
Malam hari tiba, reisya dan rayya melakukan acara makan malam bersama tanpa kehadiran alvendra. Mereka tentu tahu bahwa alvendra memiliki kesibukan di dalam pekerjaannya, untuk itulah mengapa mereka berdua melakukan acara makan malam ini berdua saja. Untuk rasa nyeri yang reisya alami pun sudah lumayan membaik meski terkadang ia harus berjalan pincang, karena reisya sadar bahwa ia memang tak mengobati bekas luka itu. Di tengah acara makan malam yang nikmat, rayya yang sudah menyelesaikan beberapa suapan makanan miliknya terpaksa menjeda sebentar setelah ada sesuatu yang mengganjal di dalam pikiran nya.
"Rei apakah kau tahu jika sprei yang berada di dalam kamarku berubah?" Tanya rayya tiba-tiba membuat reisya yang semula hendak memasukkan sesendok nasi kedalam mulutnya terpaksa urung. Demi tuhan kenapa dari segi banyaknya pertanyaan mengapa rayya harus menanyakan itu? pertanyaan itu sungguh menganggu reisya, lihatlah kekhawatiran yang jelas di mata reisya.
"Se...sprei?" tanyanya lagi memastikan.
"Ya !! aku ingat waktu itu sprei ya berwarna putih tapi tadi siang sudah berganti dengan warna coklat apakah alvendra menggantinya?"
"Mungkin saja !!" Jelas reisya dengan penuh kepastian yang mana membuat rayya hanya mengangguk paham dan melanjutkan aktivitas makan malam mereka.
Tanpa rayya sadari reisya menatap rayya dengan perasaan bersalah yang mana rayya sendiri tak menyadarinya.
"Maaf karena harus membohongi mu kak !!" Batinnya kemudian segera menyelesaikan acara makan malam tersebut.
22:00 alvendra baru saja tiba dari kantornya, gurat lelah terlihat begitu kentara di wajahnya namun tetap tak menghilangkan ketampanan serta kewibawaannya. Ia tetaplah perfect, sambil berjalan masuk alvendra melepaskan dasi yang terasa melilit lehernya. Ia berjalan dengan biasa menuju kedalam ruangan lain yah bisa dipastikan itu adalah ruangan kerja sekaligus ruangan santai miliknya. Alvendra menaruh jas yang ia bawa tadi dan segera mendudukan pantatnya di sofa yang berada di depan meja kerjanya. Disandarkannya bahu lebar itu, sambil memejamkan matanya demi menghilangkan rasa lelahnya, tubuhnya mulai rileks bahkan nafasnya pun juga teratur daripada saat ia tiba tadi. Di saat dirinya tengah menikmati waktu santainya tiba-tiba saja pikirannya masuk mengenai percintaan panas antara dirinya dengan rayya. Bunyi kecipak kulit mereka yang saling beradu, ciuman ganas yang alvendra lakukan, tanda ruam yang ia tinggalkan di sekujur tubuh rayya tiba-tiba saja memenuhi pikirannya.
"Aahhh..."
Alvendra segera melepaskan satu kancing bajunya ketika suara ******* rayya begitu menggoda. Pikirannya mulai tidak tenang, semakin ia memejamkan matanya semakin dalam pula ingatan malam pertama tersebut terselami. Bagaimana tubuh rayya yang begitu nikmat, melodi gerakan alvendra yang teratur dan jangan lupakan aroma citrus yang menggoda begitu memenuhi otaknya sekarang hingga dengan segera ia membuka kedua kelopak mata tajamnya.
"Sial !!" Umpat alvendra ketika bayangan liar itu semakin menjadi.
__ADS_1
"Sepertinya aku tidak bisa menahannya !!" Tambah alvendra sebelum ia beranjak dari dalam ruangan miliknya menuju kedalam kamar pribadinya.
Di dalam kamar yang sudah redup itu bisa alvendra lihat jika rayya sudahlah tertidur, ia berjalan mendekati ranjang yang ada disana. Ditatapnya lamat wajah damai rayya yang sudah tertidur, bibir mungil yang merekah membuat ingatan malam itu yang sedikit kabur karena gelapnya percintaan waktu itu membuat alvendra panas dingin. Dengan segera ia berjalan menuju kedalam kamar mandi berniat untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum ia melakukan sesuatu kepada rayya. Selama lima belas menit kemudian pintu kamar mandi terbuka menampilkan alvendra dengan balutan piyama mandi dengan dadanya yang terlihat begitu seksi jika ada yang menatapnya.
Perlahan alvendra berjalan mendekati rayya sang istri, ia duduk di sebrang nya menatap dalam-dalam sambil tangannya yang bergerak dari bawah paha rayya menuju ke lengan atas sang istri. Kepalanya ia dekatkan menuju rambut rayya, seketika aroma bunga menyeruak kedalam rongga penciuman alvendra. Sejenak mata alvendra langsung menajam seperti ada sesuatu yang lain, namun ia segera mengacuhkannya kemudian ciuman nya berdalih ke arah leher rayya. Disaat hendak mencium permukaan leher tersebut kembali lagi indra penciuman alvendra menangkap sesuatu yang aneh.
"Vanilla?" Batinnya sambil menatap lamat rayya yang masih tertidur pulas.
