PRISON

PRISON
0:04 menikah


__ADS_3

"Saya sedih harus melihat saudari saya tersiksa karena harus menikah dengan anda"


.


.


.


"Seberpengaruhnya anda saya tetap merasa kasihan kepada saudari saya karena ia harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai dan tidak mencintai nya. Lantas apresiasi dan kebanggaan apa yang akan ia dapatkan? apakah ia bisa membanggakan hubungan paksaan itu? anda memang sempurna dalam segala hal tapi satu hal yang anda tidak miliki yaitu perasaan. Anda bicara bahwa saudari saya akan mendapatkan kebanggaan dan apresiasi dari banyak orang karena memangku nama alvarez bukan? tapi nyatanya semua itu hanya akan terjadi lewat media bukan di kehidupan nyata. Karena jika di kehidupan nyata ia hanya akan menanggung kesedihannya serta kesengsaraan karena tidak dapat membanggakan nama alvarez dalam arti yang sebenarnya !!!"


.


.


.


"**** !!" Racau alvendra.


Sial mengapa ucapan gadis itu harus terngiang di dalam kepalanya lagi? itu membuat dirinya yang saat ini tengah meniduri wanita ****** di bawah nya kembali memainkan miliknya dengan sangat kasar.


"Akh...ah **** al !!!" Desah ****** di bawahnya.


"Diam ****** !!" bentaknya


Alvendra menghentakkan miliknya semakin brutal di kewanitaan ****** di bawahnya yang menggelinjang kenikmatan dibawah kuasanya. Ya inilah salah satu sifat alvendra, ia suka **** dengan wanita tapi bukan wanita sembarangan yang akan ia pilih melainkan wanita yang benar-benar bersih. Ia sering melakukan hal itu ketika ia sedang stress ataupun lelah dengan aktivitasnya dalam perusahaan, namun kali ini ia datang bukan karena itu. Ia datang lantaran begitu marah atas ucapan anak gadis kepadanya, ucapan seorang reisya atanazwa. Bocah itu dengan ucapan yang tadi ia katakan benar-benar membuat alvendra marah hingga ia melampiaskan nya kepada wanita ****** di bawahnya ini.


Sial !! di saat seperti inipun ia masih bisa membayangkan suaranya dan juga ekspresi yang begitu menantang dirinya bahkan merendahkan harga dirinya. Dengan kasar alvendra semakin memainkan permainannya dengan brutal membuat wanita di bawah nya kesulitan untuk mengimbangi permainan yang alvendra lakukan.


"Ah pelan...al pelan..." ucapnya kesusahan.


"Diam dan nikmati saja ****** !!" Sentaknya yang semakin meningkatkan tempo miliknya.


"Ah...faster al nyah..."


Wanita itu semakin menggila dengan permainan alvendra yang benar-benar membuatnya menggila. Ia benar-benar beruntung karena terpilih oleh alvendra sewaktu di bar tadi, ia sudah sering dengar jika alvendra adalah pria sempurna soal ranjang.

__ADS_1


"Al...ah kau...ah sempurna !!" Ucapnya terpatah-patah.


Sempurna !!


"Cih !!" Decihnya kala mendengar kalimat tadi, ia justru semakin teringat akan ucapan gadis itu hingga ia menaikkan kembali tempo miliknya hingga membuat wanita di bawahnya semakin memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang tak dapat di definisikan oleh apapun itu.


Hingga setelah pergulatan lama itu Alvendra pun mencapai puncaknya bersama dengan wanita itu, dan tentu saja alvendra tak menyebar benihnya sembarangan ia sudah memakai pengaman tadi hingga cairan miliknya tertampung penuh pada pengaman tersebut. Setelahnya alvendra lekas berdiri dan berjalan untuk memakai kembali pakaiannya sementara wanita tadi langsung duduk dengan sensual dan menatap kearah alvendra.


"Apakah besok malam aku bisa menemani mu lagi?" Tanya wanita tadi dengan nada sensual kepada alvendra.


Namun sepertinya alvendra tidak tertarik, ia masih diam dengan raut wajah datarnya sambil menata pakaiannya. Dengan cepat Alvendra mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya dan menuliskan sesuatu di sana kemudian melempar secarik kertas kepada wanita di hadapannya yang mana langsung ia berlalu dari sana tanpa sepatah katapun.


Wanita tadi hanya menatap kepergian alvendra kemudian segera melihat kertas tadi, senyum besar mengambang ketika tahu isi nominal cek tersebut begitu besar hingga mampu memanjakan dirinya selama beberapa bulan kedepan.


