
Terjun Bebas
Di antara deru angin yang menimbulkan suara - suara menakutkan. Dan di antara gagahnya berbagai pohon berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Betapa terkejutnya komandan keamanan di pulau itu menyaksikan kejadian mengerikan yang menimpa anak buahnya.
Bagaimana tidak, sudah beberapa tahun ia menjadi orang kepercayaan Jhoni untuk menjaga seluruh area pulau ini dari hal - hal yang mengganggu kepentingan bisnisnya. Baru kali ini ia dipaksa untuk menyaksikan sendiri kematian anak buahnya yang mengerikan.
Raut wajah Bowo bergidik ngeri saat netranya mengamati sosok dua anak buahnya yang sudah menjadi mayat. Kondisi keduanya sama persis dengan kondisi Maman yang mati beberapa hari yang lalu.
"Benar - benar gila. Bagaimana bisa bocah ingusan itu melakukan hal mengerikan begini ?"
Seru Bowo seorang diri, karena semua pasukannya sudah bergerak mengejar kedua buruannya dari arah yang berbeda. Sesekali ia usap kasar wajahnya yang terlihat panik.
Perlahan ia langkahkan kakinya meninggalkan mayat yang tak biasa itu. Seluruh kulit tubuhnya berubah membiru, mata keduanya mendelik seolah ingin keluar dari tempatnya. Dan lidah mereka menjulur keluar di antara buih berbusa yang mulai mengering.
Setelah beberapa saat berjalan mendaki, menyusul pasukannya. Kini Bowo menghampiri tiga orang anak buahnya yang tak lain pria tinggi kurus dan dua orang kawannya.
"Hei Kalian. Tunggu...!"
"Siap komandan !"
"Ada apa komandan ?"
"Setelah saya amati, ternyata kedua anak ini sangat berbahaya."
"Betul komandan"
"Untuk meminimalisir korban di pihak kita. Maka aku perbolehkan kalian untuk menggunakan senapan yang kalian bawa."
Seru Bowo di hadapan ketiganya. Pria tinggi kurus dan pria dengan topi kupluk serta satu lagi kawannya saling berpandangan dengan senyum puas. Kepalan tangan ketiganya semakin erat menggenggam senapan laras panjang yang sedari tadi belum sempat mereka gunakan.
"Tapi ingat, kalian hanya boleh melumpuhkan kedua bocah itu. Karena bos Jhoni ingin melihat mereka !"
"Siap, laksanakan komandan !"
Bergegas ketiganya balik badan melanjutkan pencarian. Diiringi tatapan sang komandan yang mengamati keberadaan anak buahnya yang lain. Kira - kira dua puluh meter dari posisi pria tinggi kurus dan kawannya, tiga orang anggota pasukan Bowo yang lain terlihat melakukan hal yang sama.
Sementara itu, tak jauh dari puluhan orang yang berpencar menuju satu arah. Dua orang remaja tampak kelelahan. Keringat membasahi wajah dan seluruh tubuh mereka.
Tarikan nafas keduanya terdengar kasar, serta degup jantung yang masih terpacu. Keduanya menyandarkan punggung mereka di batang sebuah pohon yang cukup besar. Sesekali mereka mengedarkan pandangan ke segala arah. Khawatir akan kedatangan orang - orang yang terus memburu mereka.
"Kita jalan lagi, Rif !" ajak Topan yang sudah bangkit berdiri. Diraihnya tangan kawannya agar segera bangkit.
__ADS_1
"Tapi aku lelah, Pan" ucap Arif memelas. Dengan terpaksa ia bangun walau terlihat jelas tanda - tanda kelelahan di wajahnya.
"Ya sudah, kamu di sini saja. Biar kamu dibawa oleh mereka."
"Jangan, aku tidak mau. Tega sekali kamu Topan !" Arif meracau tidak karuan. Sementara Topan hanya tertawa pelan. Kakinya melangkah menjauh meninggalkan kawannya.
"Tunggu aku, Topan !"
"Ayo cepat. Kita harus meninggalkan tempat ini !"
Keduanya kembali berjalan sejauh mungkin. Berharap tak lagi bisa ditemukan oleh para monster tadi. Namun pelarian mereka menemui jalan buntu. Di hadapan keduanya, kini terbentang airan sungai selebar lima meter. Kedua remaja terlihat panik menyaksikan arus sungai yang cukup deras tersebut.
"Haahh...!!"
"Bagaimana ini, Pan ?!" Seru Arif putus asa. Dipandangi wajah kawannya yang tak kalah paniknya.
"Kita lompat, Rif !"
"Tidak akan bisa, Topan. Sungai ini terlalu lebar. Arusnya juga cukup deras !" Tolak Arif dengan mantap. Topan hanya diam dan terus berfikir. Keduanya tak menyadari bahwa mereka sudah dikepung dari tiga arah. Masing - masing pengepung beranggotakan tiga orang. Senapan laras panjang sudah diarahkan membidik kedua remaja yang sedang berdebat.
Doorrr...
