PRISON

PRISON
0:30 Harus apa?


__ADS_3

Makan malam keluarga alvarez saat itu terlihat sama tanpa ada perbedaan kecuali dengan dua orang yang saat ini hanya diam saja tanpa ada niatan untuk menyahuti celotehan yang rayya lontarkan. Rayya tidak terlalu memperdulikan dengan keadaan canggung yang terjadi diantara alvendra dan reisya yang saat ini hanya diam saja karena baginya mungkin reisya tengah malas untuk berbicara mengingat dirinya baru saja sembuh dan juga alvendra yang mungkin lebih suka diam karena lelah akibat berkas-berkas yang dia kerjakan. Tanpa rayya sadari jika kerisihan reisya untuk menyingkirkan tangan alvendra di bawah meja yang terus menerus mengelus pahanya bahkan dengan berani untuk terus naik keatas menuju kearah sesuatu yang sangat reisya takutkan. Sungguh ingin sekali gadis itu berteriak dan mengadukan semuanya kepada rayya namun ia tidak bisa mengingat bagaimana kesalahannya dan rahasia besar yang ia tutupi membuatnya hanya bisa diam dan pasrah akan apa yang alvendra lakukan. Ia bahkan tidak akan mengira akan dihukum oleh alvendra setelah kejadian tadi di dalam kamar.


*FLASHBACK :


Reisya bergetar takut ketika alvendra hampir menidurinya lagi ketika suara rayya yang menyuruh dirinya untuk segera turun ikut membantu.


"Kumohon lepaskan, jangan lakukan!!" Katanya dengan nada menyedihkan yang membuat alvendra menatapnya datar.


"Baiklah akan tetapi kau tidak akan bisa lolos dari hukuman ini" Ujarnya yang membuat reisya semakin dilanda ketakutan.


"Apa yang akan kau lakukan?" Tanyanya memberanikan diri.


"Kau akan mengetahuinya nanti saat makan malam sayang" Ujarnya yang kemudian segera meninggalkan reisya diatas ranjang.


*Flashback off


Reisya hanya mampu memejamkan mata dengan menahan setiap sentuhan yang alvendra berikan. Ia tidak menyangka bahwa pria itu akan menghukum dirinya dengan cara seperti ini yang membuat reisya begitu dilanda ketakutan dan panik secara bersamaan, ia tak mampu melawan atau sekedar membujuk alvendra sehingga yang mampu ia lakukan hanyalah melampiaskannya dengan menggenggam erat ujung meja tersebut. Reisya bisa sedikit bernafas lega ketika alvendra melepaskan genggaman tangannya yang berada di paha reisya ketika makan malam miliknya sudah di hidangkan. Dengan malas alvendra pun segera memakan makanan buatan rayya tersebut begitu juga dengan reisya.


"Rei apakah kau sudah membereskan seluruh barang-barang mu??" Tanya rayya tiba-tiba yang membuat reisya segera menatap wajah sang kakak.


"Ah itu...aku hapmmh " Teriaknya yang membuat rayya segera menatap wajah sang adik.


"Ada apa?" Tanyanya kepada reisya yang tiba-tiba saja merubah wajahnya menjadi panik.


Bagaimana tidak panik ketika alvendra dengan tiba-tiba saja memegang pahanya yang sukses membuat reisya memegang erat sendok dan garpunya.


"Ah tidak... hanya terkejut karena aku mengunyah cabai !!" Ujar reisya berbohong yang mana menoleh takut kepada alvendra yang hanya diam dengan tenang sambil memakan makanannya meski itu dengan satu tangan.


"Mau kakak bantu untuk membereskan?" Tawarnya yang kembali fokus pada makanan di mejanya.


"Ah itu...ak- Tidak perlu !!" Teriak reisya yang membuat rayya terkejut.


Reisya terpaksa berkata spontan karena alvendra semakin mengencangkan pegangannya pada paha reisya. Ia sadar bahwa itu adalah kode dari alvendra sehingga ia terpaksa harus mengatakan demikian, jujur sebenarnya gadis itu takut jika rayya tidak membantunnya namun ia terpaksa. Dan pada akhirnya reisya dapat bernafas dengan lega ketika alvendra melepaskan pegangannya dari pahanya.

