Pulau Eksekusi

Pulau Eksekusi
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Di Rumah Sakit


"Keadaannya cukup baik. Hanya saja lukanya cukup parah. Dia banyak kehilangan daran dan harus mendapatkan banyak jahitan."


Sang dokter menjelaskan panjang lebar. Ketiga wanita yang mendengarkan sedikit lega, terutama Bu Ratih. Wanita yang sudah berumur ini merasa berhutang nyawa pada sang pemuda. Walaupun dia sendiri terluka, namun lukanya tak seberapa jika dibandingkan dengan luka yang didapat oleh pemuda yang sudah menolongnya.


"Apakah kami boleh melihatnya, dok ?" Tanya Bu Ratih. Sejenak ia menatap pria di hadapannya sebelum beralih menatap sang anak dan kawannya.


"Tentu saja boleh, silahkan. Tadi rekan saya yang menanganinya dan sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik."


Selesai berbicara, sang dokter balik badan. Ia melangkah menuju satu ruangan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Mari saya tunjukkan ruangannya." Kata sang dokter lagi. Bu Ratih mensejajarkan langkahnya dengan sang dokter, sementara Sulis dan Ratna mengekor di belakang. Tak butuh waktu lama, kini mereka sudah berada tepat di depan salah satu pintu kamar.


"Silahkan masuk. Maaf, saya harus menangani pasien lain."


"Terima kasih, dok."


Selesai ketiganya mengiringi kepergian sang dokter dengan tatapan mereka. Perlahan Bu Ratih membuka pintu dan melangkah mendekat pada sosok yang sedang terbaring lemah.


Diapit oleh kedua wanita muda yang ada di kanan dan kirinya. Wanita paruh baya ini tak berkedip menyaksikan Iwan dengan kondisi yang mengenaskan. Luka sobek akibat senjata tajam sudah dijahit dan dilapisi perban memanjang hingga selebar perut.


Beberapa bagian wajahnya dihiasi luka memar. Pada bagian tangannya ada luka lebam membiru akibat menahan tendangan dan pukulan lawannya.


Tanpa sadar indera penglihatan ketiganya berkaca - kaca menyaksikan kondisi Iwan. Sementara sang pemuda tertidur pulas. Entah karena faktor obat yang membuat matanya terpejam. Atau karena faktor kelelahan.


Yang pasti ia tak menyadari, di hadapannya kini berdiri tiga orang wanita yang sangat prihatin dengan kondisinya. Tak tega dengan apa yang dilihatnya, Ibu Ratih bergegas keluar. Begitupun dengan Sulis dan Ratna.


"Hari sudah hampir malam, sebaiknya kita pulang" seru Bu Ratih saat ketiganya berada di bangku panjang tak jauh dari pintu kamar pasien. Dia menunggu jawaban dari kedua wanita muda yang ada di hadapannya.


"Tapi buu..., aku tak tega melihat pemuda itu sendirian" Jawab Sulis dengan ekspresi sedih. Entah kenapa sepertinya wanita muda ini sangat mengkhawatirkan kondisi Iwan.


"Lantas maumu bagaimana... ?"

__ADS_1


"Entahlah. Aku juga bingung."


"Begini saja, Biar aku yang menemani ibumu pulang. Sementara kamu menemani pria itu sampai keluarganya datang."


Tiba - tiba Ratna mendapat ide yang cukup bisa diterima kedua ibu dan anak itu. Menurutnya menemani Bu Ratih lebih masuk akal daripada menunggui pria yang tak ia kenal. Belum lagi aroma rumah sakit membuatnya tak betah berlama - lama.


"Aku khawatir ia memerlukan bantuan saat nanti bangun dari tidurnya" ucap Ratna lagi. Wajahnya menatap sahabatnya untuk meyakinkan.


"Baiklah jika kamu ingin menemaninya, setidaknya sampai keluarganya datang menjenguk."


"Iya bu.., ya sudah, ayo kita cari kendaraan untuk mengantarkan ibu pulang."


"Iya nak.."


Ketiganya bergegas keluar untuk mencari kendaraan. Setelah cukup lama berada di depan Rumah Sakit untuk menemani sang ibu dan kawannya hingga keduanya mendapatkan taksi, Sulis kembali menuju kamar pasien di mana Iwan terbaring lemah.


Hati - hati sekali ia duduk di kursi yang ada di samping ranjang. Dua bungkus nasi goreng dan beberapa cemilan ia letakan di meja kecil di sebelahnya. Kini dengan tatapan yang sulit diartikan. Sulis seperti terkesima saat kedua matanya menyaksikan wajah pria di hadapannya.


Wajah dengan bentuk rahang tegas, hidung sedikit mancung dan bibir tipis sudah menghipnotisnya. Belum lagi kulit yang putih bersih, badan tegap dengan potongan rambut cepak dan alis tebal makin membuat gadis ini senyum - senyum sendiri.


