PRISON

PRISON
0:15 kembali mencium aroma yang sama


__ADS_3

Di ALV CORPORATION, sean berjalan dengan santai menuju ke salah satu pintu berwarna coklat dengan tulisan di dindingnya bernama 'CEO ROOM'. Diketuknya pintu tersebut dua kali kemudian langsung membukanya dan berjalan masuk ke dalam tak lupa untuk menutup kembali pintu itu, di ujung sana terlihat seorang pemilik ruangan yaitu alvendra yang duduk dengan tenang sambil membaca laporan kuadran keuntungan miliknya dan ditinjau lagi dengan menghitung dan menyalin ulang angka-angka tersebut.


"Kau sudah menjemputnya?" Tanya alvendra ketika mengetahui bahwa sean telah kembali, tak langsung menjawab pertanyaan dari sang atasan sean terlebih dahulu membungkuk hormat baru setelahnya menjawab pertanyaan dari alvendra.


"Iya tuan, nona sudah berada di rumah !!"


"Bagaimana dengan makanannya? aku yakin rayya tidak sempat menyiapkan nya"


"Nona menolak saya belikan makanan tuan !!"


Seketika alvendra langsung berhenti menorehkan tinta penanya di kertas yang ia pegang dan langsung menatap wajah sean dengan tatapan penuh tanya. Mengerti bahwa alvendra tidak mengerti dengan ungkapan yang baru saja ia katakan sean pun lantas menjelaskannya dengan raut tenang meski sebenarnya ia sedikit takut karena alvendra menatapnya dengan tajam dan menusuk.


"Nona menolak karena beliau ingin menyiapkan makanannya sendiri."


"Menyiapkan??" Ulang alvendra sekali lagi.


"Benar tuan"


.


.


.


.


.


.


Di apartemen tersebut, setelah reisya mandi ia pun segera turun menuju kearah dapur untuk menyiapkan makanan nya sendiri. Di bukannya kulkas besar yang ada di sana dan seketika mulut reisya pun terbuka dengan begitu lebarnya kala melihat isi dari kulkas tersebut.


"Wah, kukira maksud dari pria tadi yang lengkap ternyata sungguh berbeda ." Gumamnya, karena pasalnya di dalam kulkas tersebut terdapat banyak sekali jenis sayuran baik dari dalam negeri maupun import dari luar negeri. Serta bahan baku mulai dari yang berkarbohidrat hingga yang berprotein terdapat di dalam kulkas tersebut dan semuanya tertata rapi.


"Kurasa dia ingin menjadikan rumah ini sebagai supermarket, lihatlah semua bahan-bahan ini !!" Gumamnya sembari mengambil satu kotak ikan salmon dan beberapa sayuran di sana.


Reisya pun berjalan menuju ke meja dapur dimana disana ia menaruh bahan utamanya tersebut, dipandangnya beberapa alat masak yang begitu lengkap dan pasti tertata dengan rapi di atas sana benar-benar membuat dirinya dibuat geleng-geleng.


"Wah ini seperti galeri masakan internasional" Ucapnya yang kemudian mengambil salah satu pisau khusus untuk memfilet ikan salmon yang akan diolahnya.


Dengan telaten reisya mencuci ikan dan sayuran tadi, setelahnya dengan perlahan ditaruhnya dalam sebuah papan kayu. Diambilnya pisau yang sudah tadi ia siapkan dan dengan sekali potong kepala ikan tadi langsung terpisah dari badannya, reisya pun memutar ikan tadi menjadi vertikal kemudian segera mengambil posisi dari ujung badan ikan tadi lantas dengan sekali sayat lurus reisya berhasil memfilet ikan tadi menjadi dua bagian lebar. Tak hanya itu setelahnya reisya memotong bagian tulang ikan tersebut dan kemudian tangannya mengambil penjepit khusus untuk mengambil tulang ikan halus yang bersembunyi di dalam dagingnya, dengan telaten reisya mengambil satu per satu duri tersebut dan setelahnya ia langsung memilah antara kulit tadi dan segera memotong ikannya sesuai standar ukuran makan.


Selama hampir dua puluh lima menit reisya berkutat dengan peralatan di dapur kini makanan yang ia buat pun telah jadi, reisya tersenyum puas kala hasil yang sudah ia kerjakan ternyata tidak sia-sia. Dibawanya satu piring lebar berisi daging ikan salmon dengan di sampingnya beberapa sayuran segar, ia menaruh piring tersebut di atas meja kemudian kembali lagi ke dapur untuk merapikan bekas kekacauan nya tadi sebelum makan malam. Seusainya reisya pun memakan makanan yang sudah dibuat nya dengan tenang sementara itu di kantor ALV CORPORATION di ruang rapat, alvendra ia tengah duduk berbincang dengan seorang wanita yang hendak ingin menjalin kerja sama dengan dirinya.


