Pulau Eksekusi

Pulau Eksekusi
Perburuan Besar - Besaran


__ADS_3

Perburuan Besar - Besaran


Bergegas Iwan turun dari sepeda motornya dan mendekati pria tambun yang sedang mengemudikan minibus berwarna Silver. Dengan wajah penuh amarah, ia bersiap melancarkan pukulan.


Namun, tanpa diduga oleh pemuda itu, tiba - tiba saja pria tambun membanting setir ke kanan dan membali tancap gas. Nyaris saja tubuh pemuda itu tertabrak jika ia telat bergerak. Reflek pemuda ini menghindar dengan cara melompat dan berguling - guling di aspal.


"Cepat Wan.. !" Seru Toni yang terlambat datang karena motor tuanya kalah tenaga. Iwan cepat bangkit, ia hanya mengangguk pelan. Keduanya kembali tancap gas memburu penculik Laras.


Di sela aksi kejar - kejaran antara para penculik Laras yang berjumlah empat orang dan dua pemuda, Toni dan Iwan. Di dalam minibus berwarna silver, Laras terus berusaha melepaskan ikatan pada tangannya. Sesekali tubuhnya miring ke kanan dan ke kiri, karena guncangan yang diakibatkan sang sopir mengendarai kendaraanya secara zig zag.


"Mau apa kau, wanita cantik ?!" Seru seorang pria yang duduk di sebelah kanannya. Pria dengan topi berwarna hitam ini terus mengawasi setiap gerak gerik korbannya. 


"Percuma saja kau melepaskan ikatan itu. Kau tetap akan ikut dengan kami !" Seru pria satu lagi. Dia duduk di sebelah kiri Laras yang mendengus kesal karena mendengarkan ocehan dua orang pria yang mengapitnya di kursi belakang kendaraan.


Tak ada ucapan yang keluar karena selembar kain yang menyumpal mulutnya. Sorot matanya  terlihat menyimpan kemarahan saat kedua pria yang mengapitnya tertawa seolah mengejek.


Di belakang kemudi, pria berperawakan tambun terlihat panik. Netranya terus mengawasi kaca spion. Memastikan keberadaan  kedua pemuda yang terus mengejar mereka.


Begitupun dengan pria yang duduk di kursi sebelahnya, ia  tak kalah paniknya. Berulang kali ia melontarkan kata - kata yang tidak jelas. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang untuk melihat posisi pemuda yang mengejar mereka.


"Sudah kubilang, jangan kau ambil pekerjaan ini. Sekarang kita dikejar - kejar dua orang itu !"  Seru pria yang sedang melihat ke belakang. Terlihat jelas raut wajah panik dari pria ini. 


"Tadi kau mengeluh karena tidak ada sewa. Sekarang ada orang yang kasih pekerjaan, kamu malah uring - uringan !" Sahut pria tambun yang sedang mengemudi. Sesekali ia edarkan pandangannya ke arah kawannya yang ketakutan.


"Pekerjaan kita sopir Ndut. Bukan penculik. Waduh... bagaimana ini ?!" 


"Ya sudah, kamu turun saja. Biar mampus kamu dihajar kedua pemuda itu !" 


Dua pria yang mengapit Laras tertawa puas mendengarkan percakapan kedua kawannya. Sesekali wajah mereka menghadap ke belakang. Melihat kedua pemuda yang terus saja mengejar kendaraan mereka. 


"Lebih cepat lagi, Ndut. Mereka semakin dekat !" Seru pria bertopi, saat netranya memastikan jika kedua pemuda yang mengejar sudah berada di belakang kendaraan mereka. 


"Mampus kita. Cepat cari jalan lain ?!" Seru pria yang duduk di kursi depan. Terlihat ia semakin panik dan ketakutan.


"Sudah, jangan berisik !"  Hardik pria bertubuh tambun kepada kawan di sebelahnya. Dia terus saja memacu kendaraanya tanpa kendali. Beberapa kali sepeda motor dan mobil tersenggol olehnya kendaraannya.


Hal itu membuat beberapa pengendara sepeda motor berinisiatif untuk ikut mengejar komplotan penculik itu. Berbagai teriakan mulai terdengar, meminta pengendara untuk menghentikan laju kendaraannya.


"Berhenti... !!"

__ADS_1


"Bawa mobil hati - hati woy...!" 


"Kejarrr... !" 


Di dalam kendaraan minibus berwarna silver, Laras tampak sedikit lega. Karena dapat menyaksikan banyaknya orang yang ikut mengejar kendaraan yang membawanya. Walaupun sebenarnya orang - orang itu tidak mengetahui jika yang mereka kejar adalah  komplotan penculik. Yang mereka ketahui, kendaraan tersebut berjalan secara serampangan dan sudah banyak yang ditabrak olehnya.


PRANGGG...  PRANGG...


Entah siapa yang memulai, tiba - tiba dua buah batu melayang dan membuat lubang cukup besar di kaca bagian depan. Sang pengemudi kaget. Spontan ia membanting stir ke kiri dan seketika  kehilangan kendali sebelum akhirnya menghantam trotoar jalan.


Kemudian kendaraan tersebut  melayang beberapa senti di udara dan beguling beberapa kali. Minibus itu baru berhenti dalam posisi terbalik saat menghajar sebuah tiang listrik yang menjulang tinggi.


"Laras, kau tidak apa - apa. Laras ?!" Toni menerobos massa yang menyemut. Begitu juga denga Iwan, ia terlihat sangat khawatir akan keselamatan adiknya. Cukup lama keduanya bertahan di luar kendaraan yang kini dalam keadaan terbalik. Beberapa menit tak ada tanda - tanda kehidupan, hingga sebuah suara mengagetkan mereka.


