PRISON

PRISON
0:32 Keinginan yang hilang


__ADS_3

Sesampainya di rumah malam itu alvendra tidak langsung masuk kedalam kamarnya. Melainkan masuk kedalam kamar reisya, di sana dia berdiri menatap sang wanita yang tertidur lelap kelelahan akibat aktivitas yang beberapa jam lalu mereka lakukan. Ia duduk di samping tubuhnya dan memainkan ujung rambutnya dengan menatap wajah damainya dengan tatapan berbeda.


"Bagaimana jika kau lepas??" Ucapnya tiba-tiba kepada reisya.


"Aku tak yakin bisa jauh darimu !" Tambahnya lagi.


"Ada apa denganku?" Imbuhnya yang kemudian mencium ujung rambut tersebut yang mengeluarkan aroma wangi elegan.


Sejenak alvendra mencium lama aroma wangi rambut milik reisya sebelum kedua matanya berubah menjadi dingin. Ia segera berdiri dan meninggalkan kamar sang wanitanya untuk segera menuju kedalam kamarnya sendiri yang juga dihuni oleh rayya sang istri. Di dalam ia melihat bahwa rayya masih tertidur dengan nyenyak, ia melangkahkan kakinya untuk mendekati tubuh sang istri dan duduk di sebelahnya menanti sang istri untuk bangun. Sementara itu rayya yang sedikit terusik dengan tidurnya pun terpaksa bangun ketika merasa tidurnya tidak nyaman, ia terkejut ketika saat membuka kedua matanya alvendra sudah duduk di sebelahnya dan menatap dirinya.


"Alvendra....!!" Kagetnya


"Kapan kau sampai?" Tanyanya lagi setelah kesadarannya terkumpul.


"Baru saja, apa kau terganggu?"


"Tidak, apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?" Tanyanya ketika mendapati raut wajah alvendra yang sedikit gusar.


"Ini soal kakekku." Ucapnya untuk mengawali pembicaraan


"Apakah terjadi sesuatu dengannya?"


"Tidak. Tapi ini mengenai masalah keluarga alvarez" Ucapnya perlahan dengan pasti sambil beranjak dari ranjang yang ia duduki.


"Apa ada masalah di keluarga mu?"


"Sedikit..... sebenarnya ini menyangkut soal dirimu rayya".


"Aku?" Tanyanya terkejut ketika namanya terucap dari inti masalah yang dibicarakan oleh alvendra.


"Kakek ingin sekali memboyongmu untuk tinggal di kediaman alvarez dan memenuhi tanggung jawab mu sebagai menantu keluarga disana." Jelasnya yang membuat rayya mulai mengerti tentang arah pembicaraan ini.


Alvendra lekas berbalik menghadap wajah sang istri yang masih setia diam menunggu dirinya kembali berbicara. "Aku ingat betul bahwa kau masih belum siap soal menjalani kewajiban mu, aku bisa menolak kakek akan tetapi itu akan berdampak buruk karena kakekku pasti akan curiga dengan alasan yang selama ini selalu aku gunakan".


"Alasan apa maksud mu?" Tanya rayya tiba-tiba ketika ia mendapati sesuatu yang janggal.


"Sebenarnya hubungan ku dengan kakekku tidaklah begitu baik, aku berulang kali mencoba kabur dari rumah bahkan sampai sekarang inipun. Dan... mengetahui aku telah menikah denganmu sesuai dengan tradisi di keluarga bahwa setiap menantu alvarez haruslah tinggal di kediaman alvarez dan aku selalu mencari alasan setelah pernikahan kita sejak itu."


"Aku memahami dirimu maka dari itu aku ingin meminta pendapat mu, apakah kau setuju untuk pindah di kediaman alvarez? aku tidak akan memaksa dirimu jika kau juga tidak mau. Aku bisa mendiskusikan ulang dengan kakekku supaya kau tidak tertekan dengan masalah ini." Jelasnya dengan tegas yang mana masih didengar baik oleh rayya.


