
Reisya tersenyum sepanjang waktu di jam pelajaran terakhir itu, berulang kali ia mengecek ponselnya untuk melirik jam disana.
"Tinggal lima menit lagi....hanya lima menit lagi" Begitulah kiranya batin reisya saat ini, hingga disaat-saat menanti waktu pulang tersebut sebuah pesan masuk kedalam ponselnya. Dengan gesit reisya pun langsung mengambil ponselnya dan membaca isi pesan itu, raut tidak suka tercetak dengan jelas kala pesan tersebut dari saudarinya rayya. Dibukanya isi pesan tersebut untuk ia baca dan seketika raut wajah reisya berubah menjadi masam.
*Rei maaf karena tak sempat memberitahu mu pagi tadi karena kau berangkat dengan buru-buru, kakak tak bisa menjemputmu karena ada tugas kuliah untuk persiapan sidang skripsi jadi aku sudah minta tolong kepada alvendra untuk menjemput mu. Mungkin aku akan pulang terlambat atau parahnya mungkin nanti malam kakak tak sempat untuk pulang dan tidur di rumah ayah yang dekat dengan fakultas, maafkan kakak rei....*
Begitulah isi pesan tersebut yang mana membuat reisya seketika menjatuhkan ponselnya kembali di atas meja, moodnya langsung turun ketika membacanya tadi. Ia tidak percaya bahwa rayya akan menyuruhnya pulang dengan alvendra membuatnya teringat akan malam kelam tersebut karena demi apapun alvendra sudah menjadi agoni tersendiri bagi reisya. Ia pun kembali mengambil ponsel miliknya untuk membalas isi pesan tersebut, karena menolak pun sepertinya tak mungkin karena rayya sudah pasti memberitahu alvendra dan pesannya pasti sudah tidak dibalas karena kesibukan rayya sendiri.
*oke* Balas reisya dan setelahnya ia menaruh ponselnya jauh dari hadapannya.
.
.
.
.
.
.
Bel pulang sekolah berbunyi, reisya mengemasi seluruh buku tersebut ke dalam tasnya dengan gestur lesu.
"Gue duluan ya" Ucap ailin kepada reisya yang hanya diangguki lemah olehnya.
Usai mengemasi seluruh bukunya, reisya berjalan keluar dari dalam kelasnya. Entah mengapa tadi di dalam kelas jam pelajarannya terasa begitu lambat bahkan kelasnya pulang paling terlambat dari kelas yang lainnya. Sesampainya reisya diluar ia sudah mendapati keberadaan arsen yang sudah berdiri di depan kelasnya menunggunya sejak tadi mungkin terlihat dari bagaimana arsen yang bermain ponsel sambil mendengarkan musik melalui earphone miliknya. Dengan ragu reisya berjalan mendekati arsen, dengan tangan yang terulur keatas reisya hendak menyentuh sebelah pundak arsen. Merasa di tepuk oleh seseorang arsen pun lekas berbalik, senyuman tipis terukir ketika arsen mendapati kehadiran reisya yang sudah berdiri di belakangnya.
"Udah keluar ternyata" Ucapnya sambil melepaskan earphone miliknya dan langsung menaruhnya ke dalam tas.
"Sorry ya karena udah bikin lo nunggu lama" Maaf reisya kepada arsen lantaran merasa bersalah karena telah membuatnya menunggu dengan lama.
"Nggak papa kok, em kita pergi sekarang?" Ajaknya kepada reisya, namun sepertinya sang empu nampak menunduk dengan kedua tangannya saling mengusap.
"Maaf sebelumnya karena udah bikin lo nunggu lama ar, tapi gue bakalan dijemput sama kakak gue." Ucapnya kepada arsen dengan rasa bersalah yang dalam.
"Sorry banget ya" Tambahnya sambil menatap arsen yang juga masih menatapnya. Arsen, dia tersenyum sambil menepuk kepala reisya dengan lembut.
"Nggak papa kok kalau gitu besok aja nggak papa" Ucapnya masih dengan senyuman yang terpatri di wajahnya.
Reisya mendongak menatap arsen dengan wajah merah, ia sudah merasa bersalah kepada arsen dan arsen masih bersikap lembut bahkan cenderung manis seperti ini itu sungguh dapat membuat reisya salah tingkah sendiri.
"Gue minta maaf banget ya" Tambahnya lagi pada arsen yang hanya dibalas anggukan oleh arsen sendiri.
"It's okay, kalau gitu gue balik duluan ya...bye rei" Ucapnya sambil melambaikan tangannya, reisya hanya tersenyum sembari menatap kepergian arsen yang semakin menjauh di koridor sekolah disana.
