
Reisya sama sekali tak memperhatikan pelajaran yang tengah diterangkan oleh sang guru, baginya perasaan kacau yang tengah menghantuinya serta apa yang baru saja ailin katakan membuat kepalanya penuh sehingga sesak lantaran tak dapat menghilangkan seluruh memori buruk malam itu. Karenanya ia hanya mencoret-coret abstrak bukunya untuk melampiaskan rasa frustasi dan ketakutan yang menyergap dirinya, sementara itu di ruangan pribadi alvendra. Ia tengah bercumbu dengan beringas bersama dengan seorang ****** yang sudah half naked itu duduk erotis mengapit tubuh alvendra, sementara pria itu hanya diam saja dengan pakaian masih utuh membalut tubuhnya. Ia membiarkan ****** yang duduk dipangkuan nya menciumnya, ******* bahkan sengaja bergerak maju mundur seolah tengah bersenggama.
Perlahan tangan alvendra mengelus paha ****** itu hingga tangannya tiba di pengait bra milik ****** tersebut, dengan satu tarikan ia berhasil melepas pengait itu hingga membuat bra yang dikenakannya sedikit melonggar. Bisa alvendra lihat dengan jelas bahwa dada ****** itu sedikit terbebas setelah terlepas dari pembungkusnya, sementara ****** tadi langsung menghentikan aksinya dan menatap sayu alvendra yang hanya diam memandang datar dada ****** tersebut.
"Apakah kau mau?" Tawarnya sensual sementara alvendra hanya diam saja.
"Kau bisa memilikinya al, bahkan kau bisa terus memilikinya !!" Ucapnya sambil mengelus dada bidang alvendra.
Seketika tatapan alvendra berubah menjadi dingin seperti batu, aura intimidasi langsung keluar begitu tangan wanita tadi menyentuh dirinya. Dengan amarah yang meledak ia langsung menampar pipi ****** tadi dan mendorong nya hingga tubuh wanita itu jatuh dengan keras mencium dinginnya lantai.
"BERANI SEKALI KAU MENYENTUHKU !!" Sentaknya yang membuat ****** tadi ketakutan dan beringsut mundur kebelakang.
Sementara itu alvendra berjalan mendekat dan berjongkok tepat dihadapan wanita tadi, ia menyentuh bekas tamparan miliknya.
"Sakit? itu sebabnya jangan menyentuh diriku jika tak ku minta kau mengerti !!"
"Tapi jika tak ingin ku sentuh lalu untuk apa memanggil ku brengsek !!" Protesnya tak terima diperlakukan seperti tadi.
"AAAARRGGGH" Teriak ****** tadi memegangi rambutnya yang dijambak oleh alvendra. Alvendra pria itu hanya menatap datar wanita itu tanpa berniat untuk mengendurkan cengkraman nya pada rambut ****** tersebut.
"Ini pertama kalinya ada yang memaki ku, dan itu keluar dari mulut ****** seperti mu !! Yang kudengar dari ****** hanyalah ******* karena permainan yang kumainkan bukan umpatan seperti mu. Dan....(jemari tangannya menyentuh belahan dada wanita tersebut) aku tak berniat menginginkan milikmu yang sudah disentuh oleh ribuan PRIA !!" Tekannya diakhir kalimat sambil menghempaskan kepala wanita tadi.
"Keluar sebelum kemarahan ku habis karena melihatmu !!" Ucapnya yang mana membuat ****** tadi segera berdiri terburu-buru keluar dari sana tak memperhatikan penampilannya yang sangat tak manusiawi.
Sementara alvendra hanya diam sembari melirik kearah jendela di kantornya, dimasukkan nya kembali salah satu tangannya kedalam kantong dan menatap kearah luar jendela yang menampilkan gedung-gedung disana.
"Sepertinya aku harus membuktikannya dengan mu !!" Ucapnya sembari melihat pantulan dirinya lewat kaca jendela tersebut dengan tatapan dingin tidak tersentuh seolah menyimpan sesuatu yang amat besar.
.
.
.
.
.
.
Jam istirahat tiba, kini reisya tengah berjalan menuju ke kantin bersama dengan ailin sahabatnya.
