
Tubuh reisya membeku, pertanyaan alvendra benar-benar tidak ia duga.
"Kau sakit? kenapa berjalan seperti itu?" Tanya alvendra dengan tatapan masih datar kepada reisya.
Sementara itu rayya yang mendengar pertanyaan sang suami segera menoleh kepada reisya dengan tatapan khawatir.
"Kau terluka Rei?"
"It....itu" Jawabannya gugup sementara alvendra semakin menatap curiga kepada reisya membuat sang empu meneguk ludahnya dengan amat susah payah.
"Rei...kau tak apa kan?" Tanya balik rayya.
"Ten... tentu aku hanya terpeleset tadi saat mandi." Alibinya yang mana membuat rayya menghembuskan nafasnya lega sementara alvendra hanya diam kemudian segera mengambil sarapannya.
"Kenapa tadi kau tidak mengatakan apapun hm? bagaimana jika lukamu nanti infeksi"
"Tidak apa-apa kak, hanya terpeleset saja paling cuman akan membiru saja." Jawab reisya berharap agar sang kakak itu percaya.
"Baiklah duduk sarapan nanti akan kakak belikan obatnya."
Reisya tersenyum canggung, ia dapat bernafas dengan lega sekarang. Dia selamat, rayya tidak mencurigai dirinya adalah suatu keajaiban untuk reisya. Dia pun lekas ikut duduk di meja makan tersebut bersama dengan alvendra menyantap masakan yang sudah rayya masak tadi, masalah bagaimana tadi rayya dapat bersikap biasa saja tentu saja atas permintaan reisya. Mau bagaimanapun rayya juga tak ingin membuat masalah baru lagi setelah masalah fatal semalam yang sudah ia lakukan, namun lain dari rayya reisya merasa sesak jika harus satu meja makan dengan alvendra.
Ingatan bagaimana keduanya bermalam panas, dan juga reisya yang menggantikan rayya benar-benar membuatnya sungguh tidak nyaman berada di sana. Dan pasal bagaimana hari ini reisya tak sekolah karena ia meminta tambahan cuti karena dia juga lelah setelah membantu acara pernikahan kakaknya dan malam itu bersama alvendra. Setelah acara sarapan tadi alvendra lekas berangkat dikala sekertaris nya sudah menjemput dirinya, ia meninggalkan apartemen miliknya begitu saja menuju kedalam perusahaan besar miliknya.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
ALV CORPORATION
Adalah sebuah perusahaan besar dan ternama yang bergerak di bidang investor. ALV sendiri memasuki jajaran sepuluh investor terbaik dan tersohor di asia dan Eropa, bahkan perusahaan milik yang di pimpin oleh alvendra ini mampu bersaing dengan perusahaan besar Eropa saat ini. Tentu saja usaha CEO muda berusia 23 tahun ini tidaklah sia-sia hingga membesarkan nama perusahaan milik keluarganya hingga ke kancah Eropa.
Kembali ke cerita, sesampainya di dalam perusahaan tersebut alvendra langsung disuguhi dengan banyaknya map serta kertas-kertas yang harus ia tanda tangani dan cek. Ia mendesah pelan, hanya dirinya tinggal kemarin selama satu hari...cetak tebal satu hari ia tak masuk kedalam kantor akan tetapi pekerjaan yang harus ia selesaikan ialah sebanyak ini?. Itu pasti akan membuat dirinya lembur malam ini, ia yakin itu. Diliriknya San sekertaris yang berada di belakangnya sibuk dengan iPad miliknya membuat alvendra merotasi malas.
"Hanya aku tinggal satu hari dan kau tak bisa menyelesaikan ini semua? aku jadi ragu bagaimana caramu menyelesaikan seluruh perusahaan di cabang yang lain !!" sindir alvendra kepada sang bawahan.
Seanus aldario, pria berkacamata tajam itu membenahi benda berbahan kaca itu sambil menatap datar alvendra.
Alvendra menganga tidak percaya, barusan ia ditampar dengan ucapan pedas bawahannya sendiri? tangan kanannya?. Ironis memang, lantaran tak mau kalah dengan ucapan pedas sean alvendra kembali berujar dengan pedasnya.
"Akan tetapi bukankah kau duplikat diriku Sean? keterampilan mu juga luar biasa. Bahkan sangat sulit untuk mendapatkan ganti yang seperti dirimu jadi seharusnya masalah sekecil ini bisa kau atasi bukan?"
"Saya mungkin memang duplikat anda akan tetapi otak saya tidak serata-rata anda tuan !!" Sahutnya tak mau kalah membuat rona merah tercipta di wajah alvendra.
