cepat usir dia dari rumahmu dan bawa rayya ke mansion mu sebagai tanda bahwa dia adalah menantu alvarez !!" Sentaknya yang mana membuat alvendra menatap dingin kakeknya, tiba-tiba saja ia memegang kuat gelas berisi anggur tadi dengan kuat


"Cukup kakek, aku bisa menahan diri dengan semua kelakuan mu akan tetapi tidak dengan urusan pribadiku apalagi dengan keluarga ku !! Aku tidak seperti dirimu yang merusak nama alvarez bahkan sudah mencemarnya."


"Hah ! Kau pikir kau sudah menang hanya karena kau berhasil menjaga nama keluarga mu? Aku selalu tau kebiasaan mu berandal. Untuk itulah aku memanggilmu berandal ! Ingat ini, jika kau tidak segera mengusir adik iparmu dan membawa rayya ke mansion alvarez maka ingatlah. Tangan tua ini akan bergerak untuk membenahi apa yang kau cemari, mengerti !!" Ucapnya penuh dengan intimidasi yang sukses membuat alvendra menggenggam kuat buku jarinya.


"Lakukan sesuka kakek, jika kakek berani menyentuh urusan pribadiku maka tangan tua itu akan hilang sebagai gantinya." Balasnya yang kemudian segera beranjak dari restoran tersebut.


Dengan cepat alvendra berjalan meninggalkan koridor restoran tadi, kedua matanya memerah seiring dengan langkah kakinya yang menjauh dari dalam sana. Sesampainya di parkiran mobil ia segera masuk, di tutup nya pintu tadi dengan kencang sebelum kedua matanya meneteskan setetes air mata yang berisi antara benci, marah dan kecewa yang ada.


"AAAARRGGGH !!!" Teriaknya dari dalam mobil.


Suara nyaring terdengar dari dalam mobil ketika alvendra memukul stri mobilnya untuk melampiaskan amarahnya tersebut hingga buku jarinya terluka dan setelahnya hanya ada isak tangis yang terdengar dari dalam mobil tersebut. Ia menyenderkan kepalanya pada tumpuan setir mobilnya namun sedetik berikutnya sebuah notif pesan masuk kedalam ponselnya, ia menyeka kedua air matanya lantas mengambil ponsel yang berada di dalam saku jasnya. Di bukannya isi pesan tersebut yang kemudian membuat kedua buah bola mata alvendra memanas dengan beberapa isi pesan dan foto antara reisya dengan arsen. Namun diantara banyaknya foto ada satu foto yang membuat amarah alvendra tersulut, yakni foto dimana reisya dan arsen yang mana difoto itu terlihat bahwa reisya dan arsen seakan hendak berciuman meski di foto itu mereka hanya memakan seutas mie panjang.


'Sebelumnya mereka pergi bioskop, cafe dan yang terakhir ke taman ria, saat ini mereka tengah perjalanan pulang !!' Begitulah pesan tersebut.


"BRENGSEK !!" Umpatnya yang kemudian segera menyalakan mobilnya dan melaju kencang meninggalkan area restoran tadi.


.


.


.


.


Malam pukul 20:00 reisya dan arsen tiba, sesampainya di depan apartemen tersebut reisya turun dengan arsen yang membukakan pintunya, diantaranya reisya sampai di depan gerbang apartemen itu.


"Makasih ya ar karena udah nemenin gue seharian ini" Ucapnya dengan senyum yang indah.


"Nggak masalah kok intinya gue pengen buat lo seneng untuk hari ini jadi gue sama-sama buat waktu yang udah lo luangin !!" Ucapnya yang mendapatkan kekehan dari reisya.


"Oh iya besok lo sekolah kan? gue jemput ya !!" Tawarnya.


"Gue berangkat kok santai aja". Balas nya yang mendapatkan anggukan dari arsen.


"Kalau gitu gue pamit duluan ya, jangan lupa sampein salam gue ke kakak lo !!" Katanya yang diangguki oleh reisya.


"Sen tunggu !!" Pekiknya yang mana arsen segera berhenti dan berbalik untuk menoleh.


Satu ciuman mendarat di pipi arsen yang membuat pria tadi mematung.


"Hadiah buat Lo !!" Kata reisya yang masih belum dijawab oleh arsen, karena pria itu sepertinya tengah syok.


"Ah, ya iya oh iya emm gue mau pulang dan kayanya gak mandi seharian ah nggak ah ya pulang dulu Rei !!" Ucapnya secara random karena terlalu kaget akan apa yang baru saja reisya lakukan, sementara dirinya hanya tersenyum melihat perilaku arsen yang salah tingkah terhadap nya.

__ADS_1


Seusai kepergian mobil arsen reisya berjalan masuk melewati gerbang tadi untuk segera naik tidur, namun sebelum dirinya memasuki pintu rumah itu cahaya terang datang dari arah sampingnya yang membuat ia menoleh ke arah kirinya dimana cahaya mobil itu menyorot tepat kearah nya. Mobil yang sudah terparkir itu pun terbuka pintunya dan sepasang sepatu keluar dari sana berjalan mendekati reisya. Gadis itu berusaha untuk melihat siapa orang yang datang kepadanya, hingga saat wajahnya mulai terlihat ia segera membulatkan kedua matanya. Ia hendak segera masuk kedalam rumah tersebut sebelum mulutnya dibekap oleh seseorang.


__ADS_2