"Anda yakin dengan keuntungan yang anda janjikan itu nona vallery?" Tanyanya kepada wanita dihadapannya yang memandang sensual kepada alvendra.


"Jika saya tidak yakin maka saya tidak akan berada di sini malam ini !!" Tegasnya kepada alvendra.


Tanpa Sean sadari dibawah meja tersebut kaki perempuan tadi sudah menyentuh kaki alvendra, berusaha untuk menggoda agar alvendra dapat terangsang dengan gerakan kakinya yang semakin berani menuju ke paha alvendra. Mengerti akan hal tersebut alvendra menatap dalam wanita dihadapannya, tidak berekspresi sama sekali hanya sebuah tatapan tak terbaca dari sorot hitam milik alvendra yang menatap lurus kepada vallery.


"Sean tolong tinggalkan kami berdua !!" Titah alvendra kepada sang bawahan yang membuat vallery tersenyum miring setelahnya.


Mendengar hal tersebut sontak sean terkaget sebelum tatapan matanya bersitemu dengan mata alvendra. Seketika mengerti ia segera membungkuk hormat kepada keduanya dan berjalan keluar dari sana meninggalkan alvendra dengan wanita di sana yang tersenyum senang setelahnya. Usai kepergian sang sekertaris, vallery lantas berdiri dan berjalan menuju kepada alvendra yang memutar kursinya menyambut kedatangan vallery untuk duduk di pangkuannya. Melihat bagaimana alvendra menyambut dirinya dengan berani vallery duduk di atas paha alvendra dengan tak lupa menyentuh dada bidang tersebut dengan sesekali merapihkan kerah baju pria incaran nya sejak lama.


"Apa maksudnya semua ini hm?" Tanya alvendra dengan mengelus perlahan paha vallery.

__ADS_1


"Bukankah ini tidak ada dalam jadwal meeting?" Tambahnya yang kini mulai meremas perlahan paha vallery.


"Kau tau aku bukan?" Jawabnya sensual tepat di telinga alvendra.


"Entahlah, mungkin kau hanya berusaha untuk menjebak ku. Kau tau aku sudah menikah bukan? lalu bagaimana jika sampai ada kabar bahwa aku meniduri wanita lain?" Ucapnya yang kini mulai meraba sensual lengan vallery.


"Bukankah tidak mengasyikkan memiliki istri seorang mahasiswi al?"


"Setidaknya lubang mereka tidaklah berbohong." Sarkas nya dengan tenang membuat vallery mendecak pelan.


"Meski masih segel pun, milikku tetap yang terbaik"


"Kau yakin?"


"Kau menantang ku?"


"Kau sendiri yang memprovokasi diriku tadi di bawah me....." Belum menyelesaikan kalimatnya vallery lantas mendaratkan ciumannya di bibir alvendra.


Hanya sebuah ciuman biasa, alvendra masih menutup mulutnya sembari melirik wanita di depannya yang tampak menikmati ciuman sepihak itu. Dilihatnya dengan lama bagaimana wajah vallery yang damai memejamkan matanya menahan gelora hasrat yang tinggi, seketika rasa muak langsung berkumpul menjadi satu di dalam diri alvendra sesuatu yang tak ingin disentuh hinggap dalam dirinya sehingga dengan kuat ia melepaskan ciuman tadi hingga membuat vallery sampai terkejut dibuatnya.


"Apa yang kau lakukan barusan?" Protesnya karena di dorong kuat oleh alvendra. Sejenak pria itu down dengan apa yang baru saja ia lakukan hingga vallery kembali mengguncang bahu alvendra hingga kesadaran pria itu kembali.


"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya.


"Ya, aku hanya kaget saja". Vallery tersenyum mendengar hal tersebut.


"Ada apa ini, apakah kau sudah lupa dengan kebiasaan mu al? memangnya sekuat apa pengaruh istrimu hm?"


"Mungkin sangat kuat..." gumamnya ambigu namun masih didengar vallery.


Bahkan tangan alvendra sudah menjamah hingga membuka sebagian baju atas milik vallery, tak hanya itu tangannya pun bermain diarea pahanya berusaha menggoda vallery. Sementara wanita itu mencengkram kuat baju depan alvendra dan berusaha untuk melepaskan pakaian pria tersebut, namun saat hendak melepas jas itu alvendra dengan kuat mendorong tubuh vallery hingga wanita itu terjembab dilantai.


