Pulau Eksekusi

Pulau Eksekusi
Cemas


__ADS_3

Cemas


Malam itu cuaca kota Jakarta cukup cerah. Beberapa formasi rasi bintang terlihat menghiasi cerahnya langit. Cahaya rembulan terlihat lebih dominan di antara ribuan cahaya bintang.


Namun indahnya pemandangan di angkasa berbanding terbalik dengan perasaan gundah seorang gadis. Sejak sore tadi, Laras gelisah. Kedua matanya terus mengawasi setiap orang yang melewati jalan depan rumahnya.


"Jam segini, kok belum pulang ?, bikin khawatir saja."


Gadis cantik ini membatin dengan raut muka cemas. Di teras depan rumahnya, ia menantikan kepulangan Sang Kakak. Beberapa kali ia berdiri, tak lama kemudian kembali duduk dengan wajah tetap fokus ke jalan.


Bukan tanpa alasan wanita muda ini begitu mengkhawatirkan Iwan. Ia tak ingin satu - satunya keluarga yang tersisa mengalami hal yang tidak diinginkan. Waktu terus berjalan, namun yang ditunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.


Entah kenapa, gadis ini seperti memiliki firasat jika telah terjadi sesuatu terhadap Iwan. Berkali kali ia letakkan benda pipih berwarna hitam tepat di samping telinganya. Berharap ada suara seseorang yang menjawab panggilannya. Namun sia - sia.


Tut...tut...tut...


"Duh.. Bang Iwan, kamu di mana ?" Seru Laras lirih. Di tengah kecemasan, kedua matanya mendapati sesosok pria yang sedang masuk ke pelataran rumahnya. Dengan wajah riang ia segera menyambut kedatangan sang kakak tercinta. Dengan berlari kecil, Laras mendekat ke pagar rumahnya.


"Kamu kenapa lari - larian begitu, Laras ?"


"Ba.. bang Toni... aku kira tadi Bang Iwan yang datang." Jawab Laras gugup. Wajahnya kembali cemas saat menyadari yang datang adalah Toni.


"Ada apa dengan Bang Iwan ?" Seketika Toni ikut panik saat menyadari perubahaan ekspresi wajah kekasihnya. Pria ini berdiri tepat di hadapan Laras menanti jawaban.


"Sebaiknya kita masuk, bang. Nanti aku jelaskan di dalam."


"Baiklah."


Kini keduanya duduk bersisian di sofa ruang tamu. Toni menunggu kekasihnya menceritakan apa yang terjadi dengan Kawannya. Ia khawatir Iwan menjadi korban keberingasan orang - orang suruhan Jhoni.


Tentu mereka sudah mengenali wajah pemuda tersebut karena sudah beberapa kali terlibat bentrok dengan Toni dan Iwan. Begitu juga dengan Bagas dan Riko.


"Bang Iwan dari siang tadi belum pulang, bang. Aku khawatir terjadi apa - apa dengannya."


"Kamu sudah menghubungi nomernya ?"


"Sudah, bang. Tidak ada jawaban. Aku coba beberapa kali, tetap sama."


"Kamu tau kemana abangmu pergi, tadi siang ?"


"Aku tak sempat menanyakannya, bang."


"Ya sudah, kamu tenangkan diri. Biar aku yang coba mencarinya. Mudah- mudahan saja tidak terjadi apa - apa."


"Hati - hati, bang... "


Iwan melangkah menuju pintu setelah melepas tangan sang kekasih dan mengecup keningnya. Kecemasan Laras sedikit berkurang karena perlakuan tersebut. Kedua netranya mengiringi langkah sang kekasih saat sebuah panggilan telpon mengalihkan perhatiannya.


Keningnya sedikit berkerut saat melihat nomer yang tidak ia kenal. Ada rasa takut dan penasaran yang menghantuinya. Bergegas ia berlari menghampiri Toni yang sedang menuju kendaraanya.


"Bang Toni... tunggu bang !"


"Ada apa, Laras ?"


"Ada telpon dari nomer yang tidak ku kenal."

__ADS_1


Secepatnya ia serahkan handphone pada Toni. Dengan maksud agar sang kekasih yang menjawab panggilan tersebut. Pria tersebut maklum atas sikap Laras. Segera ia memulai percakapan dengan seseorang yang sudah menunggu lama.