Jujur bagi rayya ia sedikit takut jika harus pindah di kediaman keluarga alvendra, ia masih terbayang-bayang akan situasi pernikahan yang mereka berdua jalani akan tetapi mendengar bagaimana keretakan hubungan antara keluarga itu dan perjuangan alvendra untuk menutupi suasana runyam pernikahan mereka dari keluarganya membuat rayya harus menguatkan dirinya dan memperkukuh jawaban yang ada di hatinya saat ini.


"Rayya..??" Panggil alvendra


"Aku sudah terbiasa di sini, dan untuk di kediaman alvarez mengapa tidak??" Jawabnya dengan senyuman manis.


Alvendra tersenyum simpul kemudian berjalan untuk memeluk rayya, namun tanpa rayya ketahui di saat itu alvendra bukanlah tersenyum senang akan keputusan sang istri melainkan senyuman akan hal lain yang tentunya lebih mengerikan.


"Rayya, aku ingin tahu apakah besok pagi kita bisa menghantarkan reisya pulang? sudah lama juga kau tidak mengunjungi orang tuamu pasti cukup menyenangkan untukmu". Ucap alvendra ketika melepas pelukan antara dirinya dengan sang istri.


"Tentu, terima kasih !!" Balasnya yang hanya dibalas senyuman kecil oleh sang suami.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Keesokannya reisya terbangun dari tidurnya dengan tubuh yang terasa remuk luar biasa. Sejenak ia masih di posisi sama ketika tidur sebelum alarm dari ponselnya berdering sehingga membuat dirinya segera mencoba untuk bangun dari posisi tidurnya saat ini. Ia menyingkap selimutnya lalu mengenakan jubah mandinya kemudian berjalan perlahan menuju kedalam kamar mandi. Di depan wastafel ia menatap pantulan dirinya, dilihatnya wajah sendu tak seperti biasanya, raut wajah itu begitu asing bagi dirinya. Perlahan kedua tangannya melepas jubah mandi yang ia kenakan, tubuh telanjang tersebut sungguh asing bagi reisya. Perlahan kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri ketika indra penciuman miliknya menangkap aroma yang sangat ia benci.


Dengan lunglai ia berjalan menuju ke bilik mandi, menghidupkan shower disana untuk mengguyur tubuhnya. Ia menunduk dalam sebelum kedua tangannya menyibakkan rambutnya yang basah lalu menengadahkan kepalanya dengan mata terpejam untuk menikmati air dingin tersebut yang mengalir turun di tubuhnya. Ia membuka kedua matanya dan setelah itu impian yang selama ini ia inginkan terwujud, ia lepas dari jeratan alvendra ketika mengetahui jika alvendra akan pindah dan tinggal di kediaman alvarez yang berarti pria itu akan sangat, sangat jauh darinya. Ia bahagia ketika tahu jika ia akan terlepas dari bayang-bayang alvendra setelah rayya memberitahu nya ini.


Mereka bertiga pun meninggalkan area apartemen tersebut menuju ke rumah alterio setelah sekian lama, reisya sungguh rindu dengan rumah kecil tersebut yang mana ia rindu dengan rumput hijau di taman pribadi miliknya serta kolam renang khusus untuk dirinya. Ia rindu dengan semua hal manis tersebut yang akan ia cecap kembali tanpa tau di sepanjang perjalanan di dalam mobil tersebut alvendra terus menatap sang wanita yang asyik tersenyum menatap kearah jalanan yang mereka lalui. Di sana alvendra tersenyum miring ketika melihat wanitanya tampak bahagia ketika jauh darinya tanpa tau jika ia sedang merencanakan sesuatu.


.


.


.


.


Selama beberapa jam perjalan mereka akhirnya sampai di kediaman alterio. Disana reisya langsung berlari masuk kedalam meninggalkan pasangan suami istri yang berjalan di belakangnya untuk mengikuti reisya. Sesampainya di dalam mereka disambut oleh dua orang yang saat ini reisya begitu rindukan, tuan Yuhendra beserta istrinya menyambut kedatangan alvendra dan juga rayya. Mereka duduk di ruang tamu begitu pula dengan reisya, selama perbincangan itu alvendra tak banyak berkata ia hanya diam menyimak saja sambil menatap lurus kepada sang wanita yang kini tampak sangat gembira sekali. Sebenarnya dia begitu jengkel melihat kebahagiaan tersebut karena kebahagiaan itu adalah tanda kebebasan dirinya yang jauh dari jangkauannya akan tetapi ia senang melihat bagaimana tingkah reisya yang berbeda ketika gadis itu berada di rumahnya. Jika reisya versi di dalam apartemen miliknya terlihat begitu tegang, cuek, benci dan juga dewasa namun di sini dia terlihat begitu seperti remaja di usianya yang sangat gembira selayaknya anak kecil. Tanpa sengaja alvendra tersenyum melihat sisi lain tersebut.