"Haduh lega banget bisa keluar dari pelajaran sejarah !!" Ucap ailin dengan merenggang ototnya yang terasa kencang akibat kelamaan duduk.
"Hm...." Balas reisya yang membuat ailin menatap heran sahabat nya.
"Lo masih badmood?"
"Gue nggak tau juga apa ini bisa disebut sebagai badmood atau enggak tapi intinya gue lagi takut tapi takut karena apa gue nggak tau !!" Jelasnya yang membuat ailin berpikir keras mengenai ucapan yang baru saja keluar dari bibir sahabatnya.
"Lo ada masalah rei? kalau ada lo bisa cerita ke gue !!" Pinta ailin yang mana membuat reisya menoleh menatap sahabatnya dengan lembut, sejenak ia tersenyum kepada ailin kemudian menggeleng.
"Mungkin karena tugas bahasa Indonesia gue belum selesai makanya gue sedikit sensitif kaya gini"
"Lo yakin?" Tanyanya lagi dengan sedikit curiga yang dibalas anggukan kecil oleh reisya.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka yang hendak menuju ke kantin namun keduanya bertemu dengan arsen bersama sahabatnya yang sepertinya juga hendak ke kantin bersama. Reisya hanya tersenyum melihat punggung arsen tak jauh dari dirinya berdiri, bisa dilihat bagaimana ia tertawa dengan sahabatnya membuat nya sedikit iri karena ia tak bisa bahagia seperti itu. Sebuah rasa ketakutan dan bersalah selalu hinggap di dalam dirinya membuatnya menjadi sedikit tenang lantaran selalu terpikirkan oleh kejadian di malam itu, ia ingin sekali menghapus memori kelam tersebut namun di beberapa kejadian selalu saja ia teringat mungkinkah itu adalah karma miliknya?.
Karena hanya diam kalut dengan isi pikirannya sendiri reisya tidak sadar bahwa arsen melihatnya kala berjalan menuju kantin. Ia tersenyum namun kemudian pudar begitu melihat reisya yang hanya murung dan menatap kosong lantai yang dilaluinya. Dengan inisiatif miliknya ia berpamitan dengan sahabatnya untuk mendekati reisya yang berjalan di belakangnya tak jauh dari beberapa meter tersebut.
"Hai !!" Sapanya kepada ailin dan juga reisya.
"Hai arsen !!" Balas ailin namun tidak dengan reisya yang sepertinya tak menyadari akan kehadiran dirinya.
"Dia kenapa?" Tanya arsen perlahan kepada ailin yang ikut melihat reisya.
"Aku juga tidak tau, tapi sepertinya dia sedang emosional karena ada sesuatu" Jawabnya pelan sekali membuat arsen menatap khawatir kepada reisya.
"Rei...." Panggil arsen lagi namun masih tidak ada jawaban sama sekali.
"Reisya!!" Panggilnya sedikit menaikkan nada satu oktaf namun tetap sama saja tak didengar oleh reisya hingga geram ailin pun turun tangan untuk menyadarkan sahabat nya itu.
__ADS_1
"REISYA ATANAZWA !!" Teriaknya sembari memukul dengan kasar bahunya membuat reisya kaget dan memekik.
"Auch !! apaan sih lin sakit tau!"
"Sakit tahu, abisnya siapa suruh dipanggil arsen gak noleh"
"Arsen?" Tanyanya heran kemudian reisya menunjuk dengan kepalanya kearah sebelah kirinya, ia pun lantas menoleh sesuai dengan arahan ailin dan benar saja ada arsen yang berdiri di sebelahnya sambil tersenyum.
"Lo nggak papa rei?"
"Arsen! sejak kapan lo disini? bukannya tadi lo sama temen-temen lo !!"
"Iya gue tadi sama mereka tapi setelah liat lo gue mutusin untuk susul lo deh" Jawabnya yang membuat reisya salah tingkah.
