
Menanti Pertolongan
Hari sudah menjelang sore saat Iwan hendak kembali ke tempat Saipul. Pemuda ini khawatir jika kapal motornya akan digunakan oleh pemiliknya. Karena jika pergi melaut, biasanya malam hari adalah waktu yang dipilih para nelayan untuk berangkat mencari ikan.
Beberapa kali Iwan memandang ke belakang, seperti ada perasaan yang mengganjal di dalam hatinya.
"Apa benar di pulau itu ada pabrik pengolahan ikan, tapi kenapa sepi sekali ?"
"Apa mungkin Sulis sudah berbohong, tapi untuk apa..?"
"Jangan - jangan pulau ini ada hubungannya dengan teror penculikan yang marak di Jakarta ?"
Berbagai macam pertanyaan dan dugaan berputar - putar di kepalanya. Seketika mesin dimatikan, segera ia menghubungi sahabatnya. Dari kapalnya, iwan masih bisa memandang pulau tersebut.
"Hallo. Assalamualaikum...!"
"Waalaikumsalam. Ada apa Wan ?"
"Kamu pernah bilang jika korban pencuikan kemungkinan disekap di sebuah pulau terpencil ?"
"Iya. Sepertinya begitu. Apa kau mendapat informasi ?"
"Sepertinya aku menemukan sebuah pulau yang mencurigakan, tetapi masih perlu dibuktikan."
"Menurutmu bagaimana baiknya ?"
"Nanti saja kita bicarakan. Aku harus mengembaikan kapal ini. Setelah itu kita ketemuan !"
"Oke. Aku tunggu !"
Sambungan telepon terputus. Kembali Iwan melanjutkan perjalanan. Tanpa ia sadari dari arah belakang sudah mendekat dua buah perahu karet. Masing - masing perahu karet berisi dua orang. Satu orang berdiri dan yang lainnya mengendalikan mesin motor.
"Lebih cepat. Secepatnya kita habisi pemuda itu !" Seru pria tinggi besar yang berdiri dengan senapan laras panjang di pundak.
"Iya. Sebelum ada kapal lain yang melihat !" Jawab pria dengan rambut kribo.
"Tembak saja dari sini, setelah itu kita buang mayatnya. Aku yakin predator laut akan senang mendapat makanan lezat." Ucap pria dengan rambut kribo lagi. Wajahnya terlihat sangat antusias. Rasanya ia ingin cepat - cepat menghabisi sang pemuda.
"Tidak semudah itu, kawan !" Jawab pria yang berdiri. Kedua tangannya sesekali mencari pegangan untuk menjaga keseimbangan. Hal inilah yang menjadi alasan kenapa ia tak bisa membidik buruannya.
Jarak kedua perahu karet yang ditumpangi kedua anak buah Bowo semakin dekat. Kedua perahu yang berjalan bersisian dan perahu yang di gunakan Iwan hanya berjarak lima ratus meter.
Betapa kagetnya sang pemuda saat menyadari dua buah perahu karet sedang menuju ke arahnya. Perhatiannya tak lepas dari keempat orang yang dibekali senapan laras panjang.
Dengan wajah garang, salah satu di antara mereka menunjuk ke arahnya. Spontan ia naikkan kecepatan perahu motornya secara maksimal. Diraihnya benda pipih yang ada di sakunya.
"Assalamualaikum... !
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Ada apa, Wan, kamu di mana ?"
"Tolong bang. Mereka mengejar saya !" Seru Iwan panik. Sesekali ia melihat ke belakang. Pemuda ini khawatir jika harus beradu fisik. Dia tak ingin bekas jahitan yang belum sembuh diperutnya akan kembali terbuka.
"Mereka siapa, Wan... ?!"
"Aku tidak tau, bang. Mereka membawa senjata !"
"Kamu tenang saja. Sekarang kirimkan lokasimu, biar aku ajak kawan - kawan untuk ke sana.
"Terima kasih, bang !"
"Ooo ya.. kamu ulur - ulur saja, sebelum kami datang.
"Baik bang !"
Baru saja sambungan telepon terputus. Dua buah timah panas melesat lima senti dari kepala Iwan.
Doorrr... doorrr...
Spontan ia menunduk dan mencari asal tembakan. Dilihatnya dua orang yang sedang membidik di dua perahu yang berbeda. Saat jarak semakin dekat, Iwan terjun dan menyelam di bawah kapalnya. Agar bisa terus bernafas, sesekali ia mendongakkan kepalanya.
"Ke mana anak itu !" Seru pria tinggi besar yang berdiri sambil menodongkan moncong senapan.
"Coba kau cek ke dalam !" Jawab kawannya yang memegang kemudi. Lalu ia memepetkan perahunya agar kawannya bisa naik ke perahu nelayan milik Saipul.
Sigap pria ini melompat ke perahu di sebelah. Begitupun yang dilakukan pria berpostur kurus. Dengan sikap waspada dia melompat dari perahu karet yang ada di sisi yang lain.
"Keluar kau.... !"
"Di mana kau. Cepat keluar !"
Kedua pria itu mulai emosi, saat tak menemukan yang mereka cari. Dengan membabi buta tangan dan kakinya melayang. Apapun dihajar untuk melampiaskan kemarahan. Tiang penyangga bagian dalam patah. Bangku panjang yang saling berhadapan tak luput diterjang hingga berantakkan. Terpal yang menjadi pelindung dari panas dan hujan juga tak luput dari keberingasan mereka.
