Pulau Eksekusi

Pulau Eksekusi
Ratih


__ADS_3

Ratih


Hari yang ditunggu - tunggupun tiba.  Sejak semalam Sulis dan Ratna sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Tak banyak yang bisa mereka bawa. Beberapa stel pakaian dan kosmetik sudah cukup untuk  memenuhi tas ransel keduanya.


Setelah menyeberangi lautan, kini kendaraan yang mereka tumpangi sudah naik ke daratan ibu kota. Di kursi depan Jarot tengah asyik dengan rokoknya. Sementara itu, Kubil fokus memandang ke depan dari belakang kemudi. Sesekali matanya dialihkan ke cermin yang memantulkan keadaan di kursi belakang.  


"Kita antar sampai rumah, Sulis ?!" Seru Kubil tanpa menoleh. Wajahnya tetap fokus ke depan. 


"Tidak usah, mas. Biar saya sama Ratna turun di luar terminal saja !" Jawab Sulis cepat. Dia tak enak hati jika harus merepotkan kedua orang di depannya. Sementara Ratna hanya terdiam menyimak percakapan keduanya. Sesekali ia edarkan pandangan ke luar jendela.


"Nanti kami kena semprot bos Jhoni, jika membiarkan kalian turun di terminal" kini Jarot ikut bicara. Asap rokoknya terus saja berputar putar kemudian tertiup angin dan hilang di udara.


"Biar saja kalian disemprot sama bos Jhoni. Kan sudah kebal !" Jawab Sulis dengan senyum puas. Spontan Ratna yang tadi hanya terdiam, kini tertawa terbahak - bahak. 


"Betul apa katamu, Sulis" ucap Ratna menimpali. Keduanya kembali tertawa saat menyaksikan raut wajah kedua pria di depan mereka. Jarot dan Kubil hanya cemberut dan tersenyum kecut. 


"Neng Sulis bisa aja" seru Jarot datar. Senyum tipis tercipta di bibirnya. Di dalam hatinya membenarkan apa yang di ucapkan wanita muda itu.


"Baiklah kalau begitu. Sebentar lagi kita sampai di terminal" ucap Kubil memberi tau.  Tak lama kemudian kendaraan yang mereka tumpangi berhenti. 


"Hati - hati Sulis, Ratna !" Seru pria di belakang kemudi. 


"Iya mas. Terima kasih banyak sudah bersedia mengantarkan kami" jawab Sulis. Kemudian keduanya turun. 


"Jangan sungkan - sungkan. Ya sudah, kalian hati - hati di jalan" Ucap Jarot. Tak lama berselang kedua pria itu semakin jauh meninggalkan Sulis dan Ratna di luar terminal.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya sebuah kendaraan minibus berhenti di hadapan  mereka, dan mengantarkan keduanya sampai tujuan. Sebenarnya Sulis bisa saja membiarkan Kubil mengantarkan sampai rumah orang tuanya. Namun ia tak ingin merepotkan. Sebagai gantinya ia memesan taksi online.


#####


Di sebuah rumah sederhana di kawasan selatan kota Jakarta. Seorang wanita paruh baya sedang sibuk di dapur. Dengan cekatan ia mengolah bahan - bahan yang dibelinya tadi pagi. Hingga menjelang siang aktifitasnya terhenti. Hasilnya, ayam goreng dan ikan mujaer dengan sambal yang menggoda selera. Sayur lodeh kesukaan anak semata wayangnya juga tersedia di meja makan. 


Wanita paruh baya  itu beranjak ke ruang tamu, setelah memastikan semuanya sempurna. Ia rebahkan tubuhnya di kursi empuk menghadap ke televisi yang sudah menyala. Walaupun usianya sudah setengah abad, namun aura kecantikan masih jelas terlihat di wajahnya.


Toktoktok...

__ADS_1


"Assalamualaikum... !" Ucapan salam dari depan pintu rumah mengalihkan perhatian wanita ini. Bergegas ia menghampiri arah datangnya suara. Suara yang tak asing, bahkan sangat dikenalnya.


"Waalaikumsalam !" 


