
Terpojok
Di sela - sela pertarungan sengit antara Toni melawan Robert dan Leo, Jarot bergegas membawa kawannya pergi meninggalkan kantin yang sudah berubah menjadi arena perkelahian. Dengan berjalan tertatih dan sedikit membungkuk, Kubil terus saja memegangi bagian ulu hatinya yang terkena tendangan Toni.
"Kau tidak apa - apa ?" Tanya Jarot yang berjalan di depan. Diterobosnya warga yang menyemut, ingin menyaksikan apa yang sedang terjadi. Tak jarang keluar seruan - seruan yang memberi semangat, bahkan memprovokasi ketiga orang yang sedang adu pukul di dalam kantin.
"Tidak apa - apa bagaimana. Aku kesakitan begini, kamu tidak lihat ?!" Seru pria tinggi besar kesal. Ia terus saja nyerocos tidak karuan saat keduanya bersiap menaiki kendaraan mereka. Sementara pria dengan kepala botak hanya nyengir kuda.
"Ya sudah. Ayo kita tinggalkan tempat ini. Bos Jhoni pasti sudah menunggu kita" jawab Jarot santai. Perlahan tapi pasti, kendaraan yang mereka tumpangi mulai bergerak meninggalkan tempat pelelangan ikan.
Padatnya jalanan membuat mereka bergerak sangat perlahan. Keduanya melemparkan pandangan ke sekeliling yang ramai oleh para pedagang dan pembeli yang sedang bertransaksi. Ditambah lagi para nelayan yang lalu lalang dengan bermacam alasan, semakin membuat kawasan itu terlihat semrawut.
Dari kejauhan terlihat kapal - kapal besar mulai merapat dan bersiap untuk bongkar muat di dermaga. Sementara itu, cuaca pagi sangat cerah. Langit tampak berwarna biru muda dan dihiasi gumpalan - gumpalan awan yang berjalan berarak. Gulungan ombak yang datang silih berganti seakan menyambut kedatangan para nelayan yang baru pulang melaut. Rombongan burung camar yang asyik bercengkerama menambah keindahan panorama alam di pinggiran dermaga.
"Tidak kusangka, pemuda itu pandai bela diri rupanya" ucap Kubil memecah keheningan. Wajahnya lurus ke depan mengamati keramaian di hadapanya.
"Iya. Sepertinya dia sudah terlatih. Postur badannya juga tegap. Apa mungkin dia seorang tentara ?" Tanya kawan di sebelahnya yang berasumsi. Dipandangi wajah Kubil yang sedang memegang kemudi.
"Gak mungkin. Mana mungkin tentara keluyuran dari malam sampai gini hari."
"Iya juga, ya..."
Keduanya terus berbincang tentang kejadian yang belum lama mereka alami. Begitu asyiknya mereka berbicara, hingga Kubil tak menyadari seorang pejalan kaki menyebrang secara mendadak.
Ciiiiitttt....
Tiiiinn... tiiinnn...
"Hei, Menyeberang jalan, lihat - lihat !" Umpat pria tersebut emosi. Spontan ia menginjak rem dan membunyikan klason berkali - kali. Sementara sang pejalan kaki dengan santainya berlalu. Tak dihiraukannya sang pengemudi yang terus mengumpat tak jelas.
Sementara Itu, sekitar dua ratus meter di belakang. Toni memacu sepeda motor tuanya dengan kecepatan tinggi. Berjalan secara zigzag di antara padatnya pengguna jalan. Dengan lihainya ia mencari celah agar segera menemukan kendaraan penculik adiknya. Riko yang duduk di boncengan, mengamati setiap kendaraan yang ada.
"Bagaimana nasib Robert sama Leo ?" Tanya Kubil pada kawannya. Sekilas ia melirik Jarot yang duduk di sampingnya.
"Semoga saja mereka bisa mengatasi anak muda itu" jawab Jarot berandai andai. Lawan bicaranya hanya terdiam. Terbersit keraguan dalam dirinya akan ucapan kawannya itu. Beberapa saat keduanya membisu dalam lamunan masing - masing. Hingga, kendaraan minibus yang mereka tumpangi masuk ke area dermaga. Kemudian terus berjalan menuju sebuah kapal yang sudah bersiap untuk menarik jangkarnya.
"Kemana saja bro. Aku sudah menunggu sejak tadi subuh !" Seru seorang pria yang menghampiri Kubil yang masih berada di belakang kemudi.
"Maaf bang, tadi ada kendala sedikit" jawab Kubil dengan senyum mengembang. Tangannya menyerahkan beberapa lembar rupiah kepada lawan bicaranya.
"Nah... ini yang saya tunggu !" seru pria gendut yang sedang berbicara pada Kubil. Tak menunggu lama, lembaran rupiah sudah berpindah tangan.
__ADS_1
"Ya sudah. Ayo kita berangkat" ucapnya lagi. Kemudian ia berjalan menuju bagian belakang kapal yang sudah terbuka dan memberi aba - aba pada sang pengemudi agar segera menaikkan kendaraannya ke dalam kapal. Sementara itu, Toni sudah sampai di pintu gerbang dermaga.
"Itu mobil mereka, bang !" Seru Riko yang menyaksikan sebuah mobil minibus berwarna hitam sedang bergerak maju dan masuk ke dalam bagian belakang kapal.
"Iya Ko. Kenapa mereka masuk ke dalam kapal ?"
"Gak tahu bang. Cepat kejar mereka bang !"
Tanpa banyak berfikir, Toni memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Sementara itu, kapal yang membawa kedua penculik dan korbannya bergerak perlahan. Makin lama kapal tersebut makin jauh menuju laut lepas.
"Kita terlambat bang !" Seru Riko dengan penuh penyesalan.
