
Penghadangan
"Buu... ibu kenapa ?" Tanya Sulis dengan raut wajah khawatir. Dipandangi wajah ibunya yang tiba - tiba termenung dengan sorot mata sayu. Tangan kanannya masih menggenggam amplop berwarna coklat muda. Sesekali amplop itu dibolak balikkan beberapa kali, sebelum akhirnya ia buka suara.
"Ibu tidak apa - apa nak" ucap Bu Ratih dengan seutas senyuman di wajahnya yang mulai menua.
"Kenapa ibu tiba - tiba melamun ?" Tanya Sulis lagi. Kini dia berjongkok di hadapan sang ibu. kedua tangannya diletakkan di pangkuan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Ibu hanya teringat bapakmu, nak" jawab Bu Ratih sambil membelai lembut rambut di kepala sang anak. Namun Sulis tak menyadari, bapak yang dimaksud sang ibu adalah Jhoni yang kini menjadi bosnya.
Ibu Ratih sengaja menyembunyikan identitas ayah dari anak semata wayangnya itu. Dia takut Sulis tak mau menerima Jhoni karena latar belakang dan sepak terjangnya di dunia kriminal. Dan sejauh ini Jhoni menerima keputusan sang istri. Sebagai obat pelipur lara, ia meminta kepada Ratih agar mengijinkan Sulis bekerja padanya.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu, nak. Ibu ke dapur sebentar."
"Baik bu"
Sulis beranjak masuk ke kamar. Didapatinya Ratna sudah terlelap di peraduan. Perjalanan yang lumayan menguras tenaga membuatnya kelelahan.
#####
Malam itu, jalanan di salah satu sudut kota Jakarta terlihat lengang. Tak banyak kendaraan yang lewat di jalan protokol yang membelah pusat bisnis kawasan sibuk tersebut. Di bawah temaram lampu jalan, ditambah sinar rembulan membuat suasana menjadi begitu indah.
Gedung - gedung pencakar langit yang berdiri kokoh saling memantulkan cahaya beraneka warna. Tak perduli lagi dengan efek rumah kaca. Bagi pemangku kebijakan, yang terpenting adalah roda perekonomian terus berputar. Walaupun rakyat kecil tetap gigit jari, sambil memandang takjub gedung - gedung pencakar langit yang dengan congkaknya berdiri gagah.
Di salah satu taman yang tak begitu luas. Terlihat beberapa orang asyik dengan obrolan mereka. Di sebuah kursi panjang yang menghadap ke area taman yang penuh dengan aneka bunga yang sedang bermekaran.
"Kamu yakin ini akan berhasil, Gas ?" Tanya Toni pada sahabatnya yang bernama Bagas. Dipandangi wajah kawannya menunggu jawaban.
"Yang sudah - sudah, ya begitu caranya. Kalau ditanya tidak mau menjawab. Di buntuti tidak menemukan hasil. Coba cara yang satu ini" jawab Bagas panjang lebar. Sementara di sampingnya, Iwan tampak manggut - manggut. Tak jauh di belakang bangku panjang, Riko menyenderkan tubuhnya pada sebuah minibus yang mereka bawa. Pendengarannya ia pusatkan agar bisa menangkap pebicaraan ketiga orang di hadapanya.
"Lalu, kapan kita akan memulai rencana kita ?" Kali ini Iwan yang bertanya dengan raut wajah penasaran. Rupanya ia sudah tak sabar untuk membantu kawannya. Dia edarkan pandangan pada Toni dan Bagas.
"Sebaiknya malam ini juga kita bergerak" jawab Toni mantap. Tanganya meraih gelas plastik berisi kopi hitam yang tinggal separuh.
__ADS_1
"Aku setuju, Ton" seru Bagas. Iwan mengangguk mengiyakan ucapan kawanya. Tak lama kemudian ketiganya masuk ke dalam minibus, diikuti oleh Riko.
Di kursi depan duduk Toni. Di sebelahnya Bagas yang kini bersiap melajukan kendaraanya. Sementara itu, di kursi belakang Riko dan Iwan terus mengawasi setiap kendaraan yang melintas.
Mereka bertekad menemukan kedua orang yang sudah menculik Topan dan Arif. Dengan berbekal ingatan tentang beberapa kali pertemuan dengan keduanya. Toni yakin dapat menemukan mereka.
Lokasi pertama yang mereka datangi adalah kawasan sekitar lampu merah tempat di mana banyak anak - anak remaja yang sedang mengamen. Bagas menepikan kendaraanya beberapa puluh meter dari lampu merah.
Cukup lama mereka menunggu datangnya kedua penculik tersebut, hingga beberapa jam. Hal ini membuat Iwan putus asa dan kehilangan kesabarannya.
"Sepertinya mereka tidak mencari korban malam ini" ucap Iwan putus asa. Mereka masih di dalam mobil, menunggu dan berharap.
"Baiklah. Kalau begitu segera kita tinggalkan tempat ini!" Jawab. Toni sedikit kecewa.
"Jalan, Bagas !" Ucap Toni lagi, memberi aba - aba. Sementara itu, dari kejauhan terlihat beberapa remaja pengamen berlarian dengan wajah panik. Beberapa di antaranya berteriak histeris mencari pertolongam. Riko yang sedari tadi memperhatikan apa yang terjadi di sekitar lampu merah bersuara.
