
Mencekam
"Lebih cepat lagi. Mereka semakin banyak !" Seru Topan di antara remaja sebayanya yang kebingungan dan ketakutan. Tak jarang kaki - kaki kurus mereka terantuk akar pohon yang menyembul di atas tanah.
Seperti yang dialami remaja kurus yang mengenakan kaos berwarna merah. Ia tertinggal jauh dari kawan - kawannya saat tubuhnya terjatuh karena kakinya tersandung akar pohon beringin.
"Jangan tinggalkan akuu... !" Ia menjerit sejadi jadinya saat menyadari kawan - kawannya sudah tak terlihat. Teriakannya semakin keras ketika tangannya ditarik dengan kasar seorang pria bertubuh kekar.
"Toloonngg... !"
"Hahaha... tidak ada yang akan menolongmu, anak kecilll !"
"Lepaskan aku !"
Bocah berkaos merah ini meronta sekuat tenaga. Tangan dan kakinya digunakan untuk menyerang pria kekar yang menyeretnya. Namun sia - sia, pria kekar itu seperti tak merasakan apa - apa. Bahkan ia tersenyum lebar saat bocah yang diseretnya sudah kehabisan tenaga.
"Lepaskan anak itu... !" Seru seorang pemuda yang tiba - tiba saja menghadang langkahnya. Pria yang tak lain adalah Toni, sangat marah menyaksikan apa yang dilakukan laki - laki di hadapannya.
Toni berdiri tepat dua meter di hadapan pria yang menyeret bocah malang berkaos merah. Bocah yang kesakitan itu sedikit lega walaupun di saat yang sama dia juga keheranan. Beberapa kali ia pandangi kedua orang dewasa itu secara bergantian.
"Siapa kau anak muda !" Pria kekar tampak kaget dengan apa yang dilihatnya. Namun ia tak terpengaruh dan tak menggubris ucapan tadi. Bukannya dilepaskan, cengkeramannya justru semakin keras.
"Kau tak perlu tau, siapa aku. Cepat lepaskan bocah itu !"
"Apa urusanmu... kau ingin mampus rupanya ?! Pria kekar membentak dengan amarah yang memuncak. Secepat kilat ia arahkan moncong senjata dan siap menembak dengan tangan kanannya. Namun bocah berkaos merah menggagalkan tembakannya.
Ternyata bocah ini tak selemah yang diperkirakan oleh pria kekar. Di saat pria kekar menekan pelatuk senapan, di saat yang sama sebuah gigitan membuat ibu jari tangan kirinya hampir putus.
"Aaaauuuu.... !"
Dooorrr....
Sontak saja jerit kesakitan membahana dari pria kekar, dan menambah hiruk pikuk hutan belantara tersebut. Hal tersebut membuat tembakannya meleset dan bocah berkaos merah berhasil melarikan diri. Toni yang sudah memperkirakan apa yang akan terjadi, bergerak cepat.
Dalam hitungan sepersekian detik, ia sudah melepaskan tembakan dan berhasil membuat kening pria di hadapannya bolong. Di saat yang sama pria malang itu tersungkur ambruk ke tanah. Saat Toni memastikan pria di hadapannya benar - benar sudah ditinggalkan nyawanya, sebuah suara mengagetkannya.
"Bang Toniii.... !" Teriakan histeris terucap dari Topan. Dengan senyum bahagia dan terharu, ia berlari dan reflek memeluk sang kakak tercinta. Begitupun dengan Toni. Ia hanya bisa terpaku dan terkesima.
"Topaannn... ?!"
"Iya bang. Ini Topan !"
__ADS_1
"Syukurlah kau baik - baik saja. Di mana Arif ?"
"Arif sedang mengarahkan anak - anak itu untuk melarikan diri ke atas bukit."
"Kenapa harus ke bukit. Kenapa tidak menunggu pertolongan di pantai ?"
"Memang seharusnya begitu. Tetapi selama ini tidak pernah ada kapal yang mendekat. Apalagi sekarang kami dikejar - kejar oleh pasukan keamanan pulau ini !"
"Sebentar lagi akan ada kapal yang akan datang dan menolong mereka. Cepat kau susul anak - anak itu dan bawa mereka ke pantai dekat menara pengawas."
"Benarkah... ?!" Tiba - tiba saja remaja dengan kaos merah menyela obrolan kakak dan adik itu. Ia sangat antusias dengan ucapan yang baru didengarnya. Dengan tatapan polosnya ia pandangi Toni menanti jawaban. Sebenarnya itu juga yang dirasakan oleh Topan.
"Benar. Yakinlah kalian akan selamat" jawab Toni penuh penekanan.
"Baiklah. Kami pergi sekarang" balas Topan.
"Di menara pengawas sudah menunggu Riko. Dia berjaga - jaga jika kapal itu sudah datang." Ucap Toni lagi. Topan dan kawannya meninggalkan Toni sendirian. Di saat yang sama dua buah timah panas melesat ke arahnya.
Dooorrr...
Dooorrr...
Beruntung tembakan pertama meleset dan membuat kulit pohon damar di sampingnya berlubang. Sementara tembakan yang kedua menghantam ruang kosong lima senti dari wajahnya. Toni bereaksi cepat. Dalam hitungan detik, kedua penyerangnya ambruk ke tanah.
