
Terjawab
Setelah berjalan beberapa lama, kini keduanya dapat menyaksikan dari jarak yang cukup dekat. Sebuah bangunan yang besar dan luas namun menyimpan banyak misteri.
Sesekali para penjaga bejalan mengitari area gedung dengan senapan laras panjang tergantung di pundak. Dari atas sebuah menara setinggi dua puluh meter, seorang penjaga terus mengarahkan lampu tembaknya. Sorot lampu yang begitu terang selalu berpindah setiap ada gerakan yang mencurigakan dari kejauhan.
"Sekarang bagaimana, Pan ?!" Seru Arif. Keduanya bersandar pada batang sebuah pohon. Pandangan mereka tertuju pada sorot lampu tembak yang terus bergerak.
"Kita bergerak perlahan, Rif. Jangan sampai tersorot oleh lampu tembak itu" jawab Topan sambil mengarahkan pandangan pada sosok penjaga menara lampu senter raksasa tersebut. Perlahan tapi pasti, keduanya bergerak di tengah kegelapan malam.
"Iya Pan."
Kini jarak mereka semakin dekat dengan bangunan yang sudah membuat keduanya penasaran. Dari balik batang pohon dan rumput alang - alang setinggi satu setengah meter, mereka dapat menyaksikan dengan jelas keadaan di hadapan mereka.
"Banyak penjaga, Pan !" Seru Arif sambil menundukan kepalanya saat sinar terang dari lampu tembak mengarah pada mereka. Tak jauh dari posisi keduanya, sekitar seratus meter di depan. Tepat di pintu masuk bangunan tersebut, terlihat beberapa orang penjaga yang sedang bermain kartu. Tak jauh dari mereka, dua orang lainnya beranjak meninggalkan tempat tersebut untuk melihat kondisi di sekeliling bangunan. Semuanya dibekali dengan senapan laras panjang yang menakutkan.
"Iya Rif. Kita harus hati -hati" jawab Topan. Sementara kawannya hanya mengangguk pelan. Mata keduanya awas menyaksikan gerak - gerik para penjaga keamanan yang sedang asyik dengan kartu mereka.
"Sebaiknya kita cari posisi yang aman untuk mendekat" ucap Topan sambil melangkah mengendap - ngendap. Dengan jarak pandang yang tetap sama, keduanya kini berada di sisi timur bangunan tersebut.
Cukup lama mereka berjalan menyisir sisi bangunan yang dekat dengan tembok. Secara tak sadar keduanya menutup hidung masing - masing saat langkah kaki keduanya semakin mendekati bagian belakang bangunan itu.
"Bau ini lagi !" Seru Topan saat menyadari penciumannya mulai terusik oleh aroma busuk dan bau anyir yang sangat terasa.
"Iya Pan. Tapi ini lebih terasa menusuk hidung" jawab Arif. Tangannya tak beranjak dari wajahnya. Menghalangi aroma tak sedap itu masuk ke dalam indera penciumannya.
"UUWWWEEEKKKK... !"
Spontan keduanya mengeluarkan suara ingin memuntahkan seluruh isi perut. Keduanya tak menyadari saat langkah kaki mereka semakin dekat dengan tumpukan mayat setinggi dua meter yang ada di bagian belakang.
__ADS_1
Wajah keduanya dibuat bergidik ngeri saat mendapati pemandangan yang sangat menakutkan. Tubuh gemetaran dan mata mendelik seperti ingin lompat keluar saat menyaksikan puluhan bahkan ratusan mayat di hadapan mereka.
Puluhan bahkan ratusan mayat dengan tubuh yang sudah hancur terlihat jelas saat kedua remaja itu menyalakan lampu senter mereka. Gundukan bukit kecil setinggi dua meter tercipta dari mayat - mayat itu karena saling menindih satu dengan yang lainnya.
Beberapa bagian tubuh yang sudah hancur dan tidak utuh tercecer di sekitar tumpukan mayat. Begitupun dengan berbagai macam tulang dan tengkorak. Berserakan dan basah terendam oleh genangan darah. Tak bisa dibayangkan lagi aroma busuk yang menguar ke seantero wilayah.
"Iblis macam apa yang melakukan ini semua ?"
Ucap Topan sambil mengarahkan sorot lampu senternya ke wajah - wajah yang sudah mendahuluinya. Sementara Arif sudah mundur beberapa langkah. Ia tak sanggup berlama - lama menyaksikan pemandangan mengerikan itu.
"Ayo kita tinggalkan tempat ini, Pan !"
Seru Arif. Dia sibuk menggesek - gesekan kakinya ke tanah yang kering. Genangan darah yang melekat pada kakinya membuatnya tak betah berlama - lama. Belum lagi bau busuk dan anyir yang menyengat sangat menyiksanya.
