PRISON

PRISON
0:37 Right now


__ADS_3

Kedua mata rayya hanya menatap jalanan saja ketika alvendra membawanya pergi menuju kediaman besar alvarez. Sepanjang jalan tak ada satupun yang membuka percakapan, hanya ada kebisingan dari suara laju mobil yang alvendra bawa. Selama perjalanan yang kurang lebih dua puluh lima menit, mereka berdua akhirnya sampai di kediaman besar keluarga alvarez. Rasa gugup tentu saja menerjang rayya ketika matanya menatap rumah besar tersebut, rasanya ia masih tidak percaya telah menjadi bagian dari keluarga terbesar dan berpengaruh itu. Alvendra memberhentikan mobilnya tepat di depan tangga dekat pintu masuk mansion nya, ia melepas sabuk pengaman yang mengikatnya bersiap hendak turun sebelum ia tersadar jika sang istri masih diam di kursi penumpang.


"Ada masalah?" Tanyanya guna menyadarkan sang istri, dan itu terbukti ketika rayya terkejut kemudian menoleh kearahnya.


".....Tidak ada, aku hanya gugup saja" Jelasnya yang kemudian ikut segera melepaskan sabuk pengaman yang mengikatnya. Saat hendak membuka pintu mobilnya rayya dikejutkan dengan alvendra yang sudah lebih dahulu membuka pintunya, ia bingung kapan alvendra sampai hingga membuat rayya sedikit tersenyum kik kuk namun tetap turun dan kini berdiri tepat bersandingan dengan sang suami.


"Kau siap sayang?" Ucap alvendra sambil mengulurkan tangannya kearah rayya yang membuat rayya tiba-tiba saja menatap sendu kearah uluran tangan tersebut. Ia masih diam sejenak menatap uluran tersebut, lalu menatap ketanah yang ia pijaki. Ia tersenyum kecut kemudian kembali mendongak dan tersenyum cantik kearah alvendra dengan tidak lupa menerima uluran tangan tersebut meski tangannya yang satu tengah menggenggam dengan erat dompet yang ia bawa ketika melihat bagaimana sang suami tersenyum dengan tampan kali ini.


Mereka berdua berjalan menaiki anakan tangga menuju ke pintu besar yang ada di sana. Sesampainya di dalam rayya hanya terdiam sambil mengikuti langkah alvendra yang membawanya berjalan kearah lorong yang panjang dan sepi itu. Fokusnya hanya ada pada tautan tangan keduanya dengan sesekali ia menatap punggung sang suami yang kokoh itu, hingga mereka berdua pun kini sampai di ruangan tengah. Di mana di ruangan itu terdapat sosok pria berumur yang duduk dengan agung sambil menikmati secangkir teh yang sudah tersaji di meja. Rayya yang melihatnya hanya bisa terdiam sambil menatapnya.


"Kakek !!" Panggil alvendra yang membuyarkan fokus pria itu sehingga iris elang pria tadi langsung menatap kearah pasutri yang ada di depannya. Senyuman tercetak di wajah bercetak gurat usia, ia berdiri dari duduknya guna menyambut dengan gembira.


"Ah cucuku dan istrinya sudah tiba !! kemari nak kemari !!" Pinta sang kakek tadi yang dibalas senyuman oleh rayya. Keduanya berjalan mendekat dan duduk bersebelahan dengan sang kakek yang duduk di kursi utama yang ada di ruang tamu tersebut.


"Ah, sudah lama kakek menunggu kedatangan menantu di keluarga ini untuk menghidupkan kembali suasana rumah tua ini" Ucapnya dengan gembira yang tertuju khusus kepada rayya.


Rayya hanya tersenyum menanggapinya dengan sesekali menganggukkan kepalanya.


"Jadi kenapa kau tak memutuskan untuk langsung kemari saja nak rayya?" Tanya sang kakek yang membuat rayya mendongak menatap wajah tua itu.