"Apa kalian semua sudah sarapan ??" Tanya nyonya Camilla kepada mereka bertiga.


"Belum sempat..." Jawab rayya.


"Kalau begitu mampirlah sebentar untuk sarapan bersama hmm !!" Pinta Camilla kepada rayya dan juga alvendra, mendengar hal tersebut rayya segera menoleh menatap wajah sang suami meminta persetujuan.


"Tentu" Finalnya yang membuat rayya senang, ia segera beranjak dari kursi tersebut bersama dengan ibu dan adiknya meninggalkan alvendra dengan ayahnya Yuhendra.


"Bagaimana kabar anda ayah...." Sapa alvendra ketika ia tak sengaja mendapati bahwa sedari tadi ayah mertuanya itu menatap dirinya tajam.


"Aku baik-baik saja, terima kasih sudah bertanya alvendra !!" Balasnya dengan singkat yang dibalas alvendra dengan senyuman miring.


"Apakah ada yang ingin anda sampaikan?" Tanya alvendra kepada ayahnya itu.


"Maaf?"


"Sedari tadi saya perhatikan anda selalu menatapnya. Bukannya bermaksud yang tidak-tidak akan tetapi tatapan yang anda tujukan sedikit lain daripada tatapan biasanya seorang kakak ipar kepada adiknya !!"


'Sialan' umpat alvendra ketika sang ayah berkata demikian, namun bukan alvendra jika ia tidak bisa memanipulasi orang dihadapannya ini. Sudah jelas jika alvendra adalah sosok yang berbahaya dan sangat mahir dalam memanipulasi seseorang, bahkan untuk orang di depannya akan sangat mudah baginya untuk ia manipulasi.


Alvendra tersenyum sejenak, ia menertawakan perihal pernyataan tak berbobot yang dilontarkan oleh ayah mertuanya itu,


"Maaf tapi saya tidak ada maksud demikian. Saya menatap reisya seperti itu karena reaksi yang dirinya tunjukkan sewaktu tinggal bersama dengan kakaknya dan saat berada kembali di rumahnya sungguh berbeda. Itu mengingatkan saya akan beberapa sifat berbeda yang reisya tunjukkan disana waktu itu, saya hanya tertawa karena mengingatnya." Jelasnya yang mana seketika membuat Yuhendra sedikit sadar. Ia pun memikirkan ulang apa yang alvendra katakan dan apa yang dikatakannya sedikit logis.


"Maaf karena sudah berburuk sangka nak !!" Ucap Yuhendra yang hanya dibalas anggukan saja.


"Kalian berdua mengapa masih ada di sana?? ayo makanannya sudah siap !" Ujar rayya menginterupsi kedua pria yang masih duduk di sofa tadi.


Yuhendra dan alvendra pun segera beranjak dari sana dan berjalan menuju ke meja makan untuk ikut bergabung di sana. Di meja makan tersebut alvendra tersenyum miring dan sengaja mengambil tempat duduk tepat di depan wanitanya, reisya yang sadar sedikit risih ketika mereka tidak sengaja bersitatap apalagi di situ alvendra menatapnya dengan tajam seolah mengawasinya. Mereka semua menikmati acara sarapan mereka dengan tenang, mereka semua terkecuali reisya. Ia merasa tidak nyaman dengan kaki alvendra yang terus merayap dibawah meja menuju ke pahanya, reisya tahu ini adalah sebuah kode bahwa mereka harus bicara berdua terbukti dengan alvendra yang menyuruhnya tadi dengan tolehan kecil kepalanya.


