
Mencari petunjuk
Keduanya berjalan perlahan menyusuri lorong selebar dua meter. Sulis berjalan di depan dengan mendorong troly besi yang penuh dengan piring berisi nasi dan lauknya. Sedangkan Ratna berjalan di belakang, dengan perlahan mengekor kawannya.
Setelah melewati beberapa ruangan yang tertutup rapat. Kini kedua wanita muda tersebut sampai pada sel yang pertama. Ruangan yang tidak terlalu lebar untuk ditempati puluhan orang. Sulis berhenti, dan mulai meletakkan piring - piring yang sudah disiapkan. Dari bagian bawah teralis besi, para remaja itu mengambil jatah mereka. Wanita itu tersenyum puas saat para remaja yang terkurung di dalam sel tersenyum dan mulai menyantap makanan mereka.
"Hei kamu...! Ini ambil jatahmu !" Seru Sulis saat menyaksikan seorang remaja duduk dengan memeluk lututnya di dada. Dagunya disandarkan di atas lutut sementara matanya mendelik tajam ke arah Sulis. Namun wanita muda itu hanya tersenyum.
"Kenapa anak itu ?" Tanya Ratna yang tampak bingung. Wajahnya memperhatikan sang bocah dan kawannya secara bergantian. Sejak kedatangan keduanya, bocah remaja itu hanya mematung. Tak dihiraukan kawan - kawannya yang berhamburan meraih menu yang disediakan dan dengan lahap menyantap jatah makan mereka.
"Mungkin dia sedang sakit" jawab Sulis menerka - nerka. Kembali ia arahkan pandangan kepada sang bocah. Sambil berjongkok ia raih piring yang masih utuh dan menunjukannya kepada si bocah. Perlahan remaja itu bergerak mendekat, namun tanpa ekspresi.
"Hati - hati sulis !" Seru Ratna mengingatkan kawannya yang kini tersenyum senang karena usahanya disambut sang bocah.
"Ayo kemarilah. Ambil makananmu agar kau tetap sehat" Sulis berusaha bersikap ramah. Namun sang bocah mengartikannya lain. Dengan nafas memburu dan sorot mata tajam penuh dendam. Remaja itu mendekat dan bersiap menerima piring dari Sulis. Namun diluar dugaan. Remaja tersebut menarik tangan wanita muda itu dengan sangat kencang hingga piring yang dipegangnya terjatuh. Namun bocah tersebut bergeming. Tak dihiraukan jerit kesakitan wanita di hadapannya. Wanita yang mungkin seumuran dengan kakaknya itu meringis menahan rasa sakit di tangannya.
"Aaaaauuuu... lepaskan...!!"
Sulis terus menjerit kesakitan karena remaja tersebut tak juga melepaskan cengkeramannya dari bawah teralis besi. Sorot matanya tajam menusuk. Seringai menyeramkan tercipta di wajah mungilnya.
"Hei, apa yang kau lakukan ?!" Hardik Ratna. Diraihnya tangan kawannya, dengan maksud membantu agar terlepas dari tarikan tangan si bocah. Sementara itu, Sulis semakin panik. Keringat dingin mengucur deras dan wajahnyan pucat pasi menahan rasa takut.
BRAAKKK...
Sebuah gedoran di teralis besi yang cukup keras membuat yang ada di tempat tersebut kaget . Spontan sang bocah melepaskan tarikan tangannya dari tangan Sulis yang mulai menangis ketakutan. Sang bocah beringsut mundur saat menyaksikan sosok yang baru saja datang dan menggebrak teralis besi dengan kasar.
"Tarik anak itu keluar !" Perintah Jhoni dengan raut muka yang sangat marah.
"Siap bos... !" Jawab kedua anak buahnya yang datang bersamanya. Sementara itu, Sulis ditenangkan oleh Ratna. Sesaat kemudian sang bocah meronta - ronta saat ditarik paksa oleh dua orang berbadan besar. Penghuni sel yang lain hanya sanggup tertunduk ketakutan. Sebagian dari mereka bahkan menutup wajahnya. Tak ingin menyaksikan kawannya diperlakukan sedemikian rupa.
__ADS_1
"Apa yang sudah kau lakukan, hah...?!" Tanya Jhoni dengan kemarahan yang tidak bisa ditutup - tutupi lagi. Sang bocah hanya terdiam, namun sorot matanya menyiratkan perlawanan. Tubuh kurusnya diapit oleh dua pengawal yang siap melakukan apa saja.
"Tanganmu terluka, Sulis ?" Tanya Jhoni saat matanya mendapati Wanita itu meringis kesakitan akibat cengkeraman sang bocah.
"Tidak apa - apa, bos. Hanya sedikit lecet dan terkilir" jawab sulis datar. Wajahnya terihat Shok setelah mengalami kejadian yang menakutkan tadi. Di sebelahnya, Ratna memijit - mijit pelan pergelangan tangan kawannya.
"Aku sudah katakan, jangan terlalu dekat dengan mereka" ucap Jhoni lagi dengan ekspresi wajah yang sangat mengkhawatirkan Sulis yang hanya bisa menunduk.
"Bawa dia ke ruang esksekusi !" Seru Jhoni lantang. Jari telunjuknya mengarah pada bocah yang terus meronta dan meracau tak karuan. Kedua bola matanya melotot seakan ingin keluar.
