
"Apa.....apa yang baru saja kau katakan suamiku?"
Yuhendra memejamkan matanya kala mendengar pertanyaan sang istri.
"Jawab aku apa yang baru saja kau katakan? tidak itu tidak penting sekarang. Kenapa? kenapa kau membuat keputusan ini sendirian hah !! tidakkah kau pikir jika rayya tau ini akan menyakiti dirinya?"
Teriak nya histeris kepada sang suami yang mana membuat Yuhendra segara meraih tangan istrinya kembali untuk memberikannya sebuah penjelasan.
"Dengarkan aku sayang, aku juga tidak ingin ini terjadi."
"Kau...kau menjual putri kita !! darah daging mu sendiri kau jual Yuhendra hiks..."
"Tidak Camilla tidak...aku tidak menjual rayya, tapi menikah kannya dengan alvendra karena dia menawariku."
"Itu sama saja !! tidak ada bedanya kau !!!"
"Apa yang baru saja aku dengar ini?"
seketika suami istri tadi terdiam dan menoleh ke sumber suara, di sana di depan pintu terdapat rayya dan reisya yang berada di belakangnya menatap penuh terkejut kepada kedua orang tua mereka.
"Ra...rayya !!" gugup sang ayah.
"rayya !!"
*Flashback:
Di meja makan rayya dan reisya menyantap makanan mereka dengan lahap sebelum suara pekikan sang ibu diselingi teriakan kepada sang ayah menggema hingga ke meja makan membuat dua saudara itu saling menatap.
"Ada apa dengan mama kak? apakah mereka bertengkar?"
"Mereka tidak mungkin bertengkar rei"
"Tapi mama berteriak seperti itu mungkin saja terjadi sesuatu aku akan melihatnya !!"
Reisya hendak berdiri sebelum tangan rayya sang kakak mencekalnya.
"Tetap di belakang ku rei!!"
Rayya pun sontak berdiri dan berjalan mendahului reisya membuatnya terpaksa mengekor di belakang sang kakak. Sesampainya di depan pintu ruang kerja ayah mereka, teriakan Camilla semakin melengking membuat keduanya panik hingga membuat rayya langsung saja membuka pintu tersebut dan mendengar sesuatu yang membuat dirinya maupun reisya bagai tersambar petir.
*Flashback end
__ADS_1
"Ibu apa maksud ucapan mu tadi?" Tanya rayya dengan derai air mata yang mulai turun.
"Rayya nak...." kini giliran sang ayah yang hendak menenangkan sang anak.
"Ayah apa benar ucapan ibu tadi?"
Yuhendra menggeleng dengan air mata yang ikut turun.
"Itu tidak benar kan?" Tanyanya seolah itu hanyalah bualan belaka.
"kakak...." Rayya langsung menghentikan ucapan reisya.
"Aku...ingin menenangkan diri sendirian !!"
Dan setelah itu rayya segera meninggalkan tempat tersebut dengan isak tangis yang tiada henti sementara di sana Yuhendra dan Camilla hanya bisa menangis tak tahu lagi harus bagaimana untuk menghadapi wajah sang anak. Yang tersisa kini hanyalah reisya seorang, ia diam benar-benar diam. Ia berjalan perlahan mundur kemudian segera berlari meninggalkan ruangan tadi menuju ke belakang rumahnya yang terdapat kolam renang di sana.
Di tepi kolam reisya terjatuh, air mata langsung lolos begitu saja ketika ia terduduk di sana. Tangisnya semakin kencang menyayat hati, ingatan bagaimana kakaknya hancur, kedua orangtuanya yang berderai air mata membuatnya tambah merasa terbebani.
"Kenapa?...kenapa terus saja terjadi hal buruk setelah mereka merayakan kebahagiaan ku? apa...apa salah mereka hingga harus dihadapi cobaan seberat ini silih berganti?" Tanyanya kepada pantulan dirinya di dalam air sana.
Pertanyaan yang begitu menyayat siapa saja yang mendengar nya, reisya tertekan. Baru saja bulan lalu mereka merayakan kebahagiaan atas bertambahnya usia reisya kini keluarganya harus di hantam beberapa kali musibah silih berganti membuat batin reisya diam-diam tersiksa.
Ia merasa jika kebahagiaan saat itu adalah kutukan baginya dan juga keluarga nya, ia amat menyayangi mereka sangat. Ia rela berkorban nyawa jika sesuatu menimpa mereka karena ia tidak rela diantara mereka ada kesedihan.
Malam itu keluarga alterio tengah meluapkan kesedihan yang amat mendalam, biarlah malam ini angin yang akan membawa pergi segala kesedihan yang ada dan berharap ada keajaiban esok hari yang akan memberikan warna baru bagi keluarga tersebut.