Reisya sebenarnya sedikit takut harus mengiyakan permintaan alvendra akan tetapi jika ia menolaknya maka hasil yang ia dapatkan akan jauh lebih buruk bukan? Alvendra pun lekas menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu yang mana membuat reisya semakin panas dingin bingung untuk mencari alasannya.


"Saya izin ingin pergi keluar sebentar mencari udara segar !" Pinta alvendra yang diangguki oleh semua orang yang berada di meja makan.


Sebelum benar-benar pergi meninggalkan meja tersebut ia sempat menatap kedua mata reisya memberinya kode untuk segera mengikuti dirinya. Setelah alvendra benar-benar menghilang kini tubuh reisya semakin panas dingin, ia menatap wajah semua orang yang ada di meja makan. Ia bingung ketika ia harus memberi alasan apa dan berapa lama ia akan pergi dari meja makan tersebut, namun di tengah kekalutannya sekarang ini tidak sengaja rayya melihat bagaimana adiknya itu sedang kebingungan.


"Rei kau kenapa?" Tanya rayya yang mana membuat reisya terkejut, ia menatap sang kakak dan juga seluruh keluarganya yang juga kini berpusat menatap dirinya.


"Iya kau kenapa sayang?" Kini ibunya yang berdalih tanya.


"Kau merasa tidak sehat lagi??" Tanya sang kakak lembali.

__ADS_1


"Tidak sehat?? ada apa dengan reisya?" Kini ayahnya yang terkejut dengan apa yang baru saja rayya katakan.


"Kemarin reisya sempat demam ia sudah sembuh selama beberapa hari terakhir tapi.....apakah kau merasa tidak enak badan lagi Rei?" Tanyanya kepada sang adik, reisya yang mendapat sedikit angin segar pun berusaha dengan baik untuk memanfaatkan alasan tersebut meski sebenarnya ia sangat tidak mau berbohong kepada kedua orangtuanya namun ia tak bisa berbuat apa-apa.


"Ya...kepalaku kadang terasa sedikit pusing" Ujarnya dengan lemah sambil memegang kepalanya. Melihat reaksi yang ditimbulkan oleh reisya pun membuat Camilla selaku ibundanya berjalan mendekat ke kursi sang putri dan memegang dahinya untuk memeriksa suhunya.


"Suhumu hangat, lebih baik kau beristirahat di dalam kamar sayang. Mama akan buatkan minuman panas untukmu nanti ya......" Perintah sang ibu yang ditanggapi anggukan oleh reisya.


Gadis itu pun segera beranjak dari sana, meninggalkan meja makan untuk menyusul alvendra yang sudah menunggunya cukup lama di taman belakang rumah nya. Sesampainya reisya di sana ia melirik ke penjuru taman namun tak mendapati keberadaan pria itu hingga dari arah belakang tubuh reisya ditarik dan di kungkung di tembok. Reisya terkejut bukan main, ia hendak mengumpat orang tersebut namun urung ketika alvendra yang melakukannya. Umpatan yang sebentar lagi akan keluar dari ujung lidah reisya terpaksa harus ia telan kembali ketika rasa takut dan khawatir menyergapnya, pasalnya saat ini reisya begitu khawatir jika ada saja pembantu rumah memergoki posisi mereka saat ini. Tentu ini merupakan hal yang tidak biasa mengingat bagaimana posisi hubungan mereka berdua saat ini, dan jika ada yang melihat mereka dengan posisi seintim ini tentu akan menimbulkan banyak gunjingan serta rumor yang tidak-tidak.


"Lepaskan aku.... bagaimana jika nanti ada yang melihat !!" Pekik reisya sambil meronta ketika tangannya dikunci oleh kedua tangan alvendra.


"Bukankah itu bagus hmm?" Jawab alvendra santai yang membuat reisya terkejut, pria di depannya ini benar-benar sudah gila.


"Apa kau sudah kehilangan akal?? kau akan membahayakan nama keluarga kita berdua !" Ancamnya namun sama sekali tidak berpengaruh bagi alvendra.


"Lalu?" Jawabnya enteng.


"Kumohon jangan seperti ini, lepaskan !!" Pintanya sambil meronta namun tak di indahkan oleh alvendra.


"Baiklah tapi dengan sedikit imbalan" Ujarnya diakhiri dengan smirk yang menakutkan.


