Pulau Eksekusi

Pulau Eksekusi
Pasukan Tambahan


__ADS_3

Pasukan tambahan


Suasana pagi hari di pulau misterius itu cukup tenang. Garis pantai yang terlihat indah dengan pasir putihnya, perlahan hilang seiring datangnya serbuan ombak yang menyapu daratan. 


Dari kejauhan sesekali terlihat perahu nelayan yang makin lama makin menghilang. Begitupun dengan kapal - kapal pencari ikan berukuran besar. Sepertinya mereka enggan mendekat, apalagi singgah di pulau tersebut.


Sesuatu yang masih menjadi tanda tanya hingga saat ini. Mungkin mereka takut menjadi mangsa binatang buas di pulau tersebut. Atau mungkin takut karena sering terdengar suara - suara yang menyeramkan. Atau, mungkin juga karena mereka mencium aroma busuk dan anyir dari daratan pulau misterius itu. Entahlah.


Hal itu berbanding terbalik dengan sebuah kapal berukuran sedang. Di bawah teriknya sinar mentari pagi dan hembusan angin laut, kapal itu terus bergerak mendekati daratan pulau yang memanjakan mata. Tak lama kemudian kapal itu melempar jangkarnya. 


     "Cepat turunkan perahu karet !" Seru seorang pria. Di hadapannya kini berdiri puluhan orang yang siap menunggu aba - aba.


     "Siap komandan !" Seru salah seorang di antara mereka. Dibantu beberapa rekannya pemuda ini melemparkan perahu karet. Tak lama kemudian satu persatu mereka menuruni tangga dan bersiap menuju daratan yang berjarak sekitar dua ratus meter dari posisi mereka.


     "Ayo cepat. Turun... !" Seru sang komandan lagi. Sorot matanya jeli mengawasi setiap gerakan anak buahnya. Dalam hitungan menit, perahu karet pertama sudah bergerak meninggalkan kapal. Kini perahu karet yang kedua sudah mulai penuh oleh anggota  pasukan dan berbagai barang bawaan mereka.


     "Baik - baik kalian di tempat kerja yang baru. Kalian akan diterima oleh komandan Bowo dan sampaikan salamku padanya !" Seru sang komandan lagi. Matanya  mengedarkan pandangan jauh ke depan. Tak bisa ditutupi kekagumannya akan keindahan panorama pulau tersebut. Matanya begitu terpesona saat menyaksikan hamparan  pasir putih dan barisan pohon kelapa yang melambai - lambai dari pinggir pantai. Jauh ke belakang, dilihatnya hijau pepohonan yang memanjakan mata.


     "Siap komandan !" Seru anak buahnya serempak, membuyarkan lamunannya. 


     "Selamat bertugas dan jaga kesehatan kalian !"


     "Baik komandan !" 


Tak lama kemudian kapal tersebut kembali bergerak menjauh menuju arah datangnya. Sementara itu, beberapa orang yang menaiki perahu karet sudah mendarat di pulau. 


Setelah beberapa saat menunggu dan menyiapkan barang - barang bawaan mereka. Dari celah di antara pohon - pohon besar yang menjulang tinggi, datang beberapa orang yang menyambut mereka.


     "Bagaimana perjalanan kalian ?" Seru salah seorang di antara mereka yang baru datang. Satu per satu anggota yang baru turun dari kapal tak lepas dari perhatiannya.


     "Perkenalkan, nama saya Bowo. Saya adalah komandan kalian di sini" ucapnya lagi. Dia berdiri diapit dua anak buahnya. Ketiganya, memandang lurus ke depan, di mana anggota yang baru datang berbaris secara teratur. Puluhan orang yang sebagian besar pemuda itu, mendengarkan dengan seksama. 


     "Apakah kaliah sudah tahu tugas kalian di sini ?" Ucap Bowo melanjutkan pertanyaannya. 


     "Sudaaahh... !" Kompak, mereka menjawab dengan lantang. Bowo dan kedua orang di sampinya hanya tersenyum simpul


     "Baik..... baik..., walaupun kalian sudah tahu tugas kalian di sini. Sebaiknya saya jelaskan lagi agar kalian tidak kaget saat sudah mulai bekerja"  ucap Bowo panjang lebar. Kali ini ia terihat lebih santai. Beberapa kali ia melangkahkan kakinya  mengusir rasa bosan.