"ALVENDRA !!" teriaknya kepada alvendra yang sudah berdiri dengan pandangan tajam yang penuh dengan berbagai pikiran.


"kau kasar sekali !!" Ujar vallery yang berusaha bangun dan berjalan mendekat kepada pria didepannya.


"Kau ingin melakukannya atau tidak? jangan kacaukan nafsuku dengan seperti ini !!" Teriaknya menggema namun sepertinya alvendra masih tenggelam dalam isi pikirannya.


Alvendra tersadar, ia menatap vallery yang penampilannya sudah kacau dengan bajunya yang sudah terbuka sebagian menampilkan separuh bra hitam yang membungkus dada penuhnya itu. Ia akui tubuh vallery sempurna dan mampu membangkitkan gairahnya namun ada yang salah dengan dirinya, ia berjalan mendekat mendorong vallery ke arah dinding kaca dibelakangnya kemudian menciumnya dengan beringas. Sontak saja vallery langsung mengalungkan kakinya menghimpit alvendra agar ia semakin dekat dengan tubuhnya, di samping itu tangannya juga menjamah punggung alvendra dan bersamaan dengan itu alvendra segera membuka lebar kedua matanya dan langsung mendorong vallery menjauh dari dirinya hingga beberapa langkah vallery terdorong.


"Kurasa ada yang salah dengan diriku !!" Ucapnya yang mana langsung pergi meninggalkan vallery disana sendirian dengan penampilan kacau. Ia menatap tak percaya kepada alvendra yang hanya berlalu meninggalkan dirinya yang sudah dipenuhi nafsu yang tinggi, ia sudah berharap dapat bercinta dengan panas bersama alvendra namun sepertinya itu harus berakhir gagal dengan harga diri vallery yang hancur.


Setelah keluar dari dalam ruang rapat tersebut alvendra membenahi letak pakaiannya, di samping sean menatap terkejut karena tuannya sudah selesai secepat itu.


"Anda...?"


"Kita pulang !" Perintahnya dengan nada sangat dingin dan bergegas pergi dari sana mendahului Sean. Pria itu agaknya terkejut dengan suara yang baru saja ia dengar, suara itu begitu tak bernyawa seolah bahwa tuannya kini sedang dalam kuasa amarah. Karena memikirkan hal itu dengan seribu langkah Sean menyusul tuannya untuk segera menghantarkan nya pulang.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Di dalam mobil alvendra mengendurkan dasinya dengan kasar seolah ada sesuatu yang ingin membuatnya marah namun apa alvendra pun tak tahu. Sementara itu Sean yang melihatnya hanya menatap penuh tanya kepada sang tuan yang tampaknya frustasi entah karena apa. Malam itu pukul 22:00 tepat dimana alvendra baru saja tiba di rumahnya, usai itu ia segera masuk kedalam apartemen miliknya. Baru saja masuk ia langsung disuguhkan dengan keberadaan reisya yang tertidur lelap diatas sofa dengan earphone masih terpasang ditelinga nya mungkin habis menonton film lewat ponsel?


Ia mengendikkan bahu acuh dan berniat untuk menuju kedalam ruang kerjanya sebelum sesuatu membuat langkah nya terhenti. Ia menatap reisya dalam dengan manik hitam itu meneliti reisya hingga perlahan kaki alvendra didekatkan menuju ke tempat reisya tertidur, setelah dekat ia berjongkok. Satu jarinya menyisir anakan rambut di wajah sang adik ipar, dimainkannya perlahan rambut itu hingga ia menghirup aroma wangi yang menguar disana.


"Sebenarnya apa yang aku pikirkan !!" Ucapnya yang kemudian kembali berdiri hendak berbalik menuju ke dalam ruangan pribadi miliknya namun lagi-lagi terhalang ketika mendengar gumaman reisya.


"Dingin...." Gumam reisya yang mana membuat alvendra berbalik dan melihatnya, ia diam sejenak sebelum membuang nafas panjang.


Ia kembali berbalik lagi dan melepas earphone yang masih terpasang di telinga reisya. Ia mematikan lagu tersebut kemudian langsung membopong tubuh mungil reisya yang sialnya pas di dekapan alvendra, dibawanya tubuh itu kedalam kamar reisya dan ditaruhnya dengan perlahan tubuh itu di atas ranjang. Merasa terganggu reisya langsung mendusel kan wajahnya hingga alvendra terkejut sejenak, tubuhnya meremang seketika.


"Bau ini?.......citrus !!" Batinnya yang langsung berdiri dan menatap dingin reisya dari atas.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2