"Itu mereka, bang !" seru Riko. Tanganya menunjuk ke arah luar. Terlihat beberapa orang pengamen jalanan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Jarot dan Kubil.
"Cepat, kita beri pelajaran pada mereka !" Ucap Iwan antusias. Tanpa menunggu aba - aba, dia sudah berada di luar kendaraan dan berjalan menuju sasaran mereka.
"Cepat naik, Wan" seru Bagas. Saat menyadari kedua penculik sudah menghilang dari pandangan mereka. Keduanya tancap gas membawa korbannya ke suatu tempat.
"Oke. Kita ikuti terus mereka."
Tanpa menunggu lama, Bagas memacu kendaraanya cukup kencang. Sedangkan Beberapa ratus meter di depan, Kubil yang mengemudikan kendaraan tidak menyadari jika sebuah minibus terus saja membunturi mereka. Bagas berusaha tetap menjaga jarak, agar kedua penculik itu tidak menyadari keberadaan mereka.
"Jangan sampai kehilangan jejak, Gas !" Seru Toni yang terus mengamati pergerakan buruannya. Di bawah sinar rembulan yang redup. Kini kendaraan yang ditumpangi keempat pemuda hanya berjarak lima puluh meter dari kendaraan kedua penculik.
"Terus pepet, Gas !" Seru Toni yang menyadari kondisi jalan semakin lengang. Hanya beberapa kendaraan saja yang terlihat. Ke empat pria ini terlihat panik, namun mereka siap mengambil resiko. Tak perduli apapun yang akan terjadi.
"Sekarang, Gas !" Seru Toni lagi. Dengan wajah tegang. Tiga orang lainya bersiap memberikan kejutan spesial.
CIIIIITT......
__ADS_1
CIIIITTT.....
Tiiinnnn....
setelah memepet dari sebelah kanan. Kini Bagas membanting setir ke kiri. Dan secara mendadak berhenti menyilang di depan kendaraan buruannya. Sontak saja Kubil kaget bukan main. Tak ingin terjadi benturan. Secara spontan ia injak rem untuk menghentikan laju kendaraan.
"Kurang ajar.... !" Maki Kubil penuh emosi. Tangannya menekan klakson berkali - kali .
"Hei..., Nyetir pakai mata !" Umpat Kubil yang kalap. Sementara Itu Jarot turun untuk memastikan apa yang terjadi. Namun baru ia membuka pintu, tiba - tiba saja pintunya di tendang dari luar.
BRAAKKK...
"AAAUUU....!"
Jarot melolong kesakitan, saat kepala pelontosnya dihantam pintu mobil. Belum sempat ia bereaksi. Sebuah tinju melayang dan mendarat tepat di mukanya. Pelipisnya berdarah saat tanpa ampun ia ditariik keluar secara paksa oleh Iwan.
Dengan kondisi terjatuh dan perlipis berdarah, Jarot tak bisa berbuat banyak saat kedua tangannya diborgol secara paksa. Kejadian yang begitu cepat membuatnya tak mampu lagi mencerna apa yang sedang terjadi.
Sementara itu di belakang kemudi, Kubil terus saja memaki - maki tak karuan karena dia harus menginjak pedal rem secara mendadak.
"Kurang ajar. Kamu bisa nyetir atau tidak?!" Maki pria tinggi besar ini dengan ekspresi wajah menakutkan. Bergegas ia membuka pintu, ingin memberi pelajaran pada pengemudi yang ugal - ugalan.
Namun belum sempat kakinya menginjak aspal jalan. Sebuah tinju melayang menghantam pipi kananya. Seketika dia mengaduh. Namun kali ini siksaan yang lebih perih datang dengan cepat. Pintu mobil ditendang dengan kekuatan penuh yang otomatis menjepit tubuhnya yang besar.
Sekali lagi lolongan kesakitan memecah keheningan malam. Namun Toni tak mau memberi angin. Ditariknya tangan Kubil, dan sejurus kemudian ia layangkan tinju berkali - kali hingga lawannya tersungkur di aspal. Dalam kondisi tak berdaya, tangannya diborgol secara paksa oleh pemuda tersebut.
Riko yang ikut turun, segera membebaskan dua bocah sebayanya yang meringkuk tak berdaya di bawah kursi mobil bagian belakang. Setelah mengucapkan terima kasih keduanya berhamburan,. Kembali ke alam bebas.
"Cepat masukkan mereka ke dalam !" Seru Toni dengan amarah yang belum tuntas. Bagas dan Iwan menarik pria berkepala botak dan dan pria tinggi besar agar masuk ke dalam kendaraan mereka. Tak lama kemudian, merekapun pergi meninggalkan kendaraan kedua penculik di pinggir jalan.
"Mau dibawa ke mana kami ?"
"Lepaskan kami !"
__ADS_1
Keduanya memelas agar dilepaskan. Namun semua itu tak digubris oleh keempatnya. Kini mereka semakin jauh meninggalkan pusat kota, dan memasuki kawasan pinggiran. Kendaran yang mereka tumpangi terus berjalan di antara rumah - rumah padat dan saling berhimpitan.
Sebuah todongan senjata membuat kedua penculik tak lagi bersuara. Jelas terlihat raut wajah ketakutan dari keduanya. Kini mereka hanya membisu sambil membayangkan apa yang akan terjadi.