"Hallo... Assalamuaalaikum. Siapa ya ?"


"Waalaikumsalam. Nama saya Sulis. Saya mau bicara dengan Laras."


"Anda siapa..., mm... maksud saya kenal Laras di mana ?"


"Saya tidak mengenal Laras. Tetapi pria yang sudah menyelamatkan nyawa ibu saya mengenalnya. Dan sekarang ia terbaring di rumah sakit."


"Apa...?! siapa nama pria yang kau maksud ?"


"Iwan namanya, saat ini keadaanya sudah membaik. Sebaiknya kalian cepat ke sini."


"Baiklah, terima kasih atas informasinya."


"Sama - sama."


Panggilan terputus, bersamaan dengan itu keduanya saling pandang dengan wajah penuh kecemasan. Laras yang menyimak percakapan sudah paham apa yang terjadi dengan kakaknya.


"Sebaiknya kita berangkat sekarang juga" ucap Toni meyakinkan.


"Baiklah."


Setelah menyiapkan segala sesuatu yang mungkin diperlukan, keduanya bergegas meninggalkan rumah. Sekitar setengah jam perjalanan menggunakan sepeda motor, kini keduanya sampai di tempat di mana Iwan dirawat.


"Assalamualaikum.. "


Keduanya masuk ke dalam kamar di mana Iwan dirawat. Sulis yang sedang membantu Iwan minum obat terlihat kaget, begitupun dengan sang pemuda. Reflek keduanya menggeser tubuhnya agak menjauh.


Laras yang menyaksikan keadaan kakaknya tak bisa menguasai dirinya. Tangis histeris memecah keheningan. Sulis coba menenangkan dengan merangkul wanita sebayanya itu. Sementara Toni hanya berdiri mematung. Sesekali tangannya menenangkan Sang Kekasih.


"Dua orang penjambret itu menghajar abang sampai begini" jawab Iwan tenang.


"Kenapa Bang Iwan nekat banget ?" Seru Laras sedikit kesal dengan sikap abangnya yang sok pahlawan.


"Tapi Laras..."


"Kalau sudah kejadian begini siapa yang tanggung jawab, coba. Masih untung Bang Iwan selamat, bagaimana jika sampai meninggal. Aku tak ingin itu terjadi bang"


Ucapnya lagi panjang lebar setelah memotong penjelasan Iwan. Menurutnya tidak perlu mencampuri urusan orang lain, karena itu hanya akan menyusahkan diri sendiri. Sulis yang merasa tidak enak hati, coba menenangkan wanita di sampingnya.


"Sebelumnya saya minta maaf, kak Laras. Karena semua ini terjadi karena kesalahan kami. Mudah - mudah kakak mau memaafkan saya dan ibu saya. Bang Iwan dan Kak Laras juga tidak perlu khawathir masalah biaya rumah sakit. Semua biaya sudah di lunasi oleh ibu saya."


Penjelasan panjang lebar dari Sulis mampu membuat Laras sedikit lega. Dia juga merasa sungkan karena sikap gadis di sebelahnya yang terlihat ramah. Walaupun dalam benaknya terbersit tanya saat menyadari keakraban Bang Iwan dengan wanita yang baru dikenalnya.


"Ya sudah, abang minta maaf. Oo..ya kenalkan, namanya Sulis" ucap Iwan dengan seutas senyuman pada adik dan kawannya. Sepasang kekasih itu menyambut uluran tangan dari Sulis. Seketika suasana menjadi cair dan penuh senyuman.


"Sekarang keadaanmu bagaimana, Wan..?" Ucap Toni penuh selidik. Dengan penglihatannya ia bisa memperkirakan kondisi kawannya yang sudah tertangani dengan baik.


"Cukup baik. Aku pikir hanya menunggu bekas jahitan ini kering. Dan beberapa luka lebam yang membuat aku sulit bergerak" jawab Iwan yakin.


"Mungkin besok aku akan pulang ke rumah." Ucap Iwan lagi yang membuat ketiga orang yang mendengarnya mendelikkan mata.