"Lo nggak boleh gitu, masa iya lo ninggalin mereka hanya demi gue"
Arsen tersenyum simpul, "Gue udah izin sama mereka kok dan mereka fine"
Habis sudah reisya ketika mendengar ucapan terakhir dari arsen, mereka bertiga pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka yang hendak menuju kearah kantin. Namun sepertinya itu tidak akan terjadi bersama karena alvendra mendapatkan pesan dari salah satu siswi yang menghentikannya dan memberitahu nya tentang sesuatu yang membuat alvendra mau tidak mau pun harus berpisah dengan reisya dan juga ailin.
"Aku tidak tahu menjadi ketua OSIS bisa sesibuk itu !" Ucap ailin sambil menyuapkan mie goreng kedalam mulutnya.
"Kau pikir semua OSIS itu hanya diam berkumpul sambil menggunjingkan seisi kelas begitu?"
"Wah apa mereka begitu?"
"Terkadang tapi OSIS itu sibuknya bukan main jika ada rapat yang perlu dibahas."
"Bagaimana lo tahu?"
"Karena gue dulunya mantan anak OSIS !!"
"Wah hebat! kau dulunya anak OSIS?"
"Iya, sebelum gue ngundurin diri karena kecapean." Terang nya yang membuat ailin ber oh ria saja.
"Tapi kalau anak OSIS itu semuanya sibuk lalu sesibuk apa dong si ketua OSIS nya?"
.
.
.
.
.
.
Usai dari kantin tadi mereka berdua kembali mengikuti pelajaran seperti biasanya hingga jam sudah menunjukkan pukul 14:50 itu membuat seisi kelas reisya begitu gaduh meminta untuk segera dipulangkan namun sayang bagi kelas reisya karena mendapatkan guru yang tidak bisa ditawar sehingga mereka harus pulang jam tiga tepat. Hal itu tentu membuat seisi kelas berdecak kecewa terhadap sang guru yang hanya ditanggapi acuh oleh gurunya yang masih sibuk menerangkan materi. Sementara reisya? gadis itu hanya diam saja sembari mencatat materi yang ada di papan tulis dengan sesekali juga mencatat apa yang diterangkan oleh sang guru.
"Bu tolong pulang kan lebih awal lihatlah cuaca di luar sudah mendung !!" Ucap seorang anak siswa kepada sang guru membuat seisi kelas langsung menoleh kearah jendela.
"Benar bu cuacanya gelap sekali sepertinya akan ada hujan yang deras !" Tambah yang lain membuat sang guru pun terpaksa melihat kearah jendela dan benar saja cuacanya sudah mendung hingga membuat sang Surya hilang sehingga tak ada cahaya matahari yang membuat seluruh langit menjadi gelap.
"Baiklah kalau begitu kalian bersiaplah !!" Final sang guru yang mana membuat seisi kelas berteriak heboh ditambah saat itu bel pulang berbunyi membuat kebahagiaan siswa berkali-kali lipat senangnya yang hanya dibalas senyum khas seorang guru kepada muridnya.
"Yah hujan di sore hari itu tidak enak asal kau tahu Rei. Aku selalu membencinya jika terjadi hujan di sore hari, karena itu membawa banyak masalah !" Ujar ailin yang membuat reisya langsung diam, tiba-tiba saja ingatan tentang hujan malam itu teringat membuat nya langsung memejamkan matanya kuat sambil memegang lehernya dengan sedikit menggaruknya.
"Tapi selain membawa masalah hujan di sore hari juga menyenangkan apalagi jika berlanjut hingga malam hari karena itu bisa membuat...
" Kalimat ailin terjeda begitu mendapati reisya yang memegang lehernya degan sesekali menggaruknya.
"Re-reisya kau tak apa !!" Tanya ailin yang langsung memegang tangannya, reisya yang mendengarnya pun lantas kembali tersadar dan menatap ailin.
"Lo nggak papa?" Tanya lagi dengan khawatir.
"Y-ya gue nggak papa kok !!" Jawabnya setelah sadar, ia pun segera membereskan semua bukunya dan menggendong tasnya.
"Lo yakin?" Tanya ailin lagi yang hanya dibalas senyuman dan anggukan pasti dari reisya.
__ADS_1
"Kalau gitu gue duluan ya Lin" Pamit reisya yang hanya disetujui oleh ailin.
"Ya, hati-hati rei !!" Teriaknya yang dibalas lambaian tangan dari reisya.