"Imbalan apa yang kau mak....ammmph !!!"


"Ha...ha...ha..." Kekeh alvendra.


Reisya langsung terdiam ketika salah satu tangan alvendra mengelus dengan sengaja salah satu buah dada miliknya, ia memejamkan matanya sambil mengigit bibirnya menahan suara yang tak ingin dirinya keluarkan.


"Keluarkan saja sayang itu lebih melegakan daripada kau menahannya...." Ujar alvendra enteng yang kemudian langsung mengecup bibir reisya dengan sesekali **********.


"Mmh....ku-kumohon Jang-jangannh...." Mohon nya dengan pasrah.


"Jangan? tapi respon dari tubuhmu berkata lain sayang. Jadi, mana yang harus aku turuti??" Tanya alvendra yang kini tangannya mulai turun meraba kepemilikan reisya, memainkannya dengan sensual. Jarinya sengaja ia keluar masukkan di milik reisya membuat gadis itu memejamkan kuat kedua matanya ketikan kenikmatan yang tidak ingin ia akui itu mulai menggerayangi setiap saraf di tubuhnya.


Ia sungguh bingung dengan sensasi tersebut dan alvendra yang mengetahui nya pun terkekeh melihat bagaimana wajah merah sang wanita yang menikmati permainan miliknya namun egonya masih bertahan dengan tegas membuat kesan semakin seksi di mata alvendra. Mengetahui bagaimana sang wanita akan mencapai puncaknya dengan sengaja alvendra mengeluarkan jemarinya dari dalam rok yang reisya kenakan, membuat reisya sedikit kecewa namun juga senang akhirnya alvendra mau melepaskannya. Ditatapnya dengan lamat kedua jari alvendra dimana terdapat cairan bening yang diyakini miliknya, pria itu menatap sang wanita yang memalingkan mukanya.


"Lihatlah bukti ini sayang....." menunjukkan kedua jarinya tepat di depan wajah reisya.


"Inilah kejujuran yang ditunjukkan oleh tubuhmu. Meski pikiran mu menolak diriku akan tetapi tubuhmu malah sebaliknya, jadi tetaplah pada keputusan di tubuhmu ini selagi aku memliki kesabaran sebelum aku merusak mentalmu dan membuatnya tunduk seperti respon dari tubuhmu ini !!" Ancamnya di akhir dengan pandangan menusuk.


Tubuh reisya langsung saja bergidik ngeri ketika mendengarnya, ia menoleh menatap wajah alvendra yang berubah menjadi dingin dan kaku.


"Apa maksud mu berkata demikian?? tidak cukupkah kau dengan permintaan mu waktu itu?"


"Seharusnya. Namun saat aku melihat bagaimana bahagianya dirimu bahwa kau akan jauh dariku itu membuat ku berubah pikiran sayang...." Ujarnya dengan suara yang mulai sedingin es, perlahan alvendra berjalan maju semakin menempelkan tubuhnya di tubuh reisya. Pria itu mendekatkan wajahnya di telinga reisya yang membuat reisya semakin mendongakkan kepalanya karena takut.


"Jika kau berani bahagia di luar sana maka bersiaplah. Hukumanku mungkin jauh lebih buruk dari yang sebelumnya, bahkan bisa saja perkataan ku beberapa menit yang lalu akan menjadi kenyataan. Jadi bersikaplah yang baik dan jangan mencoba untuk bahagia karena jauh dariku, jangan mencoba untuk dekat dengan orang lain atau kau akan tau akibatnya. Ketahuilah aku tak akan bermain-main dengan perkataan ku ini, semakin kau mengujiku maka semakin kejam pula diriku akan menghukum mu !!" Ucapnya dengan nada serak yang membuat reisya terdiam seketika.


Usai mengatakan itu sunyi terdengar cukup lama dan keinginan yang reisya impikan pun pupus seketika selayaknya asap yang mengepul ke udara, air matanya mengalir bebarengan dengan ucapan terakhir yang alvendra katakan sebelum pria itu melepas cengkraman pada kedua pergelangan tangannya tak lupa menjilat jemari nya yang tadi terdapat cairan milik reisya dan pergi meninggalkan dirinya di taman itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2