"Secepat itu, bang... ?!" Tanya Sulis kaget. Hati kecilnya tak bisa menerima apa yang baru saja didengar. Hal tersebut membuat Toni dan Laras memandang Sulis penuh tanya.

__ADS_1


"Iya... aku tak betah berlama lama di rumah sakit. Lagi pula luka luar akan sembuh sendiri tanpa penanganan dokter."


"Jika itu keputusan abang. Tidak masalah. Lagi pula beberapa hari ke depan aku akan kembali bekerja."


Keduanya terlibat obrolan yang hangat. Menyadari hal tersebut, Laras dan Toni pamit mencari makanan. Alasan sebenarnya, agar kedua insan yang baru dipertemukan itu bisa lebih saling mengenal. Mengingat besok keduanya akan kembali berpisah.


#####


Seperti biasa, setelah mendapat pelajaran atas perbuatannya. Kedua penculik yang bernama Jarot dan Kubil diungsikan di sebuah hotel kelas melati di salah satu sudut kota.


Kini keduanya bersantai di balkon hotel yang menghadap ke jalan raya. Duduk berhadap hadapan di sebuah kursi. Di hadapan keduanya tersaji dua gelas kopi dan dua bungkus rokok yang siap di sebuah meja kaca. Beberapa jenis cemilan juga menghiasi meja tersebut.


"Sudah lama kita kita hanya berdiam diri di sini."


"Mau bagaimana lagi. Karena sekarang yang memburu kita bukan hanya pemuda - pemuda itu."


"Iya, aku paham situasinya. Tapi setidaknya kita bisa beroperasi di kota lain. Atau bahkan di pulau lain !"


"Kamu benar."


Jarot dan Kubil terlibat obrolan seru. Keduanya tampak jenuh dengan kondisi mereka saat ini. Setelah kejadian di rumah kosong beberapa hari yang lalu. Hampir diterbangkan dan diadili di negara lain. Kini mereka hanya bersembunyi atas perintah Jhoni. Menunggu situasi benar - benar kondusif untuk kembali beraksi.


Kepulan demi kepulan asap rokok yang perlahan membumbung tinggi lalu menghilang di udara. Menjadi penghibur kedua pria ini. Wajah Jarot yang kini dihiasi codet di bawah matanya tampak gelisah. Begitupun dengan Kubil yang sesekali meraba luka dalam pada bagian dadanya. Lamunan keduanya terhenti saat terdengar nada panggilan dari handphone Jarot.


"Siapa malam - malam begini nelpon. Mengganggu saja !" Jarot memandangi nomer yang tertera dengan ekspresi kesal.


"Hallo... ada apa, Bowo !"


"Maaf, jika aku mengganggu ketenangan kalian !"


"Tidak usah berbasa basi, ada apa ?!"


"Kalian kalau mencari korban itu, jangan asal culik !"


"Maksudmu apa, Bowo ?!"


"Dua anak itu. Yang kalian lepaskan. Mereka sangat berbahaya. Sudah banyak pasukanku yang tewas di tangan mereka !"


"Hei.... Bowo...! Masalah yang terjadi di pulau itu, itu urusanmu dan pasukanmu !"


Jarot menjadi emosi dibuatnya. Kubil yang mendengarkan tampak beberapa kali memperhatikan pembicaraan kawannya.


"Jika kamu tidak sanggup mengatasi kedua anak itu, sebaiknya kamu terus terang saja. Biar nanti bos Jhoni mencari pengganti yang lebih kompeten dan bertanggungjawab."


Ucapan terakhir dari pria botak dengan badan gemuk membuat lawan bicaranya tak bisa lagi menjawab. Sambungan telpon diputus sebelum Jarot menuntaskan ucapannya.


"Siapa yang menelpon ?" Tanya Kubil penasaran.


"Bowo..."


"Mau apa dia ?"


"Dia menyalahkan kita karena menagkap kedua anak itu. Dia minta agar kita pilih - pilih dalam mencari korban"


"Sepertinya Jhoni salah menempatkan dia sebagai komandan keamanan di pulau itu."

__ADS_1


"Sepertinya begitu."


Suasana kembali hening, saat keduanya kembali berkutat dengan fikiran masing - masing. Hanya suara deru kendaraan yang terdengar memecah keheningan malam.


__ADS_2