Pulau Eksekusi

Pulau Eksekusi
Terus Berlari


__ADS_3

Terus berlari


"Lebih cepat, Rif !" Seru Topan. Langkah kakinya semakin dipercepat. Sesekali ia palingkan wajahnya ke arah belakang. Di mana ketiga orang yang mengejar mereka semakin dekat. Ketiganya begitu bernafsu  ingin menangkap kedua remaja itu.


"Itu mereka"! Pria tinggi  kurus berteriak lantang. Jari telunjuknya mengarah lurus saat melihat Topan dan Arif di kejauhan. Langkah ketiganya semakin dipercepat seiring makin terpangkasnya jarak antara mereka dan kedua buruannya.


DOORR...


Tiba - tiba sebuah letusan terdengar membahana. Tak lama kemudian, suaranya menggema dipantulkan tebing tinggi yang menghadap ke laut. Burung - burung yang sedang bercengmerama, seketika berhamburan ke angkasa.


"Hei, siapa yang melepaskan tembakan ?!" Seru pria tinggi kurus panik. Sorot matanya diarahkan ke wajah kedua kawannya yang terlihat sama bingungnya. Tak puas. Lantas pria ini mencari asal suara di kejauhan, namun ia juga tak menemukan apa - apa.


"Sepertinya dari arah sana" jawab Pria yang menggunakan kupluk di kepalanya. Jari telunjuknya dia arahkan ke satu tempat yang berjarak cukup jauh dari posisi mereka. Dan dari arah yang berlawanan.


"Apa mereka tak mendengar arahan dari komandan ?" Ucap pria tinggi kurus yang terus bergerak maju. 


"Mungkin saat pengarahan tadi, dia tertidur" ucap kawannya. Seutas senyuman terukir di wajahnya.


Sementara itu, Topan dan Arif terus berlari dengan perasaan tak menentu. Sesekali wajah yang terlihat panik itu menoleh ke belakang.


"Mereka semakin dekat, Rif " seru Topan tegang. Wajahnya terlihat makin gusar menyaksikan ketiga orang di belakang yang terus merangsek maju.


"Kita harus bagaimana, Pan ?!" Tanya Arif dengan wajah tak kalah paniknya. Sesekali keduanya mengaduh kesakitan saat duri tanaman berhasil menggores kulit keduanya.


"Jangan berhenti, Rif. Terus lari !" Seru Topan. Spontan dia tundukan kepalanya saat di hadapan mereka teronggok batang pohon yang patah. Arif mengikuti apa yang dilakukan oleh kawannya. Namun belum sempurna ia melewati batang pohon yang melintang.


"Berhenti, jangan lari !" Sebuah teriakan cukup keras berhasil membuat langkah keduanya terhenti. Kini di hadapan keduanya berdiri dua orang pria yang menodongkan senapan laras panjang. 


"Cepat ikut kami menemui bos Jhoni !" Seru pria gemuk dengan tatapan mengerikan. Jari telunjuknya siap menarik pelatuk setiap saat.


"Lebih cepat kalian menyerah, itu lebih baik !" Kali ini pria di sebelahnya yang bicara. Pria yang sama gemuknya, namun memiliki postur tubuh yang lebih tinggi. Dari arah belakang kedua remaja itu, sudah terlihat pria tinggi kurus dan kedua kawannya. 


"Jangan harap kami ikut dengan kalian !" Seru Topan mantap. Sorot matanya tajam memandang ke arah dua orang di hadapannya. Sesekali ia memicingkan matanya ke arah belakang saat menyadari posisi mereka sudah dikepung. 


Di sebelah Topan,  Arif tak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Badannya gemetaran dan terus saja menempel pada kawannya. 

__ADS_1


"Aku takut, Pan" ucapnya pelan namun masih bisa didengar oleh Topan.


"Tenang, Rif. Jika aku perintahkan lari. Lari sekuatnya"  jawab Topan sedikit berbisik, dijawab dengan anggukan. 


"Apa kalian ingin menjadi santapan binatang buas !" Hardik pria di hadapan kedua remaja itu.


"Iya. Sebaiknya kalian ikut kami !"  Sahut kawannya meyakinkan.


"Tak usah takut. Makanan kalian sudah dijamin, tiga kali sehari" ucapnya lagi sambil tersenyum mengejek.


"Kalian tak akan kelaparan !" Seru pria gemuk lagi. Perlahan sekali kedua kakinya melangkah maju. Tak lama kemudian keduanya tertawa lepas. Di hadapan mereka, Topan berfikir keras saat pria yang menodongkan senapan semakin mendekat.


Moncong senapan dia arahkan ke kening Topan yang berdiri tepat di hadapannya. Namun remaja itu tak gentar sedikitpun sorot matanya tajam menghujam mata pria di hadapannya.


"Hei, jangan menembak !"  Seru pria tinggi kurus. Tangan kanannya diangkat memberi aba - aba agar menurunkan senapan yang siap memuntahkan timah panas. Namun pria gemuk yang sedang membidik tak menghiraukannya.