Direspon oleh kedua anak buahnya dengan sigap. Keduanya mengapit sang bocah yang tak berdaya sambil berjalan menuju ruang eksekusi. Beberapa meter di depan, Jhoni sudah berjalan menjauh.
"Ayo kita kembali ke dapur Sulis."
Ajak Ratna. Keduanya bersiap kembali ke dapur, setelah sebelumnya mengumpulkan piring yang berserakan. Saat kedua wanita itu berjalan kembali ke dapur. Terdengar suara rintihan menyayat hati dari ruang eksekusi. Para remaja yang berada di dalam sel menutup telinganya karena tak sanggup mendengar suara terakhir dari kawannya.
Tak bisa dibayangkan apa yang ada dalam fikiran mereka. Saat remaja belasan tahun menghitung mundur usia mereka. Tak ada yang bisa memastikan sampai kapan mereka masih bisa bernafas.
#####
Malam itu Topan dan Arif kembali merencanakan sesuatu. Di bawah sinar rembulan yang redup, keduanya duduk - duduk santai di depan gua yang dijadikan hunian oleh mereka.
"Bagaimana kalau malam ini kita selidiki bangunan itu, Rif ?" Tanya Topan membuka pembicaraan. Tangannya membolak balikan buah jambu mete yang sudah matang. Tak lama kemudian terciptalah cetakan bekas gigitan pada separuh buah yang tersisa.
"Baiklah. Aku juga penasaran dengan aroma busuk dan bau anyir saat kita kabur dari mobil box itu" jawab Arif pelan. Di hadapannya teronggok beberapa buah jambu mete yang mereka dapatkan tadi siang.
"Betul Rif. Aku yakin penculikan kita ada hubungannya dengan bangunan itu."
"Aku rasa juga begitu, Pan."
__ADS_1
"Sebaiknya kita bawa senter ini. Aku temukan di sekitar ladang ganja kemarin" ucap Topan. Kini ditangannya terselip lampu senter kecil yang bisa dimasukan ke dalam kantong celana. Arif hanya mengangguk.
"Kau juga bawa pisau belati , Rif. Buat jaga - jaga" ucap Topan lagi. Di hadapan mereka kini berserakan beberapa barang yang kira - kira mereka butuhkan. Dua buah belati yang diambil dari anak buah Bowo sewaktu di pinggir sungai. Kemudian lampu senter yang tercecer di sekitar ladang ganja. Dan yang tak pernah ketinggalan adalah dua buah sumpit dari batang bambu beserta puluhan duri tajam sepanjang dua puluh senti. Yang terakhir adalah ramuan racun mematikan dari campuran dedaunan dan getah pohon yang mengandung racun.
Setelah dirasa sudah cukup malam, kedua remaja itu berjalan menyusuri lebatnya hutan belantara. Ditemani kicau burung yang terdengar bersahut - sahutan. Tak mereka hiraukan hawa dingin yang menyergap kulit. Bagaimana tidak, satu - satunya pakaian yang mereka kenakan adalah pakaian yang sama saat mereka diculik. Selembar kaos oblong dan celana panjang lusuh, itulah penutup tubuh mereka.
"Kamu gak kedinginan, Pan ?" Tanya Arif sambil menyedekapkan kedua tangannya di dada. Sesekali kedua telapak tangannya digosok- gosokkan antara satu dengan yang lainnya.
"Ya dingin, Rif" jawab Topan. Kedua tangannya mengikuti apa yang dilakukan oleh Arif. Dari ketinggian, tempat mereka kini berjalan. Tampak bagian atas bangunan besar yang tersamar oleh gelapnya malam. Sesekali puluhan burung gagak terbang berputar - putar mengitarinya.
"Sebentar lagi sampai, Rif" ucap Topan memecah keheningan. Dipandangi bangunan yang mereka tuju dari jarak sekitar lima ratus meter.
"Istirahat dulu, Pan."
"Oke !"
Keduanya berhenti sejenak di antara lebatnya pepohonan yang tinggi menjulang. Angin yang bertiup kencang menciptakan harmoni irama alam yang menyeramkan. Saat batang - batang pohon saling beradu menimbulkan suara gesekan.
"Bagaimana kita melewati penjaga di menara itu?" Tanya Arif saat kedua netranya menangkap pergerakan lampu tembak dari atas sebuah menara.
"Yang penting jangan sampai tersorot oleh lampu tembak itu, Rif" jawab Topan spontan. Wajahnya memandang sekilas kawannya yang tampak cemas.
"Iya Pan."
"Apa kau takut ?"
"Tidak. Hanya kita perlu mengatasi semua rintagan."
"Kamu benar, Rif" ucap Topan sambil tersenyum. Dia senang mendapati kawannya sudah mampu menguasai rasa takutnya. Tak lama kemudian, merekapun melanjutkan perjalanan. Menyelinap dari satu batang pohon ke batang pohon lainnya. Menerabas rumput alang - alang setinggi tubuh mereka. Tak jarang tanaman berduri berhasil mengoyak kulit tipis keduanya.
__ADS_1
Namun semuanya tak dirasakan oleh mereka. Yang ada di benak keduanya adalah mencari jawaban dari teka teki yang masih menghantui mereka.