
Murka
"Brengsek... !"
Makian keras yang keluar dari mulut Bowo mengagetkan puluhan anak buahnya. Seluruh mata melirik penasaran ke arah komandan mereka. Sebelum saling pandang di antara sesamanya.
Braaaakkk....
Belum lagi mereka melanjutkan sebuah diskusi. Komandan Bowo kembali membuat ulah. Telapak tangannya yang lebar menggebrak meja hingga terangkat dan menimbulkan suara yang mengganggu.
Gelas berisi kopi yang tinggal separuh tumpah. Seketika meja di hadapannya basah oleh cairan berwarna hitam. Pria ini bangkit dengan raut wajah memendam kekesalan.
"Komandan kenapa ?"
"Habis dimarahi bos Jhoni"
"Ssttt... dia ke sini"
Terdengar bisik - bisik dari beberapa anggota pasukan yang sedang duduk melingkar. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok ditugaskan untuk mencari cara bagaimana menangkap kedua buronan mereka.
"Bagaimana hasil diskusi kalian ?!" Tanya Bowo dengan sorot mata menakutkan. Kini dia berdiri menghadap beberapa anak buahnya yang sedang duduk melingkar. Emosinya kembali memuncak saat tak ada satupun yang menjawab pertanyaannya.
"Hey... kamu. Berdiri !" Seru Bowo sambil menunjuk seorang anak buahnya.
"Siap komandan !"
"Apa hasil diskusi kalian ?" Tanya Bowo tanpa basa basi. Tatapannya semakin meneror pria muda yang berdiri gugup di hadapannya. Begitu pula dengan mereka yang sedang duduk melingkar. Semuanya gugup dan ketakutan menyaksikan sang komandan marah.
"Kami belum menemukan solusinya, komandan !"
Buuughh...
Saat jawabannya terhenti, sebuah pukulan tepat menghantam perut pemuda tersebut. Dia meringis kesakitan. Bowo berjalan acuh. Perlahan ia mengitari tempat itu. Kedua matanya awas menelisik setiap gerak - gerik anak buahnya yang membisu.
Tak ada lagi yang membahas tentang topik diskusi. Semuanya memilih diam. Mereka paham, apapun yang mereka ucapkan akan tetap salah di mata atasan yang sedang kalap.
Akibat gagal menangkap kedua remaja yang melarikan diri. Bowo harus menerima konsekwensinya. Hampir satu jam ia didamprat habis - habisan oleh Jhoni. Berbagai macam makian ditelan mentah - mentah olehnya.
Belum hilang rasa kesalnya akibat ocehan bos Jhoni. Kembali ia harus menerima kenyataan pahit. Telinganya dipaksa mendengarkan ocehan Jarot yang tajam bagaikan silet. Ucapan Jarot sangat membekas di hatinya.
"Awas kau Jarot !" Serunya dalam hati. Ucapan pria botak itu terus saja menghantuinya.
"Sekarang kalian bubar !" Bowo memberi aba - aba. Sontak saja wajah - wajah tegang hilang seketika. Berubah menjadi wajah - wajah bahagia. Mereka pantas berbahagia karena teror dari sang komandan sudah selesai. Dan kini saatnya bersantai.
#####
__ADS_1
Siang itu Topan dan Arif mendapatkan banyak ikan. Setelah cukup lama berburu menggunakan sumpit. Kini keduanya bersiap untuk membuat perapian. Sementara itu, Arif dengan telaten membersihkan ikan dan membuang kotorannya. Keduanya berada di pinggir sungai yang tak jauh dari air terjun.
"Api sudah siap, Rif !" Seru Topan. Tangannya sibuk mengumpulkan daun - daun kering. Satu demi satu daun tersebut diletakan di atas api yang menyala. Sesekali ditambah dengan batang kayu yang besar.
"Ikannya juga sudah siap, Pan !" Jawab Arif. Dia mendekat dengan membawa empat batang kayu. Di setiap batang kayu yang sama panjang, sudah menancap berbagai macam ikan. Tiap batang kayu berisi antara lima hingga delapan ekor ikan.
"Sudah gak sabar, Pan"
"Sama, Rif."
Keduanya tersenyum puas menyaksikan sate ikan buatan mereka. Tak lama kemudian, keduanya berbincang santai setelah melahap habis ikan panggang yang ada. Keduanya duduk bersandarkan batang pohon mahoni. Kaki keduanya diselonjorkan menghadap aliran sungai.
"Apakah kita aman, di sini Pan ?" Tanya Arif sedikit cemas. Suaranya sedikit keras, karena air terjun tidak terlalu jauh dari posisi mereka. Keduanya sengaja bertahan di sekitar air terjun.
Selain karena kelelahan, Topan dan Arif ingin menikmati indahnya air yang meluncur dari ketinggian. Jika beruntung, keduanya akan menyaksikan warna warni pelangi saat sinar matahari beradu dengan butiran - butiran kecil yang mengandung partikel air.
