
"Kau sudah tiba? Mari makan bersama. Kau datang tepat waktu, aku baru selesai menyiapkan nya tadi." Kata rayya kepada alvendra dengan ramah, namun tidak dengan reisya.
Degup jantungnya bekerja dengan cepat ketika mendengar apa yang saudarinya tadi katakan. Hawa dingin langsung menerpa tubuhnya, rasa merinding datang menggerogot secara perlahan dari pusat tubuhnya. Kedua kakinya lemas seakan tak dapat untuk berpijak di lantai, dengan patah-patah ia menoleh ke arah belakang dan di detik itu juga manik hitam miliknya melebar. Raut pucat langsung menghampiri wajahnya, nafasnya bekerja abnormal ketika di sana alvendra dengan sengaja menatap dirinya dengan pandangan yang tak bisa dirinya tebak. Keduanya saling diam dengan masih mengunci arah pandang, reisya berusaha meneguk ludahnya yang mana terasa kering.
"Apa yang kalian berdua lakukan? Mari makan sebelum hidangannya dingin." Suruh rayya yang memecah keheningan diantara mereka berdua.
Alvendra langsung melirik sang istri kemudian berjalan melewati reisya yang masih diam mematung. Setelahnya alvendra dan rayya pun berbincang selayaknya suami dan istri sementara reisya langsung memegang lehernya yang entah mengapa terasa begitu dingin seolah ada aura lain yang terus mengawasi dirinya membuatnya tidak tenang.
"Bagaimana dengan skripsi mu?" Tanyanya kepada rayya yang masih menyiapkan makanan untuk dirinya.
Reisya menatap alvendra dan tersenyum sekilas sebelum dirinya menjawab. "Lancar. Hanya tinggal menunggu perevisian saja dan setelah itu aku akan ikut wisuda"
"Selamat !" Ucapnya singkat yang dibalas senyuman oleh sang istri.
Di saat rayya selesai untuk menyiapkan makanan kepada alvendra, ia berdiri dan menatap bingung reisya yang masih tetap berdiri di tempat.
"Reisya...." Panggil sang saudari yang mana membuat alvendra dan reisya menoleh.
"Ya?" Tanyanya panik.
"Kau tidak ingin duduk? Mengapa masih berdiri? Cepat makan sup mu sebelum dingin dan jangan lupa minum obatnya". Ujarnya yang mendapat kerutan wajah oleh alvendra.
"Kau....sakit?" Dua kalimat itu sukses membuat niat reisya yang ingin duduk pun terhenti. Ia menoleh menatap alvendra yang menatap tajam dirinya seolah meminta penjelasan secara langsung darinya.
"A...aku? Aku...." Ucapnya terbata.
"Dia demam sejak tadi pagi !" Sela rayya yang mana kini alvendra kembali menoleh kepadanya.
"Saat aku pulang tadi dia sudah berbaring di dalam kamar dengan suhu badan yang cukup tinggi." Mendengar penjelasan tersebut alvendra mengerti, ia pun kembali menatap reisya yang hanya diam saja sembari memegang sendok nya dengan kuat.
.
.
.
Acara makan sudah selesai, setelah ia membantu membersihkan meja makan dia memutuskan untuk kembali kedalam kamarnya. Dengan lesu ia berjalan menuju ke lantai atas kamarnya. Sesampainya di depan pintu ia hendak membuka kenop sebelum tangannya dicekal dan langsung ditarik sehingga posisinya kini terkurung di dinding. Terkejut? Itu sudah pasti apalagi jika pelakunya adalah alvendra yang saat ini menatap tajam dirinya.
"Ap...apa yang kau inginkan?" Tanyanya gemetar karena takut sudah menggelayuti dirinya.
"Apa benar kau sakit?" Ucapnya dengan sengaja mendekatkan wajahnya kearah reisya namun tidak mendapatkan balasan apapun dari dirinya.
"Ah, apakah kau terkejut karena per....." Ucapan alvendra terpotong ketika reisya tau kemana arah pembicaraan yang alvendra maksudkan.
"Ya kau benar ! Itu adalah alibiku." Jujurnya yang membuat alvendra tersenyum puas.
"Jadi kau takut rupanya" Katanya yang mana membuat reisya memejamkan matanya berusaha menahan diri.
"Apa yang kau inginkan?" Tanyanya dengan menatap langsung manik hitam tersebut.
"Tidak ada..." Sahutnya yang kemudian melepaskan cengkeramannya pada salah satu tangan reisya.
Merasa aman reisya pun bergegas untuk masuk kedalam kamarnya sebelum sesuatu yang buruk bisa saja terjadi. Namun lagi-lagi langkah nya harus dihentikan oleh alvendra.
"Jadi kau masih belum mau mengaku dan memberitahukan tentang kejadian tadi pagi?" Ucapnya dengan sengaja, ia pun berbalik ke samping menatap sang adik ipar yang diam membatu di tempat pintu. Ia menolah melihat alvendra yang dengan santai menatap dirinya dengan tatapan datar berusaha menunggu jawaban darinya.