     "Tugas kalian adalah mengamankan seluruh area pulau ini. Kelihatannya sederhana, tapi perlu diketahui bahwa pulau ini masih sangat alami. Hewan buas masih berkeliaran, jadi pesan saya berhati - hatilah. Dan sudah ada beberapa anggota kita yang mati diterkam binatang buas. Sampai di sini, ada pertanyaan ?"  Ucap Bowo mengakhiri penjelasannya panjang lebar. Namun tidak ada jawaban dari anggota pasukannya. Mereka hanya saling pandang dan tak ada yang bicara. Wajah mereka kembali menatap sang komandan saat ia melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


     "Kemarin ada dua orang remaja yang berkeliaran di sekitar pulau ini. Aku minta kalian menangkap mereka hidup - hidup. Jelass.... ?"


     "Siap  komandan !"


     "Baik. Sekarang kalian boleh istirahat dan melihat  - lihat"


Setelah mendapatkan breafing dari sang komandan, puluhan pemuda ini bergegas menuju barak mereka yang menyatu dengan satu - satunya bangunan di pulau tersebut.


     "Kalian berdua, antarkan mereka ke barak !" Ucap Bowo pada kedua orang yang ada di sampingnya.


     "Siap, laksanakan komandan !" 


Perlahan tapi pasti, puluhan anggota pengamanan yang baru datang berjalan menyusuri lebatnya hutan belantara. Begitu alaminya hutan di pulau tersebut, hingga nyaris tak ada celah sekedar untuk lewat. Yang ada hanya hamparan ruput alang - alang dan tumbuhan semak yang berebut tempat dengan pohon - pohon besar setinggi puluhan meter.


Makin kedalam, mereka makin dibuat penasaran oleh bau anyir dan busuk yang begitu menusuk hidung. Indera pendengaran mereka mulai menangkap suara - suara rintihan, tangisan dan suara burung gagak yang semakin jelas. 


     "Kau mencium sesuatu ?"


     "Iya. Bau busuk dan bau darah"


     "Tempat apa ini ?" 


Mereka terus saja berjalan sambil melontarkan pertanyaan yang tak jauh berbeda. Di hadapan mereka kini berdiri megah sebuah bangunan besar yang lebih mirip seperti pabrik atau gudang.


#####


Sebuah suara terdengar menyeramkan. Pintu besi yang sudah karatan di sana  sini terbuka dan terpampanglah dua orang yang datang dengan troly besi berukuran besar.


Sontak saja kedatangan dua orang tersebut membuat puluhan burung gagak berhamburan ke angkasa. Tak lama kemudian hinggap di pohon - pohon di sekitarnya. Sementara sorot tajam mata mereka tak lepas dari  tumpukan mayat yang saling tindih berbentuk bukit kecil. Suara khasnya besahut - sahutan memecah keheningan.


Buukkk.... buukkk... buukkk...


Keduanya meraih tubuh yang sudah hancur dari troly besi dan kemudian melemparkannya begitu saja ke tumpukan mayat yang sudah membusuk. Seperti petugas kebersihan yang membuang sampah, tak ada ekspresi yang berbeda dari keduanya. Mereka terlihat biasa saja, seolah yang ada di hadapan mereka hanyalah sampah yang harus disingkirkan.


Kedua orang yang menggunakan setelan seperti jas hujan itu sesekali menekan hidungnya yang tertutup masker bedah.  Sarung tangan karet melindungi tangan mereka dari darah yang berceceran di mana - mana. Bahkan sesekali sepatu bot keduanya menginjak potongan tubuh yang terlepas dari badannya.


     "Sampai kapan kita mengerjakan hal mengerikan seperti ini ?" Seru salah satu dari mereka. Dipandangi kawannya yang sedang menutup kembali pintu besi.


     "Aku tak tahu. Mungkin beberapa bulan lagi atau beberapa tahun lagi. Atau bisa jadi seumur hidup kuhabiskan waktu di pulau ini" jawab kawannya datar. Senyum kecut tercipta di bibirnya. Ucapannya  memancing kawannya untuk menimpali. Hingga keduanya terlibat obrolan yang cukup lama.

__ADS_1


     "Kalau begitu, kita senasib" balas kawannya lagi. Kini, keduanya beristirahat sejenak. Punggung mereka di tempelkan pada dinding tembok, sementara kaki keduanya diselonjorkan ke depan. Dari sela - sela  bibir mereka menyembur asap tebal yang hampir menutupi wajah keduanya.