__ADS_1
Reisya menunduk menatap layar ponsel yang sedari tadi ia genggam, dilihatnya layar itu mengingat hari sudah pukul 15:25.
"Kira-kira dia menjemput ku jam berapa?"
.
.
.
.
.
.
17:30 Sore hari, reisya masih duduk di salah satu kursi dekat dengan tempat pos satpam berada. Berulang kali reisya melirik ke layar ponselnya yang menunjukkan jam semakin bertambah namun alvendra tak kunjung menjemputnya. Ia juga melihat pesan yang sebelumnya ia kirim kepada kakaknya dan masih belum mendapatkan balasan apapun membuat reisya menghembuskan nafas lelahnya karena sudah hampir dua jam setengah ia menunggu jemputan namun alvendra juga tak kunjung datang.
"Apa sebaiknya aku naik taksi aja?" Gumamnya sambil melirik ke sekeliling sekolah nya yah sudah mulai sepi.
"Lebih baik aku naik taksi saja" Inisiatifnya yang kemudian berdiri dari tempatnya menunggu dan berjalan keluar dari sekolahnya.
Di luar reisya melirik kearah kanan dan kiri jalan raya disana namun sepertinya tidak ada taksi yang lewat membuat reisya mendengus lelah. Ia hendak menelfon sopir milik ayahnya namun mobil hitam berhenti tepat di depannya, reisya menatap tajam mobil yang berhenti di depannya hingga sosok pria berjas hitam turun dari dalam sana.
"Maaf membuat anda menunggu lama nona reisya." Ucap pria tadi, reisya langsung tahu bahwa pria itu adalah sean sang sekertaris bawahan alvendra.
Dengan sedikit ragu reisya pun berjalan mendekat dan masuk kedalam mobil tersebut, seusai reisya masuk sean lantas menutup pintu mobil tadi dan berdalih menuju ke kursi kemudi untuk mengendarai mobilnya. Di dalam mobil reisya hanya diam sambil menatap sean dari kaca di depan sana yang fokus dalam menyetir mobil.
"Ada yang ingin anda sampaikan nona?" Ucap Sean tiba-tiba yang membuat reisya terkaget setengah mati karena sean yang tiba-tiba bertanya, sepertinya pria itu sadar bahwa dirinya di tatap olehnya.
"Em, dimana tuanmu?"
"Maksud anda tuan alvendra?"
"Ya"
"Beliau masih sibuk dengan tugasnya di kantor, saya diutus oleh tuan alvendra untuk menjemput anda."
"Oh, apa dia akan pulang terlambat?" Tanya reisya lagi.
"Sepertinya, anda ingin makan malam apa untuk nanti malam nona?" Tanya Sean kepada reisya yang membuat reisya terdiam.
"Eh?"
"Tuan tidak pernah memasukkan maid ke apartemennya jadi kemungkinan tidak ada lauk untuk makan malam anda, nyonya rayya juga sibuk dengan tugas akhir kuliahnya kemungkinan besar beliau tidak pulang ke apartemen tuan." Jelasnya.
__ADS_1
"Tidak usah, aku bisa memasak sendiri. Di apartemen tuanmu masih ada bahan makanan bukan?"
"Apartemen tuan selalu tersedia semenjak tuan menetap disana, saya sudah memastikan bahannya dengan lengkap selama satu bulan kedepan."
"Kalau begitu aku akan menyiapkannya sendiri tak perlu membelikan ku makanan." Pintanya yang hanya ditatap oleh Sean melalui kaca di depannya itu.
.
.
.
.
.
.
20 menit berlalu, akhirnya reisya pun tiba di apartemen milik alvendra. Sean pun segera pergi menuju kedalam kantor nya setelah mengantarkan reisya di sana, di dalam apartemen itu reisya segera berlalu menuju kedalam kamarnya untuk mandi demi menghilangkan rasa lengket di tubuhnya. Sementara itu di ALV CORP alvendra, pria itu masih menganalisis berkas yang ada di depannya. Ia meninjau grafik keuntungan miliknya dan menarik kesimpulan dari beberapa grafik yang ada disana, di tengah-tengah itu Sean masuk kedalam ruangannya setelah mengetuk pintu.
Ia membungkuk hormat kepada alvendra yang masih menatap berkas di mejanya.
"Kau sudah menyiapkan semuanya kan?" Tanyanya yang masih menatap kertas tersebut.
"Sudah tuan, nona sudah tiba dirumah. Nona juga memilih untuk menyiapkan menu makanannya sendiri".
Seketika alvendra menatap sean dan berhenti melakukan kegiatannya tadi, "Menyiapkan?"
"Benar"
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.