__ADS_1


"Terima kasih karena sudah membiarkan reisya tinggal di sini untuk menemani ku al. Kini aku sudah bisa menyesuaikan diriku untuk mencoba tinggal berdua denganmu" Ujar rayya tiba-tiba yang hanya dibalas senyuman singkat dari alvendra.


.


.


.


.


.


Selepas acara makan malam tersebut dengan terburu-buru reisya berlari menuju kedalam kamarnya seperti tengah dikejar oleh hantu. Tidak melainkan alvendra lah yang lebih menyeramkan daripada hantu itu sendiri. Sesampainya di dalam kamar dengan cepat reisya menutup pintu namun dengan gesit ditahan oleh tangan besar sehingga pintu tersebut tidak jadi menutup. Reisya kembali dilanda ketakutan bahkan keringat dingin sudah mulai bercucuran di dahinya.


"Le-lepaskan !!" Cicitnya yang berusaha menutup pintu.


"Aku ingin tidur di sini !" Ujar alvendra dengan enteng. Benar sekali, setelah makan malam tersebut alvendra langsung menyusul wanitanya yang berlari meninggalkan meja makan usai selesai tadi.


"Kalau begitu biarkan aku masuk sebentar, aku hanya butuh kau temani. Kau bebas dari hukuman ku sayang, bukankah tadi kau sudah dihukum?"


Reisya mengernyit apakah ucapan alvendra masuk akal? apakah hukuman yang alvendra katakan sebelumnya adalah sewaktu dibawah meja makan tadi? namun ia terlalu takut untuk mempercayai nya. Apalagi saat tadi dirinya ditanya tentang koper tersebut ia tak menjawab sama sekali dan hanya memberi alibi saja sungguh membuat pikiran nya semakin negatif. Bagaimana jika hukuman yang sebenarnya menanti? reisya tak dapat membayangkan jika hal tersebut terjadi.


"Tidak bisa. Kumohon pergilah sebelum rayya melihatnya, atau aku akan berteriak !!" Ancam reisya yang sudah habis kesabarannya.


"Teriak lah jika kau berani, kau punya banyak kesempatan tadi mengapa tidak sekalian saja kau adukan apa yang ka rahasiakan selama ini padanya?"


Seketika reisya tersadar, apa yang dikatakan alvendra benar. Ia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika ia mengatakan segalanya? Bukankah hal itu yang nanti akan berbalik kepada dirinya? Dan malah merenggangkan hubungan antara dirinya dengan rayya? Di tengah kekalutan yang saat ini reisya rasakan, alvendra langsung mendorong pintu tersebut sehingga membuat reisya kehilangan keseimbangan dan jatuh menghantam lantai. Namun saat ini kesadarannya telah sepenuhnya kembali dan membuat reisya semakin dilanda ketakutan ketika alvendra masuk dengan tenang dan mengunci pintu tersebut yang kemudian ia kantongi di saku bajunya.


Pria itu berjalan mendekati nya yang mana di setiap langkahnya terdengar seperti alarm bahaya. Ia segera beringsut kebelakang hendak berdiri kemudian berlari namun kalah cepat ketika alvendra sudah menahan kakinya.


"Lepaskan !! kau sudah berjanji tidak akan menganggu ku? aku akan membiarkanmu mu tidur di sini malam ini jadi lepaskan !!" Mohon nya.


Alvendra tersenyum namun bukan senyum seperti kebanyakan orang lain. Melainkan senyuman remeh yang ditujukan kepada reisya, ia suka ketika wanitanya begitu menurut kepadanya. Namun beberapa kejadian sore tadi ditambah dengan kebohongan yang reisya sembunyikan benar-benar membuat alvendra tidak suka sehingga ia harus memberikannya hukuman.

__ADS_1


"Apakah aku berjanji tadi?? Dan soal menemani kurasa sudah tidak berlaku lagi sebelum kau mengancamku sayang, " Ujar alvendra lembut sambil menyentuh sebelah pipi sang wanitanya dengan sensual yang mana hal itu benar-benar membuat reisya ketakutan.