"Aku tidak yakin, Rif."
"Kenapa, Pan ?"
"Aku rasa, mereka akan terus memburu kita."
"Apa kita menyerah saja, Pan."
"Kamu sudah lupa dengan tumpukkan mayat yang mengerikan itu,Rif ?"
Tak lama kemudian keduanya terdiam dengan lamunan masing - masing. Keduanya berfikir keras bagaimana caranya pergi dari pulau yang mengerikan itu. Suara deru air terjun diselingi merdunya kicau burung yang bersahut - sahutan sedikit menghibur mereka.
#####
Pagi itu Sulis sudah bersiap dengan tas gendongnya. Begitupun dengan Ratna. Keduanya bersiap untuk kembali menuju tempat kerja mereka. Setelah kejadian yang melukai Bu Ratih, Sulis meminta ijin kepada bos Jhoni.
Beruntung, mereka diberi ijin beberapa hari tambahan. Keduanya beralasan menemani Bu Ratih hingga lukanya benar - benar sembuh. Hari ini adalah hari terakhir mereka bersama Sang Ibu.
"Ada apa, nak. Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu ?" Tanya Bu Ratih dengan lembut. Sebagai seorang ibu, tentu ia paham perubahan sikap putrinya. Sejak beberapa jam yang lalu perhatiannya tak lepas dari gerak - gerik Sulis.
"Aku ingin berpamitan dengan Bang Iwan, bu.. " jawab Sulis malu - malu. Hp yang ada di tangannya tak juga digunakan. Sang Ibu tersenyum sebelum menjawab.
"Ya sudah, telpon saja. Siapa tau dia juga sedang menunggu kabar dari kamu."
"Iya, Sulis. Aku rasa juga begitu."
Ratna ikut memberikan saran. Sebagai seorang sahabat dan sama - sama wanita, tentu dia bisa membaca pikiran Sulis. Setelah mendapat dukungan dari kedua orang dekatnya. Kini dia sudah terlibat obrolan dengan Iwan. Keduanya sempat bertukar nomer saat Iwan akan meninggalkan rumah sakit.
"Assalamualaikum.."
__ADS_1
"Waalaikumsalam.. siapa ya..?" Jawab Iwan sedikit berpikir. Ia lupa menyimpan nomer Sulis menggunakan nama. Dalam benaknya, ia menerka siapakah pemilik suara wanita yang ia dengar.
"Aku Sulis, bang."
"Ada apa Sulis. Maaf aku kira nomer penagih utang. Hehehe"
"Bisa aja bang Iwan. Memangnya wajahku seperti penagih utang ?!"
"Maaf Sulis. Abang bercanda."
"Begini bang. Beberapa jam lagi Sulis sama Ratna berangkat ke tempat kerja."
"Tempat kerja yang kamu ceritakan tempo hari. Pabrik pengolahan ikan ?"
"Iya bang"
"Ya sudah biar aku antar. Kebetulan kawanku punya kapal motor."
"Boleh bang"
Begitu senangnya sang gadis. Tanpa pikir panjang, langsung ia setuju dengan tawaran dari Iwan. Kemudian pemuda tersebut bersiap menjemput mereka untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju pulau yang Sulis katakan sebagai tempat pabrik pengolahan ikan.
Wanita muda ini terpaksa berbohong demi menyenangkan Jhoni. Sebelum berangkat, keduanya diberikan wejangan agar menyembunyikan aktifitas di pulau itu.
Mereka tidak diperbolehkan mengatakan yang sebenarnya kepada siapapun. Jika itu dilanggar, maka keduanya harus siap menerima resikonya. Sel khusus untuk mereka sudah disiapkan. Dan perlakuan yang sama seperti penghuni sel yang lain harus mereka hadapi.
"Bagaimana... ?"
Seru Bu Ratih dan Ratna kompak. Keduanya menatap wajah Sulis yang senyum - senyum sendiri.
"Dia akan kemari menjemput kita." Jawab Sulis dengan ekspresi bahagia. Sementara kedua wanita di hadapannya saling pandang keheranan.
"Lalu... ?" Kembali keduanya kompak bersuara.
"Lalu dia akan mengantarkan kita sampai pulau tempat kita bekerja."
"Kamu gak bercanda.. ?" Cecar Ratna.
"Aku serius"
"Tapi nak...." Bu Ratih tampak khawatir dengan keputusan anaknya. Namun di lain sisi, ia tidak ingin menghancurkan suasana hati anak gadisnya yang sedang berbunga bunga.
"Ibu tidak usah khawatir. Aku percaya pada Bang Iwan, bu."
"Ya sudah, kalau itu keputusanmu. Semoga perjalanan kalian lancar."
__ADS_1
Wanita paruh baya ini mengelus pundak anaknya. Seiring do'a yang terucap. Tak lama kemudian, yang dituggu - tunggu datang. Setelah memohon ijin pada Bu Ratih, kini Iwan bersiap mengantarkan Sulis dan Ratna.