"Komandan bilang, mereka harus dibawa hidup -  hidup !" Seru pria dengan topi kupluk di kepalanya. Tanpa mereka sadari, di hadapan mereka Topan melakukan sesuatu. Remaja ini secara diam - diam memasukan dua buah duri tajam ke sumpitnya. 


"Siapa kamu, berani mengatur - ngatur ?!" Hardik pria gemuk yang menodongkan senjata. Moncong senapannya sedikit bergeser, bersamaan dengan berubahnya arah pandangannya. 


"Kami bukannya mengatur. Kamu tidak dengar pengarahan komandan tadi ?!" Bela pria tinggi. Dia tak ingin kawannya disalahkan. Tangannya ditempelkan pada gagang senapannya. Secara tak langsung pria ini memberi pesan bahwa ia juga bisa menodongkan senapan. 


WUUSSS...


Dua buah duri tajam sepanjang dua puluh senti melayang dengan kecepatan tinggi secara bersamaan. 


"Aaauuuu.... !!" Jerit kesakitan terdengar dari mulut pria gemuk dan kawannya secara bersamaan. Dan tak lama kemudian keduanya ambruk ke tanah. Tangan mereka meraba duri yang ujungnya mengandung racun menancap di leher keduanya. Senapan mereka ikut jatuh tak jauh dari tubuh gemuk keduanya.


"Lari, Rif !" Seru Topan sambil menarik tangan kawannya. Keduanya berlari sekuat tenaga, melesat,  menerabas segala macam tumbuhan yang menghalangi. Pria tinggi kurus dan dua kawannya hanya melongo. Terkesima dengan pemandangan yang ada.  Tak diperdulikannya lagi kedua remaja yang melarikan diri.


Ketiganya seolah tak percaya menyaksikan dua orang yang beberapa menit yang lalu masih segar bugar. Kini sudah menjadi mayat dengan kondisi mengenaskan.


"Apa yang terjadi ?" 


Tiba - tiba sebuah suara mengagetkan ketiganya. Di hadapan mereka, kini berdiri Bowo dan beberapa orang anak buahnya.

__ADS_1


"Mereka dibunuh menggunakan sumpit, komandan !"  Seru pria tinggi dan diamini oleh dua orang kawannya.


"Sumpit... ?"  jawab Bowo keheranan. Ia coba mengingat - ingat. Saat kejadian yang sama pernah dialami oleh anak buahnya. Dia berjongkok, diamati keadaan mayat kedua pasukannya yang mulai membiru akibat racun yang sudah bereaksi.


"Kalian kejar mereka !" Seru Bowo saat menyadari semakin ramainya tempat tersebut. banyaknya anak buah Bowo yang baru datang membuat tempat itu makin sesak.


"Siap komandan !" Seru ketiganya. Bergegas mereka tinggalkan tempat tersebut untuk melanjutkan pengejaran.


"Ke arah mana larinya mereka ?! " tanya pria tinggi kurus pada kedua kawannya.


"Sepertinya mereka ke arah sini !" Jawab kawannya. Sementara itu dari arah lain datang rombongan baru. Semakin banyak orang  yang datang  dan mencari Topan dan Arif. 


"Bawa.mereka hidup - hidup !" Seru Bowo lantang. Tak bisa ditutupi lagi raut muka kekesalan yang terpancar dari wajahnya. 


"Baik komandan !" Jawab beberapa anak buahnya yang baru datang.


"Mereka mengejar kita, Pan ?" Tanya Arif yang terlihat masih ketakutan.


"Belum kelihatan, Rif !" Jawab Topan singkat. Pandangannya  diedarkan ke belakang. Yang ada hanya pepohonan yang saling berangkulan karena begitu rapatnya hutan tersebut.


"Kita istirahat sebentar, Pan" ucap Arif dengan nafas tersengal. Dia rebahkan tubuhnya di rerumputan yang cukup lebat. Sementara keringat mengucur deras dari seluruh tubuhnya. 


"Iya, Rif" jawab Topan. Dengan kondisi yang sama, ia duduk di sebelah kawannya. Sesekali pandangannya ia edarkan ke segala arah. Memastikan tak ada anak buah Bowo yang sedang memburu mereka.


"Aman Rif" ucapnya lagi. 


"Sampai kapan kita seperti ini, Pan ?!" Tanya Arif dengan nada suara yang sedikit frustasi.


"Aku tak ingin mati di sini, Pan." 


"Sabar Rif. Aku juga tidak ingin mati."


Setelah beberapa saat melepas lelah. Kini keduanya kembali melangkahkan kaki. Dengan wajah letih dan keringat membasahi seluruh tubuh.


"Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini, sebelum mereka datang."

__ADS_1


"Iya, Pan."


Keduanya kembali membuang rasa letih. Ketakutan akan sesuatu yang sangat mengerikan, membuat mereka terus berjalan bahkan berlari.


__ADS_2