
Sniper
Ledakan dahsyat yang disusul goncangan hebat di dalam bangunan itu membuat kepanikan yang luar biasa. Tak lama kemudian puluhan tamu berhamburan mencari tempat aman. Mereka berdesakkan menuju lift agar secepatnya meninggalkan gedung yang sudah berusia puluhan tahun tersebut.
Asap hitam pekat yang berasal dari tangga darurat membuat mereka memutuskan menggunakan lift. Bau anyir darah dari korban ledakan juga membuat para tamu hotel enggan untuk menggunakan tangga darurat.
"Kita ikuti orang - orang itu" ucap Jarot sambil berlari kecil. Dia berusaha berbaur dengan puluhan tamu hotel yang panik. Pria, wanita, anak - anak ataupun dewasa, semuanya meninggalkan kamar dengan kecemasan. Suara - suara histeris dan tangisan terdengar dari para wanita dan anak - anak.
Ada juga yang kebingungan dengan suasana kacau balau di depan mata. Mereka adalah tamu - tamu hotel yang baru terbangun dari tidur. Setelah menyadari keadaan yang berbahaya, barulah mereka ikut panik.
Pria tinggi besar yang berjalan cepat di sampingnya hanya mengangguk. Lantas keduanya berjalan di antara para tamu hotel yang berebut masuk lift. Beberapa orang sempat ketakutan dan menjauh saat melihat senapan laras panjang yang berada di tangan keduanya. Jarot paham, pria botak ini segera meletakan jari telunjuk di depan hidungnya. Dan sedikit tatapan melotot, sudah membuat keadaan kembali tenang.
"Mereka datang !" Seru Jarot panik. Kedua bola matanya membulat menyaksikan puluhan pasukan bergerak cepat dengan beringas. Terlihat jelas kemarahan terpancar dari sorot mata mereka. Dipimpin sang komandan, mereka menyusuri koridor lantai tiga. Lantas menuju kerumunan tamu hotel yang menunggu di depan lift.
"Kita habisi mereka semua !" Jawab Kubil dengan yakin. Pria ini terlihat lebih tenang, walau degup jantungnya semakin kencang. Kedua anak buah Jhoni ini sudah benar - benar siap. Terbukti mereka tidak menyerah sedikitpun. Bahkan bertekad bertempur sampai lolos atau mati sekalian.
Keberadaan mereka yang berbaur memberikan keuntungan. Namun tiba - tiba saja kerumuanan itu membubarkan diri saat pasukan keamanan semakin mendekat.
"Minggir.... Berikan kami jalan... !" Seru sang komandan. Tangannya menunjuk nunjuk tamu hotel yang ketakutan dan memberi kode agar mereka menyingkir. Jarot semakin panik karena puluhan pasukan yang semakin dekat dan warga yang bergerak menjauh. Cepat atau lambat keberadaan keduanya pasti dapat dikenali.
Ditengah situasi sulit tersebut, Jarot dan Kubil tak ada pilihan selain mendahului menyerang. Keduanya saling berpandangan sebelum memulai aksinya.
Doorr... Doorrr.... doorr...
Jarot melepaskan tembakan ke atas. Tujuannya agar kerumunan tamu hotel yang panik segera menyingkir. Kubil merespon dengan berondongan tembakan ke arah puluhan pasukan yang sedang merangsek maju. Hal tersebut membuat pasukan keamanan yang hanya berjarak sekitar dua puluh meter menjadi kocar kacir. Korban berjatuhan di pihak mereka.
"Mampus kalian semua...!" Seru Kubil membentak sangar. Senapan laras panjang hasil rampasan terus memuntahkan timah panas.
"Mari kita kirim mereka ke neraka !" Jawab Jarot tak kalah kalap. Keduanya dengan santai melangkah maju sambil terus menembaki puluhan pasukan keamanan yang panik karena tak siap dengan serangan mendadak.
Lorong koridor lantai tiga sebuah hotel kelas melati menjadi saksi betapa sangat berbahayanya orang yang sedang terdesak. Itu yang terjadi dengan Jarot dan Kubil. Mereka sadar, malaikat maut sedang mengintainya. Setiap saat selembar nyawanya bisa melayang dan hanya menyisakan seonggok bangkai yang tak berguna.
Namun, hal itu pula yang membuat mereka menjadi nekat. Dalam situasi seperti ini, apapun bisa mereka lakukan. Seperti yang terjadi sekarang. Mereka takut akan maut tapi justru balik menantang kematian.
"Aahhh.... !!"
"Aauuhhh...!"
Jerit kesakitan silih berganti keluar dari pasukan keamanan yang terlambat menghindar. Dua orang ambruk setelah timah panas menembus dada bagian atas. Sementara beberapa orang harus berjalan terseok karena bagian kakinya mengalami hal yg sama.
Sebagian yang lain secepat kilat tiarap di lantai dan bersiap memberikan tembakan balasan. Sang komandan yang sempat panik, berhasil selamat dengan merapatkan badannya ke tembok. Beberapa anak buahnya melakukan hal yang sama.