"Dasar bawahan tak tahu diuntung !" Hardik alvendra kesal karena kalah berdebat dengan Sean.
"Saya hargai pujian anda, kalau begitu saya ingin undur diri tuan !!" Final Sean yang kemudian segera membungkuk hormat meninggalkan ruangan alvendra yang menatap tidak percaya akan keberanian sang bawahan itu.
"Fyuh..... untung saja kau berharga Sean !!" Lirih alvendra yang kemudian menatap seluruh isi mejanya.
__ADS_1
"Sepertinya aku akan bercinta dengan kalian sampai malam !!" Sahutnya lagi sambil mengambil map yang ada di sana untuk segera ia kerjakan.
.
.
.
.
.
.
Apartemen pribadi alvendra
Usai acara sarapan tadi reisya lebih memilih untuk mengurung diri di dalam kamar, bayangan kelam akan malam pertama yang seharusnya dilakukan saudarinya malah harus terjadi antara reisya dengan alvendra. Menangis tentu saja, bersalah apalagi itu seakan semua beban itu semakin membuat batin reisya begitu tersiksa ketika mengingatnya. Termenung? itulah yang saat ini tengah reisya alami, ia lebih memilih untuk menghabiskan pagi ini dengan menatap jendela di dalam kamarnya yang menampilkan jalanan ibukota yang padat nan ramai itu. Ia menyenderkan sebelah pipinya di antara kedua lututnya yang menyatu, matanya menatap kosong ke bawah jalanan di luar sana dari ketinggian tersebut hingga sesekali air mata lolos begitu saja.
Sementara rayya? wanita itu sudah pergi mencarikan obat untuk cedera kaki yang reisya alami, dan tentunya itu bukanlah kejadian yang nyata. Cedera kaki itu hanyalah alasan untuk menutupi kebenaran bahwa reisya telah kehilangan mahkota yang paling ia jaga itu. Di saat ia tengah hanyut dalam melodi tenangnya seketika posisi nyaman yang reisya tadi lakukan langsung terhenti. Tubuhnya terduduk dengan tegak, ia ingat jika ada bekas noda itu !! noda bekas percintaan mereka berdua. Dengan segera reisya berlari dengan tertatih menuju kamar sang saudari, sesampainya disana ia segera menarik seluruh selimut yang menutupi ranjang besar tersebut. Dan benar saja, bercak merah itu masih ada, dengan segera reisya menurunkan sprei tadi beserta dengan selimut nya. Langsung saja ia mencuci semua bekas selimut dan sprei tadi dengan tidak lupa reisya juga menggantinya dengan yang baru, menutupi bekas jejak tabu perbuatannya dengan alvendra.
"Akhirnya !!" Ucap reisya dengan lega setelah menyelesaikan segalanya.
Dari arah luar terdengar suara pintu terbuka menandakan jika rayya sudah tiba, dengan secepat kilat reisya keluar dari dalam kamar saudarinya dengan tidak lupa menutup pintu tadi dan segera berjalan kebawah melihat rayya yang mengeluarkan beberapa kotak obat dari plastik yang ia bawa.
"Kakak membeli semua itu?" Tanyanya ketika sudah sampai diruang tamu.
"oh reisya!! ya sekalian untuk berjaga-jaga, ini...." Memberikan sebuah salep kepada reisya yang mana langsung diterima dengan baik oleh reisya.
"Pakai itu agar lebam mu cepat sembuh ya !!"
__ADS_1
Reisya hanya tersenyum getir, andai saja reisya dapat mengatakan yang sebenarnya jika luka yang reisya alami bukanlah jatuh terpeleset di dalam kamar mandi melainkan karena melakukan sesuatu yang seharusnya tak reisya lakukan. Namun reisya tak dapat mengatakan nya, menyesal pun juga sepertinya tak dibutuhkan lagi karena semuanya sudah terjadi dalam waktu sekejap. Yang bisa reisya lakukan hanyalah mencoba untuk mengubur rahasia ini selamanya, ya ia hanya bisa tetap diam dan menutupi segalanya. Ia tak ingin masalah ini sampai diketahui oleh rayya atau lebih parahnya diketahui oleh alvendra, jika salah satu dari mereka tahu sudah dapat dipastikan masalah yang lebih besar akan terjadi. Untuk itulah mengapa reisya bersumpah akan menutupi semua kejadian malam itu, ia akan berusaha untuk melupakan nya seolah kejadian tersebut tak pernah ia alami.