
Pengejaran
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, Sulis, Ratna dan Iwan sampai di daerah pesisir. Ketiganya turun dari taksi dekat sebuah perkampungan nelayan yang cukup ramai.
Di sebelah kiri mereka, terdapat hunian para nelayan. Rumah - rumah semi permanen yang saling berdesakkan seolah menggambarkan kumuhnya wilayah tersebut.
Di sebelah kanan jalan aspal yang mereka injak, membentang lautan luas. Beraneka perahu nelayan bersandar tepat di bawah jalan tersebut. Warna warni Perahu dengan beraneka ukuran berjejer rapih di pinggir pantai, tepat di bawah jalan.
"Kalian tunggu di sini. Aku menemui kawanku dulu." Ucap Iwan kepada kedua gadis yang tengah asyik menikmati pemandangan di hadapan mereka.
"Jangan lama - lama, bang !" Seru keduanya, saat Iwan hendak masuk ke sebuah gang sempit. Keduanya tampak risih, saat beberapa pasang mata memandang mereka dengan tatapan liar.
Di depan gang, beberapa ibu - ibu tengah asyik berbincang seru. Sesekali terlontar candaan disusul suara tawa lepas dari mulut mereka. Bocah - bocah balita tak kalah serunya dengan aktifitas masing - masing. Tak jarang tangis histeris berhasil membuat para Ibu - ibu menghentikan kegiatannya.
Kira - kira lima belas menit kemudian, Iwan datang. Di sebelahnya berjalan seorang pria yang usianya sepuluh tahun lebih tua darinya. Keduanya terlibat obrolan yang seru. Sesekali terdengar suara tawa dari keduanya.
"Kemana saja selama ini, Wan ?" Seru pria di sebelahnya.
"Akhir - akhir ini aku sibuk. Ada urusan yang sangat penting, bang Ipul."
"Urusan pekerjaan.. ?" Tebak pria yang bernama Saipul penasaran.
"Bukan, bang."
"Lantas... ?"
"Membantu temanku, bang. Adiknya diculik."
"Dicuuulik... ?!"
"Iya bang. O.. ya kenalkan, ini Sulis dan ini Ratna" Seru Iwan saat keduanya tiba di hadapan kedua wanita yang menunggunya.
"Saipul...!" Ucap pria itu sambil menjulurkan tangannya secara bergantian. Sulis dan Ratna menyambutnya dengan senang hati.
"Iwan ini, dulu sering membantu saya mencari ikan di lautan luas." Ucapnya lagi. Kedua wanita di hadapannya hanya manggut - manggut saja.
"Jadi kalian yang akan berangkat ke pulau itu ?" Tanya Saipul penasaran.
"Benar pak !" Jawab keduanya. Sesekali keduanya merapihkan rambut panjangnya yang dipermainkan angin laut yang berhembus kencang.
"Bertahun - tahun saya mencari ikan, baru mendengar jika ada pabrik pengolahan ikan di sana."
Tiba - tiba saja ucapan Saipul membuat kedua gadis di hadapannya tersentak kaget. Keduanya saling pandang mencari alasan yang tepat.
"Ii...iya, memang tempat itu belum lama beroperasi."
"Betul pak. Kami juga belum lama bekerja di sana."
"Ooo... ya sudah kalau begitu. Kebetulan hari ini saya tidak melaut. Jadi kapalnya bisa kalian gunakan."
"Terima kasih, pak.. "
Saipul berjalan di atas jalan yang terbuat dari papan. Jalan sepanjang seratus meter itu menjorok ke laut luas. Di kanan dan kiri jalan tersebut bersandar puluhan kapal motor. Iwan, Sulis dan Ratna mengekor di belakangnya.
"Silahkan, dan hati - hati di jalan !" Seru Saipul. Tangannya menunjuk sebuah kapal motor berukuran sedang.
__ADS_1
"Terima kasih, bang..." merekapun berpamitan kepada pemilik kapal. Sulis dan Ratna masuk ke bagian dalam kapal untuk beristirahat. Sementara itu, Iwan menjadi nahkodanya. Tak berapa lama, kapal motor yang mereka tumpangi sudah berada di lautan luas.
Angin laut yang berhembus terasa makin kencang. Sesekali kapal bergoyang dihantam gulungan ombak yang datang. Ratna sudah tertidur pulas di bangku panjang bagian dalam kapal.
Sulis terlihat terpesona dengan panorama pulau - pulau kecil yang mereka lewati. Sesekali ujung matanya melirik sosok pemuda yang mengendalikan kapal tersebut.
Satu saat tatapan keduanya beradu. Sulis segera membuang pandangan jauh ke luasnya lautan. Sementara itu, Iwan hanya tersenyum kecil saat wanita yang diam - diam dikagumi salah tingkah.
"Sebaiknya kau tidur, karena perjalanan masih jauh !" Seru Iwan sambil melirik ke posisi Sulis.
"Tidak apa - apa. Aku ingin melihat pemandangan." Jawab Sulis. Tangannya membuka tas ransel yang dibawa. Tak lama kemudian, ia sudah sibuk dengan cemilannya. Di tengah keasyikannya itu, tiba - tiba sebuah nada dering menghentikan aktifitasnya.
"Mau apa dia ?" Seru Sulis saat kedua matanya mendapati nomer Jarot di handphonenya. Iwan menyaksikan setiap gerak - gerik wanita tersebut.
"Hallo..."
"Neng Sulis. Saya disuruh menjemput kalian berdua."
"Disuruh siapa, bang Jarot ?"
"Siapa lagi kalau bukan bos Jhoni."
"Tapi kami sudah berangkat... !"