"Kurasa dia sedang ada masalah !!" Gumamnya.
"Haih kenapa juga harus hujan di sore hari sih ish !" Rutuknya tak suka yang kemudian juga hendak keluar dari dalam kelas.
.
.
.
.
.
.
Di luar reisya segera menelfon supir pribadi milik ayahnya dulu namun saat hendak berjalan kearah luar ia dikagetkan dengan montor ninja hitam milik seseorang yang berhenti disampingnya tepat dan membuat reisya menoleh.
"Arsen !!" Jawabnya kala melihat arsen yang menaiki motor tersebut, dia tersenyum mendengar nya.
"Nebeng sama gue ya rei sebagai tanda maaf karena tadi gue ninggalin lo dan gak jadi ke kantin !!"
"Tapi...."
"Ini juga merupakan janji yang dimana waktu itu lo yang nggak jadi nebeng sama gue" Ucap arsen yang menyela reisya tadi, sementara reisya nampak sedang berpikir dengan tawaran arsen tadi.
"Kalau lo nunggu jemputan mungkin lo bakal basah kuyup di sini." Ucapnya yang membuat reisya menatap mata arsen lagi, mau bagaimana pun sepertinya iya. Bahkan beberapa kali reisya sudah mendengar gemuruh petir yang menandakan jika sebentar lagi hujan akan turun.
"Yaudah deh gue ikut" Finalnya yang membuat arsen tersenyum, ia menyuruh reisya untuk segera naik ke bagian belakang.
Dengan susah payah ia naik dan setelahnya arsen pun menancapkan gasnya untuk segera keluar dari halaman sekolah. Di tengah perjalan menuju ke rumah reisya tiba-tiba saja hujan turun dengan deras membuat arsen terpaksa untuk meneduh di sebuah pinggir jalan raya yang lumayan sepi itu. Keduanya pun turun dari atas motor untuk meneduhkan diri juga, sementara itu arsen berdecak kesal lantaran harus kehujanan di tengah jalan.
"Kenapa hujannya harus turun sekarang sih" Keluh arsen yang hanya ditanggapi senyuman oleh reisya.
"Nggak papa kali ar, lagipun seru juga ya hujan-hujanan sambil naik motor" Kekeh reisya yang mendapat tatapan teduh arsen.
Mata arsen menatap baju reisya yang basah kuyup karenanya, ia juga melihat bagaimana reisya berusaha menghangatkan diri dibalik jubah seragam yang dikenakan nya. Untuk itulah mengapa arsen langsung melepaskan jaketnya dan memasangnya pada reisya membuat sang empu menatap arsen.
"Gue nggak mau lo jatuh sakit jadi pakai aja jaket gue, jas gue masih kering kok." Katanya yang membuat hati reisya menghangat, ini yang reisya suka dari arsen yaitu sifat gentelnya.
"Kayanya hujannya ga bakal reda deh" Gumam reisya.
Dan benar saja ucapan tersebut bahkan saat malam tiba hujannya pun masih deras membuat arsen dan reisya masih terjebak di tempat yang sama, sementara itu dari arah jalan raya ada sebuah mobil hitam kepunyaan alvendra dan secara tidak sengaja alvendra melihat reisya bersama pria lain sebayanya yang juga tertawa bersama dengan reisya.
"Hentikan mobilnya Sean !!" Perintah alvendra yang membuat Sean langsung memberhentikan mobilnya di pinggir jalan raya
Di sana reisya tertawa dengan riang ketika mendengar lelucon yang terlontar dari alvendra dan hal itu tidak luput dari tatapan elang alvendra dari balik kaca mobilnya. Tanpa diduga ia mengepalkan tangannya hingga membentuk buku jari yang siap menghantam wajah seseorang, sementara giginya bergemeletuk menahan amarah yang siap meledak kapan saja. Sedang manik hitamnya menggelap akan sesuatu yang tak dapat alvendra kontrol ataupun tahan dengan rasa panas melihat kebahagiaan yang menurutnya memuakkan itu alvendra pun lantas mencoba untuk mengendurkan dasinya yang terasa mencekik tersebut hingga.
"Kurasa aku perlu mempercepat nya !" Gumamnya penuh misteri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.