"Kurang ajar, kenapa mereka tiba - tiba muncul di hadapan kita ?!" Hardik sang komandan dengan sorot mata menyala. Terpancar jelas kemarahannya. Tak terbayangkan sebelumnya pasukannya yang bersenjata lengkap dibuat kocar kacir dipecundangi dua penjahat jalanan.
"Mereka berbaur dengan tamu hotel, komandan" jawab salah seorang pasukan yang ikut merapat ke tembok.
"Betul komandan. Mereka sangat berbahaya." Timpal pasukan yang sedang tiarap.
"Habisi mereka... !" Seru sang komandan. Pistol ditangannya diacungkan ke atas, memberi aba - aba untuk membalas tembakan yang datang.
"Siap laksanakan, komandan !" Jawab anggota pasukan serempak. Belasan senapan menyalak, memuntahkan puluhan timah panas yang melesat tanpa ampun. Tembak menembakpun tak dapat dihindarkan.
__ADS_1
Dari jumlah orang, tentu Jarot dan Kubil kalah banyak. Ditambah lagi senapan laras panjang hasil rampasan yang hanya menyisakan beberapa butir peluru. Jarot Panik, begitu pula dengan Kubil.
"Bagaimana ini... !" Seru Kubil histeris. Beberapa ***** berterbangan hanya beberapa senti dari wajahnya.
"Kau masih menyimpan granat ?" Jawab Jarot dengan pertanyaan. Keduanya menempelkan punggung mereka pada dinding koridor agar selamat dari berondongan peluru.
"Masih ada satu." Ucap Kubil sambil melepaskan tembakan balasan ke arah lawan.
"Bagus. Bersiaplah dan lemparkan saat semuanya menjadi gelap."
"Ok... !"
Sementara itu, sang komandan dan pasukannya perlahan maju. Dia pikir kedua buruannya pasti akan menyerah, karena anak buahnya terus memberondongnya dengan tembakan. Hanya sesekali saja mendapat balasan dari kedua penculik tersebut.
"Sebaiknya kalian menyerah...!" Seru sang komandan dengan lantang. Di antara ajang tembak menembak, ia coba membuka dialog dengan buruannya. Walaupun jarak antara kedua kubu cukup jauh, namun Jarot dan Kubil dapat mendengar dengan jelas.
"Percuma saja kalian bertahan mati - matian. Kalian akan tetap kalah !" Serunya lagi dengan suara yang tak kalah nyaring. Namun sia - sia, karena Jarot dan Kubil tak menggubrisnya.
"Baik..., Jika itu yang kalian inginkan. Bersiaplah menjemput ajal !" Hardik sang komandan lagi. Kali ini nada suaranya terdengar putus asa. Kini ia lebih bersemangat melepaskan tembakan ke arah buruannya. Namun sesuatu yang di luar dugaan terjadi.
Buummm....
Seerrttt... Serrtt...
Lampu neon yang cukup besar di langit - langit, tiba - tiba meledak. Seketika lorong koridor yang tadinya terang, mendadak menjadi gelap gulita. Hanya suara aliran listrik dan beberapa kilatan cahaya yang tersisa.
"Sekarang... !" Seru Jarot memberi perintah pada kawannya. Kubil hanya mengagguk pelan. Seketika granat nanas yang ada di tanganya melayang dan jatuh tepat di antara pasukan keamanan yang terus saja melepaskan tembakan.
Guncangan hebat kembali terjadi akibat ledakan yang cukup keras. Suara tembakan yang semula sangat bising, kini berganti dengan rintihan menyayat hati. Kondisi koridor hotel yang gelap berubah menyeramkan.
Puluhan potongan tubuh berterbangan ke segala arah. Percikan darah memenuhi koridor dan dinding hotel. Seketika aroma anyir darah menguar ke segala arah. Hanya beberapa pasukan saja yang selamat, di antaranya komandan lapangan dan dua orang anak buahnya.
Dooorr... Doorrr....
"Kejar mereka...!"
"Siap komandan !"
Perintah sang komandan setelah melepaskan tembakan. Instingnya sangat kuat, hingga ia dapat menduga apa yang akan terjadi. Sebelum granat yang dilemparkan Kubil jatuh dan meledak, dia sudah lebih dulu melompat. Dia juga menyadari saat Jarot dan Kubil masuk ke dalam lift untuk melarikan diri.
"Aduuuhhh... Kakiku tertembak". Rintih Kubil saat lift membawa keduanya turun di lantai satu. Betis kaki kanannya ditembus timah panas. Darah mengucur deras membuatnya sulit untuk berjalan.
"Kau harus kuat, sebentar lagi kita sampai" ucap Jarot sambil membantu kawannya keluar dari lift. Namun keduanya dikagetkan oleh suara yang sangat keras.
"Berhenti... !"
