
Kehilangan Jejak
Pagi itu Toni meninggalkan rumahnya dengan hati berbunga - bunga. Walaupun Topan belum juga ditemukan, namun ia merasa ada satu dorongan untuk selalu optimis.
"Semua perkembangan kasus penculikan Topan sudah aku sampaikan pada bapak dan ibu. Sekarang saatnya untuk melanjutkan semuanya." Ia berguman dalam hati.
Sepeda motor tuanya berjalan perlahan di antara kemacetan jalanan ibukota. Tujuannya adalah menemui Iwan. Ia ingin mengetahui perkembangan bekas luka yang kemarin.
Tak lama, sampailah Toni di rumah sang kawan. Seperti sudah mengetahui akan kedatangannya. Seorang wanita muda sudah menunggu di teras rumah sederhana itu.
"Assalamualaikum ..."
"Waalaikumsalam ..."
"Kondisi Bang Iwan bagaimana, Ras ?" tanya Toni dengan senyum mengembang. Di hadapannya kini berdiri sang pujaan hati. Wanita yang selalu mengisi lamunan - lamunannya.
"Sudah baikkan bang, lukanya sudah mengering" jawab Laras dengan senyum manisnya. Toni tak menjawab. Ia terpaku menatap wanita di hadapannya. Keduanya saling pandang tanpa suara. Hanya degup jantung yang terasa makin keras. Tak lama Kemudian, keduanya salah tingkah saat menyadari apa yang sedang terjadi. Spontan keduanya tertawa renyah sambil melangkah ke dalam.
"Silahkan bang, sebentar aku ambilkan minum." ucap Laras mempersilahkan Toni duduk. Di hadapan Toni, terbaring Iwan yang masih tertidur di sofa. Kelopak matanya sedikit terbuka saat menyadari keberadaan kawannya. Namun ia masih enggan untuk bangkit.
"Tak usah repot - repot, Laras. Seperti aku tamu agung saja, hehehe... " cegah Toni. Diraihnya tangan halus sang kekasih. Kemudian membawanya duduk bersisian menghadap Iwan yang kembali terpejam.
"Tapi bang, tidak baik membiarkan tamu tanpa disuguhkan apa - apa" ucap Laras masih dengan senyum mengembang. Kembali ia berdiri. Namun tangan kekar Toni menariknya agar terduduk lagi.
"Kata siapa aku tidak disuguhi apa - apa... ?" ucap Toni bergurau. Wajahnya lekat memandang bidadari di hadapannya. Kedua tangannya masih menggenggam jemari lentik Laras. Wanita muda berparas ayu itupun melotot. Mencari penjelasan di wajah sang kekasih.
"Maksud abang apaa... ? tanya Laras sambil mencubit pinggang kekasihnya berkali kali. Ekspresi wajahnya kebingungan menuntut penjelasan.
"Wajah cantikmu sudah cukup menjadi suguhan untukku, sayanggg....!" ucap Toni sambil terus menghindari cubitan yang datang bertubi - tubi. Seketika wajah Laras berubah merah merona. Dengan senyum yang terus terukir.
"Dasar gombal !" serunya malu - malu. Toni hanya tertawa lebar. Baginya menyaksikan senyum dan tawa Laras mampu membangkitkan semangat hidupnya. Semangat untuk terus berjuang mencari dan menyelamatkan adiknya.
"Eeeheemm... !"
"Eh, kamu sudah bangun Wan ?, Bagaimana lukamu ?" seru Toni sedikit gugup saat menyadari kawannya sudah duduk tepat di hadapannya. Laras menggeser tubuhnya sedikit menjauh.
__ADS_1
"Sudah baikan, Ton" jawab Iwan sambil menunjukan bekas jahitan di tubuhnya. Merekapun terlibat obrolan cukup lama. Sementara Laras hanya menyimak dan tak banyak berkomentar.
"Aku permisi dulu, Iwan, Laras" ucap Toni saat akan bangkit dari duduknya. Dipandangnya dua kakak beradik yang sangat ia hargai.
