
Perkelahian Di Pasar
Kicau burung bersahut - sahutan dengan riang, seolah ingin mengabarkan datangnya sang mentari pagi. Dinginnya hembusan angin laut menusuk kulit. Lambaian daun kelapa di pinggir pantai semakin menambah indah panorama pulau itu.
Semakin jauh masuk ke pelosok hutan. Semakin dibuat takjub, siapapun yang memandangnya. Celoteh riang primata hutan membangunkan kedua remaja yang berada di dalam gua.
"Rif, bangun" seru Topan. Tangannya menggoyang - goyangkan tubuh kawannya.
"Iya Pan !" Jawab Arif. Tangannya sibuk mengucek matanya yang masih sulit terbuka. Segera ia senderkan punggungnya di dinding gua, dan diedarkan pandangan ke arah datangnya cahaya dari luar.
"Aku keluar sebentar, siapa tau ada yang bisa digunakan untuk mengisi perut kita" ucap Topan. Perlahan ia bangkit dan berjalan menuju lebatnya tumbuhan semak yang tak jauh dari mulut gua. Tangan kanannya menenteng sumpit, sementara di pinggangnya terselip pisau belati.
"Jangan jauh - jauh, Pan. Hati - hati, banyak binatang buas di luar sana !" Seru Arif mengingatkan. Entah mengapa, setelah kejadian malam itu. Bayang - bayang jerit kesakitan saat seorang remaja di perlakukan bagai hewan terus menghantuinya. Tindakan yang tidak berperikemanusiaan dan sangat di luar akal sehat.
"Aku harus meninggalkan pulau ini" ucapnya dalam hati. Kembali ia termenung, memikirkan bagaimana caranya pergi dari pulau tersebut.
"Siap - siap. Kita sarapan, Rif !" Seru Topan dengan senyum mengembang. Kedua tangannya menggenggam dua ekor kelinci hutan yang sesekali meronta - ronta. Menyaksikan pemandangan tersebut, spontan Arif bangkit menyambut sahabatnya. Bergegas ia kumpulkan daun kering dan membuat api.
"Hebat kamu, Pan. Makan besar kita pagi ini !" Seru Arif senang. Kedua tangannya membuat percikan api dari kedua batu yang ia pegang. Cukup lama keduanya menunggu hidangan benar - benar matang. Hingga kini yang tersisa hanyalah tulang - tulang yang berserakan.
"Sebaiknya kita jalan - jalan ke pantai. Mudah - mudahan ada kapal yang bersedia menolong kita." Ucap Arif penuh optimisme. Dilemparkan pandangan ke wajah kawannya yang sedang berfikir keras.
"Aku pikir juga begitu, Rif. Tapi bagaimana caranya agar mereka tak melihat kita ?" Jawab Topan. Kini ia memandang ke mulut gua yang terang karena terpaan sinar matahari. Keduanya duduk bersandarkan dinding gua. Sementara kaki mereka diselonjorkan ke depan.
"Entahlah, Topan. Aku tak ingin mati di sini, Pan !" Seru Arif dengan sedikit frustasi. Terbayang wajah Sang Bunda yang senantiasa menunggu kepulangannya.
"Iya, Rif. Aku juga tidak ingin mati di sini. Dengan perut dibedah kemudian dibuang begitu saja bagai seonggok sampah."
"Terus... kita harus bagaimana, Topan ?"
"Entahlah, Rif " jawab Topan lirih. Keduanya kembali dengan fikiran masing - masing.
__ADS_1
#####
Suasana pagi di sebuah pasar yang cukup ramai pembeli tampak meriah. Para pembeli dan penjual saling bertransaksi dengan bahagia. Di antara pengunjung pasar, terlihat sepasang pemuda dan seorang wanita sedang berjalan santai. Sesekali keduanya berhenti untuk membeli sesuatu atau sekedar melihat - lihat.
"Pulang yo, bang !" Pinta Laras pada pria di sebelahnya. Kedua tangan mereka bergandengan begitu eratnya. Seolah tak mau di pisahkan.
"Baik !" Jawab Toni singkat dengan senyum terus terukir di wajahnya. Mereka berjalan menjauh dari kerumunan pengunjung pasar yang menyemut. Sesekali Laras bergelayut manja di pundak kekasihnya.
"Kamu lapar ?" Tanya Toni saat keduanya melewati sebuah warung bakso yang cukup ramai. Tak ada jawaban. Hanya anggukan kepala dan senyuman manis yang diberikan wanita di sebelahnya.
"Huuhhh... dasar. Ayo kita ke dalam ! " dicubitnya hidung bangir kekasihnya dengan gemas. Kemudian ditariknya tangan Laras untuk masuk ke dalam warung bakso yang cukup besar di pinggir jalan. Sang kekasih hanya tersenyum menuruti ajakan Toni.
"Kok abang tahu, kalau aku lagi lapar?" Tanya Laras manja. Kini keduanya sudah duduk berhadapan di sebuah meja.
"Ya tau lah. Sejak dari rumah kamu. Kan kita belum sarapan" jawab Toni singkat. Laras terus saja memandangi wajah kekasihnya penuh bahagia.
"Aku ingin seperti ini selamanya, bang" ucap laras. Kedua pasang mata beradu pandang dan menimbulkan getaran - getaran yang membuat mereka terus ingin bersama, walaupun jarak memisahkan keduanya.
