
Laras Dibawa Kabur
Leo semakin bernafsu ingin melukai lawannya. Ia terus melancarkan gelombang serangan permainan golok yang sangat mematikan. Walaupun tubuhnya kecil, namun gerakannya sangat gesit dan luwes. Senjata tajam yang sangat berbahaya itu bagaikan mainan di tangannya.
Pria ini sangat mahir menggunakan senjata tajam tersebut. Hingga sebuah tebasan menyilang dilancarkannya. Bagian dada Toni menjadi targetnya. Begitu cepatnya gerakan Leo, hingga lawannya tak sempat menghindar.
SREEETT.... SREEETT....
"Aaauuu...!"
Toni menjerit pelan saat dua buah goresan berhasil tercipta di dadanya. Kemeja yang ia kenakan sobek tepat di bagian tersebut. Tangannya meraba dadanya yang mulai berdarah.
Disaat yang sama sebuah tendangan Robert menghantam perut lawannya. Begitu kerasnya tendangan tersebut, hingga Toni terdorong beberapa langkah ke belakang.
"Rasakan itu, anak muda !" Seru pria gondrong dengan brewokan di wajahnya. Lawannya menahan sakit. Dan wajahnya terlihat mulai panik. Sementara itu, kedua pengeroyoknya tersenyum puas.
"Saatnya kau menuju kematian, anak muda !" Seru Leo dengan sombongnya. Tak mau memberi ruang dan kesempatan, keduanya kembali merangsek maju. Dengan amarah yang makin terlihat karena Toni belum juga mampu mereka kalahkan. Serangan demi serangan keduanya makin ganas dan membabi buta. Target mereka adalah kematian pemuda tersebut. Tak ada pilihan lain, kecuali terus menyerangnya.
Di tempat yang tak jauh dari lokasi perkelahian. Laras beberapa kali menutup wajahnya. Sesekali terdengar jeritan kecil di antara kedua bibirnya. Dia tak kuat menyaksikan kekasihnya dikeroyok sedemikian rupa. Khawatir akan keselamatan sang kekasih, Laras segera menghubungi Iwan dengan handphonenya.
"Hallo, Assalamualaikum. Ada apa Laras ?!" Seru seseorang di ujung sana.
"Waalaikumsalam. Cepat ke sini bang. Bang Toni dalam bahaya !" Seru laras panik. Dia tak sanggup menyaksikan kekasihnya terus - terusan dihujani tebasan dan tusukan golok berulang kali.
"Oke, aku segera berangkat. Kirim lokasi kalian, nanti aku cari !" Seru pria di ujung telepon yang tak lain adalah Iwan. Dia adalah kakak dari Laras dan juga sahabat Toni.
"Cepat bang. Jangan sampai terlambat" ucap Laras. Tak lama kemudian sambungan telpon terputus. Wajah wanita itu kembali cemas saat menyaksikan kekasihnya belum juga keluar dari gelombang serangan yang datang bertubi - tubi dari dua arah. Sejauh ini Toni hanya bisa menghindar, karena lawannya sama sekali tidak memberikan ruang gerak padanya.
Robert menebaskan golok, mengincar leher Toni dengan cepat. Reflek, yang diserang menghindar dengan cara menunduk. Sementara Leo menarik goloknya setelah berulang kali melayang mencari sasaran namun nihil. Sebagai gantinya dia melepaskan tendangan dengan kekuatan penuh ke arah perut pemuda di hadapannya.
__ADS_1
"Ini yang kutunggu - tunggu !" Seru Toni dalam hati. Segera ia menggeser tubuhnya sedikit, membiarkan serangan lawan yang hanya mengenai ruang kosong. Sejurus kemudian, ia balik melepaskan tendangan dengan sekuat tenaga. Leo terlambat menghidar.
BUUKKK....
Begitu kerasnya hantaman kaki Toni, hingga lawannya terjengkang, mental beberapa meter ke belakang. Tubuh kecilnya menabrak sepeda motor yang sedang diparkir berderet. Karena sepeda motor yang ditabrak Leo jatuh, otomatis membuat deretan kendaraan roda dua itu jatuh secara begiliran seperti efek domino.
Sontak saja hal tersebut menjadi tontonan warga. Mereka berkerumun dan menyoraki jagoannya masing - masing. Ada juga yang tersulut emosinya karena sepeda motornya ikut menjadi korban.
"Kurang ajar !" Seru Robert saat menyaksikan sahabatnya ambruk di antara sepeda motor. Leo tak sanggup melanjutkan pertarungan karena luka dalam yang cukup parah. Tangannya meraba dadanya yang terasa nyeri karena hantaman kaki Toni. Dan darah segar menetes dari sela - sela kedua bibirnya.