"Bagaimana jika dengan hukuman kecil yakni bermain satu ronde dan setelah itu aku akan membiarkan dirimu beris...."


Suara tamparan terdengar keras dan suara itu begitu menggema di seluruh ruangan. Itu cukup keras sehingga wajah alvendra bahkan sampai tertoleh kesamping sehingga menimbulkan bekas merah ditambah dengan sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Alvendra menyeka sebentar darah yang keluar tersebut, untuk beberapa saat mereka terdiam dengan suasana hening yang mencekam. Reisya sedikit menyesali tindakannya sebab alvendra sepertinya sangat marah akibat ulahnya, dalam satu gerakan cepat pria itu menarik tengkuk reisya dan menyatukan bibir keduanya. Reisya dapat merasakan rasa anyir akibat darah di sudut bibir alvendra , ia berusaha memberontak dari ciuman paksa tersebut hingga.


"Menjauh dariku sialan !" Umpat reisya yang sudah naik pitam karena tidak menyukai diperlakukan seperti ini, ia sudah lelah diperlukan ****** oleh alvendra.


Diawal mungkin karena syok ia tak bisa melawan namun kali ini seolah reisya mendapatkan kekuatan untuk tidak takluk dibawah kungkungan alvendra ia berani mengumpatnya. Berkat hak tersebut alvendra semakin emosi dan menarik paksa reisya yang hendak kabur menuju kearah pintu. Dengan gesit dalam sekali sentak pakaian yang reisya kenakan lagi-lagi dibuat koyak dan dilemparkan secara asal oleh dirinya. Alvendra kalap atas penolakan-penolakan yang reisya lakukan secara terang-terangan ataupun diam-diam.


"Rupanya kau memang suka diperlakukan kasar hah ?" Geram alvendra yang sudah di ujung tanduk sembari merudapaksa reisya di atas lantai yang dingin. Reisya menggeleng kuat ketika alvendra sudah menaiki tubuhnya bahkan membuka paksa seluruh pakaiannya dan pakaian yang ia kenakan, sungguh ia takut sekarang.


"Hentikan...tidak...jangan alvendra ti-aaarrgh !!" Teriaknya ketika alvendra menyatu paksa pada tubuh reisya, ia menatap penuh benci pada pria yang tengah bergerak di atasnya ini.


Suara pintu terdengar dari luar diiringi dengan panggilan dari sana.


"Rei....?"


Gadis itu terkejut bukan main begitu juga dengan alvendra yang berhenti bergerak. Rayya rupanya berada di luar sana berdiri tepat di depan pintu kamar reisya yang kini tengah disenggamai oleh suaminya sendiri.


"Rei semuanya baik-baik saja? Aku mendengar ada suara ribut-ribut di dalam kamarmu. Kau tak apa?....Mengapa kau mengunci pintunya??" Tanya rayya sembari mencoba membuka knop pintu tersebut.


Wajah reisya berubah pias. Ia takut jika mereka akan ketahuan oleh rayya saat ini.


"Jawablah," Bisik alvendra di telinganya. Pria itu segera mengangkat tubuh reisya membalik posisi mereka dan mengangkatnya tidak lupa ia mengukung tubuh reisya di dinding dekat dengan pintu dan jendela yang menampilkan wajah khawatir rayya.


Alvendra menarik rambut sang wanitanya agar mendongak, kemudian mencengkram kedua pipinya lantas kembali berbisik di daun telinga reisya.


"Kau ingin berteriak bukan?? berteriak lah dan beritahu rayya apa yang sedang kita lakukan saat ini. Cepat berteriak lah dan katakan bahwa 'alvendra sedang memperkosa diriku'." Suruh alvendra sedang ia tak berhenti menghentak miliknya tanpa tahu jika reisya semakin berkeringat dingin dengan suasa yang kian mencekam.


"Rei...." Rayya kembali memanggil namanya.


Reisya nyaris gila saat itu, ia semakin panas dingin dengan suasana yang terjadi. Hal terakhir yang ia lakukan adalah menatap sang saudari dari arah jendela yang menatap khawatir kepada pintu kamarnya dengan deraian penuh air mata yang terus turun dari pipinya.

__ADS_1


__ADS_2