     "Kau tahu sendiri, saat ini tidak banyak pekerjaan yang bisa kita lakukan. Perusahaan - perusahaan itu menetapkan syarat yang makin lama semakin sulit."


     "Sesekali aku berfikir untuk pulang dan meninggalkan pekerjaan ini. Tapi sepertinya tidak semudah yang aku bayangkan." 


     "Iya. Anakku masih sekolah semua. Kebutuhan pasti banyak, untung saja bos Jhoni mau menerimaku bekerja di sini."


     "Akupun begitu, walaupun awalnya aku kecewa. Aku dijanjikan bekerja di pengeboran minyak, tapi ternyata aku dikirim ke sini." 


Begitu asyikmya mereka ngobrol, hingga tak menghiraukan suara erangan binatang buas yang berebut sesuatu di luar sana. Sementara dari dalam terdengar suara jeritan histeris beberapa orang remaja sesaat sebelum ajal menjemput.


     "Bisa gila aku !" Ucap salah seseorang di antara mereka. 


     "Aahahaaha. Jika kau saja bisa gila, bagaimana pula dengan aku."


Keduanya kembali termenung dengan asap rokok yang terus mengepul.  Wajah mereka menerawang ke langit - langit. Sementara fikiran mereka melanglang buana entah ke mana.


#####


Sementara itu, di tempat yang berbeda. Tampak puluhan orang yang sebagian  besar pemuda. Dengan sigap mereka  berjalan menuju pintu utama satu - satunya  bangunan  di pulau tersebut.


Wajah mereka sontak dibuat ketakutan saat dari arah belakang bangunan berjalan seekor harimau berukuran sedang. Di antara rahangnya terjepit seonggok daging yang masih merah.


     "Maa....macannn.... !" Seru salah seorang anggota pengamanan yang baru. Tanganya menunjuk ke arah binatang buas yang sedang berjalan mendekat. Mendengar teriakan dari temannya, anggota yang lain bergegas berlari menyelamatkan diri. Kepanikanpun terjadi. 


    "Cepat masuk !" Seru seorang anak buah Bowo yang lebih senior. Tanpa menunggu lama, berbondong - bondong mereka berlari dan segera masuk kedalan bangunan tersebut. Wajah mereka pucat pasi menyaksikan hal yang tidak biasa itu.


     "Barak kalian ada di atas !" Ucap salah seorang bawahan Bowo yang mengantar mereka. Merekapun berjalan menaiki anak tangga. Dan lagi - lagi pemandangan menyeramkan tersaji di hadapan puluhan pemuda tersebut. Di bagian bawah yang mereka lewati terdapat  beberapa ruangan yang mirip seperti penjara. 


Di dalamnya puluhan remaja berdesak - desakan berbagi tempat. Raut wajah mereka tampak menyedihkan. Tubuh mereka kurus dan tak terawat yang dibalut pakaian yang sudah tak layak lagi. Sesekali terdengar suara tangis memilukan dari salah satu di antara mereka.


     "Tempat apa ini ?" Tanya salah seorang pemuda yang berjalan menaiki anak tangga. Namun bukan jawaban yang dapat, melainkan hanya tatapan keheranan dan anggukan bahu dari kawannya.


     "Ayo jalan !" Seru kawannya yang lain. Segera ia menyusul rombongan yang sudah lebih dulu menjauh. Sementara itu, di dalam sel - sel berteralis besi. Merasa diperhatikan sedemikian rupa, spontan para remaja yang dikurung bangkit. Tanpa ada yang memberi aba - aba, mereka menggedor - gedor terallis besi yang merampas kemerdekaan mereka.


Sontak saja, suasana yang tadi tenang berubah menjadi gaduh. Suara besi yang di gedor - gedor beramai - ramai serta teriakan histeris membuat suasana menjadi mencekam.


     "Berhenti.... !"

__ADS_1


     "Diam  kalian... !" 


Sebuah suara yang menggelegar mampu meredakan situasi. Seorang anak buah Bowo datang dengan wajah garang, dengan senapan siap dikokang.  Sementara bocah -  bocah yang terkurung kembali murung dengan wajah tertunduk dan membisu.


__ADS_2