Pulau Eksekusi

Pulau Eksekusi
Terluka


__ADS_3

Terluka


Di saat yang tepat sebuah pertolongan datang. Seorang pemuda dengan gagah berani bergegas menghampiri pria yang menghunus pisau belati. Secepat kilat ia lancarkan tendangan yang cukup keras yang membuat pisau belati mental ke udara.


"Aaauuu !"


Kini sang penjambret


mengaduh kesakitan saat tangannya dihantam kaki kanan sang pemuda dengan keras. Belum sempat ia mengenali orang yang menyerangnya. Kaki yang sama menghantam perutnya dengan sangat kuat hingga ia kembali mengaduh kesakitan.


Sang penjambret terdorong hingga beberapa langkah ke belakang akibat kuatnya hantaman yang diterima. Ibu Ratih yang meringis kesakitan ditarik menjauh oleh Sulis dan Ratna. Sang pemuda yang bernama Iwan kembali merangsek maju.


"Kembalikan barang - barang yang kalian ambil ?!" Seru Iwan dengan tatapan tajam.


"Apa urusanmu ?!" Jawab pria yang sudah melukai korbannya. Sontak saja, pemuda ini emosi dibuatnya. Tanpa ampun, sebuah pukulan ia lepaskan. Disusul dengan hantamam lutut yang mengincar wajah lawannya yang tertunduk karena pukulan pertama.


Braakkk...


Kaca helm yang menutupi wajah penjambret pecah akibat kerasnya terjangan lutut Iwan. Belum sempat ia bereaksi pemuda tersebut memutar badannya dengan kecepatan tinggi. Kaki kanannya menghantam wajah yang terlindung helm hingga lawannya ambruk di aspal jalan.


Helm yang digunakan lepas karena kerasnya benturan. Dan tas selempang yang dikuasai penjambret terjatuh. Kawannya yang tadi hanya menyaksikan, kini bereaksi cepat. Sebelum kaki Iwan kembali mendarat di tubuh kawannya, ia melepaskan tendangan yang sangat keras.


Buukkkk....


Dua kaki yang beradu menimbulkan suara yang membuat ngilu siapapun yang mendengarnya. Belum hilang rasa kagetnya, kini pemuda tersebut dipaksa menangkis pukulan lawannya.


Pukulan tangan kanan berhasil ditangkis. Namun tanpa diduga pria yang masih mengenakan helm memutar badannya dan sejurus kemudian sebuah tinju menghantam pipi Iwan. Pemuda ini terlambat menghindar.


"Awaasss...aauuu... !!" Sulis dan Ratna menjerit histeris menyaksikan sang pemuda terkena pukulan. Sementara itu kerumunan massa yang tadi ramai, perlahan membubarkan diri karena terdesak oleh kendaraan yang akan lewat. Suara klakson terdengar bersahut sahutan. Kendaraan yang mengular hanya bisa melewati satu jalur akibat kemacetan yang terjadi.


"Rasakan itu. Aku tak segan - segan melukai orang yang sok jagoan sepertimu !"


Sesumbar pria dengan kaos lengan panjang. Di hadapannya, Iwan meraba pipinya yang terkena tinju. Terasa menyakitkan, namun ia tak ingin menyerah.


"Aku tak segan - segan membunuh sampah seperti kalian !" Balas Iwan dengan raut wajah yang penuh emosi. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam dan tangannya mengepal siap mencari sasaran.


"Habisi dia. Tidak usah basa basi !" Seru pria yang sudah terkapar di aspal jalan. Dengan susah payah ia bangkit dengan sebilah golok di tangan. Massa yang menyaksikan semakin menjauh, karena takut menjadi sasaran.


Pria yang masih mengenakan helm cepat menyerang dengan sebuah pukulan, namun lawannya berhasil menghindar. Dia menggeser badaannya ke samping, bersamaaan dengan itu sebuah tendangan ia lancarkan. Namun sebuah sabetan golok memotong serangannya. Spontan ia tarik kembali kaki yang hampir mengenai sasarannya.

__ADS_1


"Mampus kau... !"


Pria yang tadi ambruk di aspal, kini menyerang dengan membabi buta. Entah mendapatkan kekuatan dari mana, ia seperti kembali segar bugar. Dengan susah payah, Iwan berkelit dan menangkis setiap serangan lawan yang datang bertubi - tubi menggunakan golok.


Sementara itu, ketiga wanita yang menjadi korban penjambretan menyaksikan pertarungan tersebut dengan harap - harap cemas. Bu Ratih yang terluka sedikit tenang karena tas selempangnya yang berisi dompet dan hp sudah kembali. Sesekali ia meraba lukanya yang mulai mengering.


Sebuah tusukan golok mengincar wajah Iwan. Cepat ia menghindar ke samping. Namun sial, sebuah hantaman mendarat tepat si pingganggnya.


Buuukkk....


"Hanya segitu kemampuanmu, pemuda sok jago ?!"


Pria dengan kaos lengan panjang dan helm menghardik dengan sombongnya. Tatapannya sinis dan tajam ke arah sang pemuda yang terhuyung dan hampir jatuh. Iwan hanya pasrah, akibat ia lengah sedikit saja membuatnya goyah. Dan ini dimanfaatkan oleh kedua lawannya.


Srettt...


"Aaauuu... !"


Sebuah tebasan golok berhasil merobek kulit perutnya. Pemuda ini melolong kesakitan seiring darah yang menetes. Namun pria dengan jaket kulit tak memberikan kesempatan pada lawannya. Kembali ia membabatkan goloknya menukik ke atas. Leher sang pemuda yang diincar. Dari belakang, beberapa kali pukulan mendarat di pinggangnya.