"Baiklah. Hubungi aku jika kamu butuh pertolongan."
"Tentu kawan" jawab Toni. Tangan kanannya menjabat tangan Iwan. Sementara tangan kirinya menepuk pundak sahabatnya tersebut. Kini dialihkan pandanganya pada Laras, sang kekasih.
"Aku pergi dulu, Laras. Bagaimanapun caranya, Topan harus aku temukan" ucapnya lirih. Jarinya mengusap bulir bening yang luruh di pipi sang kekasih.
"Semoga berhasil bang dan selalu berhati hati" jawab Laras sedikit tersendat. Tak sanggup melepas kepergian kekasihnya untuk yang kedua kali. Namun tak ada pilihan baginya selain mendukung perjuangan Toni.
"Pasti Laras. Jangan menangis. Setelah semuanya selesai kita akan melanjutkan cita - cita kita yang tertunda" jawab Toni mantap. Sebuah anggukan dan senyum dari sang kekasih sudah cukup buat Toni. Keduanya melangkah ke pintu rumah. Laras mencium tangan sang kekasih sebagai lambang rasa sayang dan hormat. Pandangan matanya terus mengiringi kepergian pujaan hatinya hingga ia tak mampu lagi melihatnya.
#####
Di sebuah warung makan yang cukup ramai pembeli, Toni dan Riko menunggu pesanan mereka. Tak lama berselang dua piring nasi goreng dan dua gelas es teh tawar sudah siap disantap.
"Silahkan, pak" ucap sang pelayan ramah. Bergegas ia kembali ke depan untuk melanjutkan mengantar pesanan lainnya.
"Terima kasih" jawab keduanya kompak. Mata mereka menyusuri seluruh ruangan rumah makan tersebut. Sesekali keduanya mendapati orang - orang berseragam coklat keluar masuk dengan tangan menenteng kantong plastik berisi nasi dan lauknya.
"Iya bang. Perutku memang sudah berisik dari tadi" jawab remaja tersebut sambil tersenyum.Tak lama kemudian keduanya asyik menyantap nasi goreng yang mengundang selera.
"Kamu tunggu di sini Riko" seru Toni sedikit tergesa - gesa. Nasi gorengnya tersisa setengah saat netranya menangkap pergerakan seorang pelayan. Langkahnya semakin dipercepat menyusul sang pelayan.
"Mas... mas... !" panggil Toni setengah berlari. Sang pelayan spontan berbalik arah. Mencari tahu asal suara. Tangannya menyangga sebuah nampan plastik berisi tiga piring nasi dan lauknya.
"Ada apa ya, bang ?" tanya sang pelayan keheranan. Wajahnya menelisik sosok di hadapanya dengan penuh tanya.
"Itu pesanan buat siapa mas ?" tanya Toni. Wajahnya menatap nampan berisi tiga piring penuh.
"Ooo.... ini buat dokter Herman dan kawannya bang."
"Kebetulan mas, saya satu ruangan dengan dokter Herman. Saya asistennya yang baru."
"Begitu bang... ?"
__ADS_1
"Iya mas. Ini pesanan, biar saya saja yang mengantarkan." ucap Toni meyakinkan. Tak butuh waktu lama, kini ia sudah berjalan memasuki area Rumah Sakit dengan tenangnya. Sementara sang pelayan kembali ke dalam dan melanjutkan kesibukannya.
Kini Toni berjalan menyusuri lorong demi lorong Rumah Sakit milik institusi keamanan itu. Dengan tetap menyangga nampan di depan dada, ia mengedarkan pandangan ke setiap kamar pasien.
"Di mana kedua bajingan itu ?" serunya membatin. Langkahnya terhenti saat matanya memindai papan nama yang menempel di pintu berwarna krem, 'DOKTER HERMAN'. Tanpa melihat ke dalam, ia letakan nampan yang digendongnya di sebuah troly makanan yang terparkir di samping pintu. Bergegas ia melanjutkan langkahnya.