"Tolonggg... !"
Byuurrr....
Sebuah teriakan minta tolong disusul dengan suara benda jatuh ke dalam air menghentikan tingkah brutal ketiga pria yang berada di atas kapal yang digunakan Iwan. Ketiganya kaget. Tersentak oleh teriakkan kawan mereka.
"Kemana Si Yono ?" Tanya pria tinggi besar. Tangannya bersiap dengan senapannya.
"Coba kau lihat !" Seru pria kribo pada kawannya. Pria tinggi besar yang tadi garang berubah menjadi pucat. Tak terima diperintah kawannya, ia melihat pada pria kurus di sampingnya.
"Kau saja yang lihat sana !" Perintah pria tinggi besar dengan tatapan mengintimidasi. Pria yang diperintah menatap kedua kawannya secara bergantian.
"Dasar kalian. Badan saja yang besar... !" Seru pria kurus dengan tatapan mengejek. Ia melompat ke perahu karet bagian belakang. Disitulah Yono terakhir terlihat duduk di samping mesin kapal.
__ADS_1
"Yooonnn... yono ...!"
Pria kurus memanggil kawannya beberapa kali. Sementara kedua matanya mengamati air laut di bawahnya. Pria ini siaga, saat air laut di bawahnya berubah menjadi merah darah. Saat keringat dingin mengucur deras, ia beranikan diri memuntahkan timah panas. Namun gerakannya kalah cepat.
Door... doorrr...doorrr...
Tiga buah tembakkan menyalak dari bawah perahu karet. Tak lama kemudian pria kurus tumbang. Tubuhnya terjun bebas ke air laut dengan tiga lubang menganga. Sementara itu, tubuh Yono yang mengambang dengan beberapa luka tusukan kembali tenggelam saat tertimpa badan pria kurus.
Seketika kedua mayat yang masih segar itu membuat air laut berubah warna.
"Kurang ajar !"
"Keluar kau. Jangan jadi pengecut !"
Kembali kedua pria yang tersisa mengumbar umpatan dan makian. Sorot mata kemarahan jelas terlihat di wajah mereka. Begitu emosinya, pria tinggi besar melepaskan tembakan membabi buta ke sekitar dua mayat rekannya.
Namun hal tersebut tidak ada gunanya. Karena Iwan sudah berpindah tempat. Bahkan pemuda tersebut sudah berhasil naik ke atas perahu karet yang sudah kosong. Tanpa pikir panjang, ia hidupkan mesin dan tancap gas.
Kedua anak buah Bowo kaget sekaligus kesal saat menyaksikan perahu karet mereka dibawa lari. Kematian kedua kawan mereka sudah membuat pria tinggi besar frustasi. Kini keduanya semakin geram saat Iwan membawa lari kendaraan mereka.
"Kejar dia. Jangan sampai lolos !"
"Oke.... !"
Pria kribo mengambil alih kendali. Dengan kecepatan penuh, ia bermanufer di atas air laut. Beberapa kali perahu mereka melompat tinggi saat gulungan ombak menghadang mereka.
Pria tinggi besar tidak tinggal diam. Beberapa kali ia berhasil melepaskan tembakan. Namun sejauh ini belum ada yang mengenai sasaran. Sementara itu, Iwan terus menjauh dari kejaran kedua orang yang menginginkan kematiannya.
Sesekali wajahnya melihat ke belakang. Di mana pria tinggi besar dan pria kribo terus mengejar dan melepaskan tembakan.
"Cepat Bang Saipul.... !" Seru pemuda tersebut. Di tengah ketegangan yang menguasai dirinya. Iwan berteriak memanggil Saipul. Walaupun ia sadar, tak akan ada yang mendengar teriakannya. Karena sejatinya, ia hanya ingin mengurangi kecemasan dalam dirinya.
"Apakah ini saat - saat kematianku ?" Iwan membatin. Teringat orang - orang yang dikasihinya. Laras, Toni, Sulis....
Tiba - tiba nama terakhir berputar - putar di kepalanya. Memutar kembali memori saat - saat bersama. Walau hanya sesaat, namun cukup berkesan baginya.
"Sebenarnya siapa gadis itu ?"
"Apa orang - orang ini ada hubungannya dengan Sulis ?"
Di tengah pelarian di laut lepas. Kembali terbersit tanya dalam hatinya. Pertanyaan yang terus mengganggunya. Perahu terus dipacu ke arah selatan saat ia tersadar dari lamunannya. Dia berharap pertolongan yang dijanjikan Saipul segera datang. Ia kembali menengok ke belakang.
Betapa terkejutnya pemuda tersebut saat menyadari perahu motornya sudah terjepit. Kini dia berada di tengah - tengah. Pria tinggi besar masih membuntuti di belakang. Jaraknya sekitar dua ratus meter. Sementara di sebelah kanan dan kiri, datang dua perahu yang baru. Posisi mereka sejajar degan jarak kira - kira lima puluh meter.
"Mati aku !" Seru Iwan lirih. Namun dia tak ingin menyerah. Perahu karet terus dipacu sekencang - kencangnya. Beberapa kali ia berhasil menghindar saat dipepet. Nyaris saja ia menabrak pulau karang, jika tak waspada. Namun ia berhasil selamat dengan meliuk - liuk.
Tembakan - demi tembakkan berhasil dilepaskan oleh ke enam orang yang memburunya. Namun tak ada satupun yang mengenai sasaran.
__ADS_1