Sementara kawannya roboh, terjerembab ke belakang dengan dada ditembus timah panas hingga tembus ke punggung. Kepalanya retak karena menghantam batu besar yang teronggok di belakangnya.
"Akan kuhabisi kalian semua !" Seru Toni dengan lantang. Kedua tangannya diangkat setinggi tingginya seolah sengaja memancing anak buah Jhoni menghampirinya.
Tak sampai di situ. Diambilnya senapan laras panjang milik pria yang menangkap bocah berkaos merah. Kemudian dengan entengnya dia muntahkan pelurunya berkali kali ke udara. Aksinya berhasil menarik perhatian mangsanya. Entah kapan datangnya, tiba - tiba saja sebuah suara mengagetkannya.
"Hentikan... atau aku lubangi kepalamu !!!"
Seorang anak buah Bowo dan Jhoni menghardik dengan penuh kemarahan. Pria ini berdiri tepat di belakang Toni. Matanya tak berkedp sedikitpun saat moncong senjata ditempelkan ke bagian belakang kepala Toni.
"Buang senjatamu...!"
Braakkk
Tanpa bersuara, Toni melempar senjata laras panjang tepat di bawah pohon. Kemudian kedua tangannya di angkat ke atas. Dengan posisi membelakangi pria yang menodongnya, ia melangkah maju sesuai perintah yang terdengar.
"Jalann... ! bos Jhoni pasti akan memberiku hadiah besar !" Serunya lagi dengan senyum lebar. Dia senang karena pemuda di hadapannya tak melawan. Moncong senjata kembali ia dorong hingga membentur kepala Toni. Sementara jari telunjuknya siap menekan pelatuk senjata kapan saja.
__ADS_1
"Ayo jalan. Kenapa berhenti ?!" Pria ini kembali murka saat Toni menghentikan langkahnya. Ia sama sekali tak menduga kejadian selanjutnya. Tiba - tiba Toni berbalik badan secepat kilat. Tangan kanannya meraih moncong senapan. Sementara tangan kirinya merebut popor senapan.
Dooorrr...
Pria yang menodongkan senjata kaget. Ia sempat melepaskan tembakan, namun pelurunya melayang jauh dari sasaran. Tak butuh waktu lama senapannya kini sudah berpindah tangan.
Buuggghh... buuggghh...
"Aaauuu...! "
Sebuah jeritan menggema saat Toni menghajar dada pria di hadapannya dengan popor senapan. Belum hilang jeritan yang pertama. Kali ini tulang pipinya retak dihantam benda yang sama. Lolong kesakitan kembali mengangkasa untuk kedua kalinya.
"Ini hadiah yang kau tunggu - tunggu !"
Dooorrr...
Tak ingin berlama - lama, Toni segera menyudahi episode tersebut. Satu peluru sudah cukup membuat pria itu terkapar mengenaskan. Bergegas ia meninggalkan mayat anggota pasukan keamanan itu dengan kondisi tak bernyawa.
Segera ia tinggalkan tempat itu untuk memastikan keselamatan korban penculikan. Ia ingin memastikan semua berjalan sesuai rencana. Beberapa kali ia berhasil selamat dari peluru - peluru yang mengincar nyawanya.
Sementara itu, Topan dan remaja berkaos metah sudah melesat pergi. Keduanya sangat bersemangat untuk menyelamatkan kawan - kawannya yang sedang diburu dari berbagai arah.
"Siapa dia ?!" Tanya remaja berkaos merah disela - sela langkah kedua kakinya yang begitu gesit. Sejak mendengar apa yang dikatakan Toni, ia seperti mendapatkan energi baru.
"Dia bang Toni. Kakak kandungku !" jawab Topan. Keduanya semakin mempercepat langkah mereka. Beberapa kali tubuh keduanya menerjang lebatnya rumput alang - alang setinggi tubuh mereka. Tak jarang pula tubuh keduanya meliuk - liuk menghindari batang - batang pohon yang tegak menghadang.
"Kau beruntung memiliki kakak yang peduli denganmu."
"Terima kasih..."
"Ngomong - ngomong, kenapa kau ada di tempat tadi. Bukankah kau sudah jauh meninggalkanku ?"
"Aku sempat mendengar teriakanmu. Dan aku putuskan untuk kembali dan menolongmu."
"Tak bisa kubayangkan bagaimana nasibku jika kalian tidak menolongku. Aku sangat berterima kasih !"
"Sudahlah. Sekarang secepatnya kita bawa mereka ke pantai !"
"Iya... !"
Tak terasa keduanya sudah semakin dekat. Mereka hanya berjarak beberapa puluh meter lagi dari rombongan yang dipimpin oleh Arif.
__ADS_1
Beberapa kali Topan memanggil - manggil agar mereka memutar arah. Namun tidak berhasil, karena banyak anggota keamanan yang melepaskan tebakan membuat suasana mencekam.
Belum lagi lebatnya aneka macam pohon yang saling berhimpitan. Tumbuhan semak dan berduri semakin menambah ekstrim medan yang mereka tempuh. Itu semua sedikit banyak menyulitkan langkah mereka.