"Saya hanya belum siap untuk mengemban tanggung jawab menjadi menantu keluarga ini saja kakek." Jelas rayya dengan sopan


"Bah !!!" Sela sang kakek dengan suara cukup keras. "Omong kosong apa yang kau bicarakan, tentu saja kau siap. Lagipula sebenarnya kau sudah siap hanya saja suamimu belum mau untuk membawamu kemari". Ujarnya dengan delikan tajam menatap kepada alvendra yang juga dimana alvendra menatap balik tajam kepada sang kakek.


"Maaf?" Ulang rayya sekali lagi yang tak paham dengan apa yang baru saja ia dengar tadi.


"Kakek, jika tidak ada lagi yang ingin dikatakan maka biarkan rayya beristirahat atau setidaknya makan malam." Potong alvendra yang membuat sang kakek duduk bersender sambil menyerutup tehnya kembali.


"Ya itu bisa kalian lakukan, kakek disini hanya ingin memberitahu kan jika kalian yang akan tinggal di kediaman utama Alvarez ini sementara kakek akan tinggal di kediaman kedua ." Jelasnya sebelum ia bangkit dari duduknya dan hendak pergi dari sana.


"Kakek harus pergi berisitirahat, maaf tidak bisa menemani kalian makan malam bersama. Ada urusan mendadak, kuharap kalian akan memakluminya. Dan alvendra, setelah kau selesai nanti bisa temui kakek di kediamanku??" Pintanya yang mana dengan berat hati alvendra harus setujui.


Suasana hening tercipta setelahnya ketika kepergian pria tua tadi, baik rayya dan alvendra hanya diam saja di tempat duduk sebelum atensi rayya tergerak menangkap sang suami yang berdiri dari duduknya berjalan hendak meninggalkan rayya. Namun praduga tersebut salah ketika alvendra berhenti dan menatap lurus ke arah sang istri yang masih menatap tanya kepada alvendra.


"Mari makan malam" Ajaknya yang kemudian berjalan mendahului, meninggalkan rayya di sofa ruang tamu. Wajah rayya seketika berubah menjadi masam, ia tersenyum getir kemudian lekas berdiri untuk berjalan menyusul sang suami.


Dirinya berjalan di lorong panjang rumah tersebut dan menemukan ruang meja makan keluarga yang begitu megah bak perjamuan di istana. Di tatapnya alvendra yang sudah duduk di kursi utama dengan pandangan menajam kearah meja makan seolah tengah bergelut dengan pikirannya, rayya menerka jika sang suami seperti tak nyaman berada di rumah besar ini sehingga membuatnya diam sejenak sambil menatap wajah alvendra yang hanya diam tengah memikirkan akan sesuatu.


"Mengapa nyonya hanya berdiri saja? mari duduk akan kami siapkan menu makan malamnya" Tegur sang pelayan rumah yang mengagetkan rayya.


"Ah, baik..." Balas rayya yang kemudian berjalan untuk duduk tak jauh dari sang suami yang masih diam dengan posisi sama. Rayya tak berani menegurnya dan hanya ikut terdiam saja membuat suasana di meja makan tersebut terasa sangat dingin tak tersentuh. Kedua bola mata rayya terangkat untuk menelisik area meja maka tersebut yang bersebelahan langsung dengan dapur, terdapat setidaknya empat orang yang masih bekerja di dapur, dan diantara semua pelayan disana ada salah satu pelayan yang memakai pakaian berbeda dari yang lainnya menandakan jika orang tersebut adalah kepalanya, pikir rayya. Setelah makan malam tersaji beberapa pelayan lekas meninggalkan tuan rumah mereka agar mereka dapat menikmati acara makan malamnya dengan tenang.


Jauh di lorong besar mansion keluarga alvendra itu, terdapat salah satu pelayan yang berjalan bersisian dengan wanita di sebelahnya, "Apakah mereka bertengkar?" Tanyanya kepada sosok wanita paruh baya yang memakai pakaian berbeda dari yang lain.