Dalam situasi sulit tersebut, Iwan bertindak cepat. Setelah lehernya terhindar dari tebasan golok. Secepat kilat ia terjang pria yang memegang golok hingga terdesak ke pinggir jalan. Namun karena darah yang terus keluar, membuat ia kehabisan tenaga.


Sebuah sikutan dari atas menghantam punggung Iwan hingga terjerembab di aspal. Pria yang masih menggunakan helm menerjang dengan tendangan berulang kali hingga pemuda tersebut tak berdaya.


"Habisi saja !" Suara berat terdengar dari dalam helm full face yang digunakan. Kakinya masih saja melayang menghantam tubuh yang sudah bersimbah darah.


Kini golok yang dipegang pria dengan jaket kulit sudah terangkat mencari sasaran. Seringai menyeramkan tercipta di wajahnya. Namun sebelum tubuh Iwan tercincang menjadi beberapa bagian, sesuatu yang tidak diduga terjadi.


Bruuukkk ....


Sebuah batu konblok putih dihantamkan tepat mengenai kepala penjambret yang memegang golok. Begitu kerasnya hantaman itu, hingga batu yang cukup besar itu hancur berantakan.


"Mampus kau bajingan !" Hardik seorang wanita dengan kemarahan yang menggebu gebuk. Sulis, wanita tersebut sempat puas sejenak, saat menyaksikan pria di hadapannya tersungkur ke tanah. Namun ia lengah. Ternyata pria itu bangkit dan menyerang Sulis.


"Awaasss.... !"


Ratna berteriak mengingatkan. Dia bergerak cepat dengan menarik kawannya agar terhindar dari tusukan golok yang hanya tinggal beberapa senti saja dari tubuh sang kawan. Setelah kawannya berhasil menjauh, Ratna tak tinggal diam sekuat tenaga ia hantam bagian bawah perut pria penjambret. Sontak saja pria ini kembali terjungkal ke aspal jalan. Tangannya meraba alat vitalnya sambil meringis.


Dari kejauhan terdengar suara polantas yang memerintahkan pengendara agar terus melajukan kendaraan. Perlahan tapi pasti beberapa pria berseragam coklat itu makin mendekat. Mereka juga memerintahkan massa agar membubarkan diri. Hal itu membuat pria pejambret panik.

__ADS_1


Pria yang menggunakan kaos lengan panjang menarik paksa kawannya yang meringis kesakitan agar meninggalkan tempat tersebut. Golok yang dipegang kawannya dirampas dan dibuang ke selokan pinggir jalan.


Sementara itu, Iwan berusaha bangkit dengan kondisi mengenaskan. Luka gores di perutnya membuat ia banyak kehilangan darah. Luka lebam di beberapa bagian tubuhnya memperparah keadaan pria ini.


"Sulis, cepat bantu pemuda itu !" Seru Bu Ratih saat menyadari keadaan pemuda yang sudah menyelamatkan nyawanya.


"Iya, bu... !"


"Kita harus cepat membawanya ke Rumah Sakit !"


"Iya bu... !"


Sulis dan Ratna bergerak cepat membantu Iwan agar masuk ke dalam taksi yang sudah dihentikan oleh Bu Ratih. Pemuda tersebut tak bisa berbuat banyak. Tubuhnya yang lemah membuatnya pasrah atas perlakuan ketiga wanita yang tidak dikenalnya tersebut.


"Jalan bang. Ke rumah sakit terdekat !"


"Baik bu.. !"


"Ke mana kita ?" Tanya Iwan lemah. Ekspresi wajahnya kaget saat menyadari dirinya sudah diapit dua orang wanita muda di dalam taksi. Ibu ratih yang duduk di pinggir pintu tampak cemas melihat kondisi sang pemuda.


"Kita ke rumah sakit. Lukamu sangat fatal dan memerlukan penanganan secepatnya" Ucap Bu Ratih. Di dalam hatinya, ia berjanji akan melakukan yang terbaik agar pria yang sudah menolongnya itu selamat.


"Ini milikmu... ?" Ucap Iwan pelan. Tangannya kini menggenggam seuntai kalung. Kedua mata Sulis yang berada tepat di hadapan barang berharga itu, terbelalak tak percaya. Ia menyangka tak akan melihat lagi barang yang sangat berarti bagi ibunya itu.


"Terima kasih. Kalung ini milik ibuku" ucap sulis dengan senyum penuh arti. Kemudian kalung tersebut diberikan pada sang ibu. Iwan terdiam tanpa ekspresi. Tangannya terus meraba perutnya yang terluka.


"Biarkan aku pulang" ucap Iwan pelan. Ia merasa tak enak hati, karena sudah merepotkan.


"Lukamu harus diobati. Dan jangan banyak bergerak."


Ucap Sulis yang gelisah saat pemuda disampingnya ingin bangkit dan keluar dari dalam taksi yang masih berjalan. Beberapa saat kendaraan tersebut sudah memasuki area rumah sakit dan berhenti tepat di pintu masuk ruang UGD.


Cukup lama Sulis dan Ratna menunggu penjelasan dokter yang menangani Iwan. Hingga Bu Ratih datang didampingi seorang dokter.


"Luka ibu tidak terlalu parah. Mungkin beberapa hari ke depan bekas jahitannya sudah mengering" ucap sang dokter dengan ramah.


"Terima kasih dok..."


"Pemuda tadi... apakah masih keluarga kalian ?"

__ADS_1


"Ii....iya. Keadannya bagaimana dokter ?" Tanya Sulis dengan raut wajah cemas. Bu Ratih dan Ratna juga merasakan kecemasan yang sama.


__ADS_2