"Aku jadi heran, apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" Tanyanya yang masih di dengar oleh reisya.
"Uang? Tas? Atau barang lain sehingga kau sampai berani untuk menghinati rayya !!" Ucapnya yang langsung membuat tangan reisya terkepal. Dirinya tahu bahwa ia tengah dipancing oleh alvendra namun kata-kata yang ia gunakan sungguh membuat dirinya seperti ****** rendah yang pantas untuk dihina.
"Atau kau sebenarnya ingin melakukan hal ini?"
__ADS_1
"CUKUP !!" Sentaknya yang langsung membuat diam dan menatap serius wajahnya.
"Jika kau ingin tahu alasannya maka dengarlah !" Tantang reisya yang hanya dibalas tatapan datar alvendra.
"Memang semua itu benar. Malam itu aku memang tidur denganmu ! Malam itu aku memang menggantikan posisi rayya. Kau tahu kenapa? Karena rayya saudariku belum siap untuk memenuhi hasrat mu. Dia belum siap untuk menjadi istri yang sebenarnya kepadamu, dan ya! Malam itu aku terpaksa menggantikan dirinya kau puas?" Jelasnya panjang lebar dengan sorot mata marah diselingi air mata yang siap untuk turun.
"Lalu kemana dia pergi?" Tanyanya lagi.
"Tentu saja ia pergi untuk menenangkan dirinya. Apakah kau tidak sadar jika kau itu sudah memaksakan kehendak mu padanya? Seharusnya kau lebih mengerti tentang keadaan bagaimana pernikahan kalian itu bisa terjadi. Bukan malah sebaliknya, kau memanfaatkan kesempatan ini untuk..." Katanya yang sudah tidak kuat untuk melanjutkannya lagi.
"Aku rasa aku sudah cukup memberitahukan nya. Yang terjadi saat itu aku hanya berusaha mengamankan posisi kakakku darimu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika nanti rayya tidak dapat memenuhi hasrat mu. Jadi selamat malam dan kuharap kau tidak akan lagi menganggu diriku". Ucapnya yang kemudian segera beranjak menuju ke dalam kamarnya, namun sebelum dirinya sempat untuk menutup pintu kamarnya dengan gesit alvendra menahan dan langsung membanting pintu tadi sehingga membuat reisya kehilangan keseimbangan dan terhuyung kebelakang.
"Apa yang kau lakukan ?!" Teriaknya kepada alvendra yang menatap dingin reisya membuat dirinya membatu seketika.
"Kau pikir kau bisa lolos semudah itu? Apa kau tidak pernah memperkirakan sesuatu akan terjadi padaku hah !!" Ucapnya penuh penekanan kepada reisya yang mana membuat dirinya ketakutan dan berjalan mundur.
"Kau kira dengan membayar kesalahan mu tadi pagi maka semuanya akan selesai?" Cecarnya lagi yang semakin memojokkan reisya.
"Rupanya kau sulit untuk dijinakkan hmm !!"
"Apa yang kau lakukan? Bukankah aku sudah memberitahukan alasannya? Mengapa kau melakukan ini padaku? Dimana lagi letak kesalahan ku?". Tanyanya bertubi-tubi sehingga ia tak menyadari bahwa ia sudah benar-benar terpojok.
"Agh !!" Teriaknya ketika jatuh terduduk di atas ranjang. Ia hendak berdiri sebelum alvendra memegang sebelah kakinya dan mengangkatnya untuk ia taruh di pahanya, sebelah tangannya ia gunakan untuk memegang dagu reisya dan menatap dalam wajah cantik itu.
"Letak kesalahan mu adalah karena kau sudah berani untuk mengujiku reisya atanazwa!" Desisnya penuh penekanan diakhir kalimat.
Langsung saja alvendra meraup bibir reisya dan membungkamnya dengan ciuman bertubi-tubi yang membuat reisya membulatkan kedua matanya.
.
.
.
.
.
"Ah....hah...ah..." Desahnya ketika ia sudah mencapai klimaksnya, dirinya menatap jam di dinding kamar tersebut yang sudah menunjukkan pukul dua belas tepat. Ia tersenyum sejenak sebelum mengeluarkan miliknya yang masih menegang untuk keluar dari sarang nyaman milik reisya. Dia menjatuhkan tubuhnya yang bermandikan peluh di sebelah tubuh sang adik ipar, ia memejamkan mata berusaha untuk mengatur ulang kembali nafasnya. Kedua kelopak mata reisya yang sedari tadi terpejam kini terbuka perlahan, ia menoleh menatap bahwa alvendra tertidur di sampingnya. Ia membencinya, lagi-lagi ia tidak bisa membela dirinya ketika alvendra menyetubuhinya.