Semua mata segera tertuju kepada sang kepala pelayan yang hanya diam dengan ekspresi wajah sedikit tidak suka dengan pertanyaan yang dilontarkan. Tiba-tiba saja wanita tadi berhenti membuat yang lainnya terkejut dan saling menabrak tubuh tegap wanita tadi. Desisan suara mengaduh keluar dari bibir beberapa pelayan ketika sang kepalanya berhenti secara tiba-tiba, wanita tadi berbalik menatap para anak buahnya yang seketika langsung menunduk takut dengan kedua tangan mereka yang saling menumpu di bawah.


"Mulai saat ini kalian tak berhak bergunjing tentang tuan muda, membicarakan tentang apa yang terjadi, melihat yang tidak seharusnya dilihat dan tetap diam seperti biasanya. Kalian di gaji di sini bukan untuk omong kosong yang baru saja kalian lihat dan dengar jadi untuk itu agar kedepannya kalian bisa lebih menjaga sikap baik di depan ataupun di belakang mengerti !!" Tegasnya yang membuat kepala dari para anak buahnya pun ikut menunduk dengan gertakan terakhir dari atasan mereka itu.

__ADS_1


"Maafkan kami Bu !!" Ujar salah satu dari mereka yang membuat wanita tadi hanya mendengus pelan, "Kalian bisa kembali pulang ke rumah".


"Baik !!" Ucap mereka bertiga serempak yang kemudian langsung meninggalkan wanita paruh baya tadi di lorong tadi dengan gelengan kepala merasakan pusing dari sikap para bawahannya.


.


.


Jika saat ini di kediaman besar alvarez terasa begitu dingin, mari kini berdalih di kediaman alterio yang terasa mencekam nan panas. Reisya tengah duduk di depan meja rias yang menampilkan pantulan wajahnya, ia terus menatap dengan dalam di kedua iris hitam yang berpendar redup cahayanya. Wajah yang begitu lesu tak ada semangat untuk melakukan hal-hal yang biasa ia sukai, kira-kira sejak kapan kegembiraan yang sempat terpasang di wajahnya kini menghilang dan digantikan dengan mimik lesu dan sedih namun ia tutupi dengan tatapan tajam sarat akan penuh kecurigaan dan tekanan batin yang saat ini ia alami. Begitulah kiranya kalimat yang saat ini reisya pikirkan, belum lagi dengan kejadian tadi sore yang menambah ketakutan akan kehilangan akibat dirinya lagi.


Di tengah lamunanya handphone reisya bergetar membuatnya seketika memutus kontak mata dengan sang bayangan. Di lihatnya ponsel tadi, tertera sebuah pesan yang belum terbaca dari arsen yang semakin menambah getaran jantungnya. Bukan debaran asmara tapi debaran yang membuat siapa saja akan merasa parno. Desiran pembuluh darah nya terasa aneh di dalam tubuhnya ketika rasa tersebut ikut datang bersamaan dengan hawa dingin yang tiba-tiba saja menusuk kulitnya.


Satu pesan yang belum terbaca kini bertambah menjadi dua, tiga, empat dan seterusnya hingga berakhir dengan panggilan masuk yang semakin membuat reisya tak kuasa menahan rasa takutnya. Iris matanya langsung berpendar ke segala arah, dalam takut ia melirik ke setiap benda-benda dan tempat-tempat di sudut terpencil guna was-was akan sesuatu dimana bisa saja terdapat jump square dadakan yang dapat menimbulkan serangan jantung secara tiba-tiba. Masih dengan rasa takutnya ketika melihat ke segala penjuru kamarnya, suara pintu yang terbuka terdengar begitu kuat sehingga membuat reisya langsung terlonjak kaget menatap ke arah pintu kamarnya.


"IBU ?!!" Teriaknya saat itu juga ketika menatap kehadiran sang bunda di ambang pintu yang menatap anaknya dengan tatapan bingung.


"Rei.....?! kenapa berteriak seperti melihat hantu??" Tanya sang ibu dengan gamblang kepada sang anak, reisya langsung memejamkan matanya mengambil nafas dalam lalu mengeluarkannya. Ia benci pikirannya yang tadi lantas menoleh menatap sang ibu yang masih berdiri di tempat.