Dengan tergopoh - gopoh, dan tak ingin menyia - nyiakan  waktu. Segera dibukanya pintu rumah. Seketika wajahnya tersenyum bahagia, saat mendapati Putrinya berdiri dengan senyum mengembang. Segera dipeluknya sang anak untuk melepaskan kerinduan yang menyiksanya selama ini.


"Anakku Sulis, Bagaimana kabarmu, nak ?" Ucapnya lirih. Untuk beberapa saat, kehadiran Ratna terabaikan olehnya. Gadis itu terharu menyaksikan pemandangan di hadapannya. 


"Sulis baik, bu. Bos Jhoni memperlakukan Sulis dengan baik, bahkan sangat baik" jawabnya dengan kedua tangan yang masih memeluk erat sang ibu.


"Syukurlah kalau begitu. Ibu sangat merindukanmu, nak !" 


"Ibu tidak perlu khawatir, Sulis baik - baik saja di sana. Ooo... iya, kenalkan ini teman Sulis. Namaya Ratna."


Ratna menyalami ibunda Sulis yang bernama ibu Ratih dengan penuh hormat. Disambut dengan senyum tulus seorang ibu.


"Kenalkan, saya Ratna. Saya teman kerjanya Sulis, bu."


"Saya ibunya Sulis. Panggil saja nama saya bu Ratih. Ya sudah, mari masuk" ajak wanita itu dengan senyum bahagia. 


"Baik bu."


"Ibu sehat, nak. Memang kadang tekanan darah ibu, sangat mengganggu" 


"Jaga pola makan, bu. Jangan makan sembarangan" ucap Sulis sambil meletakan tas ranselnya di sofa berwarna coklat muda. Begitupun yang dilakukan oleh Ratna. 


"Kalian pasti lapar. Kebetulan ibu baru selesai masak" ucap Bu Ratih. Ditariknya tangan Ratna agar mengikutinya ke arah meja makan. Sementara itu Sulis hanya senyum - senyum menyaksikan ekspresi kawannya yang kebingungan.


"Ibu masak apa ?" Tanya Sulis penuh selidik. Tatapannya berhenti saat mendapati beberapa potong ayam goreng seperti menantangnya. Sayur lodeh yang masih panas semakin membuat nafsu makannya meronta - ronta.


"Kamu pasti hapal masakan ibu. Ini juga menu kesukaan kamu, kan ?" Jawab  Ibu Ratih. Diletakan sebuah piring di hadapan Ratna yang sudah duduk di bangku yang  menghadap meja makan. 


"Ayo Ratna,  ambl sendiri. Jangan malu - malu !" Seru ibu Ratih saat melihat Ratna masih terpaku. Sementara itu, Sulis menuangkan air dingin  ke dalam gelas yang sudah tersedia.


Setelah ketiganya selesai dengan acara makan - makan, kini mereka pindah ke ruang depan. Duduk di sofa sambil memandangi televisi adalah acara selanjutnya. Ketiganya terlibat obrolan ringan, terkadang diselingi tawa canda ketiganya.

__ADS_1


"Ini ada titipan dari bos Jhoni, bu" ucap Sulis saat menyerahkan amplop berwarna coklat. Saat ini mereka hanya berdua, karena Ratna sudah tertidur di kamar.


"Apa ini, Sulis ?"  Jawab sang ibu penuh selidik. Diraihnya apa yang ada di tangan sang anak. Saat dibuka, terlihat jelas beberapa ikat uang kertas dengan nominal besar.


"Kata bos Jhoni. Ini sebagai tanda terima kasih, karena ibu sudah mengijinkan Sulis bekerja di sana" ucap Sulis panjang lebar. Ibu Ratih hanya termenung mendengar ucapan sang anak. Tanganya masih menggenggam amplop coklat itu. Seketika Ingatannya menerawang jauh ke masa silam.


Seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan tahun berkacak pinggang. Dengan pakaian modis dan perhiasan yang berderet di setiap bagian tubuhnya. Jari telunjuknya terangkat berulang kali di hadapan seorang wanita yang usianya lebih muda beberapa tahun darinya.