"Giliranmu selanjutnya !" Seru Toni mantap. Wajahnya garang. Dengan sorot mata tajam mengerikan. Tanpa rasa takut, ia maju menghampiri Robert yang siap menebaskan goloknya.
"Jangan sombong anak muda !" Seru Robert lantang. Usai bicara, goloknya beraksi mencari sasaran. Sesekali hantaman kakinya beradu dengan kaki Toni hingga menimbulkan suara yang cukup keras.
Sebuah tebasan golok hanya beberapa senti saja lewat di depan wajah Toni. Menyadari bahaya di depan mata, Secepat kilat ia memundurkan kepalanya. Bersamaan dengan itu, tangannya menahan bagian belakang golok lawan. Sejurus kemudian, tinju tangan kirinya menghantam bagian ulu hati lawannya berulang kali.
Sejurus kemudian kaki kananya ia selipkan di belakang tumit lawannya. Bersamaan dengan itu, sebuah dorongan dengan kekuatan penuh ia lancarkan. Sontak saja tubuh Robert yang sudah kehilangan kendali ambruk, terjengkang menghantam tanah. Goloknya mental entah ke mana.
"Kau ingin membunuku ? Baik, kita lihat siapa yang lebih dulu meninggalkan dunia ini !" Seru Toni berapi - api. Perlahan ia mendekati lawannya yang sudah tak sanggup berdiri. Tangannya terus saja memegangi bagian ulu hatinya yang terasa sakit.
Tanpa ampun, Toni menghantam wajah yang ditutupi berewok dengan pukulan tangan kanannya. Tak dihiraukan lagi permintaan ampun dari lawannya. Dengan muka yang penuh luka, Robert hanya bisa mengaduh menahan pukulan yang sangat menyakitkan.
Emosi pemuda tersebut belum mereda, bahkan semakin menggila. Kini ia meraih golok milik Robert yang tergeletak di hadapannya. Tanpa ampun, dijambaknya rambut pria yang wajahnya dipenuhi brewok bermandikan darah dengan kasar. Golok ditempelkan tepat pada leher Robert yang hanya pasrah.
"Bersiaplah menyambut kematianmu !" Seru Toni yang bersiap melakukan aksinya. Tiba - tiba sebuah suara mengagetkannya.
"Toloongggg... ! Bang Toni !" Jeritan minta tolong terdengar di antara ramainya tempat tersebut. Spontan, Toni mencari arah suara. Betapa kagetnya ia, saat menyaksikan kekasihnya Laras ditarik paksa oleh empat orang pria. Tak lama kemudian Laras dipaksa masuk ke dalam sebuah minibus.
"Hei... tunggu !" Seru Toni sambil berlari mengejar minibus yang mulai meninggalkan lokasi tersebut. Bergegas ia kembali untuk mengendarai sepeda motornya. Namun sebuah panggilan menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Ada apa Ton ?!" Tanya Iwan yang kini sudah berdiri hadapannya dengan sepeda motornya.
"Laras diculik, Wan !"
"Apa ?!"
"Cepat kita ikuti kendaraan mereka, Wan !"
"Kendaraan yang mana, Ton ?"
"Minibus warna silver, Wan !"
"Oke Ton !"
Keduanya melesat meninggalkan tempat tersebut dengan kendaraan masing - masing. Dengan kecepatan penuh keduanya terus mengamati kendaraan yang membawa lari Laras. Tak butuh waktu lama, kini keduanya sudah berada tepat di sisi kendaraan para penculik.
Tanpa dikomando, keduanya berbagi tugas. Toni memepet dari kanan, sementara Iwan dari sisi kiri. Dari dalam kendaraan mininbus, terlihat laras dalam keadaan tangan terikat dan mulutnya disumpal kain.
"Berhenti... !"
"Wooyy, berhenti !"
Seru Toni dan Iwan bergantian. Namun tak digubris oleh sang supir. Kendaraan tersebut terus melaju dengan kecepatan tinggi. Tak jarang ia berjalan Zigzag agar Toni dan Iwan kesulitan mengejar mereka.
Iwan yang sangat marah melihat adiknya diculik. Memacu kendaraannya, selanjutnya ia berhenti di depan minibus yang membawa sang adik.
Ciiitttt....
"Kurang ajar, biarkan kami lewat " seru seseorang di belakang kemudi. Pria ini belum menyadari bahwa yang menghadangnya adalah kakak dari wanita yang di larikannya.
__ADS_1