Sebuah letusan senjata api menyadarkan keduanya. Reflek Topan berlari mengikuti arah arus sungai yang semakin landai. Mau tidak mau, Arif mengikuti kemana kawannya berlari. Wajah keduanya semakin panik dan ketakutan.
"Ikuti saja arus sungai ini, Rif !" Seru Topan. Sesekali ia melihat jauh, disela - sela rapatnya pepohonan tampak bermunculan satu persatu pasukan Bowo dengan wajah garang.
"Berhenti... !"
"Jangan lari..!"
Pasukan Bowo terus memburu dari segala arah. Sementara itu, Topan dan Arif terus berlari menjauh di sela - sela terjangan timah panas yang terus saja dimuntahkan. Di tengah kepanikan yang ada. Kaki arif terantuk akar pohon yang mencuat ke atas.
BYUURRR...
Tubuh remaja itu limbung dan jatuh ke sungai yang arusnya cukup deras. Dia tak sempat lagi mengaduh, hanya tubuhnya yang timbul dan tenggelam berulang kali. Sesekali tangannya diangkat, seolah ingin meraih sesuatu.
"Bertahan Rif... !" Seru Topan yang semakin panik. Dia terus saja berlari di bibir sungai. Kedua matanya terus mengawasi kawannya yang berjuang di arus yang cukup deras.
Sementara itu, beberapa orang dengan senapan laras panjang semakin mendekat. Beberapa di antaranya bersiap mengokang senjata. Dengan moncong senjata diarahkan pada sasarannya. Seringai menakutkan dan tatapan bengis tercipta di wajah mereka.
"Pannn... tolong Pan.. !"
__ADS_1
"Bertahan Rif. Bersiap terjun ke bawah !"
Seru Topan mengingatkan saat pandangannya menyaksikan hal mengerikan beberapa meter di depannya. Di ujung penglihatan remaja itu, arus sungai di hadapannya meluncur terjun bebas ke bawah. Sontak saja, tubuh mungil Arif ikut terjun bebas.
Setelah terjun bebas dari ketinggian lima puluh meter. Tubuh Arif kini naik ke permukaan danau. Sebelum beberapa detik tenggelam terbawa oleh arus air yang begitu kuat dari atas. Kini ia celingukan mencari kawannya yang ternyata masih berada di atas. Di pinggir tebing air terjun yang menghadap ke bawah ia mencari keberadaan Arif.
"Lompat Pan !" teriak Arif yang menyadari kawannya seperti terkesima sejenak. Teriakan dari kawannya membuat Topan tersentak. Walau suara deru air terjun begitu keras, namun ia masih medengar suara kawannya karena pantulan dari tebing yang menjulang tinggi.
Bergegas remaja itu bersiap melompat, namun sebuah tembakan mengalihkan perhatiannya.
Doorrr...
"Aauu... !"
Sebuah timah panas melesat dan berhasil menggores kulit lengannya. Topan meringis kesakitan, ujung matanya masih sempat menyaksikan puluhan orang yang merangsek maju dengan senapan siap memuntahkan timah panas.
"Cepat Topan. Lompat... !" Sekali lagi dari bawah, Arif mengingatkan kawannya untuk segera melompat. Tanpa banyak pertimbangan lagi, Topan mengambil ancang - ancang untuk melompat. Tak dihiraukan lagi beberapa timah panas yang terus saja mencari sasaran di tubuhnya.
"Hentikan anak itu !" Seru Bowo yang tiba - tiba sudah berada di antara puluhan pasukannya.
"Dia sudah lompat komandan" jawab anak buahnya yang tadi melepaskan tembakan. Mendengar jawaban tersebut, raut wajah sang komandan tampak merah menahan amarah.
"Berikan senapanmu !" Seru Bowo dengan kemarahan meluap luap. Direbutnya senapan anak buahnya dengan kasar. Tak lama kemudian ia berjalan ke pinggir air terjun yang menghadap ke bawah. Dengan emosi yang menguasai dirinya. Komandan keamanan itu melepaskan tembakan ke bawah berulang kali.
Puluhan timah panas melesat menembus air danau yang tidak terlalu lebar itu. Sementara itu, di pinggir danau yang terhalang oleh lebatnya pepohonan. Dua orang remaja sedang menyaksikan tingkah konyol Bowo dan puluhan anak buahnya.
Sesekali Topan terbatuk - batuk karena air danau yang sempat memenuhi rongga pernafasannya. Arif coba membantu dengan menepuk - nepuk punggung kawannya.
"Kau tidak apa - apa topan ?"
"Tidak apa - apa, Rif. Hanya terlalu banyak menelan air tadi."
"Tanganmu berdarah !"
"Iya Rif. Tadi sempat terserempet peluru mereka. Tidak masalah, hanya luka kecil."
"Sebaiknya kita cari tempat berlindung, Pan."
"Oke. Tapi kita istirahat sejenak, Rif."
"Baiklah."
__ADS_1
Dipinggir danau yang tak terlalu lebar. Diiringi deru air terjun yang tiada henti. Dan berpayungkan rindang pohon ketapang. Dua remaja yang kelelahan tampak tertidur beralaskan rumput yang menghijau