"Kamu jadi satpam aku, dong. Kalau dua puluh empat jam dijagain ?" Celetuk Laras masih dengan senyum bahagianya.
"Untuk gadis secantik kamu, jadi apapun akan aku lakukan agar kamu senang" seru Toni, tangannya mecubit pipi mulus wanita di hadapannya.
"Ngegombal lagiii...!" Seru Laras, spontan ia balas memukul tangan kekasihnya pelan.
"Kamu suka digombalin, kok" jawab Toni. Keduanya tertawa bahagia. Menikmati kebersamaan yang jarang mereka dapatkan.
Tak lama berselang, dua buah mangkok penuh sudah berada di hadapan mereka. Tanpa menunggu lama, keduanya menyelesaikan aktifitasnya tanpa suara. Hanya sesekali keduanya saling pandang dan melemparkan senyuman. Hampir satu jam keduanya berada di warung tersebut. Kini keduanya beranjak keluar dan melanjutkan perjalanan menuju kendaraan mereka.
Keduanya tak menyadari, dua pasang mata sedang mengawasi dan terus membuntuti mereka. Di antara padatnya pasar, dua orang yang merupakan Robert dan Leo tak ingin kehilangan targetnya.
"Kali ini jangan sampai ia lolos, bang !" Seru pria dengan postur badan kecil. Di pinggangnya terselip sebilah golok yang siap digunakan sewaktu - waktu. Matanya jeli memperhatikan gerak - gerik Toni dan Laras.
__ADS_1
"Iya. Harus kita kasih pelajaran pemuda itu agar jangan terus mengganggu Jarot dan kawannya !" Jawab Robert. Langkah kaki keduanya terus saja mengikuti kemana sepasang kekasih itu berjalan.
"Tapi dia jago berkelahi, bang !"
"Aku tidak perduli. Kemarinpun aku sempat melukainya. Kali ini bukan hanya melukai, aku bisa membunuhnya !" Ucap pria brewokan ini dengan raut wajah penuh keyakinan.
Kini jarak mereka semakin dekat, hanya berjarak sekitar dua puluh meter. Keberadaan mereka tersamarkan karena banyaknya pengunjung pasar. Sementara itu, Toni mengeluarkan sepeda motornya dan bergegas meninggalkan tempat tersebut. Namun sebuah teguran menghentikan langkanya.
"Hei, berhenti !" Seru Robert lantang. Langkahnya dipercepat agar mendekat pada Toni dan Laras. Keduanya terlihat keheranan.
"Kamu lagi. Apa maumu !" Seru Toni saat mengenali siapa yang datang. Di arahkan pandangan pada laras, memberi kode agar menyingkir. Kedua pria yang pernah mengeroyoknya, kini sudah berdiri di hadapannya. Tangan keduanya besiap menghunus golok yang terselip di pinggang.
"Jangan kau ganggu kawanku !" Hardik Robert dengan suara menggelegar. Amarahnya sudah memuncak. Sementara kawannya berdiri dengan posisi siaga melancarkan serangan.
"Selama adikku belum ditemukan, selama itu juga akan kukejar mereka berdua. Ke neraka sekalipun !" Jawab Toni mantap
"Rupanya kau menginginkan kematian !" Seru Robert. Tiba - tiba sabetan golok sudah terbang mencari sasaran di tubuh Toni. Secepat kilat pemuda itu menghindar dan menjauh dari sepeda motornya. Kini dia dikurung kedua pengeroyok yang menginginkan kematiannya. Warga yang menyaksikan perkelahian tersebut menjauh. Tak berani mendekat, mereka tak ingin menjadi korban salah sasaran.
"Cepat habisi bang. Jangan kasih ampun !" Seru Leo yang kini juga ikut melancarkan serangan berupa sabetan dan tusukan golok yang sangat berbahaya. Yang diserang terus menghindar, sekuat tenaga ia berkelit dan mencari celah agar bisa melancarkan serangan balasan. Namun sejauh ini, ia belum bisa melakukannya. Gencarnya gelombang serangan golok yang datang bertubi - tubi, membuatnya semakin terpojok.
"Mampus kau, anak muda !"
"Bersiaplah menyambut kematianmu !"
Makian dan ejekan terus terlontar dari kedua pria yang menyerangnya. Sekali waktu Robert menusukan ujung golok dengan kecepatan tinggi tepat ke arah kening Toni. Dengan sigap ia menggeser posisi kepalanya lalu sejurus kemudian, ia maju selangkah. Dan kaki kanannya diletakkan di belakang tumit lawannya. Secara bersamaan, badannya bergerak maju dan tangannya mendorong tubuh besar lawan dengan kekuatan penuh.
BRAAKKK...
Sontak saja Robert terpelanting ke belakang. Tubuh besarnya menghantam peti buah yang ada disitu. Dia mendengus kesal saat bangkit. Dihampiri goloknya yang jatuh tak jauh dari tubuhnya
"Kurang ajar !" Umpatnya. Kembali ia merangsek maju. Bergabung dengan Leo yang terus melancarkan serangan - serangan mematikan.
__ADS_1
Toni yang diserang dari dua arah dengan senjata tajam cukup kuwalahan. Beberapa kali pemuda ini nyaris kehilangan tangan atau kakinya. Jika saja ia tak cukup gesit menghindar dan sesekali melancarkan tendangan atau pukulan.