"Dasar wanita murahan. Sudah aku kasih pekerjaan di rumah ini. Kamu malah enak - enakan dengan suamiku !" 


Amarah yang begitu besar terpancar dari kata - katanya yang menyakitkan. Perut yang besar karena sedang mengandung, tidak mampu melunakkan hati wanita yang bernama Susan itu. Ia terus saja  memaki bahkan menampar wanita di hadapannya, yang tak lain adalah Ratih.


"Sudah Susan, ini semua bukan salahnya. Aku yang salah !" Sergah seorang pria yang berdiri tak jauh dari keduanya. Jhoni namanya.


"Kamu selalu saja membelanya. Sekarang  dia sudah mengandung anakmu. Cepat bawa dia pergi dari sini. Atau aku seret dan lemparkan dia ke jalanan !" 


Kemarahan wanita itu semakin besar dan membuat Suaminya yang bernama Jhoni terpancing emosinya. Keduanya saling menyalahkan. Sementara Ratih tak bergeming dari posisinya. Wajahnya terus tertunduk lesu, kedua tangannya menyangga perutnya yang besar.


"Kamu kelewatan Susan. Ini juga terjadi karena salahmu. Sudah berapa tahun kita berumahtangga, tapi belum juga mendapatkan anak !" Hardik Jhoni dengan wajah garangnya. 


"Cuiihh... kamu menyalahkan aku. Salahku di mana? Kamu yang berbuat, aku yang disalahkan. Kamu sudah gila, Jhoni !"


PLAAKKK....


Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi halus Susan. Jhoni kalap, tangannya masih terangkat dan matanya merah menandakan amarahnya sudah sampai ke ubun - ubun.


"Kamu tanya salahmu di mana  hahh... ?! Kamu tidak sadar kebiasaanmu dugem dan mabuk - mabukan membuat kesehatanmu terganggu. Setiap hari pulang malam dalam keadaan mabuk. Itu semua membuat kamu tidak bisa hamil. Saat ini juga kamu aku ceraikan, silahkan tinggalkan rumahku !"


"Hahaha.... Jhoni... Jhoni... kamu itu terlalu polos. Rumah ini sudah kualihkan atas namaku !" Seru Susan berapi - api. Jhoni yang mendengar hal tersebut bagai disambar petir. Secepat kilat dicekiknya leher sang mantan istri. Namun bukannya takut dan kesakitan, Susan justru semakin tertawa lebar. Tawa kemenangan.


"Aaaahhh....! Dasar wanita ****** !" Maki Jhoni sejadi jadinya. Dilepaskan cekikan di leher Susan yang terus saja tertawa mengejek. Dengan amarah yang masih tersisa, bergegas ia hampiri Ratih. Tanpa basa basi lagi, bergegas ia membawanya pergi dari rumah yang sudah tak dimilikinya.


"Kita tinggalkan tempat ini !" Seru Jhoni sambil menuntun Ratih berjalan keluar. Dari dalam ruang tengah rumah tersebut, tatapan nyalang mata Susan tak lepas dari keduanya.


Sejak saat itu, Ratih tinggal di sebuah apartemen yang cukup mewah. Namun karena kepribadiannya yang sederhana, membuatnya tidak nyaman tinggal di apartemen yang mahal. Hingga akhirnya Jhoni membelikanya sebuah rumah sederhana. Rumah yang menjadi saksi sisi lain dari sosok Jhoni. 

__ADS_1


Namun hari - hari yang dilalui Ratih tetap sepi, karena Jhoni sangat jarang pulang. Bahkan tidak pulang sama sekali, hingga hadirlah cahaya dalam kehidupannya. Cahaya yang mampu memberikannya semangat untuk terus bertahan melanjutkan kehidupan.


Tak hadirnya sosok seorang suami tak membuat Ratih patah semangat. Setiap tawa dari bayi mungilnya ternyata mampu membuatnya bertahan. Bahkan hingga sang anak menjadi gadis cantik yang mengingatkannya pada masa - masa muda.


__ADS_2