"Bahkan namanya pun aku tak tahu. Mana mungkin aku jatuh cinta pada pria yang tidak aku kenal ?" Lagi - lagi Sulis membatin sendiri. Walaupun tak bisa dipungkiri, ia sulit mengalihkan pandangannya dari pria yang terbaring lemah di hadapannya.


Untuk melawan rasa gugup yang mulai merayap di sekujur tubuhnya. Diraihnya cemilan yang tadi sempat dibeli. Perlahan kegugupan mulai bisa ia kuasai seiring dengan semakin menipisnya isi cemilan.


Begitu asyiknya kedua bibir Sulis menari seirama dengan gemeretak gigi putihnya yang terus ******* habis cemilan di tangannya. Tanpa ia sadari, Iwan terbangun dari tidurnya dan terlihat panik. Spontan pria ini ingin bangkit dari tidurnya.


"Si...siapa kamu ?!" Serunya dengan raut wajah keheranan saat menyaksikan seorang wanita yang tidak ia kenal ada di sampingnya. Sulis yang mendapat pertanyaan dengan nada tinggi, cukup kaget. Namun ia berusaha bersikap wajar.


"Namaku Sulis."


"Kenapa aku ada di sini ?"


Pemuda ini belum mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Wajahnya menatap lekat wanita muda di hadapannya dengan maksud menanti jawaban.

__ADS_1


"Abang tenang dulu. Biar aku jelaskan semuanya." Ucap Sulis dengan ramah. Pemuda di hadapannya hanya diam. Dengan posisi duduk bersila di atas ranjang rumah sakit. Sebotol air mineral yang diberikan Sulis habis sekali tegukkan. Wanita ini tersenyum puas sebelum memulai penjelasan.


"Tadi siang, abang sudah menyelamatkan ibu saya dari kemungkinan terburuk. Karena pertolongan abang, ibu saya selamat. Walau sempat terluka sedikit."


"Sekarang di mana ibu kamu ?"


"Ibu sudah pulang ke rumah diantar kawan saya."


"Kenapa kamu tidak ikut pulang ?"


"Saya tidak tega meninggalkan abang sendirian dengan kondisi belum pulih benar."


Mendengar penjelasan gadis di hadapannya, timbul rasa bersalah di dalam hatinya. Dia tak menyangka bisa mendapatkan perhatian begitu besar dari seorang gadis yang seusia dengan adiknya.


"Maafkan saya sudah membuat kamu tidak nyaman. Saya baru ingat kejadian siang tadi." Ucap iwan pelan. Ditatapnya kedua bola mata wanita di hadapannya.


"Tidak apa - apa, bagaimanapun kami berhutang nyawa pada abang" jawab sulis. Wajahnya yang tadi menunduk karena malu, kini diangkat. Akhirnya dua pasang mata saling beradu pandang dan menimbulkan perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata - kata.


"Namaku Iwan" ucap pemuda yang duduk bersila di atas ranjang. Sulis menjulurkan tangannya, sontak saja getaran - getaran aneh menjalar di seluruh tubuhnya. Kembali ia menyebutkan namanya.


"Sulis..."


Beberapa saat, kedua pasang mata saling mengintip isi hati lawan bicaranya. Walau tak banyak yang bisa terucap. Namun sudah cukup untuk menyelami dalamnya perasaan dua insan yang dipertemukan oleh takdir.


"Ooo... iya, abang pasti lapar. Kebetulan tadi saya beli dua bungkus."


Seru Sulis saat menyadari degup jantungnya makin berdebar hebat. Spontan ia mengeluarkan dua bungkus nasi goreng yang masih hangat. Sementara itu, Iwan. tampak kaget saat gadis di hadapannya menarik tangannya dan mengalihkan pandangannya.


Namun itu tak berlangsung lama. Dia menyadari kenyataan, bahwa mereka baru saja dipertemukan . Masih banyak yang harus ia pelajari dari gadis di hadapannya. Begitupun sebaliknya.


"Terima kasih."


"Silahkan dimakan" seru Sulis dengan senyum mengembang. Namun tiba -.tiba ia mengernyitkan alis saat melihat Iwan kesulitan menggerakkan tangannya untuk makan sesendok demi sesendok.

__ADS_1


Spontan ia hentikan aktifitasnya. Lalu ia meraih sendok dari tangan Iwan dan menyuapinya. Bagai seorang bocah yang disuapi ibunya, iwan sangat bahagia mendapat perlakuan tersebut.


Begitupun dengan Sulis, dia senang dapat melayani pria yang diam - diam dikaguminya. Walaupun pertemuan mereka baru berbilang jam. Belum hari, bulan, apalagi berbilang tahun.


__ADS_2