
Kedua kelopak mata reisya terasa begitu kering, air matanya sudah tak dapat mengalir. Matanya sakit ketika ia ingin berkedip, keduanya membengkak ia hanya terdiam menatap langit-langit kamar berwarna abu-abu itu. Badannya terasa remuk namun tidak seperti jiwanya yang hancur, perlahan ia menoleh menatap kearah pintu kamar yang terbuka. Dia memejamkan matanya sejenak berusaha untuk mengumpulkan tenaganya yang terkuras habis, setelahnya dia pun berusaha untuk duduk meski itu dengan cara mati-matian. Ia menarik kedua kakinya kemudian menelusupkan kepalanya diantara lututnya, posisi yang tidak mengenakkan tentu saja namun hanya posisi ini sajalah yang sanggup reisya lakukan ketika ia tak tertutupi oleh penghalang apapun.
Rasanya baru beberapa jam yang lalu bagaimana alvendra sudah menyentuh dirinya dan itu sangat menyakitkan bagi reisya. Bagaimana kasarnya pria itu menghentak miliknya tanpa memperdulikan tangisannya, mungkin karena marah ia sampai hilang kendali namun bagi reisya ia terpaksa untuk menutup mulut karena tidak ingin ada hal yang ia takuti sampai terjadi. Merasa sedikit lebih baik ia pun segera turun dari atas ranjang dengan tertatih dan mencari pakaian miliknya yang pasti sudah dilucuti oleh alvendra. Menemukan apa yang ia cari dengan perlahan ia memakainya kemudian tak lupa merapikan semua tempat tidur itu seperti semula, seolah hal tadi tidak pernah terjadi.
Mengapa reisya perlu melakukannya? tentu saja harus karena bentuk kamar itu sungguh berantakan, dan reisya tak ingin membuat rayya saudarinya curiga. Untuk itulah mengapa ia membereskan kamar tersebut dan membawa serta seluruh barang-barang yang menjadi distopia miliknya. Ia keluar dari dalam kamar alvendra menuju kedalam kamarnya sendiri, disana ia langsung mencari benda kecil yang saat ini ia butuhkan. Setelah mendapatkan nya ia pun langsung berdalih menuju ke tempat sampah yang berada tak jauh dari meja samping tempat tidurnya, ia langsung membuang semua barang-barang itu dan lekas membakarnya. Diamati bagaimana api itu melahap habis seluruhnya dan setelah itu dengan perasaan muak ia bergegas mandi untuk menghapus semua bekas yang ada di tubuhnya, semua bekas yang alvendra tinggalkan di sana entah itu bau, tanda dan apapun itu semuanya akan ia hapus.
.
.
.
.
.
Siang itu apartemen tersebut rasanya kosong, untung saja hari itu weekend sehingga ia tak pergi ke sekolah. Di apartemen besar itu hanya terdapat reisya saja seorang. Ia tidak peduli dimana rayya atau alvendra berada karena baginya saat ini ia butuh self-care dari kejadian buruk yang beberapa jam lalu terjadi. Ia hanya tidur di atas ranjang menyelimuti tubuhnya, bahkan di saat ada suara dari notif ponselnya saja ia anggurkan. Dia terlalu malas hanya untuk melihatnya, karena baginya saat ini dia hanya ingin sendirian tanpa di ganggu oleh siapapun. Sementara itu di lantai bawah rayya memasuki rumah itu dengan senyum sumringah yang terpatri begitu cerah di wajahnya, namun di saat dia berbalik setelah menutup pintu suasana yang ada di sana begitu lain.
Rumahnya terasa sepi dan juga gelap, perlahan ia mencari keberadaan sakelar lampu dan menghidupkan nya. Matanya menangkap bagaimana tirai-tirai di dekat jendela masih tertutup hingga dengan inisiatif nya ia pun segera berjalan menuju ke sana dan membuka tirai tersebut.
"Sudah siang seperti ini apakah reisya tidak ada di rumah?" gumam rayya yang kemudian berdalih menuju ke meja makan.
Di sana ia mendapati keadaan meja yang amat rapi seperti tidak tersentuh sejak semalam membuatnya bingung. Hingga ia pun memutuskan untuk melangkah menuju kamar reisya sang adik. Sesampainya ia mengetuk perlahan daun pintu tersebut namun tidak mendapatkan balasan apapun sehingga ia mencoba untuk membuka pintu itu dan mendapati adiknya tengah tertidur di atas ranjang dengan selimut tebal membungkus dirinya. Dengan panik rayya pun segera berlari mendekati ranjang reisya.
"Rei...kau kenapa? apa kau sakit?" Tanya rayya sambil membelai wajah pucat reisya.
Merasa ada yang menganggu tidurnya dengan perlahan ia membuka kelopak matanya dan mendapati wajah rayya.
"Kakak sudah pulang?"
"Tentu saja, kau kenapa rei hmm? apa kau sakit?" Tanyanya yang langsung memegang dahi sang adik.
"Kau demam !!?" Ketika hawa panas menjalar dari punggung tangan rayya saat memegang dahi sang adik.