"Iya... iyaaa...!"
Tanpa menunggu rengekan kawannya yang kedua, perlahan Topan menjauh dari tumpukan mayat di hadapanya. Spontan ia balik badan hendak menyusul Arif yang makin jauh. Namun baru selangkah ia berjalan. Indera pendengarannya dikagetkan oleh sebuah suara.
Tiba - tiba pintu besi di depan tumpukan mayat itu terbuka. Reflek Topan melompat ke tembok dan berjongkok, berharap orang yang membuka pintu tidak melihatnya. Dengan raut wajah panik ia memberi kode agar Arif melakukan hal yang sama. Kedua matanya terus mengawasi tumpukan mayat yang kini terlihat jelas karena mendapatkan pencahayaan dari dalam.
BUUKK... BUUKK.. BUUKK...
Tiga buah tubuh yang sudah tidak utuh lagi, terbang dan mendarat di gundukan mayat yang paling atas. Topan dan Arif dibuat bergidik menyaksikan pemandangan horor di depan mata mereka.
"Benar - benar gila !" Seru Topan dengan perasaan campur aduk. Takut, sedih dan marah menjadi satu dan berkecamuk hebat dalam dirinya.
"Mungkin mereka bukan manusia, tapi iblis" jawab Arif yang ikut terbawa suasana emosi kawannya. Tak lama pintu besi yang sudah karatan itu kembali tertutup. Diiringi derap langkah dua pasang kaki dengan sepatu bot yang semakin menjauh.
Kini gundukan mayat setinggi dua meter kembali diliputi kegelapan dan menyeramkan. Kegelapan yang sudah merenggut cahaya kehidupan para remaja yang kini sudah tak bernyawa.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka, pan ?" Tanya Arif. Langkahnya dipercepat mengikuti kawannya. Kini keduanya berjalan di samping tembok satu - satunya bangunan di pulau itu.
"Aku tidak tahu, Rif. Yang kulihat tubuh mereka memiliki kesamaan."
"Kesamaan bagaimana?"
"Tubuh mereka terdapat luka menganga pada bagian dada hingga di bawah perut. Sepertinya organ dalamnya sudah tidak ada"
"Sadis. Sangat biadab !"
Tak terasa, keduanya terus berjalan sambil mengikuti tembok yang mengelilingi bangunan besar tersebut. Keduanya terus saja membicarakan apa baru saja mereka saksikan. Hingga lamat - lamat terdengar suara dari dalam. Ternyata suara tersebut dapat terdengar setelah melewati lubang angin seukuran satu batako.
"Suara siapa itu, Pan ?" Tanya Arif keheranan. Telinganya menangkap suara tangis memilukan dari seorang bocah disusul suara bentakan seorang pria dewasa.
"Coba kau lihat lewat lobang itu" jawab Topan. Jari telunjuknya mengarah tepat pada lubang angin yang berjarak sekitar satu meter di atas mereka. Segera Topan berjongkok sambil tangannya menepuk kawannya yang masih kebingungan. Tak lama kemudian ia naiki pundak kawannya.
"Oke Pan !" Jawab Arif singkat. Tak lama kemudian wajahnya sudah berada tepat di hadapan lubang angin. Kini dia dapat melihat secara jelas bagian dalam gedung tersebut.
"Jangan bunuh aku, huhuhuu..." ucap seorang remaja yang dipilih oleh Jhoni. Air matanya mengucur deras saat tubuh kekar dua orang anak buah Jhoni menyeretnya dengan kasar.
"Sudah jangan menangis. Kami ingin membantumu keluar dari nasib burukmu" ucap seorang pria yang menariknya dengan paksa sementara itu Arif terus menyaksikan kejadian tersebut.
"Aku tidak mau !" Hardik sang remaja sambil terus meronta dan menangis sejadi - jadinya.
PLAAKKK...
Sebuah tamparan keras berhasil membuat sang bocah kehilangan kesadaran, dia pingsan dengan posisi terjepit di antara dua tubuh besar pengawal Jhoni.
"Kalau dari tadi, kan enak" ucap pengawal Jhoni sambil tersenyum. Kini tubuh kurus itu sudah tergeletak di meja operasi. Dan tak menungu lama sang algojo dengan gesit melakukan tugasnya.
__ADS_1
Dua buah ginjal berhasil ia dapat. Jantung, hati dan paru menyusul. Sementara itu, di luar Arif bergegas turun dari pundak kawannya dengan rasa takut yang menghantui. Wajahnya pucat dan tubuhnya gemetaran tak karuan. Untuk sementara, wajahnya terlihat shoke setelah menyaksikan itu semua.