...."Tadi aku melihat film horor jadinya terkejut ketika ibu tiba-tiba membuka pintu kamarku". Jelasnya sambil meneguk ludah demi menetralkan debaran jantung nya yang masih terpompa dengan kencang.


"Kau ini ada-ada saja". Timpal sang ibu yang disambut senyuman indah sang anak, reisya menyibak rambutnya kebelakang guna memberikan sedikit angin untuk menerpa wajahnya yang berkeringat dingin tadi lalu kembali menatap sang ibunda tercinta.


"Ada apa ibu kemari?" Tanyanya yang benar-benar membuat ia penasaran. Sang bunda yang ingat pun segera menyilangkan kedua tangannya untuk menghangatkan tubuhnya diantara sweater yang dikenakan.


"Arsen datang, dia sudah menunggu mu dibawah cepat temui dia !!" Ujarnya santai namun membuat reaksi reisya tidak biasa.


"Kenapa kau terlihat terkejut begitu? dia sudah mencoba menelpon mu tadi tapi katanya kau tak mengangkatnya. Cepat turun ke bawah dan temui dia kasihan dia sudah menunggu cukup lama dibawah bersama dengan ayahmu." Jelas sang bunda yang kemudian bergegas pergi dari sana meninggalkan sang anak yang masih dengan perasaan terkejutnya.


"Kenapa kau datang kemari arsen......." Gumamnya dengan perasaan khawatir, ia menunduk hingga kepalanya hampir menyentuh pahanya.


Sementara di ruang tamu arsen tengah duduk dan bercanda ria dengan ayah reisya, di tengah candaan tawa itu arsen melihat jika ibu reisya datang dengan membawa beberapa gelas berisi air lemon yang segar dengan beberapa kudapan kecil dari sosis, beberapa potongan buah apel dan pisang serta beberapa udang goreng yang berukuran besar dengan warna merah yang amat menggoda.


"Astaga tante tak perlu repot-repot untuk menyiapkannya !!" Ujar arsen sambil berdiri untuk membantu.


Camilla tertawa kecil, "Ini tak merepotkan sama sekali nak" Setelah memberikan nampan kayu tadi kepada arsen. Camilla ikut duduk di seberang arsen ketika itu reisya juga turun dari dalam kamarnya, di arah kejauhan di tangga itu reisya menatap dengan bimbang kearah arsen dan kedua orangtuanya yang saling tersenyum indah dengan tertawa yang menggema di setiap dinding rumah itu. Pemandangan yang indah memang namun itu hanyalah ekspektasi saja ketika sebuah realita menampar dengan keras angan reisya yang membuat nya menitikkan air matanya seketika.


Di sofa ruang tamu tadi arsen menotice kehadiran reisya dari jauh, namun senyuman yang semula senang melihat kedatangan reisya kini berubah menjadi datar membuat suasana yang semula sumringah di ruang tengah tadi mendadak sepi ketika pasangan alterio mendapati arsen hanya diam dengan menatap ke satu arah. Yuhendra berbalik ikut melirik ke arah yang arsen tuju begitu juga Camilla dan melihat anak semata wayang mereka berdiri jauh di tangga sana.


"Kenapa hanya diam di sana saja?? kemari sayang arsen sudah menunggu mu dari tadi" Suara sang ayah terdengar menyambahi gendang telinga reisya yang membuat gadis itu menaikkan wajahnya setelah menghapus beberapa derai air mata yang sempat turun.


Camilla tersenyum menatap sang anak tanpa tahu jika tadi reisya sempat menangis, "Jangan hanya berdiri di situ rei ayo sapa arsen".


"Baik ibu...ayah...." Ujar reisya yang kemudian berjalan menuju ke arah mereka bertiga berkumpul. Saat reisya berjalan menuju ke arah mereka tadi reisya terus menghindari tatapan dari arsen yang masih tertuju dengannya tanpa mau mengalihkannya barang sedetikpun sejak ia melihatnya dari tangga tadi.


Reisya yang ikut duduk dengan sang ibu pun lantas hanya menatap arsen sekilas untuk menyapanya saja.