"Aku baik-baik saja kak !!"
"Baik-baik saja katamu? wajahmu saja pucat seperti itu. Tetap di sini kakak akan menyiapkan air hangat untukmu." Katanya yang kemudian segera pergi dari dalam kamar sang adik.
Reisya yang masih di posisi semula hanya diam tak berkata sambil menatap kepergian rayya dengan linangan air mata. Mendengar bahwa rayya kembali dari dapur membuat reisya segera mengusap air matanya, dilihatnya dengan cermat bagaimana rayya memeras handuk kecil tadi dan menatap kearahnya.
"Kau merasa mual?" tanyanya khawatir yang dibalas gelengan lemah oleh reisya sendiri.
"Tidurlah, kakak akan pasangkan ini !!" Ucapnya yang membantu reisya untuk tidur kembali ke tempat tidurnya dan memasangkan handuk tadi di dahinya.
"Bagaimana dengan skripsi mu?" Tanya reisya berusaha untuk mengalihkan perhatian sang saudari.
"Kau tidak perlu khawatir, semuanya berjalan lancar tinggal menunggu revisinya saja." Jelasnya yang membuat senyum tipis terukir di bibir reisya.
__ADS_1
"Apakah semalam alvendra tak pulang? kenapa suasana rumah begitu sepi?? semalam aku berbalas pesan dengannya dan katanya kalian makan bersama benar?" Tanya rayya yang mana langsung membuat reisya diam. Sejujurnya ia ingin menangis saat itu juga disaat rayya berkata demikian, karena bukan makan malam secara normal melainkan hal gila lain yang sudah terjadi sungguh membuat reisya ingin menangis.
"Ya, kami makan malam bersama." Bohongnya demi menutupi rahasia besarnya.
"Kau sudah sarapan?" Tanya rayya yang dibalas gelengan kepala reisya.
"Akan kakak buatkan sup untukmu" Kata rayya yang kemudian mengambil nampan berisi mangkuk besar tadi dan membawanya keluar dari kamar reisya.
"Maaf karena menyembunyikan sesuatu yang buruk padamu kak !! maaf." Katanya dengan suara kecil yang hanya mampu ia dengar saja.
.
.
.
.
.
Di perusahaan, alvendra duduk dengan nyamannya di kursi kebesaran miliknya. Setelah apa yang ia lakukan tadi terhadap adik iparnya, percintaan singkat itu sungguh luar biasa baginya. Ia tersenyum kala mengingat bagaimana rasanya tubuh mereka yang memanas seiring dengan pendakian menuju ke puncak, namun sayang ada rasa tidak suka ketika reisya terus menghindari tatapan matanya dan terus diam menahan suaranya yang tak mau mendesah kan namanya. Alvendra sungguh tidak suka dengan itu semua, ia masih merasakan bahwa dirinya belum bisa menaklukkan gadis itu dan merasa tertolak untuk selamanya. Mengingat hal itu sungguh membuat alvendra menggertakkan rahangnya, ia marah dan jengkel tentu saja. Namun daripada dia harus menuruti amarahnya dan kembali pulang hanya untuk menyetubuhi reisya dia pun memutuskan untuk melaksanakan meeting yang akan terjadi dalam beberapa jam kedepan.
Untuk saat ini biarlah ia melupakan sejenak mengenai hal kotor itu, ia juga harus fokus terhadap perusahaan nya. Mau bagaimana pun perusahaan miliknya harus tetap di urus agar posisi terbaiknya tidak mungkin tergeser dalam daftar, apa kata dunia jika investor seperti seorang alvendra tiba-tiba saja turun rangkingnya. Big trouble, ia akan dihujani oleh media yang akan menyorot mengenai alasan kemunduran perusahaan nya itu. Sementara itu di tempat perkumpulan ruang OSIS, usai rapat bersama dengan anggota untuk serah terima jabatan. Arsen masih setia bermain dengan ponselnya, dilihatnya sesekali pesan terakhir yang ia kirimkan kepada reisya namun masih belum dijawab oleh sang empu benar-benar membuatnya khawatir.
"Sen !! lo sebenernya dengerin gue gak sih?" Tanya Dio sahabat arsen yang melirik sebal karena dia sama sekali tak fokus waktu diajak untuk berdiskusi.
"Yaelah fokus bentar untuk kesini ngapa? pacar lo masih bisa nunggu kan?" amuknya dengan kesal sementara arsen hanya nyengir kecil.
"Ya menurut gue sih setuju-setuju aja, lebih baik kita kasih arahan tentang gimana mereka cari dana sama cari sponsor buat jaga-jaga kalau ada event besar di sekolah kita." Tuturnya dengan gestur serius.
"Dan soal masalah di anggota lebih baik kita nggak usah terlalu mencampuri urusan mereka karena kita udah nyerahin semua ke mereka yang artinya kita udah engga ada hak untuk ikut campur permasalahan di organisasi ini lagi."
"Hm...bener juga sih emang" Setuju dio dengan menganggukkan kepalanya dan menulis sesuatu tentang itu.