Sementara itu di dalam mobil di perjalanan pulangnya, alvendra menelfon segera menelfon sang sekertaris.


"Sean katakan besok kepada keluarga alterio bahwa pernikahan nya akan ku percepat bulan depan dan jangan lupakan juga untuk memberitahu pria tua itu."


"Baik tuan !!"


.


.


.


.


.


.


.


1 Bulan Kemudian.....

__ADS_1


Hari pernikahan itu tiba, di gedung mewah pilihan alvendra menyelenggarakan pernikahan itu banyak tamu undangan sudah datang. Banyak tamu penting yang datang untuk menghadiri acara resepsi pernikahan kelurga alterio dan juga keluarga alvarez, di sana pasangan utamanya rayya dan alvendra tampak menerima ucapan selamat dari para tamu. Sementara reisya lebih memilih untuk menjauhkan diri, ia tidak sanggup melihat sang kakak yang harus berpura-pura bahagia itu padahal tadi sebelum acara akad dilaksanakan ia sudah menangis dengan hebatnya.


Ia lebih memilih membuang muka mencoba untuk mengacuhkan mereka dengan menyendiri dari para kerumunan yang ada di sana, sementara pasangan baru itu hanya diam sambil sesekali menerima sapaan dari para tamu. Di sebelah alvendra rayya tampak diam-diam melihat sang suami hendak mengatakan sesuatu namun dirinya terlalu takut untuk itu hingga tanpa diduga alvendra menyadarinya dan menanyakan nya secara langsung kepada rayya.


"Katakan jika kau ingin bertanya" Tanyanya dengan wajah dingin.


"Apakah....apakah malam ini? kita harus"


"Tentu saja kenapa harus ditanyakan itu sudah hak ku !!"


Jawaban alvendra kembali membuat rayya diam, ia gelisah. Dia belum siap, ternyata alvendra tahu maksud pertanyaannya tadi.


"Ta..tapi"


"Apalagi? kau istriku itu kewajiban mu !!"


Rayya lagi-lagi terdiam, ia sungguh takut dan gelisah dia tidak siap sangat tidak siap jika harus melakukan malam pertama dengan alvendra.


"Baiklah tapi..."


"Apa?"


"Bi...bisakah aku juga ikut membawa adikku ke rumahmu?"


Alvendra menoleh kearah rayya dan menatapnya dingin, sontak hal itu langsung membuat rayya menunduk.


"Dengar, aku sangat ingin bersama adikku untuk beberapa hari kedepan. Aku, aku masih terlalu takut jika sendirian di tempat mu. Kumohon hanya sampai aku merasa nyaman berada di rumahmu maka izinkan rei untuk ikut tinggal bersamaku."


Alvendra terdiam, sebenarnya ia tidak terlalu suka jika ada orang lain lagi yang harus tinggal di rumahnya terlebih gadis yang sempat menantang dirinya itu. Ia terdiam benar-benar terdiam, memikirkan permintaan sang istri yang menurutnya sangat tidak masuk akal itu tapi melihat bagaimana ia akan memberikan imbalan untuk langsung bermalam pertama setelah ini maka dengan terpaksa alvendra pun mengizinkannya.


"Baiklah terserah dirimu, yakinkan sendiri dia !!"


"Terima kasih...." Ucap rayya tulus kemudian langsung berhambur mencari sang adik sementara di kejauhan albert menatap dua saudari tadi sambil meminum gelas sampanye yang tersaji di sana.


Di kejauhan itu alvendra dapat melihat dengan jelas bagaimana reisya nampak tidak setuju dan mencoba menolak permintaan rayya dan entah mengapa alvendra sedikit tidak suka atas penolakan itu namun karena melihat rayya menangis mau tak mau reisya mengangguk dan memeluk tubuh sang kakak. Alvendra memang tidak bisa mendengar percakapan mereka namun setidaknya gestur yang mereka tunjukkan menjelaskan segalanya, matanya menatap tajam kearah reisya yang memeluk sang kakak.

__ADS_1


Disana terlihat dengan jelas bahwa reisya tampak menangis dalam diam sementara sang kakak tersenyum dan mengucapkan banyak terima kasih padanya. Netra hitam alvendra tak bisa lepas dari reisya entah mengapa ia hanya berfokus padanya hingga sebuah senyuman miring tercetak dengan jelas di sudut bibirnya itu.


__ADS_2