Keesokannya di meja makan, hening terjadi. Reisya menatap kedua orangtuanya yang hanya terdiam membisu, raut lesu tercetak jelas di wajah Camilla sementara kantung hitam dan mata merah bengkak menjadi bukti bagi Yuhendra ayahnya jika semalam ia tak bisa tidur.
Reisya mengganti tugas pelayan dalam menyajikan makanan, setelahnya ia ikut duduk di kursi biasanya dan menikmati makanan tersebut tanpa selera. Mereka semua memulai acara sarapan bersama tanpa kehadiran rayya, mereka sengaja tak memanggil rayya karena mereka masih belum siap untuk bertemu dengan sang anak.
Di meja tersebut hanya ada suara dentingan sendok dan garpu, suasana canda tawa yang biasanya ada kini bagaikan uap yang dapat hilang kapan saja. Rindu, reisya amat rindu suasana itu, ia ingin mengembalikan suasana itu apakah bisa? apakah ia bisa mengembalikan senyum sang kakak? senyum Camilla? dan juga candaan konyol sang ayah apakah reisya dapat mengembalikan nya?
Dapatkah reisya memutar waktu dimana di hari ulang tahunnya hari dimana tonggak awal kesialan itu muncul bisakah reisya menghentikan nya? apakah ia masih diberi kesempatan oleh tuhan untuk mengulang masa-masa indah itu lagi?. Namun di saat ia memikirkan itu semua langkah kaki sepatu bertapak di lantai marmer itu mengalihkan pandangan semua orang yang ada di sana termasuk dirinya.
"Kakak?" ucap reisya yang mana membuat Camilla dan Yuhendra segara berdiri dari duduknya.
Di sana reiya dapat melihat dengan sangat jelas jika sang kakak juga tak bisa tidur sama sepertinya, raut wajahnya terlihat begitu lesu ditambah mata bengkak yang terlihat begitu kentara membuat Camilla dan Yuhendra dihantam ranjau api yang menghancurkan diri mereka masing-masing.
"Kakak baik-baik saja?" tanya reisya memastikan namun tak ada jawaban dari sang empu.
"Kami semua mengkhawatirkan kamu kak"
__ADS_1
"rayya?"
"Ayah.... ibu" Dua kalimat itu membuat Camilla dan Yuhendra langsung menatap wajah rayya yang menatap kosong ke depan.
"Jelaskan semuanya padaku soal semalam"
"Kakak !! kenapa kau ingin membahasnya di pagi-pagi seperti ini !!"
"Reisya diam aku sedang bertanya pada ayah dan ibu !!" sentakan itu langsung membuat reisya terdiam.
"kakak...." panggilnya......
"Nak, kita bisa bicarakan nanti saat kamu siap ya?" bujuk Camilla.
"Tidak !! aku ingin kejelasan sekarang!" kukuh rayya.
ia menoleh menatap sang ayah, "Jelaskan ayah apa yang semalam itu benar? apa ayah menjualku?"
Yuhendra memejamkan matanya dan menarik nafas panjang sebelum berujar, ia menatap rayya hendak memberi penjelasan namun di sana ia mendapati jika Camilla ingin memberhentikan nya.
"Benar !!"
Seketika semua orang langsung memejamkan matanya dengan liquide bening mengalir, sementara reisya membuang muka tak sanggup melihat orang di sekitarnya sedih.
"Tapi ayah tidak menjualmu nak percayalah!! ayah ditawari oleh alberto jika dia ingin meminang mu secara langsung dia....dia..." belum sempat menjelaskan alasannya ucapannya harus dipotong oleh rayya.
"Baiklah" Jawab rayya ambigu membuat semua orang di sana menatap was-was kepada rayya.
"Alasan apapun itu aku tidak peduli, bukankah ia akan datang kemari malam ini? maka aku bisa bertanya padanya langsung apa maunya."
"Rayya jangan bilang kau?"
"Ya ibu aku akan menikah dengannya terlepas apapun itu alasannya nanti !!"
"Rayya !!"
"Anakku !"
"Kakak?"
Semua orang kaget dengan jawaban yang rayya berikan, mereka tidak akan menduga jika rayya akan setuju untuk menikah dengan Alvendra meski tidak mengetahui dengan benar alasan dibaliknya. Dan bersamaan dengan itu batin reisya semakin tertekan dan menjerit pilu kala harus melihat kakaknya berubah seperti mayat hidup hanya karena alasan tidak masuk akal yang diberikan oleh alvendra pada ayahnya.
__ADS_1