Reisya berusaha untuk duduk kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas, seharian ini ia tidak menyentuh benda kotak tersebut. Dengan sisa tenaga yang ia miliki ia pun segera meraih benda tersebut dan terkejut ketika banyak sekali pesan dan panggilan tak terjawab dari arsen. Ia membuka setiap isi pesan yang arsen kirimkan, disana ia tersenyum hambar bagaimana arsen mengiriminya pesan khawatir karena tak membalas isi pesannya. Dengan rasa bersalah ia pun segera membalas kembali isi pesan tersebut.
.
.
suara notif ponsel berbunyi, arsen yang sudah terlelap itu pun segera meraih ponselnya ketika suara itu terdengar sangat nyaring. Dengan mata yang masih tertutup ia mencoba untuk menggapai benda kotak yang ikut tidur bersamanya tadi hingga ketika ia menemukan nya ia lantas membukanya.
Rei crush
'Maaf, tadi pagi aku tidak enak badan jadi aku tidak membuka ponsel sama sekali. Tapi sekarang aku sudah sedikit lebih baik karena sudah beristirahat dengan cukup !'
Seketika arsen segera duduk dengan matanya yang terbuka lebar-lebar, rasa kantuknya seakan lenyap ketika membaca isi pesan yang reisya kirimkan.
"Kenapa dia baru membalasnya !!" Keluhnya dengan menatap jam pada ponselnya.
Suara nyaring terdengar yang kini datang dari suara ponsel reisya kembali berdering.
'Lantas mengapa malam-malam seperti ini kau tidak istirahat?'
Senyum reisya langsung pudar seketika karena niatnya untuk istirahat telah di rusak oleh alvendra. Sementara itu arsen berjalan mondar-mandir yang gelisah karena tak kunjung mendapatkan balasan dari reisya sehingga ia memutuskan untuk menelfon dirinya. Terkejut mendapati bahwa arsen menelfon dirinya ia segera membekap ponsel tersebut dan menoleh kebelakang menatap alvendra yang tertidur lelap di atas ranjang di sana. Melihat hal tersebut dengan cepat reisya segera memakai piyama miliknya dan lekas berdiri dari sana berlari menuju kedalam kamar mandi. Ia menatap ponselnya yang masih berdering kemudian segera mengangkatnya.
__ADS_1
"Ah hai rei, kupikir kau tidak akan mengangkat panggilan ku." *Tanya arsen kepada reisya yang masih di dengar olehnya.
"Maaf karena aku tidak membalas semua pesan mu."
"Aha, tidak masalah. Apakah kau baik-baik saja? kau sudah memeriksakan dirimu ke dokter? ah tidak kau pasti sudah periksa ke sana. Obat!! apakah kau sudah meminum obatmu?" Tanya arsen dengan khawatir yang membuat reisya terkekeh ketika mendengar nya.
"Kau tidak usah khawatir aku baik-baik saja." Ucapnya dengan pasti yang membuat arsen tersenyum lega.
"Syukurlah kalau begitu kupikir kau dihukum atau semacamnya !!" Ucap arsen tiba-tiba yang membuat dahi reisya berkerut.
"Kenapa kau berpikir demikian?" Tanya reisya heran.
"Karena aku masih teringat akan kejadian dimana kakak iparmu waktu itu... kupikir*...."
Reisya terdiam ketika arsen mengucapkan kalimat tersebut tubuhnya menegang, namun bukan karena ucapan yang arsen katakan. Melainkan disana reisya menatap pantulan alvendra dari cermin yang berdiri di belakangnya dengan menatap dingin terhadapnya. Ia segera berbalik dan benar saja alvendra berjalan mendekatinya dan langsung mengambil ponsel tersebut dari genggaman tangan reisya, ia menaruhnya untuk mendengar siapa yang menelfon dirinya.
"Kurasa kau harus menjauh dari kakak iparmu Rei, aku sedikit khawatir ketika memikirkannya !" Ucap arsen tanpa tahu jika yang mendengarnya adalah alvendra, masih dengan menatap dingin reisya ia segera menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya dan mematikannya secara sepihak.
"Rei kau mendengar ku?...Rei..."
Telfon dimatikan secara sepihak membuat arsen kebingungan, ia pun segera memutuskan untuk kembali menelfonnya.
"Rupanya kau memiliki kekasih yang perhatian !!" Katanya yang membuat reisya ketakutan, apalagi di saat arsen kembali untuk menelfon dirinya. Reisya melirik ponsel yang alvendra pegang begitu pula alvendra yang mengikuti arah pandang reisya.
"Tapi dia melakukan kesalahan dengan berani menganggu milik seseorang !!"
"TIDAK !!" Teriaknya ketika alvendra membuang ponsel tersebut dan langsung menarik tubuh reisya pergi dari dalam sana, mengabaikan suara telepon yang terus berdering tersebut.
Tubuh reisya di banting di atas ranjang dan di atas sana alvendra menatap tajam kepada reisya.
"Sudah kukatakan tadi bahwa kau adalah milikku reisya !!" Ucapnya final tak terbantahkan dan seketika reisya tahu bahwa ia ada dalam bahaya yang besar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sementara di lain tempat, arsen yang gagal menghubungi reisya pun menatap khawatir kearah pantulan jendela di hadapannya.