"Jadi kalian berdua akan pergi main?" Tanya Camilla yang membuat reisya mengangkat kepalanya terkejut.

__ADS_1


"..apa..??" Tanyanya terkejut dengan menoleh kepada sang ibu.


"Iya tante, (menoleh kearah Yuhendra) apa boleh saya meminjam reisya sebentar??" Tanyanya dengan lantang tanpa ragu.


"Tapi...rei harus..." Ucap reisya yang tak didengar oleh ibu dan ayahnya karena suaranya yang sedikit pelan itu.


"Jangan terlalu malam dan jauh-jauh ya! ingat jam sepuluh reisya harus sampai di rumahnya." Pesan Yuhendra yang mendapat senyuman manis arsen.


"Oh siap om saya akan anterin reisya pulang dengan selamat tanpa lecet, kalau lecet saya siap dapet jackpot nya kok hehe" Canda arsen yang mengundang gelak tawa Camilla.


"Kamu ini ada-ada saja, yasudah kalian pergilah hati-hati di jalan ya !!" Pesan Camilla yang menoleh bergantian kepada kedua anak itu.


"Tapi ma...."


arsen berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya kearah reisya. "Come on princess our date is waiting !!" Ujarnya dengan senyuman khas miliknya yang mengundang sipu malu dari pasangan alterio itu.


Mau tidak mau reisya pun terpaksa menerima uluran tangan tersebut lagipula menolak pun percuma ia juga perlu tahu alasan arsen datang kerumahnya saat ini. Sesampainya di luar reisya langsung melepaskan genggaman tangannya dari arsen membuat pria tadi sedikit terkejut.


"Kenapa rei?" Tanya arsen dengan bingung.


Reisa pun menyibak rambutnya kebelakang, "Untuk apa kau malam-malam kemari?? dan mengajakku untuk kencan pula. Apa yang sudah kau katakan kepada ayah dan ibuku?" Cecar reisya yang membuat arsen kini merubah ekspresinya dengan datar. Tak lupa pria itu tersenyum di akhir sambil memasukkan kedua tangannya di jaket yang ia kenakan, ia menunduk sebentar mencoba memahami pertanyaan lucu reisya kemudian kembali mendongak.


"Ah, sepertinya kau lupa tak membaca semua pesanku ataupun mengangkat ponselku" Jawabnya santai yang membuat reisya sedikit lelah dibuatnya.


Arsen menatap reisya lurus, "Aku bilang bahwa kita berpacaran dan aku juga bilang bahwa kita akan ada janji kencan bersama malam ini !!" katanya dengan diakhiri senyuman manis di akhir.


"APA ?!!" Kaget reisya begitu mendengar nya.


"Lo gila arsen ?!! sejak kapan kita jadian?" Tegas reisya yang membuat arsen hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Lo mau tau rei?" Tanya arsen yang sedikit ambigu membuat reisya sedikit heran dibuatnya. Perlahan arsen berjalan mendekati reisya hingga sempat membuat reisya mundur beberapa langkah namun karena langkah yang arsen ambil lebar dan cepat membuat kejadian tadi terjadi begitu cepat.


Kedua iris hitam reisya terbuka lebar ketika arsen dengan terang-terangan mencium bibirnya tepat di mulut reisya. Tak ada gerakan apapun hanya ciuman biasa yang arsen daratkan dan itu sanggup membuat beberapa indera reisya mati rasa, ia masih di posisi yang sama dengan keterkejutan yang belum sadar itu. Arsen membuka kedua matanya melihat bagaimana reisya hanya diam saja ketika ia cium, dirinya pun menjauhkan diri dan memegang sebelah pipi reisya dengan mengelus nya perlahan. Dengan senyuman yang manis arsen berkata yang sanggup meruntuhkan dunia reisya sekarang ini.


"Mulai sini sampai kemarin dan waktu pertama kita jumpa itu adalah waktu jadian kita !!" Ucapnya dengan lembut yang masih belum bisa dicerna oleh reisya, apalagi dengan tatapan teduh yang begitu menghangatkan perasaan ini.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2