Ditodong oleh tiga orang dengan senapan laras panjang dan pistol tak membuat Kubil dan Jarot menyerah.
"Saatnya kita selesaikan ini !" Ucap Jarot sambil membalikkan badan. Tangan kanannya menggenggam pistol. Sementara tangan kirinya menahan tubuh kawannya.
"Tidak..."
__ADS_1
"Apa maksudmu ?" tanya Jarot keheranan. Kini mereka sudah berhadap - hadapan dengan tiga orang pasukan keamanan dengan jarak sekitar lima belas meter
"Sebaiknya kau lari. Biar ini menjadi urusanku". Jawab Kubil lagi. Tiba - tiba dia dorong tubuh kawannya agar menjauh. Kemudian dengan langkah tertatih ia maju menyambut kematiannya. Pistol di tangannya terus menyalak hingga tubuhnya ambruk dengan tiga butir peluru bersarang di jantungnya.
"Dasar bodoh !"
Jarot berlari melewati loby hotel dan tembus ke halaman depan. Sumpah serapah terus keluar dari mulutnya. Baginya apa yang dilakukan Kubil adalah sebuah kebodohan.
Sesampainya di halaman depan, dimana tiga buah truk terparkir, pria botak ini sudah yakin akan selamat. Seorang anggota pasukan yang tidur di belakang kemudi truk harus terbangun. Di bawah todongan pistol, ia dipaksa turun dengan posisi tangan di atas kepala.
"Cepat keluar dan lemparkan senjatamu !" Hardiknya sambil menodongkan pistolnya.
"Jangan coba macam - macam !" Serunya lagi. Baru ia melangkahkan kakinya untuk menaiki kerdaraan tersebut. Tiba - tiba saja dia harus mengurungkan niatnya.
Prangg.... Pranggg...
Jarot melompat menjauh saat kaca depan dan samping truk hancur diterjang timah panas. Sang komandan dan dua anak buahnya yang baru datang terus memberondongnya dengan tembakan
"Sialan....!" Jarot memaki sejadi jadinya. Namun disaat kritis ia masih bisa memberikan gertakan.
"Berhenti..., Atau anak buahmu akan mati !" Seru Jarot lantang. Jari tangannya siap menekan pelatuk pistol. Sang komandan kaget tak percaya. Sang sopir yang ditodong hanya bisa pasrah.
"Ok.... Kita bisa bicarakan !" Jawab sang komandan. Perlahan ia mendekat dengan hati - hati.
"Stop... ! Berhenti di situ dan lemparkan senjata kalian !"
"Baiklah" ucap sang komandan sambil menuruti perintah pria botak yang tak jauh di hadapannya. Dua orang pasukannya yang tersisa juga melakukan hal yang sama. Bagaimanpun sudah banyak anggota pasukannya yang gugur. Dia tak ingin kehilangan lagi.
"Bagusss.... !" Seru Jarot dengan senyum kemenangan. Sorot matanya bergiliran mengawasi setiap gerakan yang mengancam jiwanya.
"Jangan coba - coba menghalangiku pergi dari sini !" Serunya lagi. Perlahan ia melangkah mundur, mendekati truk yang paling dekat. Moncong pistol bergantian ia todongkan. Sesekali ke sopir yang menjadi sanderanya. Sesekali ia alihkan ke komandan dan dua anak buahnya.
"Sebaiknya kau menyerah. Hukumanmu pasti akan diringankan" ucap sang komandan mencoba bernegosiasi. Namun ucapannya justru membuat Jarot marah.
Dooorr...
Tembakan ke udara ia lepaskan dengan wajah penuh amarah. Sorot matanya tajam menguliti lawan bicaranya
"Sebaiknya kau diam atau anak buahmu menjadi mayat saat ini juga !" Ucapnya penuh kemarahan. Tanganya kini sudah meraih pintu truk. Dan Kakinya sudah bersiap melangkah naik. Namun tubuhnya tak pernah bisa membawa lari kendaraan tersebut.
Dooorr...dooorr.. ddooorrr .
Tiga buah timah panas berhasil menghentikan langkahnya. Dua peluru berhasil mengoyak punggungnya dan tembus ke jantung. Lelaki gemuk berkepala botak itu mati seketika. Satu peluru berhasil membuat lubang di batok kepalanya tembus ke rahang.
Bruuukk....
Seketika tubuh Jarot ambruk di samping truk yang akan membawanya menuju ke alam bebas. Sang komandan lapangan tersenyum lega. Sekilas ia acungkan jempol ke arah rooftop bangunan yang sudah berusia puluhan tahun tersebut.
Baginya menempatkan sniper adalah sesuatu yang sangat penting. Apalagi jika menghadapi keadaan yang sangat terdesak seperti yang baru saja ia alami. Perlahan ia pandangi sosok yang menjadi incaran pihak keamanan dari berbagai negara itu. Ternyata sosok tersebut harus mati ditangan anak buahnya.
Bersambung...
__ADS_1