Beberapa kali ia berpapasan dengan perawat dan dokter yang lalu lalang. Tak jarang, ada juga warga biasa yang sedang menunggu pasien.
"Sudah sepuluh lantai yang aku telusuri, tapi belum juga menemukan mereka" ucapnya dalam hati. Ini adalah lantai terakhir yang sudah ia jelajahi. Namun apa yang dicarinya belum juga terlihat. Sedikit putus asa, ia coba bertanya pada seorang perawat yang baru keluar dari salah satu kamar pasien.
"Maaf mba. Saya sedang mencari saudara saya yang dirawat di sini. Dia masuk ke sini kemarin malam. Apa mba tau kamarnya ?" tanya Toni dengan ekspresi setenang mungkin.
"Kalau yang masuk kemarin malam itu ada dua orang mas. Kebetulan malam itu saya yang jaga di bawah" jawab wanita berusia sekitar tiga puluh tahun itu.
"Mba masih ingat ciri - cirinya ?" tanya Toni lagi. Dia ingin memastikan bahwa yang dimaksud adalah orang yang ia cari.
"Kalau saya tidak salah, yang satu kepalanya botak. Sedangkan yang satu lagi, badannya tinggi dan besar mas. Kondisi keduanya sangat.... "
"Betul itu mba. Yang kepalanya botak adalah paman saya. Di mana mereka sekarang, mba ?" potong Toni. Wajahnya berseri - seri karena orang yang dicarinya sudah di ambang mata. Sementara sang perawat menjadi gugup melihat ekspresi lawan bicaranya. Menyadari hal itu, Toni berusaha menetralkan keadaan.
"Maaf mba..., saya terbawa emosi" ucapnya menenangkan wanita di hadapannya.
"Mereka berdua sempat dirawat di lantai ini. Kamar yang paling ujung" ucap sang perawat lagi, sambil menunjuk ke ujung lorong di mana mereka berada.
"Maksudnya mereka sempat dirawat bagaimana ?, jadi sekarang mereka sudah tidak ada di kamar itu ?" cecar Toni. Wajahnya bergantian menatap wanita di hadapannya dan kemudian menerawang jauh ke depan. Di mana terdapat kamar yang tadi malam ditempati Jarot dan Kubil.
"Betul mas. Tadi pagi mereka berdua sudah keluar meninggalkan Rumah Sakit ini" jawab wanita itu sambil berlalu menuju lift.
"Apaa....!" seru Toni kaget. Seakan tidak perrcaya , ia coba mengejar sang perawat untuk mendapatkan informasi lainya. Namun sang perawat sudah menghilang bersamaan dengan tertutupnya pintu lift.
"Brengsek !" umpatnya. Digedornya pintu lift yang sudah tertutup sempurna. Tak ingin menyerah, bergegas ia berlari - lari kecil. Kamar yang paling ujung menjadi tujuannya. Ia ingin memastikan kebenaran ucapan sang perawat.
"Benar juga ucapan perawat tadi" seru Toni di dalam hati. Matanya memindai seisi ruangan itu. Dua buah tempat tidur untuk pasien terlihat kosong. Tak ada aktifitas di dalam sana. Hanya terlihat besi untuk meletakan infus yang tegak di samping ranjang pasien.
Dengan langkah gontai, dia berjalan menuju lift yang membawanya turun. Berbagai macam dugaan bersliweran di kepalanya. Hingga ia tak sadar bahwa lift sudah menginjak lantai dasar. Spontan ia melompat ke luar saat pintu lift akan menutup kembali. Bergegas ia kembali menemui Riko yang kebingungan.
"Dari mana saja, bang ?" tanya Riko, saat Toni sudah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Nanti saja aku ceritakan. Sekarang kita tinggalkan tempat ini" jawab Toni sambil memberi kode agar segera keluar. Beranjak Riko mengekor di belakangnya dengan raut muka keheranan. Bergegas keduanya menuju sepeda motor tua yang terparkir tak jauh dari rumah makan tersebut.