Namun sebelum menyelesaikan tulisannya dio pun teringat akan sesuatu dan menatap kembali arsen yang menatap ponselnya dengan tatapan khawatir.
"Ar, lo emang pacaran sama reisya?" Ucapnya tiba-tiba yang membuat arsen menoleh seketika.
"Hah?"
"Ck! gue tau lo tuh engga budek. Jadi beneran lo pacarnya reisya anak IPS itu?"
"Emang kenapa?" tanya dengan gestur antara peduli dan tidak peduli.
"Ya banyak cewek-cewek ngomong kaya gitu soalnya. Akhir-akhir ini lo kan sering banget sama dia, dan gue juga pernah liat lo nganterin dia pulang. Tapi gue nggak pernah liat kalian berdua gandengan tangan atau sekedar me time bareng !!"
Arsen langsung speechless seketika, sedikit sakit memang ketika ditanya seperti itu namun dengan santai ia membenahi tata raut wajahnya.
__ADS_1
"Emangnya pacaran harus selalu make skinship?" Tanyanya yang membuat dio balik menatap sedikit malas kepada arsen.
"Emang engga, jadi gimana kejelasannya?" Tuntutnya kepada sahabat itu.
"Lo kepo banget si kaya mereka?"
"Karena lo bukan cowok biasa di sekolah ini. Makannya gue tanyain lo kaya gini, gitu pun masih pake nanya lagi." Jawabnya yang dibalas kekehan keras arsen.
"Doain aja !!" Balas nya yang membuat dio seketika langsung paham.
"Yaudah gue mau balik dulu mau siap-siap ekstra." Tuturnya yang segera beranjak dari sana.
.
.
.
.
.
.
Malam tiba, reisya juga sudah mandi hanya saja ia hanya diam mematung dengan duduk menatap pantulan dirinya dari cermin di depannya. Manik hitamnya melihat dengan nanar bekas kissmark di sekitar lehernya yang sangat banyak itu, potongan ingatan dimana alvendra menggigitnya begitu terasa membekas di permukaan kulit tersebut. Terasa membakar seperti ditusuk oleh jarum dengan spontan tangannya langsung menggaruk bekas tersebut berharap mengurangi rasa sakit yang masih terasa dengan jelas itu. Ia menatap benci karena bekas itu seperti menertawakan dirinya, menertawakan sikap bodohnya yang mau saja ditiduri oleh alvendra hingga dengan sisa akalnya ia langsung mengubrak abrik seluruh benda yang ada di meja riasnya tersebut.
"Reisya kau baik-baik saja?" Teriak rayya dari bawah yang sempat mendengar suara gaduh dari dalam kamar sang adik.
"Y...ya aku baik-baik saja. Hanya, hanya lemas saja karena tubuhku sedikit tidak enak !" Teriaknya yang mana tadi mendengar ucapan sang kakak.
"Baiklah kalau begitu turunlah kita makan bersama." Teriak rayya yang dibalas gumaman oleh reisya.
Di bawah rayya sudah menyiapkan makan malam, dari arah tangga turun reisya yang berjalan dengan sedikit tertatih. Bagian bawahnya sangat sakit jika kalian ingat bagaimana alvendra siang tadi menyetubuhinya.
"Kenapa tak memanggil ku untuk membantu menyiapkannya?" Tuturnya setelah sampai di depan meja makan.
Rayya berbalik ketika mendengar suara adiknya, ia tersenyum dengan membawa semangkuk panas berisi sup yang reisya yakini itu adalah untuk dirinya.
"Tak masalah, ini bukan hal besar untuk dilakukan seorang diri" Katanya sambil menaruh sup tadi di atas sepotong kain di atas meja tersebut.
"Duduklah" Suruh rayya yang dibalas anggukan setuju oleh reisya.
Namun belum sempat untuk mendudukkan pantatnya suara pintu depan terdengar berbunyi yang menyita perhatian kedua wanita yang sedang berada di dapur itu. Rayya yang sepertinya mengetahui siapa orang itu pun lantas membereskan seluruh dapur tadi sementara tubuh reisya sudah panas dingin dibuatnya. Jantungnya bekerja abnormal ketika setiap iringan suara sepatu itu menggema ketika menyentuh dinginnya lantai marmer di koridor tersebut yang semakin lama semakin terdengar menuju ke meja makan tempat dirinya berada sekarang ini.
"Sepertinya itu alvendra." Ujar rayya yang mana reisya segera menoleh menatap sang kakak.
"Sudah pulang? mari makan bersama. Kau datang tepat waktu, aku baru selesai menyiapkan nya tadi." Kata rayya kepada alvendra dengan ramah, namun tidak dengan reisya.
__ADS_1
Badan reisya terasa dingin, debar jantung nya semakin tidak terkendali ketika rasa takut dan panik mulai menghampiri dirinya. Dengan patah-patah reisya menoleh dan di sana pupil hitamnya melebar, alvendra berdiri di depannya dengan sengaja menatap dirinya di iringi dengan smirk samar di sudut bibir tebal tersebut.