"Apa....Neng Sulis tidak takut dimarahi bos Jhoni ?"
"Nanti biar saya yang menjelaskan pada bos Jhoni."
"Terserah Neng sajalah."
Sambungan telepon diputus oleh Jarot. Sepertinya pria botak itu sangat ketakutan kena omelan bos mereka. Berbeda dengan Sulis yang terlihat santai. Setelah beberapa jam, perjalanan mereka akan berakhir.
"Baik bang...." jawab Sulis singkat. Segera ia bangunkan Ratna yang masih tertidur pulas. Iwan terus mengamati daratan yang terlihat masih alami. Kemudian ia edarkan pandangannya ke perarian dengan radius satu kilo meter dari pulau tersebut.
Ada sedikit keraguan di dalam hatinya. Saat menyaksikan tak ada satupun perahu yang mendekat, apalagi bersandar untuk bongkar muat.
"Kamu yakin, ini tempatmu bekerja ?" Tanya Iwan dengan raut wajah keheranan. Menurutnya seharusnya pulau ini ramai oleh lalu lalang kapal ikan berbagai ukuran.
"Iya, bang. Pabriknya masuk ke dalam, tertutup oleh lebatnya Pohon - pohon besar."
Jawab Sulis meyakinkan. Sementara, Ratna mengangguk dengan senyum dipaksakan. Namun Iwan tak menjawab. Ia memilih fokus mengamati pulau tersebut dari atas kapal yang semakin dekat. Kini ketiganya berdiri di depan kemudi. Mata Iwan awas mengamati setiap titik pulau yang kini hanya berjarak beberapa ratus meter lagi.
Dua buah menara setinggi lima belas meter menjadi perhatiannya. Kedua menara menghadap ke laut lepas. Letaknya di ujung barat dan ujung timur pulau tersebut. Tiap menara di jaga oleh dua orang pasukan keamanan.
Kedua penjaga di sebelah timur sedang santai saat kapal motor yang tumpangi Sulis dan Ratna. Keduanya kaget saat mendapati sebuah kapal motor semakin mendekat.
"Hei... lihat !" Seru pria gemuk pada temannya. Jari telunjuknya diarahkan ke kapal motor.
"Ada apa ?!" Tanya kawannya yang segera menempelkan teropong jarak jauh di matanya. Sementara itu, pria gemuk sudah meletakkan popor senjatanya di pundak. Matanya fokus membidik. Dalam hitungan detik pelatuk senapan siap ditekan.
"Sepertinya ada yang coba - coba masuk ke wilayah kita !" Serunya dengan ekspresi wajah tanpa beban. Timah panas siap meluncur, namun aksinya tidak berjalan mulus.
"Stop... !"
"Ada apa lagi...?!"
__ADS_1
"Itu Sulis dan Ratna."
"Apa kau yakin ?"
"Sangat yakin."
Senapan laras panjang kembali diturunkan saat pria gemuk menerima teropong dari kawannya yang tinggi dan kurus. Kemudian ia memastikan kebenaran ucapan kawannya.
"Kenapa mereka tidak dijemput si Jarot dan Kubil ?" Tanya pria gemuk. Dipandangnya wajah kawannya menunggu jawaban. Namun pria tinggi hanya memberi kode dengan bahunya.
Sementara itu, Sulis dan Ratna sudah turun dari perahu motor. Keduanya berpamitan pada pemuda yang sudah mengantarkan mereka.
"Terima kasih, Bang Iwan sudah mengantarkan kami" ucap Sulis saat keduanya sudah berada di daratan.
"Tidak apa - apa. Jaga diri kalian baik - baik !"
"Abang Iwan juga hati - hati !"
"Ya sudah, aku kembali ke kota !"
Sulis dan Ratna menjabat tangan pemuda tersebut sebagai bentuk perpisahan. Sebelum Iwan kembali naik ke atas perahu, indera penciumannya menangkap aroma busuk dan anyir menusuk hidung. Aroma tersebut perlahan hilang bersamaan dengan makin menjauhnya kapal yang ia tumpangi.
Kedua pasang mata masih saja setia mengiringi kepergian sang pemuda hingga tak lagi terlihat.
Belum lagi mereka balik badan, tiba - tiba sebuah suara mengagetkan keduanya.
"Sulis..., Ratna... kalian dipanggil bos Jhoni sekarang !"
"Ada apa...?"
"Aku tidak tahu. Cepat kalian menghadap sebelum dia ngamuk."
"Baiklah !"
Keduanya bergegas menuju bangunan yang lebih mirip pabrik. Ada rasa khawatir dalam hati keduanya, namun mereka sepakat mengabaikannya.
#####
Di ruangan kerja yang tidak terlalu besar. Dua orang sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting.
"Kamu kirim anak buahmu. Cegah jangan sampai pemuda itu kembali ke daratan !"
"Baik bos !"
"Aku ingin kalian habisi dia !"
"Siap laksanakan !"
Pria gemuk dengan rambut sebahu yang bernama Bowo balik badan. Tak lama kemudian dia sudah berada di antara pasukannya. Mereka kini berada di bibir pantai. Dua buah perahu karet dengan mesin sudah standby di hadapan mereka.
"Sekarang juga kalian berangkat. Waktu kalian tidak banyak !"
"Baik komandan !"
"Pastikan operasi kalian berhasil dan jangan lupa untuk menghilangkan jejak kalian !"
__ADS_1
"Siap laksanakan, komandan !"
Perintah singkat diterima empat orang anggota pasukan. Mereka mengendarai dua perahu karet yang sudah dibekali mesin dengan kecepatan tinggi.