"Bang, tolong.. !" Seru Laras dari kursi belakang mobil yang sudah terbalik. Kain yang menyumpal mulutnya sudah terlepas. Dia coba meraih pintu mobil yang sulit dibuka. Di kursi depan,  terlihat dua orang yang  sudah tak bergerak karena terjepit antara body mobil dan aspal jalan. 


"Mundur, Laras. Biar aku pecahkan kaca mobilnya !" Seru Toni dari luar. Sementara di sekeliling kendaraan tersebut massa semakin banyak. 


PRANGG...


"Cepat keluar !" Seru Toni sambil menjulurkan tangannya. Dari dalam, Laras merangkak melewati pria di sebelahnya yang sudah tak bergerak.


"Sudah. Kau sudah aman sekarang" seru Toni. Telapak tangannya membasuh air mata yang luruh dengan penuh kasih. Seutas senyuman terukir di bibir Laras.


"Syukurlah kau selamat, Laras !" Seru Iwan yang sangat mencemaskan keselamatan adiknya. Dipandangi tubuh adiknya dari atas hingga bawah, untuk memastikan kondisi sang adik tercinta.


"Iya bang."


"Ya sudah. Ayo kita pulang !" 


Di tengah kerumunan massa yang semakin banyak. Ketiganya berjalan menjauh dan mencari kendaraan mereka. Saat kendaraan mereka baru berjalan beberapa puluh meter. Dari arah yang berlawanan datang beberapa mobil ambulan yang siap mengevakuasi korban yang terjepit di dalam kendaraannya. 


#####


Di sebuah pulau yang tak bernama. Pulau yang menyimpan misteri tentang banyaknya tulang belulang dan tengkorak manusia yang berserakan. Dan suara - suara yang terdengar menakutkan, bahkan memilukan. Rintihan, tangisan bahkan erangan kesakitan yang kerap terdengar seolah menutupi keindahan penorama pulau tersebut.


"Siapa lagi yang belum datang ?!" Tanya Bowo dengan suara lantang. Dia yang merupakan komandan satuan pengamanan pulau, sedang mengumpulkan seluruh anak buahnya. 


"Agus dan Rudi, komandan !" Jawab salah seorang anak buahnya. Pemuda ini dan puluhan kawannya sedang berbaris menghadap sang komandan. Sementara jauh di hadapan mereka terbentang lautan luas. Sejauh mata memandang, hanya deburan ombak yang mereka lihat. 

__ADS_1


"Mereka berdua bertugas di dapur. Untuk sementara mereka menggantikan tugas Sulis dan Ratna" ucap sang komandan yang membelakangi deburan ombak yang datang saling kejar mengejar. Sementara anak buahnya mengangguk tanda paham.


Sesekali beberapa ekor burung camar terbang tak jauh dari posisi mereka. Dengan suara khasnya, burung - burung itu bercengkerama dengan riangnya. Tak jarang mereka hinggap di batu karang yang tak jauh dari bibir pantai dengan paruh yang penuh dengan ikan tangkapannya.


"Kalian tau, kenapa kalian saya kumpulkan di sini ?!" Seru Bowo dengan penuh wibawa. Diedarkan pandangan ke seluruh anggota pasukannya.


"Tidak tau, komandan !" Jawab salah satu anak buahnya di barisan paling depan.


"Baik. Kalau begitu, akan saya jelaskan kenapa kalian saya kumpulkan di sini !" Seru Bowo. Anak buahnya nampak antusias mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh sang komandan. 


"Sesuai instruksi dari bos besar Jhoni, maka saya teruskan kepada kalian sebagai orang lapangan. Di antara hutan lebat di sana, ada dua remaja yang sudah membuat beberapa kawan kalian mati secara mengenaskan. Bos besar Jhoni menginginkan kalian untuk menangkap kedua anak itu hidup - hidup !" 


Dengan penuh semangat, Bowo memberikan instruksi sambil memotivasi pasukannya. Karena sebagian besar anak buahnya adalah anak - anak muda yang minim pengalaman di alam liar. 


"Apakah kalian sanggup membawa kedua  anak itu hidup - hidup ?!"  Tanya Bowo lantang.


"Sanggup... !" 


"Apakah kalian takut ?!" 


"Tidak komandan !"


"Bagus... !" 


Bagai seekor anjing yang terlatih, puluhan anggota satuan pengamanan itu terpanggil untuk mengejar dan memburu sasarannya. Tak perduli apakah targetnya bersalah atau tidak. 


"Kalian harus menemukan kedua anak itu. Mengerti kalian ?!" Ucap Bowo lagi.


"Mengerti komandan !" Jawab pasukannya serentak. 


"Aku minta kalian berpencar ke setiap arah mata angin !"


"Siap komandan !"


"Setiap kelompok terdiri beberapa orang." 


"Siap komandan !"


"Cukup. Sekarang kalian bubar. Nanti, satu jam dari sekarang kalian cari kedua  orang itu. Jangan lupa, bawa juga  senapan kalian." Seru Bowo dengan lantang  kepada pasukannya. Seutas senyuman tercipta di wajah pria gemuk dengan rambut sebahu tersebut.

__ADS_1


"Saatnya kalian menyerah !" Seru pria ini membatin. Wajahnya memandang jauh ke rapatnya hutan belantara. Ia coba menerka - nerka posisi buruannya. Dua orang remaja yang sudah membuatnya kehilangan beberapa anak buah. Dan yang membuatnya semakin pusing, semua itu terjadi hanya dalam beberapa hari.


__ADS_2