"Tidak apa - apa. Setidaknya kita tahu sesuatu Ko" jawab Toni tenang. Mereka kini berada di pinggir dermaga. Keduanya menatap kapal yang makin lama terlihat makin kecil.
"Memangnya bang Toni mendapat petunjuk apa ?" Tanya Riko penasaran.
"Mereka menyeberangi lautan. Berarti kemungkinan korban penculikan tidak disekap di sini."
"Lantas, mereka disekap di mana bang ?"
"Itu yang harus kita cari tahu, Ko !" Seru Toni dengan senyum mengembang di bibirnya. Keduanya berjalan menuju beberapa orang yang sedang terlibat percakapan.
"Ada apa mas ?" Jawab seorang pria dengan sorot mata tajam. Ditelisiknya penampilan pemuda di hadapannya dari atas sampai bawah.
"Kapal yang tadi berangkat, tujuannya kemana pak ?"
"Kapal yang tadi mau mengantarkan logistik mas."
"Tujuannya kemana pak ?"
" kalau kemana nya, saya juga tidak tahu ya."
Setelah mendapatkan jawaban yang jauh dari harapan. Toni bergegas kembali menaiki sepeda motor tuanya. Langkahnya diikuti oleh Riko. Tak lama kemudian mereka sudah berada di luar area dermaga. Lima ratus meter sudah mereka menjauh. Keduanya terkejut saat sebuah suara mengalihkan perhatian mereka.
"Berhenti.... kalian... !"
"Hei... berhenti !"
Tiba - tiba datang empat orang menggunakan dua sepeda motor. Masing - masing memepet dari sisi yang berbeda. Dari sebelah kanan seorang pria yang duduk di boncengan mengacungkan senjata tajam berbentuk samurai sepanjang enam puluh senti. Sesekali ia tebaskan samurai itu ke arah Toni dan Riko.
Di sisi sebelah kiri duduk di boncengan seorang pria berkepala plontos dan kumis tebal. Tangannya menggenggam sebuah golok yang cukup tajam.
__ADS_1
"Bagaimana ini bang !" Riko menjerit histeris saat menyadari situasi yang sangat mengerikan di depan mata.
"Tenang, Ko. Jangan meleng. Awasi terus samurai sama goloknya !" Seru Toni yang terus memacu motornya. Tiba - tiba sebuah sabetan samurai mengincar Riko.
WUUUSSSS...
Menyadari bahaya mengintai, spontan Riko menundukan badannya. Tak ingin mati konyol, secepat kilat ia tendang dengan sekuat tenaga sepeda motor yang ada di sebelah kanan. Tak sia - sia usaha Riko, sepeda motor yang ada di sebelah kanan oleng dan menyenggol mobil yang datang dari arah berlawanan.
BRAAKKK....
Kendaraan itu menghantam trotoar jalan. Sang pengendara jatuh bersimbah darah. Sementara pria yang dibonceng terlempar hingga beberapa meter. Tubuhnya tergeletak di pnggir jalan.
"Bagaimana, Ko ?"
"Tinggal satu lagi, bang !"
"Oke. Kita kasih pelajaran yang satu lagi!" Ucap Toni mantap. Sementara itu, pria dengan kepala plontos menebas Toni dengan goloknya.
"Awas bang !" Seru Riko. Spontan Toni menundukkan kepalanya. Bersamaan dengan itu, kaki kirinya dihantamkan ke kendaraan lawannya. Saat kendaraan di sebelah kiri oleng. Pria berkepala plontos melancarkan tendangan ke arah Riko. Kontan saja Toni kehilangan keseimbangan dan terjatuh di aspal jalan. Begitu juga yang dialami pria plontos dan kawannya.
Secara bersamaan keempat orang itu bangkit dan saling berhadap hadapan.
"Sembunyi Ko. Biar aku yang menghadapi mereka !"
"Baik bang !"
Bergegas Riko menyingkir mencari tempat yang aman. Kini Toni mengahadapi dua orang yang menggunakan senjata tajam. Sebuah serangan golok mengincar wajahnya. Spontan Ia mundur beberapa langkah. Namun gelombang serangan golok terus mengejarnya.
Beberapa kali ia mampu menghindar dan berkelit, namun kali ini ia terlambat bergerak.
SREETTT...
sebuah sabetan golok berhasil melukai kakinya. Suara erangan keluar dari mulutnya.
"Mati kau !" Hardik pria plontos dengan lantang. Tebasan dan sabetan goloknya terus memburu menjadi gelombang serangan yang dahsyat. Namun Toni tak mau menyerah. Sebuah sabetan golok dari lawannya berhasil ia tangkis. Sejurus kemudian ia rebut golok yang digunakan untuk menyerangnya. Dan secepat kilat ia berputar sambil menebaskan senjata tajam tersebut.
Pekikan menyayat hati menyadarkan pria berkepala plontos saat menyadari kawannya sudah tergeletak bersimbah darah. Dari lehernya mengucur darah segar.
"Siapa kalian ?!" Bentak Toni saat pria plontos melongo tak percaya menyaksikan kawannya sudah menjadi mayat. Bukannya menjawab, pria ini justru kembali melancarkan serangan membabi buta. Toni dibuat kuwalahan oleh pria plontos yang terus merangsek maju sambil menyabetkan golok secara menyilang.
Sekali dua kali ia bisa menghindar dan berkelit. Namun lawannya sama sekali tak memberikan kesempatan. Hal ini membuat posisi Toni makin terjepit. Kini ia terdorong hingga terpojok di sebuah pohon beringin yang besar. Dengan gerakan lincah dan kekuatan penuh pria plontos tak memberi sedikirpun ruang bagi lawannya untuk melawan.
__ADS_1