Keesokannya alvendra sudah bersiap di depan cermin di dalam kamarnya, ia membenahi dasi miliknya yang sebelumnya terpasang miring. Di sana ada juga rayya yang habis menyiapkan sarapan untuk suaminya datang kedalam kamar hanya untuk membereskan semua benda-benda yang ada di sana.
"Turunlah dan sarapan aku sudah menyiapkannya !!"
"Hm" Gumam alvendra.
"Mengenai seprai ini..... terima kasih !!" Ucap rayya tiba-tiba yang mana langsung membuat kegiatan yang semula alvendra lakukan menjadi terhenti. Ia menatap rayya dari balik cermin di depannya, alvendra dia mengangkat sebelah alisnya seolah bingung dengan pertanyaan yang diajukan rayya tadi.
"Maksudmu?" Tanya balik alvendra.
"Maksud ku adalah terima kasih karena telah mau menggantinya, aku tidak sempat waktu itu jadi maafkan aku !!" Jelas rayya.
Alvendra semakin dibuat tidak paham dengan ucapan rayya bukankah seharusnya yang mengucapkan itu adalah dirinya? alvendra. Mengapa juga rayya berkata demikian dan apa itu ia tak sempat?. Ucapan itu semakin membuat alvendra menatap bingung rayya, ia pun segera berbalik menatap sang istri yang masih sibuk dengan merapikan tempat tidur tersebut.
__ADS_1
"Ray...." perkataan nya terpotong ketika rayya terlebih dahulu berbalik menatap alvendra dan berbicara kepadanya.
"Jika sudah selesai turunlah dan sarapan dengan kami !!" Dan setelah mengatakan itu rayya segera keluar dari dalam sana meninggalkan alvendra dengan sejuta pertanyaan yang ada.
Di meja makan saat ini terlihat bahwa rayya dan reisya tengah duduk menanti kehadiran satu orang untuk melengkapi acara sarapan bersama mereka. Alvendra, pria itu adalah orang yang di tunggu sedari tadi hingga beberapa detik kemudian datanglah alvendra dengan ekspresi wajahnya yang masih sama yaitu dingin. Sesampainya alvendra di meja makan semua orang langsung memulai acara sarapan mereka, bahkan rayya pun juga menyiapkan sarapan untuk suaminya. Disaat menunggu rayya menghidangkan sarapan miliknya secara tak sengaja atensi alvendra tertuju kepada reisya yang berada tak jauh darinya itu juga duduk diam sambil memakan roti sandwich miliknya dengan nyaman tanpa gangguan sedikitpun.
Ditatapnya lama wajah cuek itu, alvendra memang sedikit kesal dengan reisya karena tamparan sebuah ucapan yang reisya layangkan padanya hingga membuat alvendra tak bisa membalas lagi. Namun dilain itu ada sebuah aura aneh yang begitu kentara di sekitarnya yang membuat alvendra sedikit tertarik untuk menatap wajah adik iparnya itu. Dari pertama mereka bertemu saja reisya sudah menunjukkan ekspresi tajam miliknya yang setajam bilah pedang, ditambah raut wajahnya yang sedikit malas bertemu dengan dirinya membuat alvendra diam-diam juga mulai melirik reisya. Anak itu sepertinya memiliki sebuah benteng yang sangat tinggi agar alvendra tak menjangkau nya? karena demi apapun ekspresi yang selalu reisya tujukan padanya adalah tidak peduli.
Lupakan soal bagaimana aura yang ada di sekitar reisya. Mari membahas tentang saat ini dimana setelah rayya menyajikan sarapan tadi segera ia duduk di meja makan bersebrangan dengan sang adik yang juga duduk di hadapannya, hanya alvendra lah yang duduk di ujung sebagai tanda bahwa dirinya adalah pemilik rumah ini.
"Aku selesai, kak aku berangkat terlebih dahulu ya !!" Suara reisya memecah seluruh meja makan yang mana membuat rayya dan alvendra segera menatap reisya yang mulai beranjak dari kursi meja makannya.
"Hati-hati saat berangkat rei!!" Teriak rayya kepada sang adik yang mana hanya dibalas acungan jempol dari reisya.
Selama berjalan meninggalkan meja maka tadi pandangan alvendra terus menatap kepergian reisya dari atas hingga bawah. Tatapannya masih terus menatap dengan lamat kepada sang adik ipar hingga dirinya menghilang dibalik dinding di depannya, sementara itu ia langsung kembali berbalik menatap rayya sang istri yang juga tengah sibuk menyelesaikan sarapan miliknya. Alvendra ia menyuapkan sepotong tomat kedalam mulutnya, menguyah sambil melirik rayya sebelum ia berujar kepada sang istri.
"Bisa tolong buatkan aku kopi rayya?" Pintanya yang mana membuat rayya terdiam sejenak sebelum mengiyakan permintaan sang suami.
"Baiklah"
Rayya pun segera berdiri dari tempat duduknya berjalan menuju ke dapur untuk membuat kan alvendra segelas kopi sesuai permintaan nya tadi dan dari situ alvendra langsung menatap dingin kepada rayya. Manik hitam jelaga miliknya menembus dalam kearah rayya dengan sangat menusuk sebelum ia kembali menormalkan dirinya dan melanjutkan aktivitas sarapan nya yang sudah tertunda itu.
__ADS_1